Rabu, 30 Desember 2009

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mengembangkan Imajinasi Anak Melalui Dongeng

Oleh: Jantan Putra Bangsa

Masih teringat jelas dalam ingatan dongeng yang selalu diceritakan kepada saya waktu kecil, yaitu dongeng “Kancil Nyolong Timun” . waktu itu saya dengan penuh imajinasi membayangkan keadaan alam, bentuk binatang Kancil, dan petani yang jengkel karena buah mentimunnya dicuri si Kancil yang cerdik.

Saat ini, jarang sekali saya mendengar anak kecil—sehabis didongengkan orangtuanya—bercerita tentang Kancil Nyolong Timun atau dongeng-dongeng lainnya kepada teman-temannya. Saya rasa hal ini dikarenakan anak-anak sudah tidak pernah mendapatkan dongeng-dongeng. Orangtua terkadang malas membacakan dongeng kepada anaknya, mereka malah membiarkan anaknya tidur di depan televisi. Sehingga jarang sekali anak-anak saat ini yang mengerti dongeng.

Televisi telah menguasai dunia anak-anak. Sehingga anak-anak lebih ramah terhadap televisi daripada buku. Dalam hal pendidikan, buku lebih mendidik ketimbang televisi. Hal ini dikarenakan televisi merupakan cerita bergambar yang bisa dinikmati bahkan bisa menyihir anak hingga betah berlama-lama di depan televisi untuk menonton acara kesayangannya. Sedangkan buku akan merangsang anak untuk berimajinasi, sehingga membuat anak dapat berpikir kreatif.

Meskipun tidak semua film mempunyai efek negatif, pastinya ada juga efek positifnya. Beberapa film yang bisa mendidik misalnya saja Denias; Senandung di Atas Awan kisah seorang anak Papua yang mempunyai keinginan keras untuk dapat mengenyam pendidikan formal, yaitu sekolah. Dengan penuh semangat, Denias berjuang untuk bisa sekolah. Namun di kemudian hari terjadi musibah yang menewaskan ibunya serta guru yang mengajar pulang ke Jawa. Namun, dengan kegigihannya serta didukung oleh Guru Sam, Denias dapat meneruskan kembali sekolahnya.

Film-film seperti inilah yang dapat mengajarkan kepada anak bahwa hidup harus mempunyai semangat dan keinginan yang keras. Walaupun kadang film seperti membuat anak menganggap bahwa pendidikan sekolah adalah menjadi kebutuhan utama, sehingga melupakan pendidikan non formal serta bersosialisasi yang tidak kalah penting.

Alangkah baiknya, ketika masih anak-anak banyak disuguhi dongeng dan buku ketimbang nonton film. Ketika masih anak-anak, daya imajinasi serta berpikir kreatif adalah hal yang utama untuk mendidik mereka.

Dongeng—baik yang didongengkan oleh orangtuanya atau dengan membaca buku sendiri—adalah hal yang baik. Seperti dongeng fabel Tiga Tupai Kecil terbitan Mizan, isinya mempunyai beberapa hal positif yang dapat dipetik, misalnya saja mengajari anak memperkenalkan nama-nama hewan, banyak nasihat bijak yang dapat diambil, seperti pentingnya berbagi dan bersahabat, serta menghargai perbedaan.

Sehingga ketika anak menjadi dewasa, dongeng-dongeng tersebut—meskipun sedikit—tetap akan ada yang bisa diingat dengan imajinasinya masing-masing. Hal ini dapat membantu anak dalam bergaul dengan teman sebaya, sehingga nantinya anak tidak menjadi asosial. Karena banyak cerita yang bisa ia bagi dengan teman-temanya, maupun hasil dari pelajaran yang dipetik dari dongeng itu secara tidak langsung bisa terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan banyaknya pilihan buku dongeng, seharusnya dapat memacu para orangtua memilih dan mendongengkan untuk anak-anaknya. Mengenalkan anak terhadap sesuatu sangat mudah jika dilakukan melalui dongeng. Mengenalkan anak terhadap warna, berhitung, nama binatang, nama tumbuhan dan lain sebagainya itu sangat mudah disampaikan dan ditangkap oleh anak melalui dongeng.
Buku Seri Tokoh Dunia yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo juga sangat menarik untuk diberikan kepada anak. Mengenalkan beberapa tokoh dunia yang diceritakan dengan sangat menarik dan mudah dipahami. Dari Sidharta Gautama, Isaac Newton, Julius Caesar dan masih banyak lagi tokoh dunia ada dalam buku Seri Tokoh Dunia.

Dengan begitu si anak dapat mengenali para tokoh sejak dini. Baik sejarah, atau berbagai hal yang ditemukan oleh para tokoh itu. Sehingga sejak dini anak mempunyai semangat dan cita-cita, setidaknya impian untuk menjadi seperti mereka. Setidaknya ketika si anak mempunyai impian atau cita-cita menjadi seperti para tokoh dunia, si anak tidak akan malas, namun mencotoh hal-hal yang dilakukan oleh para tokoh.

Tentunya hal seperti ini tidak lepas dari peran aktif orangtua dalam mendidik anak serta mengarahkan anak untuk membaca buku. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi contoh yang baik. Kalau otangtuanya saja malas membaca buku dan mendongeng untuk anaknya, bagaimana bisa berharap nantinya si anak mau membaca buku.

Anak-anak adalah makhluk yang pandai menirukan sesuatu dengan cepat, baik hal baik maupun hal buruk. Jika sejak dini diperkenalkan terhadap hal yang baik, melalui dongeng atau buku niscaya si anak ketika dewasa akan cinta dongeng dan cinta terhadap buku.

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)

note : gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Agar Anak Gemar Membaca

Oleh: Sri Indah Aruminingsih

Saya mempunyai kesukaan alias hobi membaca. Dari kecil sampai menjadi ibu-ibu begini, saya selalu mengusahakan setiap hari untuk membaca. Saya tidak mempunyai banyak uang, sehingga sedikit sekali tempat di muka bumi ini yang bisa saya kunjungi. Namun saya tidak menyesalinya, karena dengan membaca, saya bisa mengunjungi tempat mana pun yang saya ingin kunjungi dengan membaca. Saya bisa ‘berbicara’ dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia, dari berbagai macam suku, bangsa dan agama dengan membaca. Itulah mengapa buku disebut sebagai jendela ilmu.

Saya ingin ‘menularkan’ kegemaran saya ini kepada kedua jagoan saya (5 dan 2,5 tahun). Senang sekali saya melihat si kakak sudah menyukai buku-buku yang saya belikan untuknya. Suatu ketika dia lebih memilih dibelikan buku daripada mainan ketika saya tawarkan kepadanya. Semua ini tidak begitu saja bisa terjadi, tetapi memang saya ‘kondisikan’ anak-anak untuk lebih mencintai buku.

Berikut bebarapa tip yang bisa saya bagikan berdasarkan pengalaman pribadi saya :

1. Berikan contoh teladan
Bagaimana kita mau menjadikan anak-anak kita agar gemar membaca jika kita sendiri, sebagai orang tua, tidak mempunyai kegemaran membaca sama sekali? Jadi, agar kebiasaan ini ‘menular’ kepada buah hati kesayangan kita, maka harus orang tua dulu yang mencontohkan kegemaran ini. Selalu luangkan waktu kita untuk membaca. Dengan seringnya anak melihat orang tuanya membaca, insya Allah anak-anak pun akan tertular kebiasaan ini.

2. Kenalkan buku sejak dini
Semakin sering kita mengajak komunikasi dengan bayi-bayi kita, akan semakin bagus kemampuan bahasa yang dimilikinya. Kenalkan buku cerita pada anak-anak sejak mulai dia lahir. Berikan buku yang menarik kepadanya. Buku yang paling pas untuk anak batita adalah yang banyak gambarnya. Semakin berwarna, maka akan semakin menarik untuk si kecil. Balita akan lebih mudah menerima buku yang mempunyai lebih banyak tulisan. Semakin bertambah umur anak, kenalkan dengan buku yang memiliki bacaan. Bacakanlah bacaan-bacaan itu kepadanya. Luangkanlah sedikit waktu kita untuk menceritakan bacaan itu kepadanya.
Oh ya, tentunya kita harus mewaspadai kebiasaan si dua tahun yang masih gemar tantrum alias marah-marah sendiri tanpa sebab dan akibat. Biasanya si tantrum ini akan merusak apa pun yang dimilikinya, termasuk buku-buku yang kita sediakan untuknya. Maka tidak ada salahnya jika buku-buku yang kita sediakan untuknya pada rentang usia ini bukanlah buku-buku yang mahal-mahal alias buku murah. Aktivitasnya dalam merobek-robek buku janganlah kita larang, karena itu hanyalah ekspresinya untuk mengeksplorasi buku yang ada di hadapannya. Jangan pula karena kebiasaannya merobek buku menjadikan kita malas untuk memberinya buku. Jika kita terlanjur membelikannya buku mahal, maka jika tantrumnya sedang kumat, sediakanlah di hadapannya buku-buku murah itu, dan kita amankan buku-buku mahal tersebut dari jangkauannya. Pengalaman saya sih, saya memberikan buku seharga seribuan (paling mahal 3 ribu) untuk si tantrum ini. Percaya deh, kebiasaan ini akan berkurang seiring bertambahnya usianya. Yang penting, selalu arahkan si tantrum ini dan berikan nasihat bagus menurut usianya untuk kebiasaannya yang jelek itu.

3. Bacakan buku cerita dengan menarik dengan mendongeng/storytelling
Mendongenglah untuk anak-anak. Anak-anak selalu suka didongengi. Tidak ada salahnya kita sebagai orang tua mengetahui teknik mendongeng. Dengan mendongeng, kegiatan membaca menjadi kegiatan yang menyenangkan buat anak-anak. Minimal dongengilah anak-anak kita sekali sehari sebelum tidurnya di malam hari. Mungkin kita akan sedikit menjerit karena anak-anak sering meminta dibacakan satu buku berkali-kali. Sabarlah dan jangan matikan motivasi mereka dengan menolaknya.
Kegiatan mendongeng sangat bagus manfaatnya buat anak-anak. Kita bisa mengajari moral yang baik tanpa menggurui kepada anak. Kita bisa mengajari shirah misalnya kepada anak tanpa kita perlu bersusah payah. Kita bisa mengajari membaca, berhitung, sholat, berdoa dan lain-lain kepada anak juga lewat kegiatan mendongeng ini. Jangan lupa, dengan mendongengi anak, bonding kepada anak akan lebih terasa. Keterikatan jiwa lebih bisa terjadi.
Ada satu lagi yang juga termasuk kegiatan storytelling ini. Bahkan bagian darinya, yaitu speak aloud. Ya, membacakan buku cerita kepada anak. Dalam speak aloud ini, si ibu membacakan buku cerita kepada anak dengan keras, word by word, bahkan kalau perlu menunjuk tiap kata itu dan dengan intonasi yang berbeda. Ini bisa sangat membantu kognisi si anak. Diyakini, kegiatan speak aloud ini bisa lebih membuat seorang anak lebih gampang diajari membaca.
Ada teknik tersendiri dalam speak aloud ini. Buat anak sedekat mungkin pada kita saat membacakannya cerita. Pada anak yang belum bisa duduk, dudukkan dia di pangkuan kita. Pada anak yang sudah bisa berdiri, biarkan kepalanya bersandar di dada kita. Ini akan memberikan efek bonding yang luar biasa.
Saya berusaha mendongengi anak-anak tiap malam sebelum tidur. Kegiatan ini saya seling antara mendongeng dan speak aloud. Luar biasa efeknya memang saya rasakan buat anak-anak. Dalam umurnya yang belum genap 5 tahun, si sulungku sudah agak lancar membacanya. Subhanallah….
Si sulungku ini sekarang malah sedang keranjingan mendongeng dengan boneka tangan. Tapi berhubung kami tidak punya boneka tangan, maka ternyata kreativitas dia keluar. Dia menggunakan kaos kaki! Subhanallah. Awalnya dia tidak bisa melihat kaos kakiku menganggur dan selalu diambilnya untuk dipakainya mendongengi adiknya. Walau risih, aku terhibur juga. Aku memfasilitasi dengan memberikannya kaos kaki bersih yang lucu punyaku yang dulu kubeli dan tidak pernah kupakai. Hmmm…malah kreativitas anak beranak ini jadi muncul ya..:) Aku sengaja tidak membelikannya boneka tangan, biar muncul lagi kreativitasnya yang lain..:)

4. Sisihkan sebagian pengeluaran bulanan untuk membelikan anak buku
Jadikanlah ini sebuah kewajiban bagi kita sebagai orang tua. Atur pos pengeluaran sehingga selalu ada pos untuk membelikan anak-anak buku. Tidak harus banyak kok, tapi sesuaikan dengan budget yang kita punya. Jika pendapatan kita minim, maka galilah kreativitas kita untuk ini. Namun, jika kita mempunyai pendapatan yang lumayan besar, jangan segan untuk memposkan lebih besar pengeluaran untuk ini.
Ajak anak ke toko buku. Biarkan mereka memilih buku apa pun yang mereka suka. Jangan lupa, sesampai di rumah, kita diskusikan isi buku tersebut kepada anak. Insya Allah dengan cara ini anak-anak akan semakin bersemangat membaca buku karena buku yang dibacanya adalah pilihannya sendiri.
Beberapa tokoh film yang disukai anak-anak juga bisa kita jadikan acuan untuk membelikan mereka buku. Anak-anak akan menyukai buku yang berisi tokoh yang mereka lihat di film (naruto, sponge bob, spiderman, superman, deelel).
Beberapa hal yang bisa penulis bagi untuk yang berpendapatan pas-pasan :
a. menabung untuk membeli buku
Terutama jika kita ingin membelikan anak buku yang kita tahu bagus tetapi harganya mahal. Jangan lupa sosialisasikan kegiatan menabung ini pada anak, dan ajak dia berpartisipasi menabung dengan menyisihkan uang jajan mereka, sehingga mereka paham bahwa ibunya telah berupaya keras membelikannya buku bacaan. Di samping itu, kebiasaan menabung ini akan menjadi kebiasaan yang sangat bagus untuk anak-anak.
b. hunting ke toko loak
Banyak kok buku-buku bagus yang ada di toko-toko loak. Saya tidak segan ngubek-ubek toko loak di Bandar Lampung untuk mencari buku-buku bacaan dan pelajaran untuk anak-anak. Jelilah memilih. Biarpun murah, pastikan fisik dan isi buku yang kita beli bagus dan akan disukai anak-anak.
c. membuat buku sendiri
Anak-anak suka sekali berkreasi. Ajak mereka membuat buku bikinan mereka sendiri. Gunting gambar-gambar dari koran/majalah/buku-buku bekas dan tempel di kertas-kertas bekas print out yang tidak terpakai (tapi ingat yang masih banyak halaman putihnya) dan satukanlah kertas-kertas ini menjadi sebuah buku. Kreatif bukan? Dijamin anak-anak akan sangat menyukai aktivitas gunting-tempel ini.
d. download ebook gratis
Sekarang banyak kok situs-situs yang menyediakan layanan download ebook gratis. Kita bisa mendapatkan bacaan gratis di sini.

5. Berikan hadiah berupa buku
Pada momen-momen istimewa yang dimilikinya, ulang tahun dan kenaikan kelas misalnya, belikanlah buku untuk anak-anak daripada membelikannya mainan atau barang-barang wah yang lain. Ini akan membuat anak semakin menghargai keberadaan buku dan semakin menggemarinya.

6. Ajak anak ke perpustakaan
Sesekali ajaklah anak-anak ke perpustakaan. Biarkan mereka menjelajahi isi perpustakaan dan membaca buku apa pun yang mereka suka di sana. Biarkan mereka menjelajahi rak demi rak buku dan berimajinasi di sana. Jangan lupa, karena di perpustakaan dilarang membuat keributan, maka lebih dahulu kita kondisikan anak-anak untuk tidak membuat kehebohan di dalam perpustakaan.

7. Ajari anak membaca
Tidak perlu memasukan anak ke les untuk mengajarinya membaca, walaupun memberikan les kepadanya juga bukan hal yang jelek. Jika anak sudah menyukai buku sejak mereka kecil, maka mengajarinya membaca insya Allah menjadi sebuah usaha yang tidak terlalu susah. Jangan paksa anak untuk bisa membaca. Ajari mereka dengan pendekatan belajar sambil bermain dan lihatlah hasil yang akan kita dan anak-anak dapatkan. Tentu dibutuhkan kesabaran ekstra untuk ini.

8. Ajak anak untuk menceritakan kembali
Anak-anak selalu suka diajak berdiskusi tentang buku yang pernah mereka baca atau kejadian apapun yang mereka lihat dan dengar. Mintalah anak untuk menceritakan kembali hal-hal tersebut kepada kita. Jangan meremehkan apa pun yang mereka ceritakan. Ingat, kita dianugerahi Allah dua telinga untuk lebih banyak mendengar.

9. Jangan paksakan target membaca pada anak
Setiap anak mempunyai kecepatan yang berbeda untuk belajar membaca dan membaca itu sendiri. Biarkan dan dengarkan mereka membaca (pada anak-anak yang sudah bisa membaca), sehingga kita bisa tahu kemajuan bacaannya. Jangan paksa mereka harus menghabiskan sekian halaman setiap hari. Memberi target boleh saja, asal disesuaikan dengan kemampuan anak. Dalam waktu-waktu tertentu saya ‘mewajibkan’ si sulung yang sudah agak lancar membaca untuk menyelesaikan satu buku kecil atau sekian halaman dari buku-buku yang dimilikinya.
Bahkan, jika si anak belum bisa membaca, biasanya mereka akan ‘pura-pura membaca’ sesuai dengan gambar di buku atau dari bacaan yang kita ceritakan kepadanya. Hargai usaha mereka ini. Berikan apresiasi dan tidak boleh diremehkan. Beri pujian jika perlu.

10. Taruh buku pada tempat yang mudah dijangkau anak
Biarkan anak menemukan apa yang ingin dia baca sendiri. Jangan biarkan DVD player atau PS atau mainannya lebih mudah dijangkau baginya dibanding koleksi buku-bukunya. Kalau perlu sediakan buku-buku di samping tempat tidurnya sehingga dia bisa dengan sangat mudah menjangkaunya. Jangan pula jadikan tempat tidur sebagai ‘tempat haram’ untuk serakan buku. Biarkan dia membuka buku-bukunya di atas kasur, asalkan tanamkan pula kebiasaan tanggung jawab kepadanya untuk selalu membereskan barang-barang miliknya selesai dipakai.

11. Tetap biasakan anak membaca walaupun sedang berlibur
Aktivitas membaca jangan sampai terhenti hanya karena anak-anak sedang libur sekolah. Selalu biasakan mereka membaca kapan pun dan di mana pun. Saya selalu menyediakan satu tas penuh bukunya jika bepergian jauh atau minimal satu buku bacaan untuk kedua anak saya jika bepergian yang tidak terlalu jauh.

12. Variasikan bacaan anak
Ajarkan anak-anak untuk menyukai majalah, koran, komik atau bacaan apa pun untuk memvariasikan bacaannya. Kenalkan mereka dan berpetualanglah dengan anak-anak untuk menggali ilmu-ilmu yang ada di balik bacaan-bacaan tersebut.

Demikian beberapa tip yang bisa penulis sharekan di sini. Harapannya agar semakin banyak anak-anak Indonesia yang menjadikan membaca sebagai satu kegiatan yang mengasyikkan baginya, sehingga akan lahir generasi-generasi yang lebih bermutu.

(Diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel ”Cinta Dongeng, Cinta Baca”)

note: gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] I Love to Tell a Story and My Baby Loves to Read

Oleh : Dewi Mora Rizkiana

Menuliskan kecerdasan si kecil serasa menemukan sebuah buku kosong yang setiap kali kita ingin mengisinya, tiba – tiba halaman demi halaman menjadi penuh. Namun saat ‘dipaksa’ untuk menuliskannya serasa semua kembali ‘kosong’ atau boleh dibilang kita menemukan ‘a new book’.

Saya suka buku, suka menulis, suka mendongeng, dan suka sekali -belajar- ‘menggambar’ -at least but not last- untuk konsumsi anak – anak dibawah asuhan saya. Saat Tuhan mengaruniakan ‘amanah’ terindahnya pada tahun 2008 tepatnya 17 September, saya menemukan ‘something’ new. Anak saya terasa begitu cepat bertambah kecerdasannya, mulai cuma bisa nangis, teriak, dan tidur, pelan namun pasti dia bisa tengkurap, duduk, merangkak, berjalan, dan sekarang sudah bisa berlari dan berkomunikasi. Subhanalloh!

Sejak awal, saya suka sekali mendongeng untuk anak saya, dan hal itu terbantu dengan adanya buku – buku untuk balita -yang kadang- saya buat sendiri. Pada awalnya anak saya cuma suka memegang, merebut, dan melempar, namun saya pantang menyerah, saya lebih suka -nantinya- anak saya akan menjadi kutu buku daripada TV-mania (meski bukan antipati, karena ada banyak program anak – anak yang saya ikuti cukup bagus di beberapa stasiun TV).

Tahapan ‘perkenalan’ anak saya dengan buku :

1. Awal saya kenalkan buku pada anak saya sejak di kandungan, dari inspirasi yang saya dapatkan saya menuliskan naskah – naskah dongeng yang saya dongengkan untuk anak – anak di bawah asuhan saya.
2. Dalam setiap dongeng yang saya ceritakan, suara masing – masing tokoh selalu saya bedakan, dengan intonasi naik turun dan ekspresi sesuai situasi dan kondisi alur cerita.
3. Beberapa hari setelah dia lahir saya suka menceritakan tentang kisah – kisah inspiratif kepadanya.
4. Usia 1 bulan saat dia bisa mengangkat kepalanya saya ‘kenalkan’ dengan buku sebenarnya, dia tersenyum melihat -meski tak sepenuhnya paham-, tapi saya berprasangka baik dia suka.
5. Setelah dia bisa memegang, saya berikan buku padanya, dan dia mulai bersahabat.
6. Setelah dia duduk dan merangkak, dia mulai bisa meraih buku kesukaannya, meski sebatas dilihat, dipegang, dan bahkan dilempar.
7. Usia 1 tahun, saat dia mulai bisa berjalan, hal yang membuat saya ‘surprise’ adalah saat ia membawakan buku kesukaannya ke depan saya dan membuka, serta menunjuk gambarnya sambil berkata ‘tu’ berkali – kali.
8. Hal lain yang saya lakukan adalah mengajaknya ke toko buku sejak dia masih bayi, ke pameran – pameran buku, dan berusaha membelikannya sebuah buku untuk dibacakan kepadanya.
9. Saat anak saya berusia 14 bulan, saat saya bilang ‘sayang, tolong ambil bukumu, ayo kita baca bersama….” Dengan bergegas dia akan mendapatkan bukunya dan duduk di depan saya, membukanya dengan semangat dan menunjuk – nunjuk gambar sambil berkata ‘tu tu tu!’. Terkadang saat dia membaca bagian dimana disitu ada anak yang bersahabat dengan binatang, dia akan mengelus – elus bukunya seperti biasa saya ajarkan. Lucu sekali!
10. Sekarang anak saya berusia 15 bulan, dia suka membawa buku apa saja ke depan saya dan mengulurkannya dengan harapan saya akan membacakan buku itu untuknya meski hanya satu kata. Seumpama saya tak memperhatikannya dia akan ngambeg sampai saya membacakan buku itu untuknya.

Saya percaya setiap anak memiliki begitu banyak kecerdasan yang bisa diasah oleh kita sebagai orangtua. Dan kecerdasan anak tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lain karena mereka memiliki ‘keunikan’ tersendiri.

Ada sebuah kejadian lucu saat saya sekeluarga mengurus paspor ke kantor imigrasi, si kecil yang suka berlarian melihat pamflet di sekitar loket ruang tunggu, dia menunjuk apa saja dengan isyarat ingin dibacakan, jadilah kami keliling dan saya bacakan setiap kata yang ditunjuknya.

Hanya do’a beserta harap dalam setiap aktivitas saya sebagai bunda, semoga kelak si kecil menjadi manusia yang berguna bagi lingkungan sekitarnya, minimal untuk dirinya, amiin….


(diikutsertakan dalam lomba "Cinta Dongen, Cinta Baca")

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Menggurui Anak-anak dengan Dongeng

Oleh : Isti Zusrianah

Mendongeng merupakan aktifitas favorit saya sebagai pengajar TK di sebuah kampung kecil di Bantul, Yogyakarta. Ekspresi anak-anak ketika mendengarkan cerita saya, antusiasme mereka menebak-nebak akhir cerita dan semangat mereka berebutan menjawab pertanyaan “ujian” saya ketika cerita sudah selesai merupakan kepuasan tersendiri bagi saya.

Dulu, saya tidak menganggap penting kegiatan mendongeng, hanya sekedar bagian dari aktifitas mengajar karena tuntutan Satuan Kegiatan Harian yang harus saya laksanakan. Atau menjadi aktifitas andalan saya ketika anak-anak ribut dan tidak bisa dikendalikan. Apalagi saya tidak melihat hasil yang signifikan dari kegiatan mendongeng, seperti yang pernah saya tanyakan di sebuah seminar. Saya katakan waktu itu, anak-anak itu begitu antusias mendengarkan cerita saya, bisa menangkap pesan moral yang saya sampaikan. Tapi kenapa setelah saya selesai bercerita mereka kembali bersikap “liar” seolah yang saya sampaikan hilang begitu saja. Kang Puji nara sumber seminar itu mengatakan bahwa, jangan heran ketika kita bercerita anak-anak itu begitu antusias tapi setelah itu mereka juga masih “antusias” menakali temannya, hanya perlu diingat bahwa apa yang kita sampaikan itu tidak hilang tetapi akan selalu berada di “alam bawah sadar” mereka dan bahkan bisa mereka ingat sepanjang masa.

Ini mengingatkan saya akan deskripsi Teoritis Maria Montessori tentang tahap-tahap yang yang harus dilalui seorang anak untuk memunculkan kedisiplinan batin. Pada tahap ketidakteraturan gerakan-gerakan tubuh, anak-anak cenderung mengalami kekacauan gerakan yang memerlukan bantuan orang tua dan guru dengan cara-cara yang menarik agar gerakan-gerakan tubuh itu menjadi lebih harmonis. Tahapan yang menyertai “kekacauan” ini adalah kesulitan atau ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada benda-benda nyata. Pikirannya lebih suka berkelana dalam dunia fantasi. Orang beranggapan bahwa fantasi itu berciri kreatif, padahal menurut Montessori justru sebaliknya, fantasi itu tidak ada nilainya atau sekedar bayang-bayang. Pikiran yang melanglang buana yang terlepas dari realita juga terlepas dari kondisi yang normal dan sehat. Di dunia fantasi yang khayalan memang tumbuh subur, tidak ada kontrol kesalahan, tidak ada upaya untuk mengkoordinasikan pikiran.

Dalam kondisi “kacau” inilah menurut saya, orang tua dan guru bisa menanamkan nilai-nilai melaui media dongeng. Dunia fantasi anak yang tidak ada kontrol kesalahan itu bisa dimasuki konsep benar salah menurut nilai-nilai agama, sosial dan budaya di mana mereka tinggal. Bahwa, keinginan kita dibatasi oleh aturan yang jika itu dilanggar akan menyebabkan berkurang atau hilangnya penerimaan lingkungan terhadap keberadaan kita.

Maka kegiatan mendongeng dipastikan bisa merubah perilaku anak, tentu jika dilakukan dengan baik dan disesuaikan dengan tingkat penerimaan anak akan sebuah nilai yang akan disampaikan. Menurut Kak Andi Yudha, seorang trainer dongeng anak-anak dan penulis buku anak, segala sesuatu yang disimpan dalam bentuk cerita jauh lebih bermakna daripada segala sesuatu yang dijejalkan ke dalam otak hanya dalam bentuk fakta. Pada dasarnya bercerita adalah kegiatan berbagi rasa, membuka diri secara tulus, menyampaikan perasaan, mengungkapkan nilai-nilai dan menyampaikan pengalaman dengan sungguh-sungguh sehingga dapat diterima dan diserap oleh anak-anak.

Karenanya orang tua tidak perlu khawatir jika belum bisa menjadi pendongeng seperti Kak Bimo atau Kak WeeS, tidak perlu berkecil hati jika belum bisa mempraktekkan tehnik-tehnik mendongeng seperti yang ada di buku-buku panduan mendongeng. Kejadian sehari-hari yang anak-anak atau orang tua temui bisa dijadikan bahan cerita, tentu dengan bumbu-bumbu yang pas dan tidak lupa memasukkan nilai-nilai moral dalam cerita itu. Bisa juga menggunakan media buku cerita yang banyak dijual di Toko Buku, kalau perlu bisa mengajak anak ke toko buku dan memilih sendiri cerita yang disukainya. Meskipun belum bisa membaca, anak-anak bisa “membaca” ilustrasi buku yang biasanya menjadi daya tarik tersendiri bagi anak. Para ahli pendidikan sepakat bahwa, lingkungan yang selalu mendukung anak dengan merangsangsangnya melalui pendekatan visual dengan cara memperkenalkan buku secara fisik, kemudian membacakan atau menceritakannya akan membuat anak termotivasi untuk lebih jauh mendalami buku sehingga suatu saat buku menjadi sebuah kebutuhan.

Untuk para guru, tentu ada kiat khusus agar kegiatan mendongeng menjadi lebih menyenangkan. Yang selama ini saya praktekkan, selain menggunakan media buku cerita bergambar dan menggunakan ekspresi wajah dan perubahan intonasi suara, saya biasanya menjadikan beberapa anak sebagai contoh kakakter seperti dalam dongeng. Anak yang disebut namanya akan merasa senang dan ia terpancing untuk bercerita tentang keluarganya, hewan peliharaannya atau kejadian yang menimpanya. Memang akan sedikit terjadi “kekacauan” karena anak-anak yang lain juga akan berebut bercerita, tetapi komunikasi dua arah ini diperlukan untuk menghindari kebosanan anak-anak, yang penting masih berada dalam alur cerita yang sudah dibangun.

Selain itu, saya sering memberi “pertanyaan ujian” setelah cerita selesai dibacakan, dan anak-anak akan antusias menjawabnya. Ini juga bisa kita jadikan indikator kesuksesan kita dalam menyampaikan cerita, jika anak-anak bisa menjawab pertanyaan seputar cerita yang telah kita bacakan berarti mereka benar-benar mendengarkan apa yang kita sampaikan.
Tentu, cerita atau dongeng hanya salah satu media untuk menanamkan nilai, tapi sejauh ini dongeng dianggap yang paling efektif untuk “menggurui” anak-anak sehingga tanpa sadar anak-anak itu menerima nilai-nilai agama, sosial dan budaya yang Insya Allah akan selalu tertanam di hati mereka. Seperti halnya orang tua, anak-anak juga tidak suka digurui dengan kata-kata : tidak boleh, jangan, harus begini harus begitu, tetapi dengan dongeng mereka tidak akan merasa digurui. Jadi, menggurui anak-anak dengan dongeng, kenapa tidak kita biasakan dari sekarang?


Yogyakarta, 30 Desember 2009

Bahan Bacaan :
1. Maria Montessori, “The Absorbent Mind, Pikiran Yang Mudah Menyerap”, Pustaka Pelajar : 2008.
2. Kak Andi Yudha, “Cara Pintar Mendongeng”, DAR! Mizan : 2007

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

note: gambar dipinjam dari sini

Selasa, 29 Desember 2009

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Orang Tua Sumber Inspirasi Buah Hati Kita

Oleh : Hardono Umardani

Dunia anak memang merupakan dunia yang penuh warna dan merupakan masa-masa yang sangat menentukan bagi permulaan kehidupan kita. Masa anak-anak ibaratnya sebuah lembaran kertas putih bersih..kosong..siap diisi dengan berbagai warna… hitam, putih atau pun warna warni pelangi yang bertebaran menghiasi setiap sudutnya.

Mengingat masa kecil dulu, sedikit merangkai kilas balik memori sampai dengan sekarang sudah punya keluarga sendiri, istri tercinta dan sepasang buah hati yang selalu menghiasi hari kami. Saya dilahirkan bukan kebetulan tapi merupakan takdir Yang Maha Kuasa dari rahim seorang ibu yang berprofesi sebagai pengajar sekolah dasar. Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara tentunya banyak hal positif yang bisa saya dapatkan dari kakak-kakak yang sudah lebih dahulu berpengalaman dalam kehidupan walaupun tidak kalah banyak juga sisi negatif yang harus disaring.

Sebagai seorang pengajar, ibu selalu menanamkan disiplin belajar kepada anak-anaknya. Satu hal yang sampai sekarang masih menjadi kegemaran beliau adalah kebiasaan membaca dan itu secara tidak langsung mendorong minat saya untuk mengikuti jejak beliau sebagai pencinta buku bacaan. Saya dulu paling rajin menyongsong kedatangan ibunda tercinta yang setiap awal minggu mengambil rapel koran harian dan majalah mingguan dari kecamatan untuk sekolah. Memang sedikit cerdik kalau tidak mau dibilang mengakali, karena Koran yang semestinya konsumsi untuk sekolah saya baca duluan, meskipun isi berita hampir sebagian agak basi seminggu yang lalu, baru kemudian keesokan harinya ibu bawa ke sekolah. Pada waktu itu walaupun belum paham benar dengan materi berita yang dibaca, tidak sedikit pun menyurutkan minat baca saya yang begitu besar. Bahkan menjadikan bahan pertanyaan ke kakak-kakak tentang istilah-istilah yang kurang paham yang kadang mereka juga susah untuk memberikan penjelasan yang memuaskan.

Kebiasaan di rumah tidak bisa ditinggalkan juga di sekolah. Perpustakaan sekolah mempunyai koleksi buku-buku cerita yang cukup beragam dan dari sekian banyak buku yang di simpan pada rak-rak dan lemari tidak satu pun yang lolos belum terbaca. Bahkan saya sampai dipercaya untuk menyimpan kunci pintu ruang perpustakaan oleh penjaga sekolah, karena kebiasaan teman yang lain pulang sekolah saya masih menyempatkan diri untuk membaca atau mencari buku bacaan baru untuk dibawa pulang bahkan juga di hari minggu. Sampai sekarang pun masih kebayang beberapa cerita anak yang pernah saya baca. Bagaimana sensasinya ikut merasakan kekhawatiran tokoh dalam sebuah buku yang menceritakan seorang anak yang ketakutan karena tumbuh pohon tomat yang berbuah dari atas kepalanya. Atau cerita tentang detektif cilik yang cerdik dan penuh keberanian melawan para penjahat. Kalau jaman dahulu sudah ada buku cerita seperti kisah “Laskar Pelangi’ misalnya, mungkin akan semakin menambah minat baca dan semangat belajar bagi anak-anak.

Berbekal pengalaman yang didapat pada saat masa kecil dahulu, saya mencoba menitik beratkan bahwa peran keluarga dan orang-orang dekat lebih-lebih lagi orang tua sangat besar terhadap kebiasaan dan minat dari anak-anak kita di luar bakat yang sudah melekat pada masing-masing individu. Dengan memberikan contoh kebiasaan kita sehari-hari kepada anak-anak kita besar sekali pengaruhnya terhadap perilaku, minat maupun untuk menggali potensi-potensi yang ada pada anak-anak kita.

Anak sulung saya, perempuan usia 3 tahun, senang sekali apabila di berikan hadiah berupa buku cerita atau dongeng bergambar, yang pada gilirannya nanti akan merengek ke papa, mama atau eyangnya untuk membacakan ceritanya. Untuk usia pra sekolah buku cerita bergambar lebih efektif untuk merangsang daya imajinasi si kecil, bahkan bisa memicu si kecil untuk menceritakan ulang dari mulutnya yang dengan versi dan imajinasi seorang anak kecil. Anak kecil akan cenderung untuk menirukan perilaku orang dewasa di sekelilingnya terlebih kedua orang tuanya. Mereka akan sangat bangga bisa melakukan hal yang kita lakukan, tidak ketinggalan peralatan yang kita gunakan. Bisa dibayangkan bagaimana si kecil dengan senangnya ketika diberi hadiah mainan peralatan memasak. Imajinasi mereka akan mengatakan bahwa dia bisa melakukan kegiatan mamanya. Atau ketika diberikan hadiah replika mainan laptop, betapa bangganya si kecil duduk bersebelahan dengan papanya sambil sama-sama menghadap laptop masing-masing.

Jadi pada dasarnya setiap anak kecil mempunyai kecenderungan untuk menirukan apa-apa yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya dan ini bisa kita jadikan sebagai pemicu untuk membangkitkan minat baca mereka. Tidak harus diperlukan orang tua yang pintar mendongeng atau pun seorang kutu buku dengan kacamata tebal, yang diperlukan hanyalah kedekatan dan komunikasi dengan si kecil. Luangkan waktu senggang kita untuk bermain dengan si kecil, ketika membaca Koran, buku atau pun bahkan ketika kita sedang melakukan pekerjaan di rumah dengan computer, jangan merasa terganggu dengan kehadiran si kecil di samping kita. Sebagian dari kita sering beranggapan atau merasa aktivitas kita terganggu oleh kehadiran si kecil di sekitar kita ketika sedang bekerja, tapi hal ini bisa di atasi dengan merubah paradigm yang kita yakini selama ini. Ciptakanlah hubungan yang dekat dengan buah hati kita, lakukan dengan mengalir secara alami. Tempatkan posisi kita untuk memberikan contoh dan suri tauladan bagi si kecil bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

Lingkungan merupakan salah satu factor yang sangat berpengaruh bagi perkembangan buah hati kita dan kita sebagai orang tua merupakan orang-orang terdekat dengan mereka Buatlah lembaran putih bersih yang masih kosong itu dengan coretan yang penuh warna dan bermakna dengan menempatkan kita sebagai suri tauladan yang baik bagi buah hati kita.

Cikarang, 30 December 2009 - HUM


(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

note:
gambar dipinjam dari sini