Jumat, 31 Juli 2009

Pengumuman Pemenang Kuis "Media Diet for Kids"

Dear sahabat KOMPAK,

Seperti yang telah kami tulis dalam pengumuman kuis yang lalu, pemenang kuis akan diumumkan pada hari ini. Sungguh, sulit bagi kami, admin KOMPAK dan perwakilan dari penerbit Serambi untuk memilih pemenangnya. Semua tulisan disusun dengan sangat bagus, baik dari materi maupun penulisannya.

Namun karena harus memilih, akhirnya, berikut ini 5 tulisan yang kami anggap sebagai tulisan terbaik dari 15 artikel yang masuk :

Pemenang I : Pengaruh Media (Debby M. Yunitasari)
Pemenang II : Berbagi Jatah Waktu Menonton Meminimalisasi Dampak Buruk TV (Umi Laila Sari)
Pemenang III : Aku Ga Mau Nonton Itu, Ah! (Yudith Listiandri)
Pemanag Hiburan I : Selalu Ada Hari Tanpa TV (Yudith Fabiola)
Pemenang Hiburan II : Media Cetak & Media Elektronik (Elin Marlina)

Para pemenang harap dapat mengirimkan alamat (di Indonesia) untuk pengiriman hadiah ke e-mail pengiriman artikel kemarin.

Selamat kepada para pemenang dan terima kasih atas partisipasi sahabat semua. Semoga kita semua dapat makin bersemangat dalam usaha memberikan media & hiburan yang sehat bagi anak Indonesia!

salam KOMPAK! :)

Kamis, 23 Juli 2009

Menonton Televisi itu seperti Makan: Melindungi Anak dari Tayangan Televisi yang Tidak Sehat

Oleh Wisnu Martha Adiputra

Literasi media, terutama untuk anak-anak dan remaja, telah menjadi perhatian saya dan teman-teman sejak tahun 2005. Di tahun itu, saya dan beberapa teman mendapatkan grant riset dari Ristek untuk meneliti literasi media pada remaja di tiga kota.

Jadi, bila mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan menyebarkan “virus” literasi media, saya akan sangat senang mengikutinya. Kesempatan itu datang kemarin (21 Juli 2009). Kemarin itu saya menjadi narasumber dalam debat interaktif di Jogja TV. Acara tersebut diselenggarakan oleh KPID dan Jogja TV dan berdiskusi tentang melindungi anak dari tayangan televisi yang tidak sehat.

Narasumber acara tersebut, selain saya, adalah Surach Winarni (anggota KPID DIY) dan Ratna Susetya W. (tim pemantauan dari KPID). Mbak Surah berbicara dalam kapasitasnya sebagai komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah yang memiliki program rutin mensosialisasikan cara menonton televisi yang baik pada masyarakat, selain tugasnya yang utama yaitu mengeluarkan peraturan berkaitan dengan penyiaran di DIY.

Mbak Ratna merupakan representasi dari masyarakat yang peduli pada tayangan yang baik. Ia adalah salah seorang anggota tim pemantau yang menjadi mitra KPID. Sementara saya sendiri mewakili akademisi, sekaligus juga individu yang mencoba peduli dengan kondisi penyiaran Indonesia yang tidak kunjung membaik.

Di dalam wilayah akademis, “perlindungan” atau kesadaran individu dalam mengakses pesan media, berada dalam wilayah konsep literasi media. Seringkali literasi media diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai melek media. Saya pribadi tidak setuju dengan padanan tersebut karena konsep melek media menghilangkan nuansa individu yang proaktif ketika berinteraksi dengan media.

Untuk memudahkan kita, terutama dikaitkan dengan tayangan anak, konsep literasi media itu bisa kita analogikan dengan aktivitas diet dan berenang.
Tayangan televisi ataupun pesan media secara umum dapat kita metaforkan sebagai makanan. Ia mesti dipilah dan dipilih agar kita mengkonsumsi “makanan” itu dengan baik. Selain itu, sebagaimana halnya makanan empat sehat lima sempurna di mana makanan itu memiliki banyak jenis dan kegunaan yang berbeda, demikian juga dengan pesan media.

Pesan media itu terdiri dari beragam jenis. Secara mudah, seperti yang dikatakan James Potter, pesan media terdiri dari tiga jenis; berita, hiburan, dan iklan. Ketiga jenis pesan itu memerlukan perhatian yang berbeda dan “dicerna” secara berbeda pula.
Melalui analogi tersebut, kita sering mendengar istilah diet media. Diet media memperhatikan apa dan bagaimana kita mengkonsumsi “makanan” yang ditawarkan media. Pesan media itu, untuk anak-anak, ada yang tidak boleh “dimakan”, ada yang boleh “dimakan” tetapi tidak boleh berlebihan, dan ada juga pesan media yang harus “dimakan”.

Pesan media yang tidak boleh “dimakan” oleh anak-anak misalnya sinetron untuk remaja dan berita. Pesan media yang boleh diakses oleh anak-anak tetapi dengan terbatas adalah semua film anak di mana orang tua mesti mengawasi. Ada yang pesan media yang sebaiknya, bahkan harus, diakses oleh anak-anak. Pesan media yang termasuk kategori ini adalah program acara yang sesuai dan aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Acara seperti “Bocah Petualang” dan “Laptop si Unyil” di stasiun televisi Trans 7 termasuk dalam kategori ini.

Analogi lain untuk aktivitas mencerna media adalah literasi media itu seperti berenang. Informasi dan pesan media bisa kita anggap sebagai “lautan” di mana audiens, terutama anak-anak, mesti memiliki kecakapan atau kemampun tertentu untuk menempuh “lautan” itu. Literasi media adalah kecakapan tersebut. Kecakapan yang membantu individu merasakan manfaat yang positif dari media, terutama televisi.

Literasi media sendiri terdiri dari tiga tingkat. Tingkatan tersebut adalah tingkat rendah, menengah, dan tinggi. Literasi media tingkat tinggi diperlukan oleh orang-orang yang mempelajari media atau yang memiliki profesi berkaitan dengan dunia media dan komunikasi, semisal wartawan dan praktisi humas.
Sementara, masyarakat umum sebaiknya memiliki literasi media pada tingkat menengah, yaitu pada jenis-jenis pesan dan konsekuensinya. Literasi media tingkat dasar sebaiknya dimiliki oleh seluruh anggota masyarakat karena ini adalah pondasi bagi masyarakat informasi.

Bila dikaitkan dengan anak, tayangan televisi memiliki problematikanya sendiri. Problem yang utama tentu saja dualitas konsep tersebut: anak sebagai penonton atau anak sebagai tontonan. Aspek pertama berkaitan dengan audiens, sementara yang kedua berkaitan dengan pesan atau tayangan.
Problem yang kedua adalah: anak-anak dalam usia apa? Anak-anak sebelum usia dua tahun, anak-anak usia 3 – 5 tahun, anak-anak pendidikan dasar, dan anak-anak pra-remaja. Semua jenjang usia anak-anak tersebut memiliki perbedaan besar dalam mengakses pesan media.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai orang-tua agar anak-anak kita tidak mengkonsumsi tayangan tidak sehat? Untuk anak usia dua tahun ke bawah direkomendasikan tidak menonton televisi sama sekali. Tidak hanya televisi sebenarnya, tetapi juga layar, termasuk layar monitor dan pesawat televisi untuk memainkan konsol game.

Anak-anak usia dua sampai lima tahun sebaiknya ditemani ketika menonton. Anak-anak usia ini benar-benar tidak diperbolehkan menonton acara yang bukan untuk usianya. Bila pun harus menonton, sebaiknya orang tua mengawasi aktivitas menonton tersebut. Orang tua sebaiknya ada di sisi anak untuk menjelaskan informasi di tayangan yang tidak ia pahami.

Bagaimana bila sang orang tua bekerja? Ini juga tidak masalah. Pengawasan tidak harus berarti kehadiran fisik. Pengawasan di sini adalah bagaimana orang tua mengatur dan merencanakan tontonan untuk anak. Bila tidak bisa betul-betul hadir mengawasi, orang tua dapat menitipkan diet menonton televisi tersebut pada orang-orang dewasa di rumah.

Anak-anak usia enam sampai dua belas tahun disarankan menonton televisi ataupun mengakses media yang lain asalkan isinya sesuai dengan usianya. Bagaimana pun juga, media adalah sumber informasi utama pada masa sekarang ini.
Walau demikian, hal yang juga mesti diingat oleh orang tua adalah keseimbangan antara aktivitas menonton tv dan mengakses media, dengan aktivitas fisik. Jangan sampai aktivitas menonton menjadikan aktivitas fisik, seperti bermain di lapangan dan berolahraga terlupakan. Jangan sampai aktivitas menonton tv menjadi saran eskapisme dari aktivitas fisik.

Akhirnya, jangan takut dengan tayangan televisi. Dengan analogi diet dan berenang kita bisa “menaklukkan” televisi dan mempergunakannya sebesar mungkin untuk kepentingan anak-anak kita.

note: gambar diambil dari sini

Anak dan Ketergantungan Media

Ditulis oleh Trias Saputra
Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids

Manusia bergantung pada media. Media di sini tidak hanya terbatas pada media cetak maupun elektronik, namun juga media interaktif (contohnya internet). Hal inilah yang sedang menimpa manusia sekarang. Kita dapat melihat bagaimana kebutuhan akan media berkembang pesat. Kebutuhan akan media yang berkembang pesat disebabkan adanya suatu anggapan bahwa siapa yang menguasai informasi maka ia yang akan bertahan di tengah arus globalisasi yang kian deras. Selain kebutuhan akan informasi, media juga dapat dijadikan sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia yang lainnya seperti hiburan, membangun sebuah hubungan, bahkan kebutuhan yang bersifat rohaniah. Hal tersebut membuat media berperan besar dalam kehidupan manusia atau bahkan mengendalikan kehidupan manusia.

Perkembangan teknologi yang ada membuat media semakin mudah untuk diakses. Misalnya saja internet yang kini sedang populer. Menjamurnya warnet (warung internet), hadirnya hot spot, dan adanya handphone yang terkoneksi internet membuat internet menjadi mudah untuk diakses. Teknologi juga membuat media lain seperti koran dan televisi semakin asyik untuk dinikmati. Kemudahan dan keasyikan ini tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa namun juga oleh anak-anak. Harus kita sadari bahwa media telah menyentuh berbagai segi kehidupan manusia. Dan di dalamnya termasuk anak-anak. Tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak sekarang sangat menggemari media yang ada. Mulai dari komik, majalah, televisi, dan bahkan yang terbaru adalah internet. Fenomena ini tentu saja membawa berbagai dampak bagi anak-anak. Informasi dan pengetahuan yang melimpah yang didapatkan anak-anak dari media memang menjadi keuntungan tersendiri. Namun yang menjadi masalah adalah munculnya kekhawatiran dari beberapa kelompok individu terhadap dampak negatif adanya media. Kekhawatiran ini menjadi wajar ketika melihat berbagai kasus di mana anak-anak berbuat kekerasan hanya karena meniru apa yang disajikan oleh media. Kekhawatiran ini menjadi wajar mengingat media sekarang sedang terjebak fundamentalis pasar. Sehingga media lebih mementingkan kebutuhan pasar. Hal tersebut berimbas pada kualitas dari apa yang disajikan oleh media. Media menganggap apa yang disajikan hanya sebagai komoditas belaka. Sajian yang berorientasi pada nilai dan pelajaran moral mulai disingkirkan dan digantikan dengan sajian yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan industri.

Melihat fenomena tersebut, seharusnya kita menjadi waspada dan peduli terhadap masa depan anak-anak kita. Dapat kita bayangkan bila anak sebagai individu yang masih labil dan mudah terpengaruh harus mendapat pengaruh negatif dari media. Dalam sebuah teori yang bernama teori Jarum Hipodermik dikemukakan bahwa kekuatan media yang begitu dahsyat hingga bisa memegang kendali pikiran khalayak yang pasif tak berdaya. Kekuatan media yang mempengaruhi khalayak ini beroperasi seperti jarum suntik, tidak kelihatan namun berefek (Severin – Tankard, Jr, 2005: 152). Berdasarkan teori ini dapat kita lihat bahwa sajian negatif yang ada di media dapat mempengaruhi perilaku sang anak.

Oleh karena itu anak harus diberikan perhatian lebih. Perhatian ini tidak hanya diberikan oleh pemerintah melalui kebijakannya, namun yang lebih penting adalah kontrol dari keluarga. Kontrol keluarga tersebut harus berorientasi pada pencegahan. Sehingga pengaruh negatif tersebut dapat dikurangi sedini mungkin. Berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengontrol dan melindungi anak-anak dari dampak negatif media.

1.Mencari alternatif media yang lebih kecil dampak negatifnya. Pengalaman penulis dapat membuktikannya. Dulu ketika penulis masih duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama), televisi penulis mengalami kerusakan. Penulis yang waktu itu sangat menggemari tayangan televisi dan bahkan dapat menonton hingga jam dua belas malam menjadi sangat bosan. Ternyata tanpa diketahui ibu penulis memang membiarkan televisi itu rusak. Selain karena ayah penulis yang bisa membenarkan televisi belum pulang dari Jakarta (rumah penulis berada di Yogyakarta), ibu juga prihatin melihat penulis yang berlebihan dalam menonton televisi. Ibu merasa bahwa penulis jadi malas dan selalu tidur malam. Tanpa sengaja penulis melihat radio yang lama tidak dipakai. Setelah mencoba menyalakan radio beberapa kali, ternyata ada kesenangan yang ditemukan. Penulis menganggap bahwa radio tidak membuat mata lelah, dapat meningkatkan imajinasi karena harus menggambarkan apa yang dikatakan penyiar dalam pikiran (pada waktu itu penulis suka mendengarkan cerita silat), dan membuat penulis belajar untuk mendengarkan orang lain.

2.Menulis apa yang didapatkan dari media. Keluarga harus mengajari anak untuk menjadi aktif dalam menikmati apa yang disajikan media. Misalnya saja ketika menonton acara di televisi, anak dapat diajak untuk menulis apa yang menarik yang ia dapatkan dari acara yang ditonton. Kemudian keluarga dalam hal ini orangtua memberikan catatan dan masukan untuk tulisan tersebut. Cara ini secara tidak langsung meningkatkan kreativitas anak.

3.Mencari kegiatan yang tidak berhubungan dengan media. Misalnya saja bermain permainan tradisional dan ikut dalam komunitas atau organisasi. Hal ini dikarenakan media seperti komik, televisi, game online, dan internet membuat anak tidak dapat berinteraksi dengan temannya secara maksimal. Anak akan cenderung individualistis dan egois. Langkah ini secara tidak langsung akan mengurangi ketergantungan anak terhadap media.

Akan tetapi dari berbagai cara yang ditawarkan, yang terpenting adalah teladan. Teladan dari orang tua dan keluarga yang membuat anak akan terhindar dari dampak negatif dari media. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat, sehingga larangan terhadap sesuatu hanya akan membuat anak semakin penasaran. Teladan dari orang tua dan keluarga menjadi jawabannya dan akan membuat anak secara cerdas mengetahui hal yang buruk dan baik. Selain itu keberhasilan ketiga hal di atas juga ditentukan oleh teladan dari orang tua. Tanpa teladan dari orang tua dan keluarga, ketiga hal tersebut hanya bagaikan memukul dalam air.

Daftar Pustaka
Severin Werner J. dan James W. Tankard, Jr. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, Edisi Ke-5. Jakarta: Kencana.


note:
gambar diambil dari sini

Pengaruh Media

Ditulis oleh Debby M. Yunitasari
Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids

Anakku Daffa (kini 3 tahun 7 bulan) dapat mengoperasikan laptop sejak berusia 2 tahun. Awalnya ayahnya mengenalkan Daffa dengan “CD Interaktif Anak Cerdas” dari Akal Interaktif. Dari CD tersebut, Daffa belajar mengenal abjad, angka, warna dan bentuk. Kemudian, dilanjutkan CD-CD berikutnya dari Akal Interaktif, yakni 3 seri CD Interaktif Anak Mandiri: “Aku Berani Sendiri”, Aku Suka Sekolah” dan “Aku tidak Takut ke Dokter” serta “Aku Anak Islam”. Ada juga CD Interaktif dari G Compris dan Childsplay.

Kami berdua senang karena Daffa mempunyai mainan edukasi. Dengan cepat dia mahir bermain berbagai CD Interaktif tersebut. Meskipun begitu, kami juga tidak membiarkan Daffa bermain seharian penuh. Kami membatasi waktunya maksimal 1,5 jam tiap kali main. Dia kami izinkan bermain CD Interaktif setiap hari. Dan dalam sehari, dia bisa bermain beberapa kali.
Menjelang usia Daffa 3 tahun, ayahnya menambahkan games “Super Mario” dan mengenalkannya pada Daffa. Dalam waktu singkat, Daffa mahir memainkan games tersebut. Disusul dengan beberapa games lain, yaitu “Charma”, “Zuma Deluxe”, “Dynomite Deluxe” dan “Pac Mania II”. Akhirnya, Daffa “kecanduan” nge-games.Tiada hari tanpa main games. Akibatnya, kadang kesepakatan waktu maksimal 1,5 jam sekali nge-games terlanggar. Belum lagi, dia juga tertarik pada games yang terdapat di handphone.

Daffa bisa sangat asyik kalau sudah nge-games. Apa saja terkalahkan, pokoknya. Bahkan, terkadang jadwal mandi, makan, tidur menjadi kacau hanya karena dia tidak mau berhenti nge-games karena sudah terlanjur asyik. “Ntar dulu, Bunda!”,begitu selalu katanya.
Kami berpikir hal ini tidak baik buat Daffa. Akhirnya kami membuat kesepakatan baru, Daffa hanya boleh nge-games di laptop hari Sabtu dan Minggu. Kalau untuk games di handphone kami masih bisa fleksibel, asalkan dia tidak memainkannya terlalu lama. Awalnya Daffa menolak kesepakatan baru itu dan tak jarang juga dia menangis saat tidak diizinkan main games. Tapi kami selalu memberi pengertian padanya bahwa terlalu sering main games juga kurang baik. Kami sampaikan matanya bisa sakit jika terlalu sering menatap layar laptop dan handphone. Berkat kekonsistenan kami, lama lama Daffa bisa menerima bahwa dirinya hanya boleh nge-games Sabtu dan Minggu.

Kadang, saya merasa kasihan juga jika dia “menghitung hari”. “Bunda, ini hari Selasa ya. Berarti besok Rabu, Kamis, Jumat, terus Sabtu. Daffa boleh main games deh…”, begitu katanya. Tapi, kami meyakini anak memang harus diberi batasan tegas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan,demi untuk kebaikannya kelak.

Selain laptop dan handphone, kami juga sangat selektif dalam tontonan televisi. Dia hanya kami izinkan menonton film kartun pilihan kami, seperti “Dora the Explorer”, “Diego”, “The Backyardigans”, “Wonder Pets”, dan “Finley the Fire Engine”. Kami tidak mengizinkan Daffa menonton film film kartun yang banyak “adegan kasar ataupun kalimat yang kurang baik” seperti “Tom and Jerry”, “Sponges Bob”, “Popeye the Sailorman”, “Doraemon”, dan “Sinchan”. Juga film film kartun yang sebenarnya untuk konsumsi remaja seperti “Avatar” dan “Naruto”. Untungnya, Daffa mau menurut meskipun sebelumnya protes. “Kenapa gak boleh nonton Popeye?”,tanyanya. “Karena Popeye filmnya kasar, banyak berantem berantemnya, “ jawab saya. Lama-lama, Daffa bahkan mengganti sendiri channel TV jika ada film film yang kami larang. ”Gak bagus filmnya, banyak berantem berantemnya,” katanya, jika ada “Popeye” atau “Tom and Jerry” atau “Filmya gak bagus, buat seumuran Mas Heri,” katanya, jika ada film “Avatar” atau “Naruto” sambil menyebut nama anak tetangga kami yang sudah duduk di bangku SMP.

Daffa lebih banyak menonton film kartun pagi hari. Dia pernah mempunyai jadwal rutin menonton film kartun, yakni pukul 07.00-08.30, berturut-turut dari “Dora”, “Backyardigans”, dan “Wonder Pets” yang masing masing berdurasi 30 menit. Karena dia sudah menonton TV selama 1,5 jam, setelah film terakhir habis, habis pula jatahnya menonton TV di pagi hari. Siang atau sorenya jika dia ingin menonton TV lagi, saya mengizinkan. Biasanya Daffa menonton “Finley” atau “Rolli Olli Polli”.

Namun, kemudian ada perubahan jadwal acara di stasiun TV yang sama. Mulai pukul 08.30, film kartun “Blue’s Clues” diganti dengan “Diego”. Nah, Daffa juga suka nonton “Diego” dan kebetulan filmnya juga bagus. Film ini mengajarkan kepada anak untuk menyayangi hewan. Jadwal menonton Daffa pun bertambah, dari 1,5 jam menjadi 2 jam. Saya sendiri sebenarnya juga bingung film mana yang mesti “dihapus” dari jadwal menontonnya karena menurut saya kekempat film kartun tersebut bagus semua.

“Dora” bercerita tentang Dora yang pintar dan pemberani yang suka menjelajah. Versi TV, Dora di-dubbing Bahasa Indonesia, namun kadang kadang Dora mengucapkan kata kata dalam Bahasa Inggris dengan meminta penonton untuk menirukan. “Backyardigans” bercerita tentang lima sahabat yang sedang bermain di halaman belakang rumah mereka kemudian berimajinasi berpetualang ke tempat lain. Dalam petualangan itu, mereka berperan menjadi tokoh sesuai tema petualangan.

Dalam cerita “Petualangan di Texas”, misalnya, mereka menjadi koboi. Dalam cerita “Petualangan ke Mesir Kuno”, ada yang berperan sebagai Cleopatra, pelayan pelayan Cleopatra dan Spinx, Bahkan pernah ada petualangan ke Hutan Kalimantan. “Backyardigans” memberi pengetahuan kepada anak tentang suatu tempat dan kekhasan dari tempat tersebut, di samping juga mengajarkan baiknya persahabatan. Sementara “Wonder Pets” mengajarkan pentingnya kerjasama dalam melakukan pekerjaan. Sebagaimana penggalan lirik lagu dalam film kartun tersebut, “Kami bekerja sama melakukan hal yang benar…”

Daffa kadang-kadang ingin juga menonton film kartun lain yang diputar di stasiun TV yang berbeda, seperti “Curious George”. Karena film ini diputar mulai pukul 06.30, konsekuensinya dia harus mengurangi satu film yang ditonton dalam “jadwal rutin pukul 07.00-09.00”, agar durasi menontonnya tetap maksimal 2 jam.

Hal lain yang tidak kalah penting, Daffa tidak kami izinkan menonton sinetron, tak terkecuali yang berlabel sinetron anak anak. Pada kenyataannya, meski namanya sinetron anak anak, terdapat juga adegan kasar ataupun kata kata yang tidak pantas didengar anak, utamanya balita. Dalam sinetron Tarzan Cilik dengan pemain utama Baim yang terkenal itu, umpamanya, pernah ada adegan di mana ayah angkat Tarzan,yang notabene tidak menyukai Tarzan, diperlihatkan melakukan berbagai macam cara untuk “melenyapkan” Tarzan.

Demi Daffa, saya rela untuk tidak menonton sinetron, reality show, infotainment dan berita-berita kriminal kecuali jika dia sedang bermain di luar rumah atau sedang tidur. Pernah beberapa kali, saya melihat salah satu reality show terkenal. Daffa ada bersama kami, tapi dia sedang asyik bermain dengan ayahnya. Tak disangka, suatu waktu, saat ada iklan acara tersebut, Daffa ikut menyayikan theme song-nya “…saat cinta memang harus diakhiri…” Wah, kapok saya. Sejak itu, tak lagi lagi saya menonton acara dewasa jika ada Daffa di dekat saya.
Di samping media elektronik, kami juga selektif memilih media cetak yang baik bagi Daffa. Sebulan sekali, Daffa kami ajak ke toko buku. Kami meminta Daffa memilih buku mana yang ingin dibelinya. Tapi tentunya kami juga yang memutuskan apakah buku itu boleh dibeli atau tidak. Jika tidak, dia kami minta memilih buku lain dengan memberi pengertian mengapa buku tersebut tidak boleh dibeli.

Hal ini kami rasa penting karena ada buku bacaan anak yang menurut kami kurang bagus karena di dalamnya terdapat kata kata berkonotasi negatif. Suatu waktu Daffa pernah mendapat hadiah buku bilingual dari tantenya. Si Tante membelikan buku itu karena kemungkinan dilihat dari judulnya isi buku tersebut menarik, Terlebih buku itu terbitan penerbit anak terkenal.
Cerita dalam buku tersebut memang pada kenyataannya menarik, bercerita tentang seekor burung hantu yang berusaha menjadi ayam jago. Namun, disayangkan, ada beberapa kalimat berkonotasi negatif, seperti “dasar badut!”, “penipu!”, “dasar si mata melotot”, dan “ayam betina bodoh”. Beberapa bulan lalu Daffa belum bisa membaca, Jadi saat membacakan buku itu, kata kata tersebut tidak kami bacakan. Tapi sejak sebulan lalu, Daffa sudah bisa membaca sendiri. Saya agak khawatir juga jika dia kemudian ingin membaca buku tersebut sehingga kata kata berkonotasi negatif itu terbaca olehnya. Dan, berdasar karakter anak anak sebagai peniru ulung, bukan tidak mungkin Daffa akan menirukan kata kata tersebut saat berbicara dengan orang lain.
Berbekal pengalaman itu, sekarang jika ingin membelikan buku bacaan untuk Daffa, kami selalu memastikan di dalam buku tersebut tidak ada kata kata berkonotasi negatif yang kurang baik bagi anak.

Sebagai penutup, kemajuan teknologi dewasa ini, termasuk juga di bidang media, memang tidak terhindarkan. Ditambah lagi dengan pers di Negara ini yang makin bebas setelah reformasi, membuat kita para orang tua mesti lebih jeli dalam memilih dan memilah tontonan dan bacaan yang bermutu bagi anak anak kita. Jangan sampai anak anak kita menjadi “dewasa sebelum waktunya” karena tontonan dan bacaan yang tidak sesuai dengan usianya.


note:
gambar diambil dari sini

Televisi dan Anak-Anak Kita

Ditulis oleh Dwi Yuli Rahayu
Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids

Judul di atas mungkin tidak jauh beda dari hal-hal yang pernah kita lihat sehari-hari. Baik di rumah kita, rumah tetangga, maupun di lorong-lorong sempit jalanan, terkadang tidaklah sulit kita menemuinya. Hampir mayoritas penduduk di muka bumi ini memiliki benda kotak yang konon ajaib itu. Kenapa ajaib, karena dia bisa menyihir bagi kita yang melihatnya. Bahkan di pelosok negeri inipun, yang konon katanya masyarakatnya terpinggirkan, juga tidaklah susah jika kita mencari televise. Sedemikian dasyatnya, hingga para remaja yang jauh dari kotapun bisa memakai baju yang sedang ngetrend karena informasi dari televise. Sungguh, sedemikian cepatnya informasi yang diperoleh dari televise.

Penulis mengambil salah satu media yakni televisi, karena benda yang satu ini sungguh-sungguh sangat hebat pengaruhnya. Tetapi tunggu dulu, apakah pengaruh itu baik atau buruk. Jika dilihat dari sisi kecepatan penyampaian informasi, televise mungkin akan menjadi favorit, lihatlah pada pilpres kemaren, berjuta suara bisa segera terkumpul dan disiarkan melalui televise, sehingga tak kurang dari lima jam, kita bisa mengetahui hasil dari pilppres. Luar biasa bukan?

Bagaimana dengan anak-anak kita?

Bagi anak usia 0-5 tahun banyak yang mengistilahkan masa ini adalah Masa Emas atau Golden Age, yaitu masa-masa di mana kemampuan otak anak untuk meyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan memberikan dampak bagi si anak di kemudian hari. Di masa-masa inilah peran orangtua dituntut untuk bisa mendidik dan mengoptmalkan kecerdasan anak baik secara intelektual, emosional, dan spiritual. Jika di masa-masa ini otak anak hanya diisi dengan tayangan-tayangan yang tidak bermanfaat atau malah boleh dibilang tayangan yang sangat buruk, maka kita akan melihat beberapa tahun yang akan datang pengaruh itu akan muncul, dan sebagai orang tua kita hanya bisa menyesal, karena masa-masa penting ini (Golden Age) tidak akan pernah bisa diulang.

Pengalaman saya, jauh sebelum hadirnya si kecil di tengah-tengah kami, kami berdua sudah memutuskan untuk meng’gudang’kan sebauh kotak ajaib yang bisa mengeluarkan gambar dan suara itu. Setelah ada si kecil kami tidak menonton televisi, kadang jadi buta berita juga, hanya melalui internet saja kita meng update berita. Hingga si kecil menginjak usia satu tahun kami tergoda untuk menghadirkan kembali si kotak ajaib itu. Kami berkomitmen hanya untuk update berita saja. Tapi pada kenyataannya ternyata memang tidak mudah, selalu saja tergoda untuk menekan tombol power setiap harinya. Meskipun si kecil tidak terlalu suka, tapi saya yakin semakin besar usianya jika semakin terbiasa dengan televisi, maka diapun akan semakin susah dipisahkan kelaknya. Dan tentu akan menjadi kecanduan.

Saya tertantang ketika mengetahui ada KOMPAK, mudah-mudahan melalui tulisan ini bisa memberi manfaat.

Dari pengalaman saya, anak menyukai televis karena dia terbiasa dari kecilnya menonton televisi. Hal ini timbul karena ada kebanyakan dari orang tua yang tidak mau direpotkan dengan anak. Agar anak betah dan tidak kemana-mana, maka terkadang televisi menjadi pilihan agar anak bisa duduk manis, dan orang tua bisa mengerjakan pekerjaan tanpa harus diganggu dengan rengekan ataupun tingkah laku anak-anak yang biasanya selalu ingin tahu, baik dengan pertanyaan maupun tingkah laku mereka dengan mencoba beberapa barang-barang/perabotan di rumah yang kadang itu berbahaya.

Peran kontrol dan pendampingan dalam menonton televisi sangatlah penting. Tayangan-tayangan yang ada dalam televisi tidak bisa langsung mentah-mentah diterima oleh anak begitu saja, tapi harus ada penjelasan tambahan dari orang tua, baik itu berupa meluruskan, menerangkan, memberi contoh, member ilustrasi dan sebagainya.

Sebelum meneruskan, ada baiknya saya kutipkan sedikit tulisan dari Mohammad Fauzil Adhim, dalam Postive Parenting terbitan Mizania, “Televisi menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan merusak teruatama kecerdasan special di otak sebelah kanan. Semakin sering menonton televisi, anak juga semakin kurang bergerak. Padahal gerakanlah yang mengaktifkan dan membangkitkan kapasitas mental mereka”

Setelah membaca kutipan di atas, akankah kita tetap menjadikan televisi sebagai sahabat dekat anak-anak kita. Tentunya tidaklah ya….

Beberapa tips dan trik yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat.
1.Saya tidak membawa unsur sara di sini, tapi sebagai seorang muslim tentunya banyak tayangan-tayangan terutama iklan yang tidak menutup aurat dengan baik sehingga ada baiknya menonton acara televisi yang aman adalah sport, berita, dan acara anak-anak karena kemungkinan besar, iklannya juga dari unsur anak-anak dan yang bersankutan dengan tayangan tersebut.
2.Menghidupkan televisi ketika anak sudah tidur
3.Membelikan buku-buku yang bernuansa religi untuk anak-anak
4.Lebih sering menemani anak bermain, daripada membiasakan waktu berdua dengan anak dengan meononton televisi
5.Bagi ibu yang tidak berada di rumah/bekerja, beli VCD yang ada unsur pendidikannya, atau games-games interaktif yang dapat merangsang kecerdasan anak melalui permainan lewat games. Referensi CD interaktif untuk anak sangat banyak beredar di took-toko buku, VCD-VCD yang tidak melulu kartun DORA, Sponge Bob juga sudah banyak di jual di took-toko buku. Sehingga ketika kita meninggalkan rumah, kita bisa meninggalkan pesan kepada orang yang mengasuh anak kita, bahwa VCD-VCD itulah yang boleh ditonton oleh anak-anak.
6.Memberi pengertian kepada seluruh anggota keluarga, bahwa menonton televisi ada aturan jamnya.
7.Membuat tulisan di dinding jadwal-jadwal televise yang boleh dan tidak boleh ditonton bersama anak
8.Menambah wawasan mengenai buruknya pengaruh televisi terhadap anak, sehingga semakin menyadarkan kita untuk terus menjauhinya.


Referensi:
1.Majalah Ummi Edisi Spesial Juni-Agustus 2008/1429 H
2.Mohammad Fauzil Adhim, Positive Parenting, Bandung: Mizania