Selasa, 29 Desember 2009

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] “Bunda,…. Mau Dong Diceritain??!!”

oleh : Widyana Abdullah


Cerita kami dimulai, ketika kakak lahir. Saat itu, semua waktu dan perhatian kami tercurah hanya untuk dia. Bermain…makan…jalan-jalan…
tidur… semua hanya dengan kakak. Kami bisa merasakan, bahwa saat itu ‘situasi rumah’ berjalan nyaman-nyaman saja.

Semua terasa berbeda, ketika adiknya lahir.
Huffff...
Hampir tiap hari terjadi keributan. Entah berebut mainan, entah berebut makanan…atau apalah, yang bisa memancing keributan mereka. Terus terang kami sangat prihatin.

Sudah banyak buku yang kami baca, untuk mencari cara memecah perselisihan antara kakak adik. Berbagai metode sudah coba kami terapkan. Tetapi tetap saja hasilnya tidak seperti yang kami harapkan.

Satu hal yang coba kami mengerti, bukannya kakak tidak menyayangi adik, atau bukan juga kakak tidak ingin berbagi dengan adik. Tetapi kakak hanya ingin mencuri perhatian dari kami. Perhatian yang dulu hanya diberikan untuknya…kebersamaan yang dulu hanya mutlak untuk dia.

Kalau sudah begini kami sangat bingung. Kami merasa tidak pernah membedakan mereka berdua. Tidak pernah memberi lebih pada satu diantara mereka. Kami terus mengevaluasi diri…evaluasi…dan selalu evaluasi, apakah kami sudah melakukan kesalahan dalam mengasuh.

Dengan berjalannya waktu, ada suatu peristiwa yang mengubah semuanya.
Saat Dinda sedang menangis, berebut mainan dengan kakaknya. Saya datang dengan buku kumpulan dongeng ditangan. Saat itu saya hanya berpikir, mungkin dengan membacakan cerita dari dalam buku kumpulan dongeng ini, saya dapat menyatukan mereka berdua dalam satu kegiatan yang bisa membuat mereka menjadi lebih tenang.

”Hayo, siapa yang mau bunda dongeng in…?” kata saya sambil menunjukkan buku kumpulan dongeng.
Kakak dan adik menoleh. Mereka melihat buku yang saya tunjukkan. Ajaib, adik sudah tidak menangis lagi. Kakak pun sudah tidak segarang tadi ketika sedang berebut mainan dengan adiknya.

Buku itu cukup menyita perhatian mereka. Sengaja saya membawa buku kumpulan dongeng yang didalamnya banyak gambar-gambar yang menarik. Digambar dengan bentuk-bentuk yang lucu. Dan di warnai dengan warna yang menarik. Belum saya bacakan saja, mereka sudah tertarik.

“Gambar apa ini Bunda?”
“Ini hewan apa Bunda?”
“Mereka sedang apa bunda?”
Begitu celoteh mereka. Mereka baru saja melupakan kejadian yang membuat mereka bertengkar. Sekarang mereka sedang duduk bersama dengan saya. Adik di kanan dan kakak di kiri. Mereka mendengarkan saya mendongeng.

Saat itu, saya membacakan dongeng tentang dua ekor angsa. Angsa-angsa itu kakak-beradik. Mereka hidup rukun…saling bantu…dan saling berbagi. Kehidupan mereka sangat bahagia.
Hingga akhirnya, banjir melanda di daerah mereka. Sang adik angsa hilang hanyut diterjang banjir. Betapa sedih dan kesepian hidup sang kakak angsa. Setiap hari kakak angsa menyusuri sungai untuk mencari keberadaan adik angsa kesayangannya. Dan, hingga suatu hari pencarian itu membuahkan hasil. Adik angsanya berhasil ditemukan dalam kelompok angsa lain di hulu sungai. Betapa bahagia sang kakak angsa. Mereka berkumpul kembali dan hidup bahagia.

Sejak saat itu, kakak dan adik lebih bisa menempatkan perannya. Mereka menjadi lebih rukun. Kami sangat bersyukur sekali. Dan sejak saat itu, setiap hari kami membiasakan diri untuk menyempatkan membaca beberapa dongeng. Kakak dan adik selalu antusias jika saya sudah memegang buku kumpulan dongeng favorit mereka.

Sebenarnya, tanpa kita sadari mendongeng adalah cara yang sangat efektif untuk membentuk kepribadian anak-anak kita sejak dini. Dengan mendengarkan dongeng atau cerita, anak-anak dapat menilai perbuatan mana yang baik dan mana yang tidak baik melalui tokoh-tokoh yang ada dalam cerita.
Dongeng juga mengandung nilai-nilai etika, moral, kejujuran, kerja keras, kesetiaan, dll.

Kakak dan adik menjadi terbiasa mendengar dongeng dari saya. Mereka selalu meminta saya untuk mendongeng. Kami, bertiga…duduk bersama mendongeng…mendengar berbagai cerita, menyalurkan berbagai emosi mereka, ada sedih, marah, gembira…menggali banyak ilmu darinya…

Mereka menjadi ‘sangat ingin tahu’ hanya dengan melihat gambar-gambar yang ada di dalam sebuah buku. Terkadang, saya melihat mereka berdua sedang membuka-buka halaman buku-buku kumpulan dongeng yang lain (yang sengaja kami beli kemudian) hanya untuk sekedar melihat gambarnya. Kemudian menerka-nerka cerita yang ada di dalam buku. Bahkan, pernah saya melihat kakaknya, mencoba bercerita untuk adiknya meski hanya melihat dari gambarnya saja.

Ada sebuah kebiasaan baru dari keluarga kami sekarang. Jika kami ingin memberi hadiah untuk anak-anak, kami akan lebih memilih membelikan hadiah buku dongeng atau buku ilmu pengetahuan kepada mereka. Dan mereka selalu menyambutnya dengan antusias.

Percayalah, buku adalah aset yang tak ternilai harganya. Melalui buku, anak-anak kita tumbuh dengan wawasan, dan kematangan berpikir mereka. Dengan buku, anak-anak mengenal berbagai nuansa emosi. Ada emosi sedih, marah, geli, dan lain sebagainya, dalam suatu jalinan kasih sayang yang akrab antara seorang ibu dan anaknya. Anak-anak akan begitu gembira mendengar dongeng-dongeng kita. Sekaligus merasa aman dan mesra dekat dengan kita.

Saya pikir, alangkah baiknya jika kita bisa menyediakan sedikit dari waktu kita untuk mendongeng bersama dengan anak-anak kita. Ada beberapa kiat yang bisa kita terapkan agar mendongeng kita menjadi ‘sedikit’ menarik (karena saya pikir, kita bukan pendongeng yang handal bukan?).
a. Pilihan tema cerita dan isi cerita harus tepat untuk usia anak-anak kita.
Bila usia anak di bawah 6 tahun, umumnya punya daya khayal tertentu dengan cerita binatang.
Bila usia anak di atas 6 tahun, mereka sudah bisa diberi dongeng tentang manusia.
b. Menirukan suara orang, binatang, angin.
Usahakan untuk tidak bercerita secara monoton. Saat kita menyebut seseorang berbicara, maka tirukanlah suaranya dan bedakanlah secara jelas dengan tokoh lain.
Demikian juga, saat kita menyebut binatang, tirukanlah auman harimau, meong kucing, desis ular, gonggongan anjing, ringkik kuda, cicit tikus dan sebagainya.
Semua itu akan menjadi titik perhatian dan kelucuan bagi anak-anak.



Daftar Pustaka
Putri Pandan Wangi, PANDUAN MENDONGENG UNTUK SI KECIL, cetakan pertama Maret 2006, Penerbit Lintang Pustaka.

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

note:
gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Cinta Baca Sejak Dini

Oleh : Syasya Azisya

“Mohon maaf bunda, aku mau ke tempat sepi dulu ya...” kata anak saya Mirza ( 5 thn) lalu ngeloyor pergi. Setelah beberapa saat dia kembali sambil cengar-cengir sendiri.
“Tadi Mas Mirza habis ngapain sih? “ tanyaku penasaran melihat tingkah lucunya itu, tiba-tiba pamit menghilang dan kembali lagi dengan senyum cengar-cengirnya.
“Mas Mirza tadi abis buang gas bunda....” jawabnya tertawa, kini dia tertawa seperti puas berhasil melakukan suatu hal besar.
“Oalah... abis buang gas to.. pinter mas..kalau mau buang gas pergi dulu yang jauh ya...” jawabku.
“Iya bunda, kan Mas Mirza ingat yang dikatakan di buku itu.. itu lho bun buku yang 'Aku Tidak Kentut Sembarangan' “ jawabnya.

Saya memang telah membiasakan membacakan buku pada anak-anak saya sejak mereka masih dalam kandungan. “Mengapa sejak dalam kandungan dan apa ngaruhnya sih masih di dalam perut kok dibacakan buku?” mungkin akan ada pertanyaan seperti itu. Jawaban saya untuk pertanyaan itu adalah : Bukankah Ibu adalah sekolah pertama untuk anak-anaknya? Oleh karena itu kita sudah harus memainkan peran sebagai sekolah bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Selain itu saya yakin bahwa meski masih janin, dia bisa mendengar apa yang saya bacakan. Sembari mengelus lembut perut yang membuncit saya bacakan cerita-cerita anak khusunya yang mengajari anak agar berakhlak dan perilaku yang mulia, seperti buku “Jangan Kentut Sembarangan “ itu salah satunya.

Begitu banyak manfaat membacakan cerita yang telah saya lihat pada diri anak-anaknya. Salah satunya anak menjadi berperilaku positif seperti yang dicontohkan melalui bacaan. Hal lain yang saya rasakan manfaatnya pada diri Mirza adalah kemampuannya mengingat kosa kata bahkan kalimat dan keseluruhan isi cerita yang ada di dalam buku. Mungkin anda tidak percaya, tapi sungguh saya tidak bohong. Mirza hafal seluruh isi dialog buku cerita tentang Mino, hafal diluar kepala. Bahkan saya sering sengaja menyalahkan satu atau dua kata, dia akan segera mengoreksinya.

Dengan membiasakan anak membaca saya yakin anak akan memiliki kecerdasan linguistic yang memadai. Kecintaannya kepada bacaan akan tumbuh dan terus berkembang bila orangtuanya terus memberikan stimulus pada mereka. Bacaan adalah sumber ilmu. Saya percaya bahwa tidak ada orang yang sukses yang tidak gemar membaca. Adnan Oktar atau yang terkenal dengan nama Harun Yahya adalah orang yang gemar membaca, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Faudzil Adhim. Gola Gong bahkan presiden SBY adalah penggemar bacaan. Oleh karena itu bila ingin kesuksesan menyertai anak kita kenalkan dan ajak anak untuk mencintai bacaan, tentu saja bacaan yang bermutu.

Kita tidak perlu menunggu anak berusia lima atau enam bulan untuk bisa membacakan sebuah buku. Kita bisa mulai mengenalkan membaca kepada anak sejak awal kelahirannya.Pada masa komunikasi prasimbolik setiap rangsangan komunikasi member pengaruh yang sangat besar bagi ketrampilan komunikasi anak, termasuk di dalamnya kemampuan berbahasa dan bepikir. Membacakan buku kepada dengan suara dikeraskan (reading aloud) selain bermanfaat sebagai rangsangan komunikasi yang baik, juga mendorong anak menyukai membaca [Faudzil Adhim, 2004].

Manfaat reading aloud ini bahkan secara langsung dirasakan oleh seorang ibu bernama Marcia Thomas yang berasal dari Memphis, Tennesse cukup menarik untuk kita simak. Sebagaimana dikutip oleh Jim release dalam The Read Aloud Handbook, Marcia Thomas bercerita,
“Anak kami, Jennifer lahir pada September 1984. Jennifer lahir dengan down syndrome. Pada usia dua bulan, kami diberi tahu bahwa Jennifer hamper-hampi mengalami kebutaan, tuli dan keterbelakangan mental yang parah. Setelah kami membaca buku The Read aloud Handbook tentang pentingnya membacakan buku kepada anak, kami memutusan untuk memberikan “diet “ kepada anak kami dengan sekurang-kurangnya membacakan sepuluh buku sehari. Ketika itu Jennifer harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama tujuh minggu karena jantung dan bedah korektif. Kami mulai membacakanbuk kepadanya saat dia masih menjalani perawaran intensif dan manakala kami tidak bisa menemaninya, kami meninggalkan tape berisi rekaman cerita dan meminta kepada perawat untuk menghidupkannya untuk anak kami”
Usaha yang dilakukan oleh Marcia Thomas ini ternyata tidak sia-sia. Pada usia SD, anaknya selalu memperoleh nilai tertinggi untuk pelajaran membaca. Tidak ada kegemaran yang lebihdisukai oleh Jennifer melebihi membaca. Kisah Jennifer ini menunjukkan bahwa membaca atau tepatnya membacakan buku kepada bayi, tidak saja dapat menumbuhkan minat baca yang tinggi. Lebih dari itu, membaca buku bisa meningkatkan kecerdasan anak dan bahkan dapat dipakai sebagai terapi untuk balita bermasalah.

Saya juga sangat terinspirasi oleh kisah Hellen Keller. Seorang yang bisu, tuli sekaligus buta tapi ternyata mampu menjadi seorang yang sukses. Apa sih kunci kesuksesannya itu? Ternyata karena dia sudah sering “dibacakan” buku oleh gurunya. “Dibacakan” di sini maksudnya bukan dibacakan (reading aloud) karena kondisinya yang tidak memungkinkan itu namun dibacakan dengan mendiktekan dengan cara bahasa isyarat yang disentuhkan di tangannya. Benang merah dari semua itu adalah bahwa ajak anak untuk membaca sejak kecil, sedini mungkin, terutama di usia golden agenya di mana saat itu anak akan mudah menyerap ilmu dan kebiasaan yang kita tanamkan untuk mereka.

Adapun beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak kita sejak dini yaitu :

Buka buku bersama anak
Setelah anak kita mulai tumbuh besar, kegiatan membaca buku bersama bisa kita lakukan secara berkala. Lama kelamaan kegiatan ini akan menjadi sebuah kegiatan yang mengasikkan. Saya sendiri menjadikan kegiatan membaca buku bersama anak saya sebagai momen-momen yang paling saya tunggu-tunggu. Setelah lelah seharian bekerja di kantor, malam harinya sebelum tidur, anak saya Mirza selalu meminta untuk dibacakan buku bersama saya. Ketika usianya sudah memasuki masa kritis, saat umurnya 4 tahun. Segala apa yang saya bacakan untuknya selalu memicu pertanyaan-pertanyaa kreatif yang akan keluar dari bibir mungilnya.

Pilih bacaan yang tepat
Begitu banyak buku yang beredar di pasaran, membuat kita sebagai ibu harus selektif memilihkan bacaan yang tepat untuk buah hati kita. Pilihlah bacaan yang tidak hanya mampu memberikan hiburan atau kesenangan untuk anak kita, namun juga bergizi tinggi dan dapat membentuk kepribadian dan akhlak yang baik untuk anak-anak kita. Sekarang ini sudah banyak buku-buku cerita anak dengan konten seperti itu, kebanyakan yang sering saya bacakan untuk anak-anak saya adalah buku-buku terbitan Mizan.

Ajak anak untuk berwisata buku
Mengajak anak berwisata tak melulu harus pergi ke tempat-tempat wisata yang mahal, yang meski mempunyai nilai edukatif namun juga akan mengosongkan isi kantong kita. Be smart buns.. pilihkan alternative lain untuk berwisata bagi anak yang murah, meriah namun memiliki nilai edukasi yang tinggi? Apa ada sih tempat yang seperti ini?
Ada, jawabannya adalah toko buku. Saya berusaha menurunkan kesenangan saya ini kepada anak-anak saya dengan maksud agar mereka mau mencintai buku sebagai sumber ilmu dan menjadikan membaca tidak hanya sebagai hobi tapi menjadi sebuah kebutuhan primer bagi untuk memperkaya jiwa mereka. Alhamdulilah, usaha saya sudah mulai menampakkan hasilnya. Setiap kali saya membawa anak saya ke toko buku langganan keluarga kami di Depok Town Square, saat itu Mirza akan langsung berlari menuju rak buku anak-anak yang sudah dihafalkan dan mulailah dia akan mengeksplore rak itu dan memilih-milih buku yang akan dibelinya.

Hadiahi anak dengan buku
Sebagian kita mungkin menerapkan reward and punishment dalam mendidik anak-anak. Bila anak-anak bresprestasi atau menunjukkan sebuah perilaku akhlaq yang baik, tak salah bila kita menghargainya dengan memberikan sebuah hadiah. Dengan pemberian hadiah itu diharapkan si anak akan merasa disayang, dihargai dan pada akhirnya akan membuat dia menjadi semakin bersemangat untuk meraih prestasi atau berperilaku yang lebih baik lagi. Lalu bentuk hadiah apa yang sebaiknya kita berikan untuk mereka? Buku, adalah hadiah terbaik untuk mereka. Buku juga bisa diberikan untuk hadiah di moment istimewa seperti saat ulang tahun..
Dengan semakin terbiasa menerima buku, lama kelamaan kecintaan anak terhadap buku akan terbentuk sejak dini dan anak akan terbiasa dengan kegiatan membaca, lama kelamaan membaca akan menjadi sebuah kegiatan yang rasanya ada yang kurang bila belum dilakukan. Saat itu berarti minat membaca anak kita telah tumbuh, tugas ibu selanjutnya adalah untuk menjaganya agar hal itu makin berkembang dan subur.

Kenalkan dengan berbagai macam bentuk buku
Ada buku untuk bayi yang terbuat dari bahan yang anti air, ini bisa kita kenalkan untuk anak kita yang masih bayi. Bawa kemanapun kita pergi, biarkan dia mengekslpore sesukanya.
Ada pula buku yang berbentuk seperti bantal, yang terbuat dari kain dengan tampilan menarik yang bisa diberikan untuk anak kita sebagai sarana belajar sekaligus bermain.
Yang sering dikhawatirkan oleh kalangan ibu adalah bila anak (terutama balita) memegang buku, biasanya anak akan mengeksplorenya dengan menggigit atau bahkan merobeknya. Duh..buku baru gitu loh, kok sudah dirobek-robek..sayang banget, gitu kan ?
Maka untuk anak balita, berikan buku yang terbuat dari bahan kertas yang tebal (hard ) yang tak akan mudah rusak bila digigit atau dirobek untuk anak. Namun hati-hati juga nih bun.terkadang ada buku yang bagian ujung-ujungnya lancip sehingga dapat membahayakan anak kita.

Menyediakan berbagai macam buku yang memadai
Agar minat membaca anak-anak kita tak terhenti di tengah jalan, maka tugas kita lah menyediakan berbagai jenis bacaan bermutu yang bervariasi. Karena bisa jadi ketika anak sudah memiliki minat yang cukup tinggi untuk membaca, tapi suatu saat saat dia sedang butuh bacaan tapi tak menemukan bacaan di rumah kita, bisa jadi minatnya akan berkurang atau bahkan lama-kelamaan menghilang. Sisihkan sebagian uang bulanan kita dan anggarkan untuk membeli buku, buat perpustakaan kecil-kecilan di rumah untuk menampung koleksi buku kita itu, atur dengan rapi agar menarik minat orang untuk mendekatinya, mengambil buku yang ada di dalamnya, lalu membacanya.

Letakkan buku di manapun
Di setiap sudut rumah kita mustinya selalu ada buku. Di mobil, di ruang tengah, di ruang makan, di dapur apalagi di kamar. Dengan demikian anak akan sering melihat ada buku dan mudah meraihnya lalu membacanya.

Semoga tip-tips diatas bisa kita lakukan dalam upaya menumbuhkembangkan minat baca anak sejak dini. Dan semoga anak-anak kita kelak menjadi generasi cinta baca, cinta ilmu, cinta agama..

Daftar referensi :
1. Membuat Anak Gila Membaca, Faudzil Adhim
2. Rich Mom Poor Mom , Syasya Azisya

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

note:
Gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Ayo Kenali Indonesia Lewat Dongeng dan Cerita Rakyat!

Oleh : Eka Nugraha Putra

Ketika generasi muda kita saat ini sedikit jumlahnya yang mengenal betul budaya bangsa Indonesia yang pada jaman dahulu lahir dari dongeng, cerita rakyat dan legenda maka pilihan yang paling mungkin dilakukan untuk mengenalkan budaya Indonesia lewat bacaan adalah kepada anak-anak. Sosok anak-anak adalah sosok yang polos dan mudah meniru dari apa yang diketahuinya, dilihat, didengar termasuk juga yang dibacanya.

Miris tentunya kalau sampai anak-anak Indonesia yang akan jadi generasi mendatang bangsa ini justru lebih mengenal budaya luar negeri, sekarang saja gelagatnya sudah mulai nampak. Ketika generasi muda kita ada yang membentuk komunitas Harajuku dimana itu merupakan budaya Jepang, apakah kita mau anak-anak sekarang jadi “Jepang”, “Amerika” dan “Inggris” tapi fisiknya Indonesia? Tentunya tidak.

Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari pengenalan budaya Indonesia lewat dongeng dan cerita rakyat, antara lain :
1. Anak-anak Indonesia akan mendapat banyak pelajaran moral sejak dini, dongeng kancil yang banyak sekali versinya itu banyak memberikan pesan-pesan moral atau contoh lain cerita rakyat Kepel Iwel-Iwel dari Yogyakarta yang punya pesan moral agar kita tidak menilai orang dari sosoknya saja.
2. Alternatif hiburan anak yang edukatif, kalau dibiasakan sejak dini maka anak-anak akan punya kegemaran membaca. Kegemaran membaca yang jadi kebiasaan positif ini tentu lebih baik ketimbang kegemaran anak-anak sekarang yang suka menonton televisi dengan acara yang semakin minim nilai edukasinya atau bermain playstation sampai lupa waktu.
3. Menumbuhkan minat baca, dimulai dari bacaan yang ringan, menghibur namun tetap mendidik maka nantinya anak-anak akan terbiasa dengan buku, kalau kebiasaan ini dibawa sampai dewasa maka membaca akan menjadi bagian dari tiap-tiap individu di Indonesia. Kebiasaan inilah yang akan membuat bangsa kita punya peradaban membaca.

Namun memang ada sedikit hambatan ketika kita akan menularkan kegemaran membaca dan rasa cinta akan budaya Indonesia dimana anak-anak juga merupakan sosok yang labil, sehingga tidak mungkin disodori langsung buku-buku bacaan tersebut, perlu pendekatan yang berbeda namun akhirnya tetap mengena. Pendekatan ini menggunakan tiga tahapan agar nantinya hasil yang didapat anak-anak ini bisa punya rasa cinta tanah air dan budayanya sendiri. Tiga tahapan tersebut diawali pada tahapan mengenal dulu budaya daerah masing-masing, mempelajari nilai-nilai positif dalam ekspresi kebudayaan tersebut (bentuknya bermacam-macam seperti bahasa, lagu, cerita rakyat dan lain-lain). Tahapan berikutnya adalah mengapresiasi, dimana anak-anak pada tahapan ini menjadikan budaya daerah asalnya yang sudah dikenali dan dipelajari itu dihargai, dengan menghargai budaya daerahnya akan timbul rasa cinta sehingga tanpa diminta pun mereka akan menjaga produk-produk kebudayaannya. Tahapan yang terakhir dan terpenting adalah mengaktualisasi, bentuk menjaga produk kebudayaan pada tahapan mengapresiasi salah satunya diterapkan lewat cara mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Lewat tahapan ini nantinya anak-anak selain menjadi gemar membaca akan punya rasa cinta terhadap budaya Indonesia.

Berdasarkan pengalaman saya, ketika saya aktif sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial, khususnya anak-anak (yatim piatu, anak jalanan dan anak-anak lainnya). Kegiatan yang berkaitan dengan menumbuhkan minat baca memang merupakan kegiatan yang belum bisa berdiri sendiri, artinya memang harus ada kegiatan utama dan kegiatan baca dongeng serta cerita rakyat ini mendampinginya.
Pada saat itu gagasan yang sempat muncul adalah program pengenalan budaya Indonesia lewat buku-buku bacaan yang berisi dongeng, legenda, fabel dan cerita rakyat asli Indonesia. Program ini dinamakan Ayo Kenali Indonesia! Dalam Ayo Kenali Indonesia ini tiga tahapan (mengenal, mengapresiasi dan mengaktualisasi) menjadi unsur-unsurnya dimana tahapan mengenal dan mengapresiasi adalah langkah teknisnya dan bertujuan agar anak-anak bisa mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaannya tidak hanya terpaku pada anak-anak yang berada di sekolah saja, namun juga anak-anak lain di luar sekolah sebagai lembaga pendidikan formal (Panti Asuhan, Anak Jalanan, Rumah Singgah dan lain-lain). Artinya program ini ditujukan mampu membawa dampak yang lebih luas karena segmen yang ditarget juga lebih luas. Ide dasar dalam program ini adalah dengan mengenalkan cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah kepada anak-anak tersebut. Dikenalkan di sini artinya pelaksana programnya berlaku sebagai pencerita atau bisa juga meminjamkan buku-buku cerita rakyat tersebut kepada mereka. Pada pertemuan berikutnya mereka diminta menceritakan ulang dalam bahasa dan gaya mereka sendiri di hadapan teman-temannya. Dua pertemuan ini sudah mengakomodasi tahapan mengenal dan mengapresiasi yang sudah diuraikan di atas, namun ini harus dilakukan dengan sering karena belum tentu dua kali pertemuan saja efektif. Dengan terus menambah koleksi cerita maka program ini bisa terus berjalan. Bahkan bukan tidak mungkin dikembangkan dalam bentuk apresiasi versi anak-anak didikan ini sendiri, misalnya pementasan drama berdasar cerita rakyat yang dipilih, gambar atau komik strip dengan ide cerita dari cerita rakyat yang dipilih dan lain-lain. Semua itu dilakukan dengan tujuan mereka mampu mengaktualisasikan kebudayaan daerah sebagai akar kebudayaan nasional sejak dini.

Jadi menurut saya, bacaan dan dongeng yang perlu ditekankan adalah edukasi, namun edukasi berupa pengenalan terhadap kebudayaan dan kearifan lokal yang dimiliki Indonesia. Tujuan akhirnya adalah anak-anak gemar membaca dan menyadari keragaman budaya kita.

(Diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

Note :
Gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Membuka Jendela Dunia Melalui Buku dan Dongeng

Oleh : Liliek Budiastuti Wiratmo


“Ibu, mengapa jalan kok berbintik-bintik?”
“Apa saja bahan untuk membuat jalan?”
“Aspal itu apa?
“Dari mana asal Aspal?”

Pertanyaan semacam itu keluar dari bibir mungil putera sulung kami ketika masih di Taman Kanak-Kanak Kelas Nol Kecil. Pertanyaan yang tiada habis dan bosan ia lakukan. Di dapur, di kamar, di kala mandi, di jalan, dimana pun ia tak lelah bertanya. Sebagai orang tua kami selalu berusaha menjawab setiap pertanyaannya bahkan merangsangnya untuk terus bertanya dan bertanya. Bagi kami dengan bertanya ia akan banyak tahu tentang banyak hal.

Tentu tak semua pertanyaannya dapat kami jawab. Bila itu yang terjadi, kami dengan jujur akan menjawab: “Ibu/Ayah belum tahu, coba nanti Ibu/Ayah cari dulu.” Dan kami selalu berusaha mendapatkan jawaban dari berbagai sumber. Entah karena alasan itu atau karena menurutnya kami bisa memenuhi rasa ingin tahunya suatu hari ia bertanya: “Kok Ibu/Ayah selalu tahu, tahu dari mana?” Waktu itu dengan ringan kami jawab: “Karena membaca, Nak.” Dialog itu terus berlanjut dan menjadi pendorong minat bacanya yang terus tumbuh.

Perkenalan Dini
Kami mulai mengenalkan bacaan kepada Si Sulung sejak ia baru berumur kira-kira satu tahun. ‘Bocil’ -Bobo Kecil- adalah majalah pertama yang dikenalnya. Awalnya ia senang membuka halaman demi halaman dan melihat gambar beraneka bentuk dan warna sambil kami bacakan teksnya. Saat ia mulai tertarik pada alat tulis kami membacakan perintah yang ada di majalah itu dan ia yang mengisi atau mewarnainya. Pengalaman yang sama dilakukan pada putra kedua kami.

Mendongeng menjadi ritual wajib sebagai pengantar tidur yang mengasyikan bagi kami semua, walau kadang-kadang kami- ayah dan ibunya lakukan secara bergantian. Dongeng yang diceritakan adalah dongeng klasik yang pernah kami dengar di masa kecil, seperti ‘Bawang Merah dan Bawang Putih’, ‘Kancil yang Nakal’ dan sebagainya. Kami juga membacakan dongeng yang dimuat di majalah atau surat kabar. Tak jarang kami menceritakan dongeng yang kami ciptakan sendiri. Bahkan kami pernah membuat buku dongeng yang dicetak bagus dengan tokoh baik yang menggunakan nama kedua putera kami. Acara mendongeng ini kami selingi dengan menyanyikan lagu anak-anak, lagu daerah serta lagu-lagu wajib.

Ternyata kegiatan membaca dan mendongeng yang menggembirakan ini merangsang sikap kritis dan mendorong minatnya untuk cepat belajar membaca. Semua tulisan yang dilihatnya dibaca. Koran, majalah, nama warung, nama bis, bahkan tulisan di samping becak pun menarik perhatiannya. Tak jarang kami diminta menghentikan kendaraan agar dapat membaca tulisan yang dilihatnya. Pada usia 5 tahun saat masuk Taman Kanak-kanak ia telah lancar membaca majalah ‘Bobo’ yang kami langgan untuknya, tanpa pernah memaksanya belajar membaca apalagi les membaca.

Buku Sebagai Hadiah
Melihat minat membaca mereka yang sangat tinggi kami tak hanya berusaha memupuk semangat yang telah tumbuh tersebut, tetapi mengharuskan kami sangat selektif memilih media dan bacaan di rumah. Dengan kesadaran bahwa membaca akan memberi ruang yang luas untuk belajar dan mengembangkan imajinasi serta berpikir kritis, sejak kedua putera kami masih kanak-kanak kami selalu memberi buku sebagai hadiah utama pada setiap moment penting mereka. Ulang tahun, setelah menerima rapot catur wulan atau semester dan kenaikan kelas atau ketika ia mencapai prestasi tertentu.

Ada tiga kriteria buku yang dibeli. Pertama, buku yang kami pilihkan. Kedua, buku yang dipilihnya sendiri. Dan ketiga, buku yang kami pilih bersama berdasarkan kesepakatan. Biasanya kami memilih buku pengetahuan dan agama, anak-anak memilih komik atau dongeng dan buku kompromi yang temanya berganti sesuai situasi saat itu. Beberapa jenis buku yang selalu kami beli adalah serial dongeng dari berbagai daerah, ilmuwan-penemu berbagai ilmu dan teknologi, cerita nabi dan agama, di samping buku-buku fiksi terkenal dunia. Meskipun anak-anak boleh memilih bacaan sendiri tetapi tetap dengan rambu-rambu yang juga disepakati. Bila awalnya buku yang mereka baca adalah cerita bergambar, seiring pertambahan usia secara perlahan bergeser ke buku-buku minim atau tanpa gambar. Walaupun hingga kini mereka tetap suka membaca komik.

Kebiasaan menjadikan buku sebagai hadiah meluas ke luar rumah. Kami biasa membawa oleh-oleh buku bacaan ketika berkunjung ke rumah saudara yang mempunyai anak kecil. Buku juga menjadi hadiah untuk keponakan yang khitan, berulang tahun, atau naik kelas. Buku menjadi buah tangan ketika menjenguk anak-anak yang sakit atau untuk kenang-kenangan untuk teman kedua putera kami yang pindah. Bahkan keponakan yang melahirkan pun mendapat kado buku. Buku-buku yang menginspirasi menjadi pilihan. Lebih dari sepuluh buku ‘Laskar pelangi’ karya Andrea Hirata diberikan sebagai hadiah dan kenang-kenangan.

Buku-buku koleksi yang kami miliki seperti Serial Lima Sekawan, Harry Potter, Lord of The Rings, empat buku karya Andrea Hirata-Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov, Gajah Mada, berbagai komik, majalah dan sebagainya tak dinikmati sendiri. Buku-buku itu berpindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Bagi kami lebih baik buku rusak karena dibaca daripada rapi tapi tak pernah disentuh-walaupun mereka merawat buku-bukunya dengan baik. Ini menjadi salah satu cara menularkan minat baca kepada anak-anak yang lain. Karena dari pengamatan kami aktifitas membaca tidak hanya melatih konsentrasi dan daya imajinasi, tetapi menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi sehingga mempunyai pengetahuan yang luas sehingga mampu melihat berbagai persoalan dari berbagai sisi secara kritis. Kami ingin anak-anak lain mendapat kesempatan yang sama.


(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

note :
gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Asyiknya Mendongeng

Oleh : Diah Pramesti

Mendongeng merupakan salah satu aktivitas yang menyenangkan bagi orang tua dan anak-anak. Mungkin juga bagi Anda. Namun tahukah Anda, bahwa di balik aktivitas mendongeng sebenarnya banyak sekali manfaat yang dapat kita petik. Mendongeng bisa menjadi sarana mendekatkan diri dengan anak Melalui dongeng kita juga bisa mengajak si Kecil berimajinasi dan membantunya menumbuhkan rasa percaya diri. Sebagaimana kata Kak Seto Mulyadi, “Orang tua yang baik akan menyempatkan waktu untuk mendongeng untuk anak-anaknya. Pendidikan moral dalam dongeng begitu lengkap. Mendongeng juga merupakan jembatan komunikasi yang paling baik antara orang tua dan anak sejak dini”.

Namun sangat disayangkan, dewasa ini tradisi mendongeng dalam keluarga mulai tergantikan oleh segala yang serba instan seperti radio dan televisi. Hal ini dikarenakan para orang tua sibuk mencari nafkah yang notabene demi sang anak juga. Para orang tua merasa tidak sempat meluangkan waktunya meski hanya beberapa saat. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa mendongeng hanya bisa dilakukan menjelang tidur. Cara berpikir seperti itulah yang justru menjadi beban para orang tua. Ada saja alasan yang mereka ungkapkan. Apakah kebersamaan dengan buah hati harus dikorbankan karena egoisme orang tua?

Tak perlu memilih satu waktu khusus untuk memulainya. Ada banyak cara yang bisa ditempuh agar kebersamaan kita dengan buah hati tidak terlewatkan sementara kesibukan orang tua tetap berjalan. Tak perlu menunggu waktu senggang untuk sekadar mendongeng. Tiap Anda sempat bisa dijadikan ritual yang menyenangkan. Sebagaimana yang saya lakukan, saat memandikan si Kecil bisa menjadi momen yang sangat mengasyikan. Di sela-sela mandi biasa saya selipkan dongeng “Bidadari Mandi”. Gemericik air dari kran menambah imajinasinya terhadap cerita yang saya bawakan, sehingga muncul celoteh-celoteh lucu yang justru menambah seru cerita itu. Sambil mandi saya juga dengan mudah mengorek kegiatannya seharian. Si kecil pun bercerita tanpa merasa terinterogasi. Dan, saat-saat mandi menjadi waktu yang sangat ia nantikan.

Apabila anak sudah terbiasa dengan dongeng, saya yakin anak dengan sendirinya akan menginspirasi Anda banyak cerita. Mungkin Anda sendiri akan heran mendengar celotehannya. Sebagaimana saya waktu si Kecil melihat anak ayam. Ia pun bertanya “Di mana ibunya? Masih kecil kok main sendiri. Nakal ya Bu jadi nggak punya teman.” Nah, dari celotehan itu saja banyak sekali ide cerita yang bisa saya bawakan. Saat itu saya sendiri juga heran, mengapa saya menjadi begitu ahli mendongeng. Prinsipnya, mendongeng tidak harus merujuk pada cerita yang mungkin pernah Anda dengar atau dari buku yang telah Anda baca. Alam sekitar bisa menjadi bahan inspirasi, bahkan lebih nyata. Kita bisa menjadi pengarang sekaligus pemeran utamanya. Dan satu hal yang penting, selipkan pesan moral di dalamnya.

Untuk memulai mendongeng diperlukan kemauan dan kerelaan kita untuk menikmati kebersamaan dengan si Kecil. Saya, seorang ibu yang tidak selalu bisa menemani si Kecil seharian. Jadi, kebersamaan dengan si Kecil yang sedikit ini akan selalu saya nikmati. Selain dalam aktivitas harian, di saat bersantai pun sesekali saya berusaha memperkenalkannya dengan buku cerita, yang tentu menarik dari segi gambar dan warnanya. Meski tidak jarang buku-buku tersebut hanya sebagai alat pengusir gerah atau pengganti kipas. Namun bagi saya, tidak apalah anggap saja sebagai perkenalan covernya dulu. Memulai anak untuk mencintai buku memang lebih susah. Herannya, suatu saat si Kecilku tidak mau dikipasi dengan buku lain selain buku-buku yang sering saya tunjukkan. Dan, tak terasa bukunya terbuka juga lembar demi lembar. Asyik! Nah, langkah selanjutnya yang bisa Anda coba yaitu memperkenalkannya dengan bacaan yang sesuai usianya. Suatu ketika ia akan menyadari bahwa membaca itu mengasyikan bahkan waktu-waktu membaca bersama Anda sangat dinantikan.

Daftar Pustaka:
Mendongeng untuk Si Kecil Yuk! http://ceritarakyatnusantara.com. Diakses 18 April 2009.
Moral Dongeng Rangsang Kecerdasan Spiritual Anak. http://ceritarakyatnusantara.com. Diakses 30 April 2009

(Diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

note:
gambar dipinjam dari sini