Akhirnya tiba juga saat yang kita nantikan bersama, pengumuman pemenang Lomba Menulis Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca" yang diselenggarakan atas kerjasama KOMPAK dan Lingkar Pena Publishing House!
Awalnya kami akan mengambil 3 pemenang utama dan 2 pemenang hiburan dari 26 artikel yang masuk. Namun ternyata kami menemui kesulitan karena seluruh artikel yang masuk ditulis dengan bagus, baik dari isi maupun penuturannya. "Beti alias beda tipis!" kata Mbak Deeyand Rahmadiyanti, CEO Lingkar Pena, yang menjadi juri untuk lomba kali ini. Karena "beti" itulah, akhirnya Mbak Dee meemutuskan untuk mengambil 3 pemenang utama dan 3 pemenang hiburan. Ini dia pemenangnya:
Pemenang:
1. Cinta Baca Sejak Dini (Syasya Azisya)
2. Panggung Imajinasi (Gita Lovusa)
3. Ayo Kenali Indonesia Lewat Dongeng dan Cerita Rakyat (Eka Nugraha Putra)
Hiburan:
1. Negeri Warna-warni dan Pesannya (Umi Laila Sari)
2. Membuka Dunia Bersama di Kecil (Dian Arymami)
3. Cinta Dongeng Cinta Baca: Virus yang harus Ditularkan (Norma Widayati)
Selamat kami ucapkan kepada para pemenang. Mohon dapat mengirimkan alamat untuk pengiriman hadiah ke alamat email yang sama dengan alamat email pengiriman artikel.
Kami juga mengucapkan terima kasih atas seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam lomba ini, semoga terus bersemangat berbagi untuk pendidikan anak bangsa.
salam KOMPAK!
Admin
Minggu, 31 Januari 2010
Minggu, 03 Januari 2010
Dicari: Televisi Peduli Anak
oleh: Wisnu Martha AdiputraAda yang ingat atau tahu dengan nama Heri Setyawan? mungkin hanya sedikit dari kita yang tahu. Heri Setyawan, 12 tahun, adalah pelajar kelas I SMP. Namanya tidak seterkenal Prita Mulyasari dan Luna Maya, dua orang yang menjadi korban dan hampir menjadi "martir" dari UU ITE yang “katro” itu. Nama Heri juga tidak sepenting nama presiden kita yang cengeng, yang sedikit sedikit mengeluh dan mengadu pada rakyatnya. Semestinya pemimpinlah yang menjadi tempat mengadu rakyatnya. Bukan sebaliknya. Walau nama Heri Setyawan tidak begitu terkenal bila dibandingkan dengan Prita, Luna Maya, dan nama presiden kita, tetapi nama Heri bisa menjadi penting bila kita menjadikannya sebagai tonggak pembenahan televisi (swasta) kita. Peristiwa yang berkaitan dengan Hery Setyawan adalah salah satu peristiwa media pada bulan Desember lalu yang menarik untuk didedah.
Heri Setyawan adalah korban terkini dari tayangan televisi. Berdasarkan keterangan polisi, Heri tewas karena kecelakaan yang terjadi akibat menirukan aksi Limbad. Limbad adalah bintang acara The Master, acara kompetisi para pesulap profesional di salah satu stasiun televisi, RCTI. Pada berbagai aksinya, Limbad sering melakukan atraksi yang spektakuler dan membahayakan. Walau lebih banyak muncul pada malam hari di atas pukul 22.00 WIB, Limbad juga hadir sebagai bintang tamu pada program acara di waktu yang mudah diakses oleh anak-anak walau pada pukul 22.00 ke atas pun anak-anak masih mungkin menonton bila orang-tua yang seharusnya bertanggung-jawab tidak mengawasi.
Heri Setyawan adalah korban anak-anak kesekian sebagai akibat tayangan televisi yang tidak “sehat” bagi mereka. Belum lekang dalam ingatan kita, bagaimana acara Smackdown pada tahun 2004 dikecam habis-habisan oleh masyarakat karena menimbulkan korban jiwa dan luka-luka anak-anak yang tidak berdosa. Acara tersebut akhirnya dihentikan penayangannya setelah beberapa kali mengabaikan peringatan dari pihak berwenang.
Korban anak-anak ini adalah korban yang “riil”, artinya korban yang terluka ataupun meninggal dunia. Bagaimana dengan korban yang tidak riil? Misalnya anak-anak korban acara ngerjain beberapa tahun
yang lalu, anak yang depresi karena dikerjain membawa narkoba ke sekolah. Atau bagaimana anak-anak yang “dipaksa” menyanyikan lagu-lagu dewasa pada kontes menyanyi lagu anak-anak? Efek negatifnya mungkin tidak terlihat secara langsung tetapi berpengaruh secara psikis dan dalam waktu yang lebih panjang.
Biasanya, bila sudah timbul korban seperti ini, tidak ada pihak yang mau disalahkan atau bila tidak, berbagai pihak yang seharusnya bertanggung-jawab malah saling menyalahkan satu sama lain. Pihak RCTI misalnya, seperti diberitakan oleh Koran Tempo tanggal 17 Desember 2009, tidak ingin disalahkan karena telah mengklasifikasikan acara the Master sebagai tayangan untuk dewasa dan ditayangkan di atas pukul 22.00. seharusnya, pihak stasiun televisi juga mengawasi tayangannya dengan ketat dan jangan sampai tayangan yang tidak sesuai untuk anak-anak “merembes” ke mana-mana.
Pemerintah, seperti biasanya, tidak terdengar di dalam kasus meninggalnya Heri. Padahal untuk kasus yang lain, misalnya pelarangan buku, pemerintah terlampau cepat “bertindak” dan mengklasifikasikan buku yang dilarang sebagai hal yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Seharusnya pihak pemerintah membantu pihak berwenang lain, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), untuk mengawasi siaran televisi yang tidak sesuai untuk anak-anak dengan mensinergikan pengawasan tersebut pada pihak berwenang, semisal bidang pendidikan dan bidang budaya.
Pemerintah dan lembaga negara atau masyarakat sipil yang mewakili kepentingan publik juga mesti memperhatikan “tayangan” pesan media yang lain, tidak hanya televisi. Kasus munculnya korban dari Smackdown dulu sebenarnya juga dipengaruhi oleh game konsol Smackdown yang mudah didapatkan dan dimainkan di rumah atau pun di arena bermain. Demikian juga pesan media yang lain. Perhatian harus terus ada walau hampir tidak mungkin mengawasi keseluruhan pesan media mengingat perkembangan teknologi komunikasi yang demikian canggih dan cepat.
Negara juga bisa merevitalisasi lembaga penyiaran publik yang telah digagas sejak tahun 2002. Bila memang “mendisiplinkan” televisi swasta begitu sulitnya, model penyiaran alternatif bisa dikembangkan, yaitu penyiaran publik dan juga penyiaran komunitas. Negara, atau pemerintah dalam skup lebih kecil, bisa memfasilitasi produksi pesan audio visual seperti pada masa lalu di mana fasilitasi oleh negara menghasilkan program acara bagus seperti Aku Cinta Indonesia,Si Unyil, Losmen, Jendela Rumah Kita dan Rumah Masa Depan.
Pihak yang paling berkaitan dengan anak-anak adalah pihak yang paling penting. Siapa mereka? Mereka adalah orang dewasa yang ada di masyarakat. Tidak hanya orang tua, tetapi juga seluruh warga dewasa dalam sekelompok masyarakat. Di sekolah misalnya, kelompok manusia dewasa itu adalah guru. Guru bisa memberikan pemahaman tentang televisi yang sebenarnya pada peserta didik, sekaligus menggunakannya sebagai media pembelajaran. Di rumah, kelompok dewasa itu antara lain adalah orang-tua. Orang tua harus memperhatikan tayangan televisi untuk anaknya. Seperti halnya konsumsi makanan, “konsumsi” tayangan televisi pun seharusnya diatur dan diawasi oleh orang tua.
Komisi Penyiaran Indonesia juga wajib memberikan peringatan dan pengawasan terus-menerus agar stasiun televisi tidak terlalu lepas tangan terhadap tayangannya sendiri walau hal ini sulit. Ada banyak kejadian yang menunjukkan bagaimana stasiun televisi di Indonesia bisa seenaknya dan tidak mengindahkan aturan yang berlaku. Bukti yang terakhir adalah pihak stasiun televisi yang belum sepenuhnya mau bersinergi dengan pihak lokal padahal sudah diamanatkan oleh UU no 32 tentang Penyiaran sejak tahun 2002 dan seharusnya sudah diterapkan pada tahun 2007.
Orang tua wajib menemani anak-anak yang belum mengerti ketika menonton selain juga membatasi durasi waktu menonton. Bila orang tua tidak dapat melakukannya karena berbagai hal, terutama karena bekerja, orang tua dapat menitipkan anaknya pada orang dewasa lain di rumah untuk menemani anak-anak menonton televisi.
Para orang tua dalam sebuah komunitas juga sebaiknya saling berbagi mengenai tayangan televisi. Hal ini mesti dilakukan karena tingkat literasi media untuk para orang tua pun berbeda-beda, ada orang tua yang paham tetapi juga ada yang tidak. Ada orang tua yang tidak peduli dengan dampak tayangan televisi dan orang tua yang peduli haruslah mengingatkannya.
Bila sudah demikian, berarti kita menempatkan tayangan televisi sebagai kepentingan bersama. Bila banyak kelompok masyarakat sudah sadar akan arti televisi yang sehat bagi anak-anak, mereka akan memiliki keinginan dan “kekuatan” untuk memberi masukan kepada pihak penyelenggara siaran televisi. Setahu saya, sudah banyak elemen masyarakat sipil yang bergerak di bidang literasi media secara umum dan juga secara khusus, gerakan penyadaran media peduli anak. Yogyakarta misalnya, memiliki sekitar sepuluh organisasi masyarakat sipil yang peduli pada peningkatan pemahaman terhadap media.
Kasus ini adalah tonggak kita sebagai bangsa untuk membenahi (lagi) tayangan televisi kita yang cenderung melupakan peran pentingnya bagi masyarakat. Jangan sampai ada Heri yang lain, anak-anak korban tayangan televisi yang tidak sesuai bagi mereka.
Sebab, bagaimana pun juga, televisi Indonesia mungkin memiliki potensi bagi kemajuan bangsa ini…
Sebab, anak-anak pasti adalah elemen terpenting bagi bangsa ini di masa mendatang….
note: gambar dipinjam dari sini
Kamis, 31 Desember 2009
[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Menjadikan Dongeng dan Bacaan Sahabat Anak
Oleh: Nurul SetyoriniMembentuk generasi muda bangsa ini menjadi generasi pembelajar yang cinta membaca demi mengembangkan wawasannya dan memuaskan rasa haus akan pengetahuan, bukanlah sebuah proses yang instan. Seperti kata pepatah, ‘tak kenal maka tak sayang’, orang-orang dewasa di sekeliling anak perlu membangun situasi dan kondisi yang mampu menumbuhkan minat baca anak, sedari dini.
Beragam cara dapat ditempuh untuk menumbuhkan minat baca, seperti mendekatkan buku dalam kehidupan keseharian anak sehingga ia telah mengenal benda bernama buku, bahkan sejak ia belum bisa membaca. Buku untuk anak sendiri sebaiknya disesuaikan perkembangan anak, dimana anak biasanya tertarik dengan buku yang kuat unsur visualnya alias buku cerita bergambar. Lebih jauh, situasi rumah yang ramah dengan aneka bacaan mulai dari yang serius sampai yang ringan, ensiklopedia, koran, novel, majalah dan sebagainya, tentunya akan lebih mendukung bagi tumbuhnya kecintaan anak pada dunia membaca. Metode lainnya yang bisa dilakukan ialah dengan mendongeng, dimana aktivitas yang satu ini dapat dilakukan dengan atau tanpa buku. Di samping manfaat-manfaat yang dikandung dalam dirinya sendiri, mendongeng ibarat sebuah kendaraan yang dapat mengantarkan anak pada tahap lebih lanjut yakni keterampilan membaca.
Menurut survey yang dilakukan terhadap 500 anak berusia 3-8 tahun yang dipimpin oleh Richard Woolfson dan disponsori oleh Disney/Pixar World of Cars, hampir 2/3 anak menginginkan orangtua mereka menyempatkan waktu membacakan dongeng sebelum tidur . Hal ini setidaknya memberikan gambaran bahwa kegiatan mendongeng merupakan salah satu aktivitas yang disukai oleh anak-anak. Bahkan aktivitas mendongeng, telah diakui secara ilmiah, memberikan manfaat bagi tumbuh-kembang anak secara kognitif maupun psikologis. Lingkungan awal bagi bayi sampai usia balita, yang diisi dengan rangsangan positif seperti aktivitas mendongeng ini, akan berpengaruh terhadap perkembangan otak mereka, dimana pada usia dua belas tahun kemampuan otak mereka lebih baik ketimbang mereka yang dibesarkan dalam lingkungan yang kurang menstimulasi perkembangan otak .
Banyak manfaat dapat dipetik dari kegiatan mendongeng. Pertama, kegiatan mendongeng ini merupakan salah satu cara untuk mempererat kebersamaan dan ikatan emosi antara orangtua dan anak. Ritual mendongeng sebelum tidur bisa menjadi memori manis yang dikenang anak sampai ia dewasa kelak. Kedua, aktivitas mendongeng dapat mengasah kemampuan berbahasa anak. Dalam filsafat konstruktivisme, mendongeng dapat dipandang sebagai sarana untuk mengembangkan bahasa lisan dan kemampuan literasi anak. Mendongeng adalah proses menghadirkan realitas sosial melalui cerita, ke dalam alam pikiran anak-anak, yang dilakukan melalui bahasa. Mendongeng membantu anak memahami makna realitas yang dihayati bersama oleh masyarakat, seperti apa itu binatang, tumbuhan, sampai hal abstrak seperti kebaikan dan kasih sayang. Selain itu, mendongeng dapat memperkaya perbendaharaan kosakata yang dipunyai anak. Ditambah lagi, jika dibangun suasana mendongeng yang interaktif maka bisa digunakan untuk memancing umpan balik dari anak, seperti adanya tanya jawab tentang apa yang terjadi dalam kisah dongeng tersebut. Ketiga, dongeng dapat merangsang imajinasi anak, baik dongeng tanpa buku maupun dengan buku. Misalnya, ketika diceritakan bagaimana petualangan kancil yang nakal karena suka mencuri timun diakhiri dengan jebakan boneka orang-orangan sawah yang telah dilumuri lem, atau bagaimana Timun Emas berlari-lari menghindari kejaran raksasa, atau megahnya kastil-kastil ala cerita Eropa seperti Putri Salju yang tidak dapat dijumpai di negeri sendiri, atau cerita Pandawa yang harus menghadapi Kurawa yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung, seratus! Lebih lanjut, imajinasi anak dapat mendorong tumbuhnya proses kreatif dalam diri anak, yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan seperti menggambar atau memainkan tokoh-tokoh dalam dongeng dengan benda-benda mainannya. Selain itu, dongeng juga mampu menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral pada anak tanpa harus menggurui. Melalui berbagai karakter dan penokohan yang ada dalam dongeng, dapat ditanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, empati, kasih sayang, tolong menolong, yang dapat membentuk kepribadian anak yang positif. Namun, dengan menyesuaikan perkembangan daya nalar anak, karakter-karakter yang diperkenalkan memiliki pendirian yang tegas, mewakili kebaikan ataukah kejahatan, protagonis ataukah anatagonis. Ini adalah pijakan dasar anak nantinya menyelami dunia lebih dalam, yang ternyata juga memiliki karakter abu-abu.
Mendongeng untuk anak tidak hanya harus memperhatikan isi dan narasi cerita (what story) dan tujuan mendongeng seperti menanamkan pesan moral (why tell that story) seperti yang diungkapkan sebelumnya, melainkan juga harus menimbang unsur-unsur lain yakni untuk siapa dongeng itu dibacakan (who listen the story), bagaimana cara penyampaiannya (how to tell the story) juga kapan dan dimana cerita itu akan disampaikan (when and where). Karena target audiens dari kegiatan mendongeng ini adalah anak-anak, maka cara penyampaian cerita tentunya dengan kemasan dan bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak. Kompleksitas isi cerita yang ditawarkan gradual mengikuti tingkat usia anak, dan yang tidak kalah penting ialah menyangkut fisik buku yang mencakup unsur visual, ilustrasi, lay out sampai ketebalan buku. Ruang fisik dan waktu yang disediakan untuk mendongeng pun juga dapat diatur lebih fleksibel dan tidak semata terikat pada ‘dongeng sebelum tidur’ yang umumnya dibacakan di (ruang) kamar pada (waktu) sebelum anak tidur. Pada saat anak bermain misalnya, tempatnya pun bisa di ruang keluarga, kebun dan sebagainya. Terakhir, bagaimana kualifikasi pendongeng juga memiliki peran yang signifikan terkait bagaimana penyampaian dongeng tersebut. Pendongeng idealnya memiliki kedekatan dengan anak, yakni keluarga besar dan terutama orangtuanya sendiri. Sang pendongeng sendiri harus memiliki ‘keterlibatan’ dalam cerita yang dibawakannya, artinya ia harus menyukai, menjiwai cerita, dan menikmati proses mendongeng itu sendiri.
Pendongeng harus pula memiliki keseriusan dalam membacakan dongeng, mampu membawakan dongeng itu dari awal sampai selesai. Selain itu, tidak kalah penting juga adalah kreativitas dalam penyampaian dongeng, misalnya penggunaan alat peraga dalam membawakan dongeng seperti boneka, wayang. Juga dapat ditambah unsur penunjang seperti musik dan efek suara (sound effect) baik dari alat pemutar maupun manual dilakukan manusia. Apalagi dengan komunikasi nonverbal yang kuat dari mimik muka dan gesture, mampu membuat cerita yang dibawakan menjadi lebih ‘hidup’, yang akan semakin mendorong antusiasme anak terhadap acara mendongeng ini.
Begitulah, meluangkan waktu mendongeng anak-anak ternyata memiliki efek yang positif bagi anak dalam proses mereka bertumbuh dan berkembang. Anak adalah harapan masa depan umat manusia, maka berikanlah mereka bekal untuk meneruskan keberlangsungan peradaban umat manusia. Mewujudkan cita-cita yang besar itu dapat dimulai dari hal kedengarannya sederhana, mendongeng....
Referensi:
M E., Young. 1999. Early child development: Investing in the future, Washington DC: World Bank.
note: gambar dipinjam dari sini
Perkaya Imajinasi dengan Dongeng. 2009. Terarsip dalam: http://indonesiabuku.com/?p=2039
Suciati, Irli Sri. 2007. Seputar Bagaimana dan Apa Bercerita atau Mendongeng yang Baik kepada Anak-anak. Mimbar Pustaka Jatim No.01/Th.I/Januari-Maret 2007
(diikutsertakan dalam lomba penulisan arikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)
[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Buku dan Dongeng: Hiburan yang Mencerdaskan
Oleh: MarlinaCuma Mengeluh
Sering mendengar ucapan orang tua seperti ini?
“Duh anak saya nggak mau membaca buku pelajarannya”! atau “Anak saya malas sekali jika disuruh membaca.” Saya acap kali mendengar keluhan serupa dari ibu-ibu sekitar saya.
Disisi lain, saya pernah menghadiahkan sebuah buku parenting tentang masa emas 3 tahun pertama pada seorang kerabat, dan tanggapannya adalah : “Akh, saya nggak mau baca buku itu, karena tidak ada gambarnya, terlalu tebal!” Wow. Jadi mereka akan mengeluh jika anaknya malas atau tidak suka membaca, namun untuk membaca sendiri pun mereka enggan. Ironis.
Ada juga orang tua yang membiarkan anak-anak mereka lebih menyukai menonton TV dari pada membaca buku dan akhirnya menjadikan televisi sebagai pangkalan hiburan dan informasi utama keluarga. Seluruh keluarga, dari orang tua hingga anak –anak menelan semua sajian televisi yang sebagian besar berisi sinetron, infotainment, gossip, iklan, lagu lagu dewasa dan persaingan.
Ketika berkeluarga, sungguh saya tidak mau menjadikan televisi sebagai pusat hiburan di keluarga kami. Televisi memang mempunyai daya tarik yang begitu kuat dan sanggup membuat anak duduk tenang, namun efek negative dari banjir informasi yang tak tersaring, jauh lebih berbahaya!
“Apakah hanya Tv aja sih yang bisa begitu membius pemirsanya?” “Apakah memang tak ada hal lain yang bisa menarik perhatian anak-anak?” “Benarkah tidak ada hal lain yang bisa menjadi kebiasaan anak-anak?” “Tapi apa?” “Bagaimana caranya?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu melintas.
Saya sangat percaya bahwa membaca adalah kegiatan membuka wawasan baru yang lebih menantang daripada sajian instan televisi.
Gemar Membaca
Saya dan suami suka sekali membaca dan ingin Lula, anak kami, dapat meneladani kebiasaan kami ini. Saya mulai berpikir bagaimana caranya. Saya mulai menggali lebih dalam. Mulai bertanya pada diri saya sendiri. Mengapa saya suka membaca? Karena saya terbiasa membaca. Atau mengapa buku itu saya baca? Karena saya tertarik dengan buku itu dan ingin tahu lebih dalam dan lebih lanjut dari buku itu. Tapi bagaimana caranya memperkenalkan kepada putri kecil saya hingga akhirnya tertarik pada buku.
Saya yang begitu dekat dengan almarhum papa, sering melihat papa membaca buku. Beliau gemar sekali membaca buku cerita silat. Ko Ping Ho menjadi buku favorit beliau. Dan mungkin saya secara alamiah menjadi tertular kesukaannya akan buku. Oke, mungkin “menularkan” adalah kata kerja yang saya cari. Saya mulai mencoba cara ini. Menularkan.
Menularkan
Sungguh saya belum punya cara yang sudah terbukti manjur. Tapi saya coba menularkan kebiasaan saya dan suami membaca, dengan cara memamerkan kebiasaan itu sesering mungkin di depan anak kami. Itu cara kami ke lula. Awalnya hanya untuk mengenalkan yang namanya buku. Mulai dari ternyata buku itu ada yang bergambar, berwarna hingga oh ternyata buku itu bisa sobek dan mengeluarkan suara saat disobek. Tidak apa. Itu harga sebuah pembelajaran, saya pikir saat itu. Ternyata berhasil menarik perhatian Lula.
Lula juga mulai tahu kalo buku A adalah buku bunda, buku B adalah buku ayah.Bagian atas rak buku berisi buku ayah, bagian tengah berisi buku bunda. Yah memang karena di kamar kami, dari 4 lemari, 3 diantaranya berisi buku.
Lalu, berikutnya apa? Dia sudah mengenal, tapi dia belum tertarik untuk membaca atau sekedar berlama-lama dengan buku. Bukan hanya karena gambar tapi memang tertarik untuk membaca.
Mendongeng
Untuk tujuan yang kedua ini, saya memilih membacakan. Bukan sekedar membacakan tentunya, tapi membacakannya juga harus menarik, paling tidak menarik perhatian anak untuk beralih dari aktifitasnya dia yang lain jadi mendengarkan apa yang saya baca.
Mendongeng, itulah pilihan saya. Kebetulan waktu SMA, saya ikut aktif di kegiatan drama sekolah jadi mudah buat saya mengatur ekspresi. Jadilah saya mendongeng bak pendongeng professional. Dan ternyata berhasil. Lula, selalu diam memperhatikan ketika saya mulai membaca dengan suara lantang, berintonasi dan sedikit bergaya. Entah karena lula bingung melihat kehebohan bundanya atau benar-benar karena dia tertarik bacaan yang saya baca, entahlah. Hahahaha.. tidak apa, yang penting membuat Lula tertarik dulu.
Itu terus saya lakukan setiap hari, meskipun waktunya tidaklah tetap. Karena hingga lula umur 1 tahun saya masih aktif bekerja. Tapi saya sungguh menikmati. Menikmati memamerkan kehebohan saya. Menikmati rasa takjub Lula melihat bundanya. Dan menikmati lula diam mendengarkan.
Waktu demi waktu berlalu, Lula beranjak besar. Beranjak susah diajak tidur siang. Tapi ada trik khususnya bunda. Kalau Lula tidak mau tidur siang karena asyik bermain, saya akan bilang, “siapa yang mau tidur sama bunda dan dibacakan buku?” Langsung Lula beranjak dari aktifitasnya dan siap-siap tidur siang.
Ketika Lula sudah bisa bicara, dia mulai meminta saya membacakan untuknya. Dia mulai memilih buku yang dia ingin saya bacakan atau yang ingin dibelinya. Bahkan pernah suatu hari dia dapat ‘angpau” dari neneknya dan ketika ditanya ingin beli apa, Lula dengan serta merta menjawab ingin membeli buku dan dibacakan bunda. Lula terlihat sudah memiliki rasa ingin tahu tentang isi buku yang dia pilih. Ok, satu step lagi sudah terselesaikan.
Membaca melatih imajinasi
Di lain kesempatan, saya sering melihat lula membaca sendiri buku yang pernah saya bacakan dengan kata-kata yang hampir persis sama dengan yang ada di buku. Mungkin dia hapal, karena waktu itu dia belum bisa membaca. Terkadang juga hanya berdasarkan gambar yang ada, lula berimajinasi sendiri mengarang ceritanya. Dan yang membuat menarik, intonasi pun menyertai imajinasinya.
Saat bermain sekolah-sekolahan bersama teman-temannya, Lula juga suka membacakan buku sesuai hapalan atau imajinasinya.
“Alhamdulillah, Lula sudah mulai tertular.” Ucap saya saat itu. Lula kini sudah mulai membaca dan dia sudah memiliki rak khusus buku-bukunya. Isinya segala macam buku. Dia yang akan memilih buku yang mana yang ingin dia baca atau dibacakan.
Dengan Cinta
Dengan cinta semua bisa dilakukan. Meskipun tidak ikut latihan khusus mendongeng, karena cinta kepada anak dan keinginan membuatnya gemar membaca, saya bisa menjadi pendongeng.
Bahkan saya pernah mendapatkan hadiah karena mendongeng di sebuah acara yang dihadiri para orang tua, yang diselenggarakan sebuah penerbit bacaan anak. Saat itu setiap orang diminta memilih satu buku bacaan anak yang mereka terbitkan dan diminta mendongeng di depan forum. Alhamdulillah tanpa disangka, saya menjadi pemenang. Ketika ditanya apakah saya seorang pendongeng, saya menjawab iya, mendongeng untuk anak saya. Dan saat mendongeng tadi, saya membayangkan sedang mendongeng untuk anak saya, meskipun di depan saya adalah para orang tua.
Cara yang saya sering lakukan sebelum mendongeng adalah membiasakan membaca dulu ceritanya. Sehingga saya tidak lagi terlalu berfokus pada buku bacaan atau pada teksnya. Saya bisa pindahkan fokusnya ke perubahan suara (sesuai jumlah tokohnya) dan sedikit gaya tentunya.
Saya percaya, untuk hasil yang terbaik tidak ada yang instant. Semua butuh proses. Termasuk menumbuhkan kegemaran membaca. Butuh proses mengenalkan, membuat tertarik dan mencontohkan. Terbukti saat lula belajar membaca, dia senang sekali karena sebelum belajar terlebih dibacakan dongeng oleh ibu gurunya. Hasilnya, tidak saja dia jadi bisa membaca dengan cepat (kurang dari 3 bulan) tapi juga jadi gemar membaca.
Jalan masih panjang, masih banyak yang harus di eksplorasi dan dengan sabar dipelajari.
Lakukan dengan cinta untuk orang-orang tercinta, maka hal luar biasa akan terjadi.
(diikutsertakan dalam lomba penulisan arikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)
note: gambar dipinjam dari sini
[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Negeri Warna-warni dan Pesannya
Oleh: Umi Laila SariSaya belum menemukan risetnya secara pasti. Mungkin hanya penilaian individu dengan lingkungan tinggal di kota. Tentang kenangan masa lalu di usia kanak-kanak saya, dongeng sebelum tidur. Sebab, sesudah zaman masa kecil saya, jarang –semoga bukan tidak ada-- lagi orang tua yang mendedikasikan waktunya satu atau dua jam untuk ngeloni seraya mengisahkan cerita tutur warisan nenek-kakek.
Tidak perlu bingung mencari sebabnya. Bahwa kehidupan modern telah merubah banyak hal. Termasuk kebiasaan dalam keluarga. Mendengarkan suara lembut penuh muatan cinta dari orang tua menjelang tidur bukan lagi satu-satunya pilihan anak. Sudah tersedia berbagai kecanggihan tehnologi yang siap membuai anak-anak millenium ke alam nirwananya. Tanpa harus –seolah- membuang waktu orang tua secara kurang efektif. Konsep realitisnya di kehidupan penuh persaingan sekarang ini memang demikian.
Tapi toh, kehidupan tidak hanya ditarik garis hitam-putih pada efektifitas waktu dan tuntutan materi. Kehidupan adalah investasi kebaikan dan menanam perbaikan adalah sisi terpenting humanisme. Dan hubungan orang tua-anak adalah ikatan humanisme paling hakiki dalam kehidupan.
Maka, mendongeng dalam tradisi leluhur ngeloni tadi, akan menjadi sangat bermakna bagi pembentukan karakter anak. Bagaimana orang tua selalu menyelipkan ajaran hidup tentang keuletan dan kerja keras pada kisah lomba lari kura-kura dan kelinci. Bagaimana juga anak akan selalu mengingat bahwa sifat tamak dan licik tetap akan membawa kesengsaraan hidup seperti tokoh monyet yang tidak pernah puas dengan makanan yang dimilikinya. Rekaman masa kecil adalah memori kuat yang tentu tidak ingin disia-siakan orang tua.
Suatu ketika saya sempat tertegun dengan pengalaman adik saya. Usianya hampir memasuki usia sekolah. Saya menyempatkan diri mengajaknya ke toko buku. Ketika tiba di stand buku anak, saya biarkan ia beberapa saat melihat-lihat buku yang beraneka rupa. Sebuah buku tidak terlalu tebal dengan gambar lebih dari setengah halaman yang akhirnya dipilih adik saya. Si Anjing Bandel, demikian judulnya. Ternyata, ia memutuskan untuk mengambilnya karena tertarik dengan gambar beberapa ekor anjing yang warna-warni. Lucu dan menggenaskan. Meskipun ia sesungguhnya menyukai kucing. Begitu tiba di rumah, tanpa memberi saya jeda untuk istirahat, ia meminta saya membacakannya.
“Sayang, buku ini kan dibeli biar Didik belajar baca. Tu kan tulisannya besar-besar dan sedikit, jadi mudah bacanya. Ayo dong, kalau mau tau ceritanya, adek belajar baca.” Kata saya membujuknya.
“Iya, adek mau kok bacanya tapi besok, sekarang ayuk dulu yang bacanya. Didik dengerin dulu,” katanya yang telah siap berbaring di tempat tidurnya dan mengacungkan buku kearah saya. Saya mengalah. Membacakan dengan perlahan kisah di buku itu. Tidak hanya sekali, ketika telah sampai pada kata tamat, adik saya menginginkan untuk dibacakan ulang.
Saya tersadar ada yang berbeda manakala tidak lagi terdengar suara ‘guk… guk…’ dari bocah kecil itu. Sebelumnya, ia selalu menimpali teriakan itu setiap saya membacakan kalimat ‘… dan anjing bandel itu memakan pudding susu…’, atau ‘…dan anjing bandel itu menyelinap di dalam lobang…’. Ah, ternyata bujang kecil kami telah terlelap bersama imajenasi kebun rumput nan luas tempat sang anjng bermain.
Pengalaman pertama saya mendongeng. Nampaknya serupa pula keadaan ibu dulu sewaktu mendongengi saya Si Kancil yang Cerdik. Keesokan harinya adik saya begitu semangat membuka tiap lembar buku tersebut. Tertatih-tahih mengingat huruf lalu mengejanya agar dapat dibaca. Pada sela-sela waktu, ia menceritakan kembali pada dirinya seolah ia telah membaca hingga halaman terakhir. Padahal saya tahu ia telah menghafal ceritanya ketika malam saya mendongeng. Dan yang sangat luar biasa dalah ia tetap mengingatnya hingga kini. Saat buku tersebut telah di makan usia. Saat saya hampir tidak ingat lagi kejadian tersebut. Saat ia telah memiliki buku-buku lain. Ingatan luar biasa untuk satu kali saya mendongeng.
Meski demikian, tetap saja menumbuhkan minat anak untuk membaca dan orang tua untuk mendongeng bukan perkara mudah. Terkadang meski orang tua telah memiliki pemahaman yang baik tentang betapa berharganya kegiatan tersebut bagi tumbuh kembang anak. Saya sepakat pada pengalihan pemikiran bahwa membaca bukan kewajiban tetapi kegemaran. Orang tua tidak merasa terbebani dengan memberikan dirinya –bukan hanya waktu-- pada anak untuk mendongeng. Dan anak semakin menikmati dunia bahagianya dengan buku sebagai sahabat bermainnya. Ada beberapa tips yang saya yakini dapat mewujudkan kecintaan akan membaca.
Pertama, memberi prioritas khusus terhadap kegemaran membaca dan mendongeng. Jelas, ini akan sulit dilakukan hanya oleh salah satu orang tua. Suami-istri harus memiliki kesepakan tersebut. Perhatian yang dimaksud kesungguhan tekad untuk memberikan pikiran, tenaga, waktu juga meteri. Semisal, ada agenda dan budged khusus untuk aktifitas membaca dalam keluarga akan lebih baik.
Kedua, pastikan terlebih dahulu bahwa kita –orang tua atau orang dewasa disekitar anak—sangat menikmati aktifitas membaca atau mendongeng. Anak begitu mengetahui ketika kita tidak menghadirkan hati dalam menjalani sesuatu. Terkesan hanya kewajiban yang harus dilakukan orang tua kepada anak, tidak lebih. Mungkin dalam kondisi tertentu ketika kita tidak terlalu ‘baik’ untuk mendongeng atau menemani membaca, akan lebih bijak berkata, “maaf sayang, bunda sepertinya kurang enak badan butuh istirahat lebih awal, bunda akan sangat senang kalau kamu mau membaca sendiri dulu untuk hari ini,” dibanding tetap memaksakan diri.
Ketiga, libatkan anak dalam membuat keputusan tentang kegemaran membaca. Semisal, tentang ke perpustakaan umum bersama dan mendaftarkan diri menjadi anggota di sana. Tentang letak perpustakaan rumah. Tentang buku apa yang akan dibeli sebagai kado orang-orang terdekat dan trik ini adalah yang paling saya sukai.
Keempat, menciptakan suasana rumah yang nyaman untuk membaca. Standar kenyamanana sangat subjektif. Namun yang paling perlu diperhatikan adalah kecendrungan anggota keluarga ketika membaca. Ada sebagian orang yang lebih menikmati membaca dengan suasana sangat hening di dalam kamar. Tetapi ada juga yang lebih menyukai sedikit suara alam atau instrument. Selebihnya adalah hal umum yang memang harus diperhatikan misalnya kondisi tempat yang bersih serta pencahanyaan cukup. Ada keluarga yang mengkhususkan satu ruang khusus di rumah sebagai perpustakaan tetapi ada pula yang meletakkan buku hampir di setiap sudut rumah agar setiap anggota keluarga dapat membaca kapan saja dan dimana saja sesuka mereka, sebagaimana yang terjadi di rumah kami. Terserahlah, bagaimanapun wujudnya selama kenyamanan dapat diciptakan.
Kelima, bebaskan anak mencari buku atau kisah yang ingin didengar atau dibaca. Cara ini dilakukan agar anak merasa tetap menemukan dunianya. Tidak perlu memaksa anak membaca buku –yang dalam pandangan orang tua-- total bermuatan ilmiah. Sesungguhnya dalam kisah-kisah anak banyak pula pembelajaran yang dapat mereka peroleh. Tanpa perlu dikomandoi seiring kegemaran membaca, anak akan memperluas jenis bahan bacaannya.
Saya yang ketika kanak-kanak sangat menyukai mmembaca dongeng tentang kerajaan di negeri warna-warni, pada usia SMP akhirnya sangat menyukai membaca buku tentang astronomi, geografi hingga arkeologi. Dalam kondisi ini, orang tua berada ‘di samping anak’. Menegaskan kembali pesan moral yang terdapat dalam bahan bacaan. Artinya, meski anak membaca negeri warna-warni, orang tua mengingatkan ada pembelajaran di dalamnya.
Keenam, mintalah anak mereview kembali bahan bacaan yang telah dibaca atau didengar. Bagi saya, tidak bermasalah jika suatu ketika, orang tua dan anak bertukar peran. Sang anak yang mendongeng sebelum mereka tidur. Begitu pula dalam keseharian, orang tua dapat mengulang ingatan atau komentar anak tentang bacaan mereka. “Eh, dek, buku tadi cerita apa sich?” atau, “Menurutmu, tokoh Kupu-kupu di buku itu baik atau tidak?” Meminta anak menceritakan kembali hasil bacaannya saaat berkumpul bersama di ruang keluarga adalah bentuk penghargaan bagi anak. Tentunya setelah itu, orang tua memberinya tepuk tangan dan pujian karena ia telah dapat berbuat lebih baik.
Dari semua tips di atas, sejatinya kegemaran membaca pada anak adalah bermula dari kecintaan akan membaca. Dan untuk bisa cinta membaca, anak harus telah terbiasa membaca bahkan sejak mereka dalam kandungan. Yup, orang tua yang menginginkan anaknya mencintai membaca mereka harus telah lebih dahulu ‘menggilai’ membaca. Dan bersyukur, orang tua saya telah melakukannya meski awalnya tanpa mereka sadari.
Referensi;
Sumardiono, Homeschooling, A Leap for Better Learnig; Lompatan Cara Belajar, PT Alex Media Komputindo; Jakarta, 2007.
Teresa Orange dan Luuise O’Flynn, The Media Diet for Kids, terj., Penerbit Serambi; Jakarta, 2007.
(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel ”Cinta Dongeng, Cinta Baca")
note: gambar dipinjam dari sini
Langganan:
Postingan (Atom)