Rabu, 30 Desember 2009

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Pesona Buku dalam Warna-Warni Kehidupanku

Oleh : Nola Sangkuntala

Kalau ada yang menanyakan kepadaku, kegiatan apa yang paling menyenangkan sedunia, pasti aku akan spontan menjawab : membaca. Sebentar, jangan buru-buru menjawab, benar nih, bukan tidur, makan, atau belanja, itu juga aktivitas yang menyenangkan lho, terutama buat wanita? Tidak lah, aku yakin karena biasanya aku lebih pilih memundurkan waktu tidurku untuk menyelesaikan buku yang sudah sekian persen dibaca, sering lupa makan kalau sudah tenggelam dengan kisah-kisah di buku yang aku baca, bahkan rela mengurangi anggaran belanja demi segerobak daftar buku-buku yang sudah antri ingin dibeli.

Aku benar- benar bersyukur Allah mengaruniaiku minat baca yang luar biasa. Kalo dikilas balik, kadang heran juga, kenapa aku begitu menikmati segala sesuatu yang berbau-bau baca dan buku. Seingatku, nenekku dulu memang sering bercerita dongeng anak-anak saat aku dan kedua adikku menginap di kediamannya, ibuku juga termasuk rajin membacakan cerita-cerita di majalah bobo pinjaman (saat itu kami tidak mampu membeli), dan kami bertiga mendengarkan cerita itu sambil tidur berdesak-desakan di satu bantal. Hmmm, kenangan yang menyenangkan, menurutku. Aku juga ingat benar, salah satu guruku di kelas 3 SD, pada hari-hari tertentu, pas di ujung jam pelajaran, mendongengi kami dengan cerita-cerita yang menakjubkan. Asyik sekali rasanya, kami sekelas yang biasanya hingar bingar, bisa duduk manis dengan mulut terkunci, mendengarkan dengan rasa ketertarikan yang besar, bahkan rela pulang sedikit lebih lambat daripada cerita tidak usai didongengkan, meskipun terkadang kami harus pulang dengan rasa penasaran luar biasa saat cerita dinyatakan bersambung ke episode berikutnya yang berarti harus menunggu kesempatan di lain hari.

Untunglah, meskipun dengan kondisi keuangan yang sangat pas-pasan cenderung kurang, orangtuaku mampu menyekolahkan kami di sekolah yang memiliki fasilitas perpustakaan sangat memadai. Ada dua perpustakaan dengan ruangan cukup lapang, meja-meja yang tersekat rapi, serta koleksi buku-buku yang lengkap. Aku selalu merasa, perpustakaan merupakan surga bagiku, dan tidak mungkin meluangkan sedikit waktu istirahatku tanpa menengok kesana. Rasanya tidak ada puas-puasnya berkelana dari satu buku ke buku yang lain. Serunya lagi, diantara padatnya jadwal pelajaran selama seminggu, selalu terselip satu mata pelajaran resmi dengan judul ”Perpustakaan”, artinya, sekolahku mewajibkan setiap kelas mengunjungi perpustakaan selama satu jam pelajaran sesuai jadwal yang sudah disusun, dan murid-murid dibolehkan meminjam buku untuk dibawa pulang. Aku benar-benar menghargai kebijakan ini, mau tidak mau, setiap anak, dalam seminggu harus ke perpustakaan, harus bersentuhan dengan buku-buku, suka maupun tidak suka.

Bersekolah di sekolah yang muridnya rata-rata golongan menengah ke atas (aku tidak termasuk kategori ini), ternyata juga menguntungkan bagiku. Masa kecilku yang dihimpit kesulitan finansial kelas wahid, tentu saja menempatkan buku sebagai komoditi larangan yang tidak layak dibeli. Sebenarnya sih bukan tidak layak dibeli, tapi tidak akan pernah mampu terbeli, karena harganya tidak murah, dan kami lebih membutuhkan benda yang bisa mengenyangkan perut daripada memuaskan batin. Nah, punya teman-teman kaya, ternyata cukup menjadi solusi untuk memenuhi hasrat membacaku yang terus menerus bergelora. Mereka, yang kebetulan terlahir dari orang tua dengan pendapatan lebih dari cukup, biasanya dijejali dengan beraneka bacaan, buku-buku berwarna warni, serial-serial top saat itu, komik-komik menawan hati, dan tentu saja merupakan berkah luar biasa bagiku karena aku bisa meminjam kapan saja aku mau. Dari merekalah aku kenal dongeng-dongeng seperti Cinderella, Putri Aurora, Putri Salju, juga buku-buku Pustaka Cerita Gramedia, novel-novel Enid Blyton seperti Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Malory Towers, atau komik serial Nina, Smurf, Asterix, Tintin, dan masih banyak lagi.

Syukurlah, orang tuaku tidak pernah melarangku membaca, sekalipun itu buku komik, tetapi tentu saja dengan pengawasan bahwa prestasi belajarku tidak pernah mengalami penurunan. Memang sih, hobi membacaku tidak lalu secara otomatis membuatku menjadi orang yang cerdas sepanjang masa. Tapi setidaknya, kebiasaan membaca telah terbukti mempermudah hidupku. Saat aku kecil, buku merupakan benda ajaib yang bisa membuatku melupakan kesedihan-kesedihan, membuatku berani bermimpi dan selalu berharap bahwa esok hari pasti keadaanku akan membaik seperti cerita dan dongeng di buku, asal aku mau berusaha sekuat tenaga. Aku tidak pernah mengalami kesulitan saat pelajaran mengarang, yang biasanya jadi momok bagi siswa lain. Bahkan pertanyaan pertama yang diajukan teman SDku setelah sekian tahun tidak bertemu dan akhirnya bisa bertegur sapa lagi lewat facebook adalah apakah aku masih jago mengarang seperti dulu. Aku jadi geli, padahal sebenarnya waktu dulu itu aku bukannya mengarang, tetapi menceritakan kembali dongeng-dongeng yang pernah aku baca, meskipun memang sih karangan esayku tentang sekolah yang bersih dan sehat waktu jaman SD sempat memperoleh juara ketiga pada lomba porseni tingkat propinsi. Lumayan juga ya, bisa mengharumkan nama sekolah.

Jaman kuliah, aku juga sangat terbantu dengan kebiasaanku membaca. Sekian banyak laporan-laporan praktikum yang harus aku buat dengan tenggat waktu yang bisa bikin gila, alhamdulillah selalu bisa terselesaikan dengan hasil yang baik, nilai yang cukup bagus, karena aku tidak pernah mengerjakan asal-asalan, comot sana sini dari laporan kakak tingkat. Yang ada, aku rajin ke perpustakaan daerah, mencari-cari buku yang berhubungan, dan membuat intisari dari buku-buku tersebut, sampai jadi entah berapa rangkuman buku ala aku yang masih tersimpan saat ini. Kapan saja butuh bahan, aku membuka-buka lagi dari rangkuman buku yang ada. Kadang memang menjemukan berkubang dengan buku-buku usang di perpustakaan, untunglah dari kecil aku sudah suka buku, sehingga tidak terlalu terganggu dengan keharusan ini, meskipun kalo boleh memilih, aku pasti lebih suka meninggalkan buku-buku tebal itu dan beralih ke komik-komik manga yang ngetop jaman itu. Jangan berpikir kebiasaan membaca hanya berguna saat kita masih jadi anak sekolahan. Setelah bekerja, dan kebetulan aku bekerja di bidang yang agak menyimpang dengan latar belakang pendidikanku, satu-satunya cara belajar tanpa perlu merepotkan orang lain dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kadang bikin malu, adalah rajin membaca dan mencari informasi lewat literatur-literatur yang ada. Bedanya, sekarang yang aku baca tidak harus benar-benar dalam bentuk buku, karena fasilitas internet memudahkan semua hal, tapi intinya tetap sama, yaitu membaca.

Sebagai pencinta buku, pastinya aku juga selalu ingin menularkan hobiku itu ke orang lain. Rasanya kok sayang sekali kalo sampai ada orang yang tidak sempat mengetahui indahnya kisah-kisah yang sudah mempesonaku. Begitu juga yang aku inginkan untuk kedua jagoan kecilku yang baru berumur 3 tahun dan 2 tahun. Tapi aku tidak pernah memaksakan ke anak-anak untuk harus jadi orang yang suka membaca. Aku hanya memfasilitasi dan memberikan contoh. Aku dan suami yang kebetulan juga suka membaca, menyediakan satu area khusus untuk menempatkan dua rak buku yang sarat dengan berbagai buku. Kami rajin membelikan mereka buku-buku, bahkan sampai berburu buku-buku masa kecilku yang saat ini masih dijual dalam kondisi bekas sekalipun. Kemudian membacakannya kapan saja mereka minta, dan kapan saja kami ada waktu luang. Mereka sangat tertarik dengan buku-buku yang penuh aneka warna, meskipun kadang kisahnya sangat standar. Anakku yang sulung bahkan sudah bisa menceritakan kembali beberapa buku anak-anak karangan Clara Ng dengan satu kalimat per halaman saat masih berusia kurang dari 2 tahun, saking seringnya minta dibacakan buku tersebut. Sementara anakku yang kedua, ternyata lebih suka lagi dengan buku, dalam sehari entah berapa kali ia mengobrak-abrik rak buku, memintaku atau suami, bahkan kakek, nenek dan tantenya untuk membacakan, dan saat semua orang sibuk, dia akan duduk sendiri, membuka halaman demi halaman, dan mengocehkan cerita-cerita menurut versinya. Kadang ia minta kakaknya yang mendongeng, dan pasti terdengar celotehan2 menggemaskan dari mereka berdua yang sama-sama belum bisa membaca, tapi sok tau.

Contoh paling nyata yang bisa mereka lihat tentang efek nikmatnya membaca, tentu dari kita sebagai orang tua. Mereka sangat terbiasa melihatku membaca novel setebal bantal sambil mengasuh mereka, menemani mereka bermain, atau saat mereka tidur dan tiba-tiba terbangun di tengah malam. Mereka paham mama dan papanya suka membaca, meskipun dengan jenis bacaan yang berbeda, dan biasanya mereka suka meniru. Satu lagi yang bisa mereka nikmati dari hobiku membaca, aku memiliki satu blog yang membahas buku-buku yang pernah aku baca, belum terlalu banyak sih yang dibahas, tetapi mereka menyadari kehadiran blog itu meskipun belum bisa membaca, dan hanya bisa menikmati foto-foto buku yang mereka kenal, sering tiba-tiba mereka bilang, ”Buka laptop, Ma, mo liat buku mama yang ada di komputer”.
Usaha mengenalkan dunia baca kepada mereka tentunya sangat terlalu dini untuk dilihat hasilnya. Mereka masih akan terus berkembang dan mengalami perubahan minat seiring pertumbuhan fisik dan mental mereka. Tapi setidaknya saat ini kami berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka secara seimbang, baik buku maupun mainan, bahkan film anak-anak bermutu (meskipun ternyata mereka tidak atau belum menyukai kegiatan menonton, mau tak mau aku ikut bersyukur akan hal ini), dan yang paling penting kami tak lupa berusaha memenuhi kebutuhan mereka terhadap waktu kebersamaan serta perhatian dari kedua orang tuanya. Aku dan suamiku hanya bisa berharap yang terbaik untuk mereka seperti dongeng-dongeng masa kecilku yang selalu berakhir bahagia.

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel ”Cinta Dongeng, Cinta Baca”)

note : gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Cinta Dongeng, Cinta Baca: Virus Cinta yang Harus Ditularkan!

Oleh : Norma Widayati

Bu, apakah benar Alien itu ada? Kalau ya, mereka berasal dari planet mana? Kalau tidak, apakah ada makhluk lain yang lebih cerdas daripada manusia? Mungkinkah ada kehidupan lain di jagat raya, karena alam semesta itu ’kan sangat luas? Bu, apa yang menyebabkan gunung berapi meletus? Kenapa di Indonesia sering terjadi gempa?Apakah benar Allah marah karena manusia telah merusak alam?

Itu adalah sebagian pertanyaan murid-murid di Sekolah Dasar yang sering saya temui. Betapa keingintahuan mereka begitu besar terhadap sebuah peristiwa maupun informasi yang mereka temukan. Tidak jarang pertanyaan mereka membuat kening guru dan orangtua berkerut. Bagaimana menjawabnya? Apa yang harus kita lakukan?

Jaman sekarang setiap orangtua dan pendidik harus menyiapkan diri untuk mampu menjawab pertanyaan kritis anak-anak. Itulah mengapa saya memberi judul seperti di atas, karena saya pikir virus cinta buku dan dongeng akan menjadi sarana yang tepat untuk mengatasi kebimbangan kita. Buku dan dongeng akan merangsang imajinasi anak-anak sehingga lebih cerdas baik secara intektual, emosional maupun spiritual.

Terkait dengan hal ini, sebenarnya kemarin saya sempat bingung juga untuk menulis, karena saya masih single dan belum punya anak. Namun saya pikir tidak ada salahnya untuk mencoba, setidaknya berbagi pengalaman saya sebagai pribadi maupun sebagai staf pengajar di sebuah sekolah dasar.

Sejak kecil saya menyukai buku, hal ini tidak terlepas dari peran orangtua terutama ibu yang suka membelikan majalah anak-anak. Waktu itu saya menyukai majalah anak-anak seperti Gatotkaca, Putra Kita, si Kuncung, Bobo dan Ananda. Sebenarnya saya juga menyukai buku-buku, namun karena kondisi keuangan belum memungkinkan dan jarak toko buku yang cukup jauh, maka ibu berinisiatif meminjamkan buku dari perpustakaan di sekolah tempat ibu mengajar. Hal ini membuat saya cukup senang walau hanya dengan buku pinjaman. Apalagi ditambah kebiasaan ibu mendongeng sebelum tidur untuk saya dan adik-adik.

Saya ingat sekali, suatu ketika saya bersitegang dengan ayah karena beliau tidak mau membelikan saya majalah Bobo terbitan terbaru. Sebagai anak kecil, saya tidak mau menerima alasan ayah yang sedang capek pulang dari kantor. Akhirnya saya mengambil sepeda dan mulai mengayuh. Pikir saya waktu itu, pasti ayah tidak akan tega membiarkan saya, anak perempuannya yang masih duduk di kelas 5 SD pergi sendiri ke agen majalah. Sebenarnya sih itu akal-akalan saya saja supaya ayah merasa bersalah dan mau mengantar saya membeli majalah. Eh, tunggu punya tunggu, ternyata ayah saya tidak tergerak hatinya. Beliau tetap saja membiarkan saya mengayuh sepeda sendirian.

Hati saya hancur dan sambil menangis, saya mulai mengayuh sepeda menyusuri jalan. Sebenarnya jarak antara rumah dengan agen majalah hanya sekitar 2 km, namun pada waktu itu bagi saya jarak tersebut cukup jauh dan berbahaya karena harus melewati jalan raya yang cukup padat.

Sambil berusaha mengatasi ketakutan yang bercampur keinginan untuk membuktikan bahwa tanpa ayah pun saya bisa mendapatkan majalah itu, saya pun bersemangat mengayuh sepeda. Di tengah lamunan saya, tiba-tiba ada suara dari arah belakang. Ayah memanggil-manggil nama saya dan dengan perasaan bersalah mencoba mengawal saya sampai ke tujuan. Alangkah senangnya saya, akhirnya saya mendapatkan juga majalah yang saat itu berharga Rp 500,00. Saya mendapatkan banyak pengetahuan dari majalah tersebut.

Oh ya, letak rumah saya hanya terpaut dua bangunan dari rel kereta api. Di tengah situasi yang serba sulit, saya mendapatkan hiburan dari koran-koran bekas yang beterbangan dibuang para penumpang kereta api. Bila mendapatkan karikatur maupun cergam yang lucu-lucu, saya tertawa-tawa sendiri sembari menyambung sobekan koran-koran bekas alas tidur itu. Hal ini sangat berkesan karena saat pelajaran mengarang, saya menceritakan kisah ini dan berhasil mendapat angka 8. Tidak terlalu mengecewakan ’kan?

Tahun demi tahun berganti, sekarang saya sudah menjadi salah satu pengajar di sebuah sekolah swasta. Kegemaran saya tentang buku semakin menjadi-jadi. Saya merasa buku adalah kekayaan saya, jadi saya berusaha menyisihkan gaji walau sedikit untuk membeli buku. Alhamdulillah saya mempunyai banyak teman untuk berdiskusi tentang buku. Buku-buku inspiratif seperti Tetralogi Laskar Pelangi, Three Cups of Tea, La Tahzan, sampai novel Twilight Saga menjadi bahan diskusi kami. Kami saling memberikan informasi mengenai buku baru yang layak untuk dibaca.

Saat ini saya dan teman-teman masih terus berusaha menularkan virus cinta buku dan dongeng terhadap murid-murid dan kolega kami. Di sekolah, kami mengadakan acara Morning Meeting, yaitu semacam pemanasan supaya anak-anak siap mendapatkan pelajaran. Dalam acara tersebut, ada beberapa hal yang dilakukan seperti Brain Gym, tebak kuis, maupun Story Telling. Biasanya kami menyuruh salah satu anak sehari sebelumnya untuk membaca salah satu buku, kemudian keesokan harinya dia harus bercerita di depan kelas. Selanjutnya kami sebagai guru akan membantu membuat kuis sesuai isi cerita. Anak yang dapat bercerita dengan lancar dan mampu menjawab kuis akan mendapat bintang atau reward lainnya.

Anak-anak juga kami beri kebebasan untuk membawa buku dari rumah ke sekolah. Biasanya yang mereka bawa adalah buku-buku ensiklopedia, buku cerita seperti KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya), buku-buku tentang kisah nabi, dan lain-lain. Anak-anak yang membawa buku cukup banyak sehingga kami mengadakan voting untuk menentukan buku mana yang akan dibaca terlebih dahulu. Dalam sehari biasanya 1- 2 buku kami bacakan di sela-sela kegiatan belajar mengajar. Acara tersebut dilanjutkan dengan kuis, misalnya dengan pertanyaan tentang judul buku, nama tokoh, pengarang, penerbit, lokasi kejadian, dan sebagainya. Anak yang bisa menjawab kuis dengan benar akan mendapatkan tambahan bintang yang dapat ditukarkan dengan reward berupa pernak-pernik lucu. Alhamdulillah, anak-anak senang dengan acara ini.
Ada pengalaman lucu terkait dengan virus cinta buku ini. Suatu hari saya mendapat kado dari murid saya. Saya merasa heran karena saat itu saya tidak sedang ulangtahun atau mengalami momen istimewa. Gadis kecil berumur 7 tahun itu ternyata menghadiahi saya sebuah buku berjudul La Tahzan for Jomblo. Subhanallah, saya geli bercampur haru, apalagi teman-teman saya sampai tertawa menggoda. Usut punya usut, ternyata dia memberikan kado itu setelah membaca profil saya di Facebook, dimana salah satu buku favorit saya adalah La Tahzan. Kata mamanya, dia merasa bahwa kami mempunyai hobi yang sama, bahkan buku yang sejenis. Dia adalah pembaca setia La Tahzan for Kids. Hebatnya lagi, dia sendiri yang memilih kado itu di toko Gramedia. Subhanallah...
Untuk menunjang pemularan virus cinta tersebut, pada Hari Ibu atau Bulan Bahasa, sekolah kami mengadakan lomba bercerita, lomba menulis puisi maupun resensi buku. Alhamdulillah peminatnya cukup banyak dan acara kami mendapatkan dukungan sepenuhnya dari orangtua murid. Bahkan ada murid kami yang sudah mampu menjuarai lomba bercerita/ mendongeng tingkat propinsi. Selain itu, pada hari-hari sekolah biasa, perpustakaan menjadwalkan jam berkunjung siswa. Setiap anak berhak meminjam dan membaca buku di sana. Itu semua dimaksudkan supaya anak-anak gemar membaca buku dan mendapatkan manfaat darinya.
Saya pikir memang sangat bijak bila kita mengenalkan buku dan dongeng kepada anak-anak sejak usia dini. Masa Golden Age merupakan masa penting pertumbuhan otak sehingga semakin banyak hal positif ditanamkan, InsyaAllah skill dan performance anak juga akan berkembang dengan baik. Hal ini juga patut mendapat perhatian kita apalagi saat ini banyak sekali tayangan televisi yang kurang mendidik dan cenderung instan. Kemudahan akses internet yang tanpa kontrol juga menjadi potensi yang sangat membahayakan anak-anak generasi penerus bangsa.
Selain program untuk anak-anak, kami sebagai pendidik juga mengadakan acara yang menunjang kegemaran membaca buku. Pada hari tertentu kami mengadakan acara sharing dan bedah buku. Di sela-sela kesibukan mengajar, kami juga melengkapi koleksi perpustakaan sekolah dengan berbelanja buku-buku. Alhamdulillah Yogyakarta merupakan salah satu kota yang sangat aktif menyelenggarakan pameran buku sehingga akses kami semakin luas dalam mendapatkan buku-buku berkualitas. Kami juga sering berbagi pengalaman untuk dapat menyampaikan materi pelajaran melalui dongeng atau cerita.

Untuk cita-cita ke depan, saya mempunyai mimpi mengenai perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum sehingga masyarakat bisa mengakses manfaat dari buku. Perpustakaan itu dilengkapi dengan taman bermain sehingga anak-anak bisa bermain sepuasnya. Bangunan lain yang penting adalah semacam aula atau pendopo kecil untuk tempat membaca buku, bedah buku maupun story telling. Saya yakin Indonesia akan jauh lebih maju bila masyarakat menggemari buku dan dongeng sebagai sarana edukatif. Bukan tidak mungkin bangsa ini akan menyamai Jepang bila masyarakatnya cerdas dan kreatif. Semoga...

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel ”Cinta Dongeng, Cinta Baca”)

note : gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Panggung Imajinasi

Oleh: Gita Lovusa

Cha senang sekali membaca ilustrasi di buku, tabloid, majalah, selebaran atau apa pun. Dengan tekun ia memerhatikan gambar-gambar yang tertera di sana. Matanya melirik ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah. Semua sudut gambar ditelusuri. Tak jarang ia berbicara dengan sang gambar. “Mamam. Yo, mamam..” Tangannya menunjuk-nunjuk pada seekor kelinci kecil. “Mii. Inci. Mamam.” Kalau ia sudah menegur saya, saatnya saya masuk ke dalam dunianya. “Kelincinya lagi makan ya?” “Iya..,” jawabnya ceria. “Siapa yang kasih makan?” Cha terdiam. Matanya berbinar melihat gambar-gambar yang lain. Saya pun ikut terdiam. “Mamam...,” ujarnya kembali sambil tertawa.

Sebuah gambar kelinci di buku dapat berlanjut dengan dongeng ajaib ciptaan saya. Ketika Cha sudah puas dengan gambar-gambarnya, saya ambil sebuah boneka kelinci miliknya. Suara mulai saya sesuaikan, mimik muka pun saya ubah. Lalu berkata,
“Kakak Cha, aku lapar. Mau makan...” Cha menengok dengan senyum yang sungguh sumringah. Membuat imajinasi saya semakin lancar berjalan.
“Waw! Hai, Inci..,” katanya.
“Kakak Cha punya makanan? Aku mau, Kak. Aku lapar.”
Lalu Cha mengambil makanan dengan tangan dan menyuapkannya padaku, “Aaa..” “Enyak?” tanya Kakak Cha.
“Enaaakkk. Makasih ya, Kakak Cha.”
“Ma..,” artinya ‘sama-sama’.
Dongeng ajaib bin interaktif ini bisa terus berlanjut dan berkembang ke hal-hal lain, atau bisa juga hanya seperti itu saja. Kadang panjang dan penuh dengan tokoh, kadang singkat dan pemainnya sedikit. Semua saya sesuaikan dengan situasi saat itu. Kalau Cha masih terlihat antusias, akan saya lanjutkan. Tapi kalau Cha mulai mengajak hal lain, dongeng itu akan saya hentikan dan melanjutkan dengan kegiatan yang lain.
Awalnya saya sedikit khawatir dengan kebiasaan Cha yang lebih senang memerhatikan gambar. Jika saya membacakan buku untuknya, maka hanya akan bertahan sebanyak 3-4 halaman. Sesudah itu, bukunya akan ia ambil dan ia kembali menekuni gambar-gambar yang atraktif itu. Lalu saya menemukan kata ini di sampul belakang Anne of Green Gables, “Imagination is more important than knowledge” – Albert Einstein. Saya terhenyak dan memandang lama kata-kata itu. Mencoba mencernanya lebih dalam.
Kalau saja seorang genius seperti beliau mengatakan hal seperti itu, maka hampir bisa dipastikan bahwa itu adalah benar. Mungkin saja, teori-teori yang diciptakannya itu bermula dari sebuah imajinasi. Setelah saya membaca buku karangan Lucy M.Montgomery tersebut, saya semakin terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa Anne, tokoh utama dalam kisah itu, adalah anak yang sangat senang berimajinasi. Ia menamakan semua jenis tempat, semua jenis pohon dengan nama-nama yang sangat cantik dan imajinatif.

Saya menjadi mengerti dan membiarkan Cha melakukan hobinya itu. Membacakan buku tetap saya lakukan, namun dengan porsi yang disesuaikan.
Suatu ketika, saat Cha sedang asyik mengamati gambar di tabloid anak. Ia berujar, “Ayah...Ayah..,” sambil menunjuk sebuah foto dokter yang mengasuh suatu rubrik di tabloid tersebut. Saya tertawa, “Ayahnya siapa itu, Cha?” “Ayah, Ayah.” Kosakatanya yang masih terbatas di usia yang hampir menginjak 2,5 tahun terkadang membuat acara dongeng ajaib berjalan hanya satu arah. Tak apa. Saya yakini ini sebagai bagian dari proses, sebisa mungkin saya hargai apa pun yang keluar dari mulutnya.
Membaca atau mendongeng bisa kami lakukan di manapun. Kasur di kamar tidur atau lantai dapur bisa menjadi panggungnya. Masjid, mobil atau alam luas bisa menjadi gedungnya. Selama Cha atau saya menemukan obyek asyik yang meningkatkan daya imajinasi, di situlah panggung imajinasi kami berada.

Panggung imajinasi: Ruang tamu, ruang bermain, ruang perpustakaan yang bergabung menjadi satu.
Saya melilit sebuah kain sarung di leher. Merapikannya lalu terbang ke sana ke mari layaknya seekor kupu-kupu. Hinggap di satu bunga dan menikmati waktu dengan menghisap manisnya. Tanpa kata-kata. Tapi Cha memerhatikan saya dengan begitu seksama. Kemudian ia pun mengambil kain bedong dan meminta saya untuk melilitkan di lehernya. Kupu-kupu kecil itu pun mulai terbang, mencari bunga yang akan dihinggapinya.

Panggung imajinasi: Dapur
Cha sedang asyik memegang dua kertas kado gulung, kemudian ia memberikannya satu pada saya. Ia mengajak saya bermain pedang-pedangan, kata-kata yang terucap dari bibir kami hanya, “Tring..tring..” yang mengesankan bahwa itu adalah bunyi pedang yang beradu. Saya biarkan saja permainan kami terus berlanjut meski hanya dengan kata ‘tring’ dan senyuman. Cha sudah terlihat lelah lalu ia menghentikan permainannya.
“Cha capek ya?” tanya saya.
“Iya..”
“Tadi Cha main apa?”
“Mai...”
Ia menjawab pertanyaan dengan mengulang kata ‘main’. Saya tak melanjutkan pertanyaan. Sambil meluruskan kaki, saya teringat ucapan Kak Andi Yudha Asfandiyar sewaktu mengisi pelatihan di Masjid Salman ITB beberapa tahun lalu. Isinya kurang lebih begini, “Jangan paksa anak untuk menjawab pertanyaan kita. Bisa jadi pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan akan membatasi imajinasinya. Biarkanlah mereka asyik bermain di dunianya.”
Meski kadang ada rasa penasaran di dalam hati untuk mendengar apa yang ada di pikirannya, tetapi sebisa mungkin saya tahan keinginan itu. Khawatir malah akan merubuhkan imajinasinya.

Panggung imajinasi: Jalan raya dan taman kecil di dekat rumah
Ketika sedang asyik berjalan, saya melihat seekor capung yang sedang sekarat. Saya memberi tahu Cha. “Cha, lihat! Capungnya kasihan.” Cha melihat ke arah capung itu dan mendekat ke saya. Menarik-narik tangan saya untuk segera pergi menjauh. Oh, rupanya Cha takut. Saya ikuti langkah kakinya sampai di sebuah taman rumput kecil yang penuh ilalang.
“Cha, capung tadi kasihan ya. Lagi sakit kayanya.” Cha diam saja karena sedang asyik bermain dengan ilalang.
“Eh, ada kupu-kupu,” kata saya memecah keheningan. Cha pandangi kupu-kupu yang terbang dengan gemulai.
“Capung tadi juga temannya kupu-kupu loh, Cha. Kupu-kupu ini tau ngga ya kalau temannya, capung, sedang sakit?”
“Ngga..,” kata Cha.
“Oh, kupu-kupunya ngga tau? Kita kasih tau yuk!” Cha mengangguk-angguk girang.
“Eh, Cha. Nama kupu-kupunya siapa ya?”
“Mimi...”
“Nama yang bagus. Mimi. Terus nama capungnya siapa?”
“Upi..”
“Oke. Kita kasih tau Mimi yuk, kalau Upi lagi sakit.”
Kami mendekati Mimi secara perlahan lalu berbisik, “Mimi, tadi kami lihat, Upi sedang sakit di jalanan. Coba kamu tengok ya.”
Cha mengikuti gaya saya yang berbisik, lalu tertawa kecil. Mimi kemudian terbang, mungkin ia segera mencari Upi untuk menolongnya. Ketika kami berjalan pulang, Upi sudah tidak lagi sekarat di jalan aspal. Mata saya mencari.
“Oh, itu dia. Mimi dan Upi sedang bermain bersama. Senangnya.”
Lalu kami berdua berjalan pulang. Menyusuri sungai kecil yang airnya hitam, melewati deretan warung dan berlari ketika hampir sampai di rumah.
Esok hari, panggung imajinasi kami akan berada di mana ya?

Sumber referensi:
Anne of Green Gables, Lucy M.Montgomery, Penerbit Qanita. Maret, 2009.

(Diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)

note : gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Berawal dari Rumah :Menumbuhkan Cinta Baca & Buku Pada Anak

oleh : Luluk Maslachah

Kalimat itulah yg menjadi acuan saya untuk memulai segalanya dari rumah, terutama dalam hal mendidik anak. Dari Rumahlah kita mendapatkan ilmu pertama kali, mulai sejak dalam kandungan, lahir, balita, remaja sampai dewasa. Hal-hal kecil dan kebiasaan yang dilakukan di dalam rumah tangga adalah merupakan pelajaran penting yang tidak langsung menjadi ilmu pertama anak kita.
'Anda mungkin punya simpanan kekayaan berlimpah ruah : Peti-peti perhiasan dan pundi-pundi emas. Namun kau tidak pernah bisa lebih kaya daripada aku ---- Aku punya bunda yang membacakanku buku'. --Stirickland Gillilan,'The Reading Mother- dari : READ ALOUD Handbook.

Dalam mendidik anak, saya tidak punya obsesi atau target bahwa anak saya harus bisa membaca pada umur tertentu. Malah cenderung saya membebaskan anak saya untuk bisa membaca secara alami sesuai usia pertumbuhannya. Karena bagi saya, memaksa anak untuk bisa membaca sebelum usianya adalah sama saja menyiksa anak secara halus, otaknya dipaksa untuk berpikir dan menghapal yg seharusnya dia sedang mengalami masa pertumbuhan dengan bebas dan terarah baik motorik halus dan kasarnya. Jika ada anak yg sudah bisa membaca sebelum usia sekolah, memang itu suatu keistimewaan si anak dan menjadi kebanggaan bagi orang tuanya... Nih loh.. anak saya usia 2,5 tahun sudah bisa baca, anak saya belum masuk TK sudah lancar membacanya...

Kemampuan pada anak sangat berbeda-beda, dalam hal ini kemampuan mengenal huruf dan membaca. Hal itu tergantung bagaimana peran serta orang tua dan keluarga yang mengeliling anak tersebut. Istilah lain adalah “anak bisa dan terbiasa karena iklim dan kebiasaan keluarga tempat dia tinggal”.

Saya teringat, seorang psikolog anak mengatakan, bahwa mengajarkan atau lebih ekstrimnya memaksa anak untuk membaca adalah sama saja dengan ‘memampatkan perkembangan otak anak dan menjadikan otak anak tersebut jadi mudah lelah’. Berdasarkan hal itu, sejak anak saya dalam kandungan, saya juga tidak mempunyai keinginan untuk mengajarkan anak membaca pada usia yg belum waktunya. Tetapi saya “menekankan pada anak untuk mencintai buku”. Mungkin anda jadi bingung kan ? Ada yg berpendapat, mencintai buku kan juga sama saja menyuruh anak untuk membaca. Boleh..bisa jadi..


Tapi dalam hal ini yang saya tekankan adalah bahwa anak mulai usia Nol Tahun sampai usia balita sudah ‘mengenal dan mencintai buku’. Tidak perlu dia harus bisa membaca untuk mencintai buku sejak kecil. Karena meskipun anak sudah bisa membaca, apalagi yang diikutkan kursus baca, belum tentu sepulang dari rumah dia akan suka membaca sampai besar nanti. Sungguh sayangkan? Padahal biaya untuk kursus baca juga tidak murah apalagi bagi keluarga sederhana seperti saya.

Bagaimana caranya ?
Masing-masing ibu dan orang tua tentu mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mengenalkan cinta buku pada anaknya. Sejak anak saya masih bayi dan masih saya gendong, saya suka mengajak dia ke toko buku. Pada waktu itu koleksi buku anak saya belum begitu banyak, saya suka membacakan dia apa saja, buku, koran, tulisan yang seolah-olah saya berbicara dengan dia. Sehingga dia merasa diajak bicara ternyata waktu saya bacakan dia diam seolah2 dengan tekun mengerti apa yang saya bacakan. Dan jika dia menangis karena mengantuk, maka saya bacakan dia apa aja yang bisa dibaca, sampai suatu waktu saya pernah membacakan anak saya buku resep makanan. Ternyata dia tidak tidur2 juga. Mungkin dia pikir bacaan resep makanan yang berisi bahan bumbu halus, bahan isi, bumbu kuah dan sejenisnya itu merupakan suatu cerita yg menarik, dikira dongeng kali ya...meski ibunya yg baca sudah terkantuk2...hehhehe. Akhirnya saya tertegun, anak ini kok gak tidur2 tapi tetap mendengarkan. Saya sadar, bahwa ada anak yg diam dan tidak rewel jika dibacakan sesuatu hinga saya mempunyai keyakinan bahwa anak saya ini suka dibacakan.

Dan kemudian ketika anak saya menginjak usia 6 bulan, dia sudah bisa duduk, saya bertambah giat untuk mencarikan buku-buku anak untuk dia. Alhasil dia sangat suka, meski masih dipegang-pegang, dibuka tidak beraturan, sampai sobek jika kertasnya tipis tapi saya lihat ‘dia sangat menikmati’ dengan mainan bukunya. Pada usia selanjutnya, tiap hari terutama pada waktu mau tidur saya suka membacakan buku anak pada dia. Sampai sekarang, saya sempat kecapekan karena sudah membacakan lebih dari 10 bukupun dia kok tidak tidur? akhirnya ibunya yg tertidur pulas.. hehehhee

Pada usia 1 tahun ke atas setelah dia bisa jalan sendiri, saya ajak dia ke toko buku, dari situlah terlihat bahwa anak saya suka buku. Meskipun dia belum mengenal huruf dengan pasti tapi dia sudah tertarik dengan gambar yang dia suka terutama Ikan, Pesawat, kereta api dan alat transportasi lain. Saya merasa nyaman jika mengajak anak saya ke toko buku karena dia sangat menikmati sekali suasananya dan dia suka juga berkeliling2 untuk mencari gambar2 yang dia suka. Tapi dengan syarat, perut anak saya tidak boleh kosong sewaktu masuk ke toko buku sehingga acara bs berjalan dengan lancar.. J

Pada umur mendekati 2 tahun dan sampai sekarang dia berumur 2,9 tahun, Jika saya ajak ke toko buku ataupun pameran buku, saya senang sekali karena dia tidak merasa capek dan rewel untuk berkeliling mengikuti saya melihat-lihat dan mencari buku.
Jika dia melihat gambar depan buku yang dia suka, seperti ikan, pesawat, kereta, dan sebagainya, dia akan berhenti di depan rak buku tersebut dan berteriak, Bu.. itang.... awat.., terus dia ambil salah satu buku ditunjukkan ke saya dan dia buka-buka buku tersebut dengan riang.

Ada sesuatu yang lucu dan membikin saya haru pada waktu dia saya ajak ke acara Book Fair Jakarta 2009 di Gelora Bung Karno. Dari Depok kita naik kereta menuju Jakarta, kemudian kita naik busway 2 kali, trus kita berjalan dari pintu gerbang ke gedung... anak seumur dia gitu loh...syukur tidak rewel dan sangat enjoy ajjaa.... hehhehe. Saya ajak dia keliling mengunjungi stand-stand di pameran itu. Kita tahu bahwa stand yang ikut pameran waktu itu banyak sekali, jadi tidak mungkin kita masuki satu persatu. Jika saya sudah menemukan buku yg cocok untuk dia terutama yang harganya tidak mahal2 banget, dia tampak gembira. Akhirnya sampai di stand terakhir yang mendekati pintu keluar... karena sudah capek dan kantong sudah menipis, eh dia malah jongkok di depan rak buku yang berisi buku anak-anak bergambar bagus-bagus itu...kebetulan buku yang dia lihat berukuran besar dan berada di rak bagian bawah, saya cuma nunjukin dia aja, ituloh gambarnya bagus. Dan saya lanjutkan untuk melihat buku lainnya. Lah kok ternyata dia tidak bergerak sedikitpun dari rak tersebut...malah dia terus jongkok, diam di situ dan tidak mau berdiri...Saya sempat kebingungan, padahal saya sudah niat dan bertekad jangan’kepincut buku’ yg di stand ini deh . Eeeehh.. anak saya malah tidak bergeming, saya ajak pulang dan keluar ruangan tidak mau. Akhirnya dengan terpaksa saya harus mengambil ATM dadakan yang disediakan oleh panitia. Saya keluar gedung dan sebelumnya tidak lupa saya titipkan anak saya ke Mbak penjaga stand, untung mbaknya baik dan tidak judes.. :-) Akhirnya.... terbeli lagi buku yang ‘ditongkrongi’ anak saya meskipun dia rela saya tinggal untuk pergi ke ATM. Pengalaman yg tidak terlupakan....

Sepulang dari toko buku, biasanya anak saya selalu langsung minta dibacakan atau dijelaskan isi buku tersebut, baik gambarnya, ataupun kita disuruh menggambar seperti yg ada di buku tersebut.Yah.. memang kadang capek, karena dia minta dilakukan berulang2 padahal kita masih barusan masuk rumah, belum membereskan hal-hal lain. Tapi Tidak masalah ...Demi anak ...:-)

Alhamdulillah.... ternyata anakku sangat suka dan mencintai buku meski belum bisa membaca. Alhasil, dengan seringnya saya lihatkan buku2 baik sewaktu kita di rumah mapun waktu ke toko buku, setiap dia melihat huruf atau angka dia selalu meneriakkan beberapa huruf dan dibaca dengan kata yang lain. Misal dia berteriak A U B O dengan percaya dirinya membaca jadi kata ‘ PESAWAT’ atau kata lain...hehhehehe. Otomatis sampai sekarang jadi akrab dengan huruf-huruf yang ada di sekelilingnya, apapun dan dimanapun yang dia lihat ada huruf-hurufnya, dia selalu memanggil saya dan bicara, “Bu...A,B,C,H,.. dst“ maksudnya, dia memberitahu ada tulisan disana, baik itu tulisan yang terpampang besar di jalan2 atau tulisan kecil merk di bagian dalam leher baju. hehhehe sungguh tidak menyangka...Sekarang jika kita sedang melihat sesuatu, baik itu langsung di hadapan/sekitar kita atau di TV, saya selalu bicara, ‘Dek, itu kan seperti yang ada di buku Faiz’...dia meng-iyakan dan menunjuk arah buku dan minta diambilkan buku yang sama dengan obyek tadi.

Saya terus berusaha mengenalkan pada dia bahwa : ”Buku adalah Jendela Ilmu”. Ilmu apa saja, pengetahuan umum, kemandirian anak, agama, sosial dan sebagainya.
Dengan buku yang sering saya bacakan pulalah perbendaharaan kata anak saya semakin banyak dan bertambah. Buku yang kita berikan untuk anak tidak harus selalu dengan harga mahal, banyak buku2 bekas yang masih bagus dan isinya juga mendidik, kenapa tidak ?
AYO KITA GIATKAN “CINTA BUKU PADA ANAK KITA” sehingga mereka menjadi generasi yang berwawasan luas, punya ilmu yang bermanfaat bagi hidup dan lingkungan sekitarnya.

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

note: gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Investasi dalam Dongeng

Oleh: Dini Noor Hidayah

Siang yang cerah, Franklin si kura-kura bersama Bear si beruang dan Beaver berang-berang sedang bekerjasama mengecat mobil-mobilan, ketika Pak Mole tetangga mereka menghampiri dan mengamati bahwa mobil-mobilan itu belum dilengkapi klakson. Pak Mole menjanjikan untuk membelikan klakson di kota besok, tapi ia sedang bingung siapa yang mau mengurus rumahnya ketika ia pergi? Franklin yang merasa sudah besar sanggup membantu Pak Mole. Namun ternyata kemudian, Franklin melupakan tugas dan tanggungjawabnya karena terlalu asyik bermain dengan teman-temannya. Akibatnya, Franklin harus meminta maaf atas kesalahannya dan harus berusaha memperbaikinya.

Sepenggal cerita diatas diambil dari Franklin Storybooks ciptaan Paulette Bourgeois dan Brenda Clark , yang menjadi dongeng kesayangan anak-anak saya. Sebagai ibu dari tiga anak, saya banyak menemukan kejadian yang menakjubkan seputar pengasuhan anak-anak. Kepolosan dan rasa ingin tahu yang besar dalam diri anak terkadang membuat saya gemas, bahwa ternyata saya tidaklah lebih pandai dari seorang guru TK yang mahir menjawab berbagai pertanyaan mudah. Pertanyaan yang gampang dijawab namun terasa sulit diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dipahami anak, merupakan pertanyaan yang sering muncul seiring dengan upaya anak mengindera lingkungan sekitar.

‘Selalu ingin tahu’, adalah ciri utama anak cerdas. Rasa ingin tahu ini merupakan suatu reaksi positif terhadap pengenalan pada diri sendiri beserta dunia yang mengelilinginya. Dalam perkembangan kecerdasannya, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi anak yaitu : nature, nurture dan nutrition. Selama ini banyak orangtua mempercayai bahwa faktor genetiklah (nature) yang dianggap berperan besar dalam menurunkan kecerdasan pada anak. Demikian juga peran nutrisi (nutrition) dalam pembentukan sel-sel tubuh dan otak supaya anak tumbuh sehat dan cerdas, Sayangnya, faktor nurture atau pengasuhan belum dioptimalkan dalam upaya pembentukan anak. Kendala tersebut dapat disebabkan berbagai faktor, misalnya: kesibukan dan karir orangtua yang menyita waktu dan perhatian sehingga melimpahkan tanggungjawab kepada orang lain, minimnya informasi yang dipunyai mengenai cara pengasuhan anak yang maksimal, atau juga dikarenakan adanya anggapan sempit bahwa pendidikan formal saja sudah cukup untuk membekali masa depan anak. Padahal jika orangtua mau sedikit kreatif, selalu ada cara untuk mendampingi anak dalam suatu proses pembelajaran. Salah satunya dengan menciptakan suatu aktivitas menyenangkan yang disebut dengan mendongeng.
Mendongeng atau bercerita adalah satu media komunikasi yang ampuh dalam mentransfer ide dan gagasan kepada anak dalam sebuah kemasan menarik. Mendongeng itu semudah bergosip. Merangkai kata-kata persuasif, deskriptif, naratif atau imajinatif menjadi sebentuk kisah yang atraktif, sekedar untuk berbagi makna cerita. Mendongeng atau storytelling bertujuan menuangkan gagasan dalam pikiran, tidak saja untuk menghibur pendengarnya, namun juga untuk menularkan nilai-nilai yang terkandung dalam inti cerita. Seorang storyteller dari Inggris, David England, menyebutkan bahwa storytelling dapat bermanfaat dalam memperkaya perbendaharaan kata-kata (vocabulary) . Ditambah lagi, mendengarkan dongeng akan melatih daya tangkap anak selama proses menyimak. Tentu saja, latihan konsentrasi ini akan melatih ingatan anak untuk berfikir lebih detail mengenai suatu objek dan memperbanyak kosakata anak, suatu modal utama yang sangat diperlukan bagi pengembangan kemampuan komunikasi verbal.

Mendongeng juga berguna bagi anak agar dapat mengatur perasaannya. Perhatian anak ketika menyimak dongeng, diperkaya dengan intonasi nada, mimik muka, gesture, menambah pengalamannya untuk lebih pandai mengolah rasa dan memupuk percaya diri dalam mengatasi suatu masalah, yang nantinya ini akan berpengaruh pada penghargaan diri (self-esteem) anak. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam sebuah dongeng, antaralain: kejujuran, tolong-menolong, kebersamaan, keberanian, persahabatan, dan sebagainya, berperan besar dalam melatih kepekaan sosial anak terhadap lingkungannya. Kisah Franklin bersama dengan sahabat-sahabatnya dalam mengatasi permasalahan sehari-hari misalnya, dapat menawarkan suatu gambaran mengenai pentingnya rasa setiakawan, saling menghormati, dan saling menolong dalam berteman. Anak dapat belajar berbicara, mengungkapkan perasaannya, berfikir luas dalam mempertukarkan gagasan, mengembangkan kreativitas, serta belajar cara berkomunikasi baik yang efektif secara verbal maupun non-verbal. Dengan demikian, tanpa disadari ibu telah melatih kemampuan interpersonal dalam diri anak, suatu ketrampilan yang dibutuhkan bagi perluasan jaringan sosial kehidupannya kelak.

Menurut S. Devi , pada masa kanak-kanak hingga dewasa pembelajaran dan motivasi haruslah digiatkan untuk mengimbangi dinamika kerja otak manusia. Mendongeng ternyata sangat membantu dalam proses tersebut, termasuk juga memberikan kegunaan yang lainnya yaitu :
1. Membuka pemikiran dan wawasan anak terhadap pengetahuan baru. Jalaluddin Rakhmat, seorang pakar komunikasi, menyebutkan bahwa kebaruan (novelty) merupakan inti dari pengayaan lingkungan otak anak, yang dapat dicapai dengan memberikan latihan mental yang menantang dan merangsang kerja otak anak. Prinsipnya adalah dengan mempertahankan rasa ingin tahu anak, maka anak akan terangsang dan tertantang mencari jawaban yang akan mengarahkannya pada pertanyaan berikutnya. Dongeng yang baik dapat merangsang dan menggugah kekuatan berpikir melalui alur yang baik, membawa anak pada arus dan kegairahan cerita.
2. Mengembangkan imajinasi anak dan kreativitas. Kata-kata yang penuh makna yang didapat dari dongeng akan mendorong anak untuk menciptakan gambar-gambar yang jelas dalam pikiran anak. Tentu saja, ini akan memupuk kreativitas dalam diri anak, mengingat satu objek bisa digambarkan berlainan pada pikiran satu anak dengan anak lainnya. Dengan adanya ‘pemutaran bioskop’ di dalam otak, sesungguhnya anak tengah mengembangkan kemampuan visualnya.
3. Membangkitkan motivasi dan menemukan inspirasi. Suatu resep yang ampuh untuk memompa motivasi adalah dengan menceritakan kisah orang-orang sukses karena kerja kerasnya. Menyediakan buku-buku tentang sejarah dan orang-orang yang berjasa akan membuka pikiran anak bahwa orang-orang tersebut adalah juga orang biasa, yang membedakan adalah adanya rasa ingin tahu yang melahirkan gagasan cemerlang, semangat tinggi, dan kerja keras dalam mencapai tujuan hidup. Dengan membuka wawasan anak seluas-luasnya, maka anak dapat memulai untuk menyusun cita-citanya sedini mungkin dan mengembangkan kualitas dirinya.

Sederet manfaat mendongeng diatas dapat menjadi tujuan yang ingin kita raih supaya buah hati kita tumbuh menjadi manusia yang cerdas, menghargai dirinya sendiri juga orang lain disekitarnya. Dan satu manfaat paling besar yang akan dirasakan oleh anak seumur hidupnya, yaitu perasaan selalu dicintai. Mendongeng akan mempererat hubungan orangtua dan anak, karena orangtua dapat memahami kemampuan anak melalui komunikasi dan interaksi yang terjalin selama bercerita. Karena dicintai, maka anak merasa dihargai, dan selanjutnya turut meninggikan penghargaan anak pada dirinya sendiri.

Setelah mengetahui beragam kegunaan dongeng, maka sedini mungkin orangtua perlu membiasakan mendongeng sebagai aktivitas yang mengasyikkan, tidak saja bagi anak, namun juga bagi orang tua. Anak-anak saya biasa berangkat tidur dengan membawa buku cerita kesukaannya, dan meminta saya untuk menceritakannya sebelum terlelap. Kami terbiasa untuk berdialog tentang cerita Franklin si kura-kura, dan seringkali saya terkejut menemukan gagasan-gagasan lucu yang spontan tercetus dari pikiran anak. Suatu perasaan nyaman yang selalu menyelimuti kami, bahwa saya dapat mengajak pikiran anak berpetualang dengan cara yang sederhana, supaya anak-anak dapat membawa petualangan itu ke dalam mimpi, menyimpan dalam alam bawah sadarnya, dan mempraktekkannya di kehidupan nyata.
Mendongeng haruslah menjadi kebiasaan baru yang menyenangkan, tidak menjadi masalah jika anda harus menjalani profesi sebagai guru TK pada malam hari, merasa lelah untuk menjawab ribuan pertanyaan yang meluncur dari mulut mungil anak anda, atau menyisihkan sekian rupiah demi memenuhi rak buku dengan ratusan buku cerita. Mendongeng adalah bekal bagi anak untuk memberikan gambaran dan memperkaya pangalaman untuk membantunya menaklukkan persoalan kehidupannya saat ini dan nanti. Maka tidaklah berlebihan jika mendongeng dapat kita katakan sebagai upaya investasi yang sangat menguntungkan bagi masa depan anak. Jadi silahkan berinvestasi, karena suatu saat nanti, anda dapat menuai hasil yang menakjubkan dari kerja keras anda selama ini.

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)

note: gambar dipinjam dari sini