Minggu, 23 Mei 2010

Melepas Anak ke Dunia Maya

Oleh: Mamiek Syamil

Saya sangat faham dan aware akan bahaya yang mengintip di setiap sudut dunia maya. Tetapi mengapa saya lepas juga anak-anak saya ke sana? Saya sebenarnya termasuk jenis orang tua paranoid, tidak bisa membiarkan anak-anak saya mendekati, apalagi bersinggungan, dengan apapun yang mengandung bahaya.

Membawa anak-anak ke dunia maya ibarat membawa mereka ke pantai yang indah, yang berujung ke lautan luas. Bermain di pinggirnya-pinggirnya sangatlah menyenangkan, dan melenakan. Tak sedikit orang yang tak waspada, bahkan cenderung menyepelekan bahayanya. Sampai akhirnya ombak besar menggulung mereka. Bedanya, "ombak besar" dari dunia maya yang "menenggelamkan" anak-anak itu banyak tidak disadari oleh orang tua.

Membentengi anak-anak untuk tidak berhubungan dengan internet adalah tidak mungkin, kecuali kita ingin memangkas keingintahuan mereka. Internet juga sumber pengetahuan. Seperti halnya buku dan televisi, ada yang baik, ada yang buruk. Bedanya, isi internet yang buruk hanya sejauh satu "klik". Itulah sebabnya saya melepas anak saya seperti orang paranoid (untuk yang satu ini, I don't mind to be called paranoid, some people have done it). Saya ijinkan anak-anak mempunyai situs mereka sendiri, tapi dengan seribu satu persyaratan dan aturan yang harus mereka patuhi. Ibarat badan mereka saya lepas, tapi di badannya saya ikatkan sebuah tali yang bisa saya tarik dan ulur. Teorinya mudah. Prakteknya tidak.

Ini langkah yang saya tempuh :

1. Kalau mereka minta dibuatkan situs pribadi, set up account website (multiply, facebook, MySpace atau apapun) dengan e-mail orang tua. Sekarang ini anak-anak saya hanya punya blog. Rengekan mereka untuk membuka FB saya tolak karena menurut saya FB tidak suitable untuk anak-anak (beberapa temannya punya FB, jadi peer presure). Saya ijinkan nge-blog karena : bisa untuk latihan menulis, bisa menampilkan hasil karya mereka (gambar dsb) dan saya agak familiar. Ini dia. Orang tua harus familiar dengan oprekan anaknya. Jangan sampai si anak lebih melek internet daripada ortunya. Kalau anak anda punya situs, anda juga harus punya situs, minimal untuk menguasai pernak-pernik internetnya.

2. Untuk situs pribadi, syarat untuk menjadi kontak mereka :
- Seusia dengan mereka, preferably dari gender yang sama (saya bukannya membatasi dan pilih-pilih gender)
- Kalau tidak seusia, maka anak-anak saya harus mengenal mereka personally sebagai teman baik ibu (bukan hanya kenal lewat dunia maya).
- Sebelum "accept" any invitation, saya harus melihat dulu profile si pengundang, termasuk orang tua si anak (hopefully ada foto orang tuanya, untuk menunjukkan si anak ada di bawah pengawasan "mata elang" orang tua). Maksudnya, saya lebih pe-de jika anak saya berteman dengan anak yang juga mendapat pengawasan ketat dari orang tua-nya. Terus terang saya termasuk pilih-pilih dalam memilih teman untuk anak-anak saya.

Oh ya, sering-seringlah meninggalkan pesan di situs anak-anak kita, agar orang juga aware bahwa ortunya "ngglibet". Hal itu juga akan menimbulkan kesan bahwa si anak tidak dibiarkan berkeliaran di dunia maya sendiri (orang yang akan berbuat macam-macam akan berpikir seribu kali).

3. Periksa semua tautan/pernak-pernik yang dipasang di situs mereka. Penyedia jasa counter karena free wajar jika mereka menerima advertising dari mana saja, termasuk indutri pornografi.

4. Kita adalah tempat anak berkaca. Anak-anak melihat kita sebagai role model. Kalau kita ingin anak-anak kita baik, ya kita sendiri harus menajdi orang baik. Periksa isi situs kita. Jangan sampai ada kata-kata atau content yang tidak appropriate. Tunjukkan kepada anak kita bagaimana etiquette berinternet yang baik.

5. Usahakan agar anak-anak hanya berinternet di rumah. Selama itu, beri mereka pesan agar bersikap responsible. Tujuannya agar begitu mereka berinternet di luar rumah, mereka tetap responsible.

6. Saya sudah coba pasang parental control, tapi sejauh ini tidak terlalu efektif. Memang sebaiknya parental control dipasang. Tapi semakin anak besar, mereka menuntut jelajah yang lebih luas. Ibaratnya waktu kecil kita bisa menuntut mereka untuk main di halaman rumah. Tapi begitu besar, kita tidak bisa "mengurung" mereka. Jadi hanya bekal keimanan dan kepercayaan saja yang bisa kita tanamkan.

7. Set up e-mail hanya jika mereka sudah cukup dewasa, karena dengan e-mail mereka bisa sign-up kemana-mana. E-mail juga susah dimonitor. Kalau ingin bertukar pesan lewat situs saja, lebih mudah dimonitor.

8. Yang terakhir, keep them in our pray!


note:
gambar dipinjam dari sini

Kamis, 22 April 2010

Demi Lagu Anak Indonesia

oleh: Ning Raswani

Anak bagi saya laksana playdough, masih sangat mudah untuk dibentuk karena masih dalam masa perkembangan mental. Sangatlah wajar apabila perilaku anak sehari-hari dipengaruhi oleh apa yang dia lihat, amati, dengar dari lingkungan sekitarnya. Anak akan cenderung menirukan segala sesuatu dari lingkungan dekatnya apa saja yang membuat dia merasa suka, nyaman yang dapat memuaskan keinginan hatinya, walaupun belum tentu hal tersebut memberikan manfaat atau berdampak baik baginya dan lingkungannya.

Televisi, merupakan salah satu media yang sangat berpengaruh terhadap perilaku anak sehari-hari, karena sekian banyak stasiun TV on air non stop 24 jam; disamping ada radio, PS, internet dan lain-lainnya. Anak akan cenderung menirukan apa saja yang didengar dan dilihatnya setiap acara di televisi, tidak peduli itu acara khusus untuk anak atau bukan. Salah satu bentuk hiburan yang paling mudah ditirukan oleh anak adalah nyanyian, karena hampir setiap anak suka menyanyi. Sayangnya, lagu-lagu yang disuguhkan oleh TV lebih dominan lagu yang sebetulnya diperuntukkan bagi usia remaja/dewasa. Tidak heran apabila anak yang baru berusia 3 tahun bisa hafal semua lagu yang ditayangkan di TV. Celakanya lagi, apabila anak diminta menyanyi bebas di sekolah , dia akan menyanyikan lagu-lagu yang lagi ngetrend di pasaran, sehingga lagu –lagu anak yang indah dan sarat dengan makna yang ditulis oleh para pengarang lagu pada masa lalu itu hanya kadang-kadang dinyanyikan di sekolah untuk event tertentu saja.

Sebagai seorang ibu dari dua anak, saya merasa prihatin melihat situasi demikian. Saya berpikir, apa yang harus saya lakukan untuk mengurangi dampak negatip dari media tersebut. Selektif dalam memilihkan acara yang ditonton oleh anak, mendampingi anak saat menonton TV, mengajak diskusi tentang acara yang ditonton, sehingga tidak ditelan mentah-mentah, misalnya menonton dan menirukan lagu-lagu yang maknanya tidak jelas, belum sesuai dengan tingkat usia anak dan mengapresiasi lagu-lagu yang bagus dan memiliki makna yang baik.

Melihat situasi yang mana lagu-lagu anak yang baru kurang banyak dibuat, terbetik dalam pikiran , mungkinkah saya bisa menulis lagu yang memiliki makna yang baik dan dapat memberikan inspirasi positip bagi perkembangan pikiran anak dan tidak sekedar sebagai hiburan semata-mata? Persoalannya, saya tidak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang dunia seni musik. Saya belum pernah sama sekali belajar tentang musik.Yang saya tahu hanya sebatas do re mi fa sol la si saja. Latar belakang pendidikan saya di bidang farmasi dan sampai sekarang pun saya masih bergelut dengan pekerjaan di bidang farmasi. Mungkinkah? Mungkinkah? Rasanya tidak mungkin. Namun, pikiran saya selalu terbayang-bayangi oleh keinginan tentang keberadaan lagu anak yang baik. Jadilah saya kuatkan niat untuk mewujudkannya. Walaupun tidak pandai menyanyi, namun seperti anak-anak pada umumnya, sejak kecil saya juga suka bersenandung (bhs.Jawa : rengeng-rengeng) pelan, malu didengar orang lain, karena suara yang tidak berkualitas. Kebiasaan tersebut masih terbawa terus hingga kini, karena itu sebagai bentuk hiburan bagi diri sendiri. Waktu yang paling menyenangkan untuk bersenandung adalah saat mengerjakan pekerjaan di pagi hari, misalnya saat memasak, mencuci baju dan juga saat mandi.

Di tahun 2007, anak-anak saya tidak pernah ketinggalan menonton acara lomba menyanyi di TV dan di akhir tahun 2007 mereka merengek-rengek mau ikut audisi. Wah, repot nih. Kesibukan saya bekerja tidak memungkinkan anak untuk mengikuti berbagai lomba yang sangat merepotkan dan ditambah lagi persaingan yang begitu ketat tersebut. Belum saatnyalah untuk anak-anak mengikuti lomba yang demikian.

Kebiasaan anak-anak yang suka bernyanyi itu menambah dorongan bagi saya untuk menjawab pertanyaan saya di atas. Mungkinkah? Apa salahnya kalau saya coba. Dengan modal do re mi fa sol la si saya mulai mencoba menulis lagu. Pada awal tahun 2008, setiap pagi saat bangun tidur selalu muncul ide-ide yang mengusik hati saya Sayang rasanya kalau hal itu dibiarkan hilang begitu saja; sedikit demi sedikit berbagai ide yang muncul itu saya kumpulkan. tidak terasa di akhir tahun terkumpul cukup banyak.

So, what’s next? Saya tidak tahu apakah tulisan saya itu memiliki nilai? apakah memenuhi persyaratan sebagai layaknya lagu-lagu ynag lain? Saya tidak tahu. Saya memberanikan diri untuk cerita ke seorang teman yang saya anggap cukup bijaksana dan bersedia membantu saya, dia menyarankan saya untuk mencari bantuan musisi. Mencari musisi ternyata cukup sulit juga. Beberapa kenalan musisi sangat padat kesibukannya sehingga tak dapat membantu saya. Baru pada akhir tahun 2009, seorang teman memiliki kenalan yang bersedia membantu saya, dengan catatan tidak bisa dikerjakan dengan cepat karena kesibukan dia.

Tahap berikutnya adalah proses rekaman. Untuk mengajak anak saya mau merekam lagu-lagu saya tidaklah mudah, karena anak saya tahu bahwa ibunya bukan seorang seniman. Mereka meragukan saya. Dengan membujuk pelan-pelan akhirnya anak saya bersedia asalkan ditemani oelh temannya. Baiklah, satu persoalan selesai. Persoalan lain, saya juga tidak tahu studio musik yang baik. Dengan bertanya sana sini akhirnya saya peroleh informasi tentang studio yang cukup baik. Jadilah, rekaman dimulai. Proses rekaman memakan waktu cukup lama, karena kesibukan anak-anak bersekolah dan di hari libur kadang-kadang anak-anak juga berkegiatan.

Setelah proses rekaman selesai, saya mendesain cover CD bersama anak-anak saya dan memperbanyak CD untuk diberikan ke beberapa kenalan. Namun belum bisa berhenti sampai disitu . Untuk apa CD yang sudah jadi tersebut? Beberapa teman yang mendengarkan lagu-lagu saya memberikan tanggapan positip dan mendukung untuk mempublikasikan lagu-lagu itu. Saya berpikir lagi dan di waktu senggang saya searching di internet. Kira-kira lembaga apa yang bisa bisa mem-follow-up lagu-lagu tersebut. Saya hubungi WALHI. Alhamdulillah mendapat sambutan sangat positip. Semoga terlaksana nanti akan dilombakan dalam rangka HARI ANAK NASIONAL pada bulan Juli mendatang. Disamping itu saya email ke KOMPAK, untuk sharing pengalaman saya dan berharap dapat memperoleh dukungan untuk karya-karya saya.

Semoga sharing ini bermanfaat bagi pembaca semua. Semoga tulisan ini dapat menyemangati orang tua di seluruh Indonesia, bahwa kita memang harus berusaha keras untuk pendidikan anak. Tidak mungkin jika kita menyerahkan anak pada lingkungan media dan hiburan yang ada pada saat ini. Kita mampu melahirkan mereka, tentu kita mampu untuk memberi mereka pendidikan yang terbaik. Semangat inilah yang ingin saya bagi kepada para pembaca semua. Untuk mendengarkan sebagian lagu saya secara online bisa meluncur ke 4shared.com dengan judul : "suara anak dunia" atau "the voice of the world's children"

22 April 2010
Salam
Ning Raswani
raswanining@yahoo.com


note: gambar dipinjam dari google

Rabu, 24 Maret 2010

Serba Salah Televisi

Oleh: Tian Arief

Hidup tanpa televisi, kenapa tidak? Kami pernah menjalaninya kira-kira tiga tahunan. Itu terjadi setelah Sony 17 inch yang bertahun-tahun setia menghuni ruang tamu kami, rusak total. Televisi imut itu sengaja kami biarkan teronggok di bawah meja, biar kami tidak bisa menonton plus-minusnya siaran televisi.

Aku sendiri sih, tetap bisa nonton televisi sesekali, sewaktu di kantor. Dan kami juga masih bisa sesekali nonton televisi, sewaktu berkunjung ke rumah mertua di Jakarta.

Tayangan televisi, selain informasi (berita, talkshow, atau features), juga berisi hiburan, mulai dari film hingga sinetron --yang banyak mengumbar hedonisme dan kekerasan. Selain itu, ada pula iklan, yang memicu kami pada sikap komsumtif.

Ada tambahannya, Fay, anak semata wayang kami, kosa katanya banyak didominasi kata-kata iklan. Fay, terus menyerap kosa kata dari tayangan televisi, khususnya iklan, yang memang disukainya.

Sejak pesawat televisi rusak, kami jadi lebih tenang. Tak ada lagi bujuk rayu dari tayangan iklan yang menggugah selera, tak ada lagi suara teriakan-teriakan dari promo sinetron kejar tayang.

Tapi lama-lama Fay tidak tahan juga. Ia memaksa kami untuk kembali mengadakan televisi di rumah, dengan caranya sendiri. Setiap bertemu siaran televisi, di mana pun berada, Fay antusias sekali menyaksikannya dari dekat. Tampak sekali seperti anak yang tak pernah nonton televisi (dan memang kenyataannya begitu).

Yang terasa mengganggu, saat Fay memaksa-maksa menonton televisi dari tetangga, kapan pun ada kesempatan. Fay, yang belum mengerti tata krama, langsung menerobos begitu saja di mana pesawat televisi menyala; di ruang tamu, ruang keluarga, bahkan kamar tidur. Kami jadi tidak enak dibuatnya.

Hingga akhirnya, kami mengalah. Sebuah TV Tunner pinjaman kami pasang di monitor komputer yang sudah tidak terpakai. Maka, monitor komputer itu jadilah sebuah pesawat televisi.

Fay kembali pada hobi lamanya: menyaksikan tayangan iklan, dan setelah habis, ia memindahkan channel ke stasiun lain yang tengah menayangkan iklan. Kosa-kosa kata, terutama dari operator seluler yang sedang "perang promo" pun sering menghiasi bibirnya.

Dampak lainnya, kami jadi punya sumber hiburan, di saat senggang.

Tapi kami sudah menetapkan aturan; saat adzan maghrib berkumandang, televisi harus dimatikan, dan Fay harus berwudhu untuk shalat maghrib. Menjelang pukul delapan malam, televisi juga dimatikan (sementara), biar Fay bersiap-siap tidur.

Dan malam hari, televisi monitor komputer itu pun jadi milik kami, ortu yang haus hiburan.


Note:
Gambar dipinjam dari sini

Kamis, 18 Maret 2010

Dunia Palsu

Oleh: Luqman Hakim


Imitation is the sincerest form of television
Kepalsuan adalah bentuk yang paling tulus dari televisi

Fred Allen, Komedian Absurd Amerika (1894 - 1956)


Pulang kerja, akhir pekan, bersantai di rumah, hiburan mudah dan gampang dicari adalah televisi. Ada 11 saluran televisi nasional dan beberapa saluran televisi lokal yang selalu menunggu dan siap untuk diperhatikan.

Menyaksikan kepalsuan, melihat keindahan di luar angan, mengamati kehidupan orang lain dalam kotak kaca, hal yang meninabobokkan.

Lahirlah generasi televisi, anak-anak yang dibesarkan dengan suara dan gambar yang keluar dari layar kaca. Orang tua dan pengasuh yang capek menjaga anak, membiarkannya berimajinasi dengan tontonan di luar batas kapasitas mencerna.

Di Jepang, tahun 1997 tercatat tak kurang 685 anak terserang photosensitive epilepsy atau bentuk kejang yang dipicu oleh rangsangan visual saat menyaksikan film kartun Pokemon episode 'Pocket Monster' (webmd.com).

Menonton televisi di ruangan gelap dalam jarak dekat, tayangan dengan transisi gambar sangat cepat dengan warna cahaya yang mencolok, membuat mata bekerja ekstra keras untuk dikirim ke otak dan dicerna di sana. Saat begini rentan dan mudah terkena photosensitive epilepsy.

Acara liputan investigatif apalagi reality show banyak memiliki sisi kelam. Acara yang mengangkat kisah nyata tentang kehidupan beserta pernak-perniknya sebenarnya tidak nyata dan sudah diset oleh produser dengan seperangkat kru lewat skrip kreatif. Tayangan-tayangan aneh yang sepertinya tak akan ada di dunia nyata tapi bisa tampil di tv, semua itu ada makelarnya, broker khusus yang menyediakan talent sampai eksekusi shooting. Mau liputan investigatif apalagi reality show, semua bisa disediakan berdasarkan skrip.

Bayaran masing-masing talent berkisar antara Rp 25.000 s.d. Rp 250.000, tergantung atas kelihaiannya dalam berakting (baca: menipu pemirsa). Ketika program acara disodorkan ke televisi, harga jelas di-generate dalam sebuah paket tayangan dan tidak dijabarkan secara rinci. Kecuali bila diminta, namun sangat jarang. Elemen harga termahal adalah konsep dan ide kreatif (baca: seluk-beluk menipu pemirsa hingga kecanduan menonton acara model begini).

Bak membuat film, sebuah adegan yang ter-captured kamera bisa disuruh ulang apabila gambar tak bagus.

Di studio juga sama. Apabila bangku penonton di dalam studio tak terisi penuh, ini jelas merusak gambar. Untuk menyiasatinya broker khusus penonton menyediakan pemirsa studio bayaran yang bisa disuruh-suruh produser. Disuruh teriak, mencemooh, tepuk-tangan, ikut aktif dalam acara, pokoknya apa saja. Istilahnya PSK (Penonton Studio Komersial), dibayar oleh televisi dengan bayaran Rp 50.000 perorang untuk tiap acara, tapi oleh broker sudah dipotong dan para PSK hanya menerima Rp 20.000 s.d. 30.000 saja.

Tak ada kejujuran dalam tayangan model begini, tanpa harus menyebut program acara apalagi stasiun televisinya, semua yang ada sudah teratur dan terencana.

Liputan kriminal lebih menyeramkan lagi, jurnalis di lapangan bisa mengarahkan polisi saat penggerebekan. Tersangka bisa diarahkan untuk dipukuli massa, bahkan ditembak mati di lokasi dengan alasan biar gambar bagus dan mencengangkan pemirsa. Polisi sudah mahfum dengan hal-hal begini, hanya polisi bodoh saja yang mau menuruti kemauan jurnalis bodoh.

Dalam televisi, pemirsa disuguhi acara sampah yang jauh dari mencerdaskan. Sedikit sekali yang benar-benar dekat dengan pengetahuan. Kebohongan, kepalsuan, kemunafikan, kekerasan, itulah yang disuguhkan oleh televisi.

Maaf, sebagai orang yang pernah ada dalam lingkaran dunia broadcasting, terpaksa harus saya bongkar segala kepalsuan ini. Toh kita senang dibohongi, dan itulah yang jadi komoditi televisi.

Mengupas Habis Rating & Share Televisi

Oleh: Luqman Hakim


"Wah keren lho, acara 'anu' ratingnya sampe 9..."

Omongan yang kerap dibincangkan ketika membicarakan acara televisi. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan rating juga share di dunia televisi?

Rating:

Jumlah pemirsa
–––––––––––––––– X 100%
Populasi Penduduk

Persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu terhadap populasi atau suatu target populasi.


Share:

Pemirsa pada channel tertentu
––––––––––––––––––––––––– X 100%
Jumlah total pemirsa

Persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel.

* * * * *

Sebelum bertambah pusing dengan rumus di atas, mari kita bahas pertanyaan paling dasar tentang televisi; Mengapa stasiun televisi kerap berpedoman pada rating dan share sebagai barometer dari kesuksesan sebuah acara?


Sekilas Abstrak Rating & Share

Punya teman yang kerja di stasiun televisi?

Coba tanyakan apa itu rating dan share, tanyakan sejelas mungkin sampai kita benar-benar mengerti istilah ini. Tanyakan saja sebagai orang awam yang tak mengerti istilah 'aneh' dunia televisi. Berani dijamin, tak semua orang yang bekerja di stasiun televisi mengerti benar tentang rating dan share kecuali mereka yang memang ada di divisi programming yang biasa mengurus penempatan slot acara, terutama juga yang ada di departemen riset yang memaparkan fakta data rating & share untuk ditindaklanjuti keberlangsungan program acara, pun para eksekutif produser, produser dan asisten produser.

Sudah menjadi keharusan seorang eksekutif produser, produser dan asisten produser mengerti benar istilah rating dan share agar mahfum, apakah acara yang dikelolanya masuk kategori ditonton atau diacuhkan pemirsa. Sudah menjadi kewajibannya juga bagi para manajer apalagi direksi mengerti istilah ini untuk menentukan kebijakan ekspansi atau malah memberangus sebuah acara.

Setiap hari Rabu, AGB Nielsen lembaga riset yang mengkhususkan diri pada Survey Kepemirsaan Televisi (Television Audience Measurement TAM) mengucurkan data statistik ke 10 stasiun televisi nasional minus TVRI. 10 stasiun televisi terestrial (sebutan untuk tv yang siarannya sampai ke seluruh Indonesia) antara lain; RCTI, SCTV, Trans TV, Indosiar, TPI, Trans 7, tvOne, Global TV, ANTV dan Metro TV.

Ya, kebetulan perusahaan yang membuat Survey Kepemirsaan Televisi di Indonesia yang dipercaya oleh stasiun televisi di Indonesia hanya AGB Nielsen. Entah percaya atau terpaksa percaya, karena tidak ada perusahaan survey riset sejenis yang mampu melakukannya dengan sangat kompleks dan lengkap seperti AGB Nielsen.


Siapa AGB Nielsen?

AGB Nielsen adalah joint venture antara VNU-Media Measurement & Information dan Audits of Great Britain Group (AGB Group) dengan Nielsen Media Research-nya yang berdiri Maret 2005.

Sejak itulah AGB-Nielsen Media Research Indonesia resmi beroperasi sebagai badan hukum di Indonesia untuk bisnis Survey Kepemirsaan Televisi.

Jauh sebelumnya di tahun 1976 Nielsen sudah masuk ke Indonesia dan bergabung dengan Survey Research Indonesia dalam bagiannya dengan Survey Research Group yang mendata informasi dan pelayanan media cetak dan elektronik untuk keperluan industri periklanan.

Tahun 1991, ketika televisi swasta nasional baru ada tiga, RCTI (1989), SCTV (1990), TPI (1991), Nielsen menawarkan jasa Survey Kepemirsaan Televisi untuk memudahkan televisi swasta nasional mendapatkan kue dari bisnis iklan.

Tahun 1994, Nielsen mengambil-alih Survey Research Group dan bisnis Survey Kepemirsaan Televisi jadi bagian dari Departemen Media AC Nielsen Indonesia.

Barulah di tahun 2005 nama AC Nielsen sedikit berganti menjadi AGB Nielsen.

Setidaknya ada 30 negara yang sudah didatangi oleh AGB Nielsen dalam melakukan kegiatan Survey Kepemirsaan Televisi, yaitu; Australia, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Armenia, Azerbaijan, Kroasia, Cyprus, Georgia, Yunani, Hungaria, Irlandia, Italia, Macedonia, Moldova, Polandia, Serbia, Slovenia, Swedia, Turki, Libanon, Afrika Selatan, Republik Dominika, Meksiko, Puerto Rico dan Venezuela.


Penentuan Populasi Data oleh AGB Nielsen

AGB Nielsen membagi populasi data pada 2273 rumahtangga koresponden yang tersebar di 10 kota besar Indonesia1, yaitu:
  • Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek)
  • Surabaya dan sekitarnya (Gerbangkertasusila)
  • Bandung
  • Semarang
  • Medan
  • Makassar
  • Yogyakarta dan sekitarnya (DIY, Sleman & Bantul)
  • Palembang
  • Denpasar
  • Banjarmasin
Sumber: AGB Nielsen Peoplemeter Technology, January 2010 (agbnielsen.net)

Ini sungguh aneh, apabila data yang diambil dari kota besar berdasarkan tingkat populasi penduduk terbanyak, seharusnya riset diambil dari kota berdasarkan urutan penduduk terbanyak seperti data di bawah ini2:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
Jawa Barat - Bandung
Jawa Timur - Surabaya
Jawa Tengah - Semarang
Banten - Serang
DKI Jakarta
Sumatera Utara - Medan
Sulawesi Selatan - Makassar
Lampung
Sumatera Selatan - Palembang
D.I. Aceh
Riau - Pekanbaru
Sumatera Barat - Padang
Nusa Tenggara Timur - Kupang
Nusa Tenggara Barat - Mataram
Kalimantan Barat - Pontianak
Bali - Denpasar
D.I. Yogyakarta
Kalimantan Selatan - Banjarmasin
Kalimantan Timur - Samarinda
Jambi
Sulawesi Tengah - Palu
Sulawesi Utara - Manado
Sulawesi Tenggara - Kendari
Kalimantan Tengah - Palangkaraya
Papua - Jayapura
Bengkulu
Kepulauan Riau - Tanjung Pinang
Maluku - Ambon
Kepulauan Bangka Belitung - Pangkal Pinang
Sulawesi Barat - Mamuju
Gorontalo
Maluku Barat - Ternate
Papua Barat - Manokwari
(38.965.440)
(36.294.280)
(31.977.968)
(9.028.816)
(8.860.381)
(12.450.911)
(7.509.704)
(7.116.177)
(6.782.339)
(5.201.002)
(4.579.219)
(4.566.126)
(4.260.294)
(4.184.411)
(4.052.345)
(3.383.572)
(3.343.651)
(3.281.993)
(2.848.798)
(2.635.968)
(2.294.841)
(2.128.780)
(1.963.025)
(1.914.900)
(1.875.388 )
(1.549.273)
(1.274.848)
(1.251.539)
(1.043.456)
(969.429)
(922.176)
(884.142)
(643.012)

Sumber: BPS Number of Population by Province, 2005 (datastatistik-indonesia.com)

Tidak diketahui pasti alasan Nielsen mengapa membagi data populasi pada 10 kota besar yang tak runut berdasarkan jumlah penduduk terbanyak. Apabila memang diambil berdasarkan jumlah populasi terbesar, harusnya Denpasar, Banjarmasin, DI Yogyakarta tidak masuk dalam hitungan, yang masuk adalah DI Aceh, Riau, Padang juga Lampung.

Perlu dicatat, yang diukur dalam Survey Kepemirsaan Televisi oleh AGB Nielsen hanya untuk televisi terrestrial alias televisi dengan jaringan siaran nasional, adapun televisi lokal tidak masuk dalam hitungan.


Rahasia Penghitungan Rating & Share

Koresponden AGB Nielsen tersebar di 10 kota besar Indonesia dan dibagi berdasarkan SES (Social Economic Status) kelas A, B, C, D dan E. Tidak diketahui pasti dasar pembagian tersebut, berapa banyak koresponden dari masing-masing kelas, Nielsen hanya mengatakan bahwa tingkat penyebaran panel didasarkan pada Establishment Survey (ES) di 10 kota besar. Dari sini dilakukanlah pembagian SES berdasarkan populasi yang persentasenya tidak sama antara kelas A, B, C, D dan E. Data yang diambil adalah pola kebiasaan penonton.

Adapun mengenai korespondennya siapa saja, Nielsen memberi batasan bahwa koresponden yang diambil adalah bukan orang televisi dan periklanan, baik secara langsung ataupun tidak langsung yang memiliki hubungan teman atau tetangga.

Dalam Survey Kepemirsaan Televisi yang dilakukan Nielsen, mereka memberikan alat survey elektronik (peoplemeter) pada 2273 rumah tangga koresponden untuk dipasang di televisi yang ditonton dan untuk nantinya dipakai sebagai dasar pengukuran kebiasaan menonton televisi. Pembantu, sopir, satpam, tamu dan yang tidak terdaftar sebagai anggota rumah tangga koresponden tidak akan diukur.

Peoplemeter akan mengambil data pada koresponden ketika menonton televisi, jumlah penonton televisi di sekitar dengan tingkatan umur. Ada alat seperti remote control yang berisi tombol-tombol, seperti tombol 1 untuk ayah, tombol 2 untuk ibu dan sebagainya. Alat ini terhubung langsung ke kantor AGB Nielsen melalui sinyal GSM, Magnetic Media (CD) pun FTP untuk mencatat aktivitas dan perilaku pemirsa dalam rumah tangga koresponden. Saat mengganti channel, alat itu kembali menanyakan data penonton, begitu pula jika selesai menonton televisi, tombol untuk mematikan pengukuran harus ditekan sebagai tanda tidak diukur lagi. Cukup merepotkan, tapi itu sudah menjadi resiko dari koresponden AGB Nielsen, toh ada imbalan tertentu bila menjadi koresponden.

Data yang terkumpul oleh AGB Nielsen diolah dengan software statistik 'Ariana', data yang diolah adalah data-data berupa pemirsa, demografi, program yang ditonton, iklan, juga saat mengganti-ganti acara. Hasilnya berupa data kepemirsaan, data rumahtangga dan demografi responden, serta data perpindahan channel yang ditonton per menit dari panel rumahtangga yang telah diproses.

Agar kelihatan (agak) sedikit transparan di mata klien terhadap metode penghitungannya, Nielsen memberikan kesempatan bagi orang televisi untuk mengetahui validitas penghitungan dengan langsung melihat lokasi di lapangan, memantau langsung di lokasi apa yang dilakukan korespondennya. Tapi tetap dengan catatan, orang dari televisi itu tidak diperkenankan untuk mengenalkan diri pada koresponden dan menyebutkan identitas dirinya berasal dari stasiun televisi mana. Ditakutkan orang dari televisi tertentu bisa mempengaruhi kebiasaan menonton koresponden Nielsen.

Di sana orang televisi tersebut bisa melihat secara langsung perilaku koresponden dalam mengikuti pengambilan data riset Survey Kepemirsaan Televisi, pun alasan-alasan kenapa acara itu yang ditonton.