Selasa, 29 Desember 2009

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Dongeng Mamakku Jadi Bahan Ajar Untuk Anakku

Oleh : Wawa Wilang

Mamak begitulah aku memanggil ibuku, dia CUMA ibu rumah tangga dengan 6 orang anaknya yang sekarang sudah beralih peran menjadi orang tua. Sering terlintas dipikiranku betapa hebatnya Papa dan Mamakku, tanpa pendidikan tinggi mereka bisa menjadikan kami 6 orang anaknya mandiri dengan keadaan serba secukupnya. Dibanding sanak keluarga kami yang lain, keluarga kami termasuk agak kesulitan secara finansial karena Papa dan Mamak hanya penjual makanan di pasar malam. Aku ingat kerepotan Mamak sebagai penanggung jawab utama kegiatan ekonomi keluarga kami itu, dari mulai belanja, masak dan mengurus 6 anaknya yang berumur hampir sebaya.

Tapi satu hal yang melekat kuat dalam ingatanku, Mamakku masih sempat mendongeng setiap malam untuk aku dan kakak-kakakku. Dulu belum ada buku-buku dongeng, jadi Mamakku menceritakan secara lisan sambil tiduran dikamar. Kalau sekarang aku pikirkan kembali, kenapa selalu sambil tiduran dikamar, mungkin karena Mamakku terlalu lelah untuk mendongeng sambil duduk di ruang tamu setelah seharian mempersiapkan makanan untuk dijual dan mengurus anak-anaknya. Sampai pada kesimpulan ini, aku tidak berani lagi memakaikan kata keterangan CUMA didepan sebutan ibu rumah tangga untuk Mamakku.

Lalu beberapa bulan terakhir ini aku merasakan suatu perasaan yang ”tidak hebat”, ”tidak bijaksana”, ”tidak maksimal”, terutama ”tidak adil” kepada anakku semata wayang yang baru berusia 3 tahun. Menjelang waktu tidurnya aku jarang sekali sudah sampai dirumah, apalagi untuk membacakan dongeng. Tapi puji Tuhan dalam beberapa bulan ini jugalah akhirnya aku sadar bahwa aku harus menjadi sedikitnya seperti Mamakku di malam hari, mendongeng! Aku tahu perkerjaan yang aku lakukan sekarang jauh lebih ringan daripada perkerjaan Mamakku dulu, jadi seharusnya paling tidak aku bisa seperti Mamak di malam hari.

Sekarang aku rutin membacakan dongeng untuk anakku menjelang tidurnya. Buku-buku dongeng mulai memenuhi bawah kasurnya. Setiap buku atau judul dongeng yang selesai aku ceritakan dengan semangat anakku akan memberi tanggal dan namanya sambil berjanji dia akan menjadi anak baik seperti pesan moral yang selalu aku ulangi diakhir cerita.

Aku sekarang juga rajin membaca artikel tentang pendidikan anak dan manfaat mendongeng, aku sadar dan mengakui bahwa ternyata sebagian besar pegangan hidupku selama hampir 34 tahun ini berpedoman pada dongeng-dongeng Mamakku, dan aku yakin karena dongeng-dongeng Mamakku lah yang membuat aku merasa harus sekolah dengan giat dan bekerja dengan baik dan jujur, hebat bukan dongeng Mamakku !! Papa dan Mamakku tidak bisa membekali kami dengan cukup materi tapi kasih sayang dengan dongeng sebagai sebagai media peyampai pesan moralnya terbukti mampu menjadikan kami manusia yang lebih baik.

Inilah sebagian kecil dari dongeng Mamakku dan pelajaran hidup yang aku dapatkan :
• Dongeng ” Dewi Sri ” aku terbiasa untuk hemat , tidak berlebihan dan tidak menyia-nyiakan makanan.
• Dongeng ” Anak Katak Yang Suka Membantah Ibunya ” terpatri dalam pikiranku bahwa patuh pada orang tua akan membawa kebaikan pada kita sendiri.
• Dongeng ” Anak Kambing Yang Suka Berbohong ” aku belajar bahwa hal terpenting dalam hidup adalah kejujuran dan bahwa kebohongan hanya akan melahirkan kebohongan-kebohongan selanjutnya.
• Dongeng ” Putri Serakah ” mengajarkan padaku bahwa pada satu titik dalam kehidupan , kita butuh lebih dari sekedar materi. Kita butuh cinta kasih dan kedamaian.
• Dongeng ” Doa Petani ” inilah dongeng yang paling banyak mengiringi kehidupanku, bahwa Tuhan selalu mendengar doa orang yang mau bekerja dan berusaha, tapi tidak untuk orang yang pemalas.

Aku berharap dengan kebiasaan baruku membacakan dongeng kepada anakku setidaknya membekali dia pesan-pesan moral yang bisa menjadi pengangan hidupnya sama seperti dongeng Mamakku. Ayo mendongeng !

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

Note:
Gambar dipinjam dari sini

Senin, 28 Desember 2009

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Ummi, Bacakan Buku Cerita Untukku..

Oleh : Dwi Yuli Rahayu

Untuk merangsang minat baca anak, tak dapat dipungkiri, bahwa dengan cara membacakan cerita kepada anak atau mendongeng sangat berpengaruh kuat pada kecintaan anak terhadap buku. Karena sebuah kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan sangat berpengaruh pada kebiasaan anak setelah mereka dewasa.

Sebagai ibu dari seorang putra yang sekarang berusia 21 bulan, saya berharap bahwa anak saya kelak akan tumbuh menjadi anak yang gemar membaca. Maka melalui tulsian ini, saya hanya ingin memberikan sedikit pengalaman tentang kebiasaan membacakan cerita kepada anak.
Usia dini atau para ahli sering menyebutnya dengan Golden Age, adalah usia-usia yang sangat tepat memulai segala sesuatu dengan kebaikan. Menanamkan kebiasaan yang baik pada anak adalah salah satunya. Jika kita berharap anak kita akan cinta membaca, maka sudah seharusnya sejak dalam kandungan kita harus membiasakan kebiasaan ini pada diri kita. Mulai dari diri kita sendiri untuk menyukai membaca. Dan ketika anak kita lahir maka kenalkan secara dini aktivitas membaca buku padanya. Karena usia anak saya masuk pada golongan batita, maka saya lebih suka mengenalkan buku yang bergambar menarik, penuh warna warni. Biasanya saya membacakan cerita ketika akan tidaur dan di waktu-waktu senggang dengan melihat keadaan anak apakah pas untuk dibacakan cerita atau tidak. Biasanya anak batita akan sangat tertarik jika dibacakan dengan menunjukkan gambar-gambar seraya memperdengarkan alur cerita yang berhubungan dengan cerita dan dengan intonasi suara yang pas. Jangan seperti membaca teks. Usahakan ketika membacakan cerita, suara disesuaikan dengan alur cerita. Misalkan suara kucing ya ucapkan kata “meong..” dan sebagainya.

Saya merasakan ajaibnya membacakan cerita kepada anak saya adalah, ketika suatu malam saya merasa kecapekan, dan tidak membacakan dia buku, tiba-tiba anak saya yang ketika itu berusia 19 bulan, mengambil sebuah buku di rak buku khusus milik dia sambil mengatakan “ta..ta…” mungkin maksudnya “baca-baca cerita Ummi”, maklum anak saya masih belum lancar bicaranya waktu itu. Subhaanalloh, saya sangat takjub dengan itu semua. Benarlah kiranya kebiasaan baik itu harus ditanamkan sejak dini. Begitu pula ketika saya membacakan sebuah cerita tentang kisah sahabat Rasulullooh, yang di buku ada kalimatnya” Salman dipeluk oleh ayahnya”, dan ada gambarnya dua orang anak dan bapak saling berpelukan. Seketika itu juga, anak saya segera menghampiri abinya dan mengatakan “uk..uk..” yang artinya “peluk…peluk..”.
Dari situ saya juga memahami bahwa, ketika membacakan ceritapun sebagai orang tua kita harus memperhatikan apa yang kita bacakan untuk mereka. Kemudian tak lupa untuk memilah mana buku-buku yang seharusnya mereka baca. Jangan asal dongeng, dan asal minta membaca, namun yang mereka baca tidaklah bermanfaat. Pilihlah buku-buku sains yang sekarang dikemas secara apik, sehingga anak tidak merasa sedang membaca buku yang “berat”. Begitu pula jika anak sudah mulai senang membaca dan kita tahu ternyata dia lebih suka membaca komik, maka pilihkan untuknya komik yang berbobot. Sekarang sudah banyak komik-komik yang tidak melulu tentang sebuah pertarungan, percintaan yang dikemas dalam sebuah komik kartun, tapi sudah banyak komik tentang tokoh-tokoh ilmuwan, seperti komik Aviciena, Hayyan Ibnu Jabir, semua itu komik yang mengisahkan tentang penemuan mereka dalam bidang kedokteran dan ilmu fisika.

Menurut saya, banyak tantangan dalam menumbuhkan minat baca anak, karena biasanya sebagai orang tua kita kadang berpikir instant. Sudahlah dari pada capek-capek mending suruh nonton televisi saja. Akhirnya mereka, anak-anak itu menjadi enggan untuk menyentuh buku apalagi untuk membacanya. Sebagai orang tua, sudah sewajarnya kita harus lebih memperbanyak wawasan tentang pendidikan anak, karena buku merupakan sumber ilmu yang tidak bias dipandang sebelah mata. Kita bisa dengan mudah membedakan anak yang suka membaca buku dan yang tidak suka. Anak-anak yang suka membaca buku, kosa katanya cenderung berlimpah dibandingkan dengan anak yang tidak suka membaca buku. Ini saya temukan dengan memeprhatikan anak-anak di sekitar lingkungan rumah saya.

Pada akhirnya, menumbuhkan minat baca haruslah dimulai dari lingkungan terdekat anak, yaitu keluarga. Banyak program-program pemerintah, sekolah, instansi yang menggembor-gemborkan tentang bagaimana menumbuhkan minat baca anak. Bahkan diperingati setiap bulan September dengan berbagai acara-acara yang sangat meriah. Namun terkadang jika kita cermati, hanya berhenti sampai pada gebyarnya saja, jarang ada tindak lanjutnya. Padahal seharusnya yang digenjot untuk menumbuhkan minat baca itu adlah orang tua. Bagaimana anak akan gemar membaca jika di rumah mereka tidak ada buku yang memadai sebagai bahan bacaan, atau mereka sama sekali tidak pernah melihat orang tua mereka membaca buku. Ini merupakan tantang besar bagi kita semua sebagai orang tua. Sudah selayaknya gerakan-gerakan massal tentang pentingnya membaca kita tekankan kepada orang tua. Jika alas an ekonomi tidak mampu membeli buku, maka jalan keluarnya sangat mudah. Ada banyak perpustakaan disekitar kita.

Di akhir tulisan ini, hanya ingin meluruskan satu pemahaman, bahwa kecintaan anak terhadap buku hanya bisa dimulai dari lingkungan terdekat mereka. Adakah orang di dalam keluarganya yang biasa membacakan cerita untuknya? Atau adakah orang di dalam keluarganya yang peduli bahwa hadiah terindah atas semua prestasi yang dicapainya dan kado terindah dalam setiap ulang tahunnya adalah sebuah buku? Hm..sepertinya jarang ya kita menemui orang tua yang memberi kado ulang tahun anaknya dengan sebuah bingkisan berisi buku. Mudah-mudahan kita bisa memulainya dari sekarang.

Sedikit memberi kiat dalam rangka membiasakan anak dalam mencintai buku. Pertama, jadikan toku buku atau perpustakaan sebagai tempat favoritnya atau hadiah jalan-jalan atas segala prestasinya atau dalam rangka kado ulang tahunnya. Atau bisa mengajaknya ke pameran buku yang sering digelar. Kedua, bacakan cerita bergambar untuk usia batita, dengan menunjukkan gambar-gambarnya. Perhatikan gaya bahasa dan intonasi anda dalam bercerita. Usahakan setiap kata-kata dalam cerita seperti nyata. Misalkan, jika disebutkan suara kakek-kakek, cobalah bersuara seperti kakek-kakek, caranya dengan menggigit bibir bagian bawah. Atau jika suara anak-anak cobalah dengan suara kecil dan seterusnya. Ketiga, jadikan memberi hadiah atau kado berupa buku sebagai kebiasaan dalam setiap momen-momen penting. Jangan lupa pilih buku yang menarik dari segi warna, ketebalan buku (jangan terlalu tebal atau terlalu tipis, jika terlalu tebal anak sudah malas membawanya karena berat), pilihkan juga yang berisi gambar-gambar yang menarik. Keempat, jika anak menyukai buku sejenis komik, pilihkan komik yang bermutu, karena apa yang anak-anak baca akan terekam dengan sendirinya di dalam otak mereka. Kelima, hindari mengenalkan anak pada buku-buku yang bertema kekerasan, mengandung pornografi, dan menyelipkan kata-kata yang tidak sopan ataupun kasar.

Sedikit berbagi pengalaman, mudah-mudahan bermanfaat. Sehingga anak-anak kita akan dengan sendirinya meminta kita untuk membacakan cerita untuk mereka. “Ummi, bacakan buku cerita untukku…

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

note:
gambar dipinjam dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Membuka Dunia Bersama Si Kecil

Oleh : Dian Arymami

“Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited
to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world,
and all there ever will be to know and understand.”
-- Albert Einstein


Dongeng? Siapa yang tak suka?
Saya teringat waktu mengecam pendidikan sekolah, ada tiga mata pelajaran yang sangat saya sukai; bahasa, kimia dan sejarah. Persoalannya hanya satu, gurunya selalu memulai kelas itu dengan sebuah cerita. Dari cerita mereka dapat menjelaskan berbagai hal dengan menyenangkan, membuat siswa tertarik dan semangat untuk mempelajari lebih materi yang diberikan. Inilah yang coba saya lakukan bila harus berbicara didepan para mahasiswa, atau presentasi di publik. Mengawali dengan sebuah cerita. Cerita begitu leluasa menjelaskan berbagai persoalan, bisa menjadi contoh yang lebih aktual atau setidaknya bisa membuat publik sebentar terhenyak dalam keheningan untuk mendengarkan kita. Semua orang pasti tertarik untuk mendengarkan sebuah cerita. Tanpa ada batasan umur.

Banyak orang tua bercerita kepada anak-anak mereka, khususnya sebagai ritual mendongeng sebelum tidur. Hal ini tidak hanya memberikan waktu berharga membangun ikatan relasi bersama anak, namun juga menginisiasi pengenalan buku pada anak-anak. Bercerita sembari membuka lembaran buku, secara tidak langsung membuat anak-anak menyukai buku. Mengenalkan tulisan dan mempercepat proses belajar membaca. Marjanovic-Umek dkk, juga menyatakan bahwa dongeng sangat signikan untuk perkembangan bahasa anak-anak. Namun tentu, bukan hanya proses membaca dan membaca buku yang menjadi penting, apalagi dengan prasyarat pendidikan ‘bisa membaca’ yang kian diterapkan sangat dini belakangan ini, atau sebagai patokan intelektualitas anak, tapi juga persoalan imajinasi.

Imajinasi dalam kamus psikologi mendeskripsikan imajinasi sebagai pengorganisasian data dari pengalaman masa lampau dengan relasi baru dalam pengalaman ide masa sekarang. Dengan kata lain dengan mencampur atau mengkombinasikan hal-hal lama dengan yang baru untuk membentuk sebuah gambaran dalam pikiran. Kenapa imajinasi begitu penting? Bukankan semua orang dengan mudah dapat melakukan imajinasi, sehingga kita tidak perlu susah payah menumbuhkan imajinasi pada anak? Setidaknya itu yang sempat melintas dalam pikiran saya mengenai imajinasi. Namun saya mulai mendapat pandangan lain, saat saya mendengar cerita seorang rekan yang sedang melakukan penelitian di Taman Kanak-kanank (TK) untuk tesis di bidang psikologi pendidikannya.

Sebuah sekolah TK yang cukup ternama, dengan metode pembelajaran berbagai bahasa dan dipandang sangat baik oleh banyak keluarga. Sekolah itu sangat bagus, rapi dengan jumlah perbandingan pengajar dan siswa yang baik. Siswa-siswanya sudah sangat pandai membaca, mengeja dan berbicara dalam berbagai bahasa, tapi kelas itu sangat sepi. Tidak ada kegaduhan. Tidak ada teriakan, tangis atau canda tawa. Ini sebuah TK. Mereka membaca bersama, berdoa bersama, menyanyi bersama. Lebih mengejutkan lagi, saat bel istirahat berdering, tidak ada satu siswa pun yang keluar untuk bermain, hanya duduk dikelas, menanti pelajaran berikutnya dengan sangat rapi. Maaf, saya tak dapat menahan untuk mengulanginya; ini sebuah TK. Siswa-siswa ini tampaknya takut untuk keluar dari pola. Saya sangat terkejut dan prihatin mendengar cerita ini. Akan jadi apa siswa-siswa ini kelak? Pintar, disiplin, rajin membaca, itu pasti. Tapi apakah hanya ini yang modal dibutuhkan kelak saat anak-anak beranjak menginjak dunia sendiri. Kepintaran, kedisiplinan tanpa ada keberanian untuk menginisiasi, mencoba, menciptakan hal baru. Ada yang kurang? Ya. Imajinasi.

Banyak orang menganggap sepele imajinasi, sebagai proses yang tidak membumi, irasional dan membuang waktu. Namun dengan imaginasi kita sebenarnya mengasah kecerdasan, mengasah pengelolaan emosi hingga mengasah proses pemecahan masalah. Bayangkan saja, dalam kondisi darurat, tersesat di hutan misalnya, bila kita tidak pernah memiliki imajinasi, kita dapat duduk berhari-hari menanti pertolongan tanpa inisiasi untuk menolong diri sendiri. Mungkin ini contoh yang terlalu ekstrim, tentu banyak hambatan sehari-hari yang dapat dibayangkan tak mampu terpecahkan bila tak ada campur tangan imaginasi. Imajinasi essensial dalam pertahanan hidup.

Ada dua jenis dasar imajinasi; imajinasi imitative dan imajinasi kreatif. Imajinasi imitative merupakan imajinasi dari rekonstruksi masa lampau yang dikreasi, seperti anak bermain dokter-pasien, tapi dokter yang disuntik oleh pasiennya. Ini merupakan proses-proses kreasi imajinasi imitatif. Imajinasi kreatif disisi lain merupakan restrukturisasi impresi masa lalu yang melibatkan gambaran-gambaran dalam pikiran dan pengalaman untuk menciptakan sensasi atau kondisi yang belum pernah dialami. Misalnya saja seorang anak bermain dengan mobil-mobilan yang kemudian mendarat di planet Pluto. Tentu anak ini belum pernah ke Pluto, namun memiliki berbagai gambaran tentang Pluto dan gambaran kemampuan control pada mobil-mobilannya.

John Thompson dalam bukunya Natural Childhood mengatakan bahwa bila imaginasi diasuh sejak dini, ia dapat menjadi jangkar darurat dalam hidup. Imaginasi memberikan basis untuk tumbuh kembang anak dan akhirnya di dunia kelak. Anak-anak bila diberikan ruang dan dukungan untuk mengembangkan imajinasi, berarti mereka dibekali dan diasah untuk menjadi orang dewasa yang fleksibel, cerdas dan sukses.

Banyak cara untuk mengasuh imajinasi anak. Mulai dari memberi mainan yang ‘kurang sempurna’ hingga yang paling mudah; mendongeng. Tak ragu lagi saat keponakan saya berumur 2 tahun berlari membawa buku resep kepada saya untuk meminta saya menceritakan buku tersebut. Saya dengan senang membuka buku itu, terpampang foto ayam yang lezat dan deretan bumbu-bumbu, saya memulai cerita dengan, ‘suatu hari, se-ekor ayam datang kekota...’. Baru satu kalimat itu, mata keponakan saya berbinar melihat gambar dan senyumnya mengembang lebar. Proses kreasi imajinasi dimulai. Tentu sekarang dia sudah besar dan bisa membedakan buku cerita dan buku resep.

Sekarang, saya sudah mempunyai satu anak. Proses mendongeng, memperkenalkan buku, mengasah imajinasi saya harap dapat saya lakukan, sebab mungkin pernyataan Albert Einstein diatas memang benar. Jadi kenapa tidak mendongeng, selain begitu banyak manfaatnya, ia sangat menyenangkan!


Refrensi:
Robertson, Ian. Opening the Mind’s Eye: How Images and Language Teach us How to See. New York: St. Martin’s Press, 2002.
Roeckelein, Jon E. Imagery in Psychology, A Reference Guide. Connecticut: Praeger,2004.
Thomson, John. Natural Childhood. New York: Simon & Schuster, 1994.
Marjanovic-Umek, dkk. Developmental Levels of Child’s Story telling. Dipresentasikan dalam European Annual Meeting of Early Childhood Education Research Association. Lefkosia, Cyprus. 2002

(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca)

note: gambar dipinjam dari sini

Minggu, 27 Desember 2009

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mendongeng Satu Menit

Oleh : Yudith Fabiola

Awal Mula Mendongeng


“Ummi...itaaa.” pinta anak sulungku.
Maksudnya, ia memintaku bercerita tapi gaya bicaranya sengaja ia cadel-cadelkan.
Memintaku bercerita adalah ritual yang selalu dilakukannya sebelum tidur malam. Tidak pandang tidur di awal malam atau tidur tengah malam. Biasanya sehabis bepergian seharian dan sampai rumah malam hari, sulungku akan tidur larut malam. Meski demikian, ia selalu menagihku bercerita. Kalau tubuhku tak lelah, dengan senang hati kulayani keinginannya. Tapi, kalau badanku sudah penat, kantuk membuat mataku berat, ingin rasanya kutampik rengekannya. Namun, aku lebih sering tidak tega menolaknya. Maka kupenuhi permintaannya meski hanya mendongeng satu menit!

Kebiasaan bercerita atau mendongeng ini telah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir. Kebiasaan yang bermula karena tidak sengaja. Sejak anakku tak lagi memintaku membacakan buku untuknya sebelum tidur. Tiga tahun lampau, anakku senang sekali dibacakan buku sebelum tidur. Tentu saja aku meresponnya dengan gembira. Sudah menjadi cita-citaku sejak lama bahwa aku ingin anakku gemar membaca. Maka, kuperkenalkan ia pada buku sejak ia berumur 5 bulan. Jika dulu aku yang memilih buku yang akan dibacakan sebelum tidur, lama-lama ia sendiri yang mengambil buku-buku untuk kubacakan. Dari satu buku, bertambah-tambah menjadi selusin buku. Ya, selusin buku untuk dibaca sebelum tidur!

Suatu hari, seperti biasa anakku membawa banyak buku untuk dibacakan sebelum tidur. Hari itu aku tak bisa berkompromi dengan rasa lelah maka aku minta padanya hanya membaca satu atau dua buku. Ia tak mau. Aku juga keukeuh. Akhirnya ia memang menuruti perintahku tapi...apa yang terjadi keesokan hari dan seterusnya? Ia tak mau dibacakan satu bukupun sebelum tidur! Alangkah terkejutnya aku. Sedih dan menyesal berbaur menjadi satu. Tak kusangka dampak penolakanku kemarin begitu dahsyat membekas dalam dirinya. Penyesalanku tak habis-habis hingga hari ini. Oleh karena itu, aku tak mau mengulangi kesalahan tersebut di anak keduaku. Kembali ke cerita tadi, karena anakku tidak mau dibacakan buku, aku pun mendongeng untuknya. Rupanya, dongeng yang kusampaikan padanya membuatnya senang. Sejak hari itu hingga tadi malam anakku ketagihan dongeng sebelum tidur. Entah mengapa, ia sulit tidur jika aku belum mendongeng. Sedangkan baca buku, ia melakukannya sendiri sejak mulai lancar membaca. Fiuuuh...rasa berdosaku berkurang sedikit demi sedikit demi melihat hobi membacanya tak luntur karena ulahku bertahun silam.

Dongeng Sebelum Tidur

Aku biasa mendongeng sebelum anakku tidur di malam hari. Siang hari rasanya tak nyaman untuk mendongeng. Aku sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan urusan di luar rumah. Anakku pun sibuk sekolah, membaca atau bermain. Meski awalnya tak sengaja, aku dan anakku menyepakati (tanpa tertulis) bahwa dongeng lebih sering sebagai pengantar tidur malam.
Ada saja yang kudongengkan untuknya. Mulai legenda masa lampau hingga cerita yang kureka-reka sendiri. Aku merasa mendongeng banyak manfaatnya untukku dan anakku. Mendongeng setali tiga uang dengan membaca. Anak-anak dapat dinasehati lewat dongeng tanpa merasa digurui. Jika awalnya aku menganggap kegiatan ini hanya kegiatan 'asal, belakangan pandanganku berubah. Apalagi setelah membaca buku Cara Pintar Mendongeng karya Andi Yudha Asfandiyar. Dongeng ternyata bukan pekerjaan ecek-ecek. Meski aku hanya mendongeng di depan anakku sendiri, meski dongengku hanya beberapa menit tapi aku merasa harus mempersiapkan diri sebelum mendongeng. Persiapan yang kulakukan adalah mengumpulkan sebanyak mungkin amunisi cerita dengan banyak membaca dan 'membaca'. Membaca berbagai buku, termasuk buku anak-anak. Juga 'membaca' alam dan kejadian di sekitar dan seputar kehidupan.

Aku senang mendongeng untuk anakku sebab:
  • Mendongeng menyuruhku untuk berpikir. Dongeng apa yang akan kuceritakan malam ini? Bagaimana isinya? Siapa tokohnya? Kadang-kadang, anakku yang menentukan tokoh dalam dongeng yang akan kuceritakan. Ia mengarang nama dan usia si tokoh lalu aku membuat cerita dengan tokoh rekaannya itu.
  • Mendongeng melatih anak untuk menyimak perkataan seseorang. Hal ini yang kulihat dari anakku. Ia akan serius menyimak uraianku. Ia tidak pernah tertidur sebelum dongeng berakhir. Terkadang ia menyela, bertanya bahkan memrotes isi dongengku :D. Ia juga kerap melisankan kembali cerita yang disampaikan gurunya di sekolah. Kemarin-kemarin ia sempat bilang padaku bahwa ia akan merindukan wali kelasnya di kelas dua (kini ia akan memulai kelas tiga). Ketika kutanya alasannya, jawabannya singkat saja karena gurunya senang bercerita.
  • Mendongeng menantangku untuk kreatif. Aku adalah seorang yang minim imajinasi dan kreativitas. Dongeng yang kuceritakan jarang berasal dari imajinasiku. Biasanya aku menceritakan ulang kisah yang pernah kudengar atau kubaca. Dulu, aku pernah menceritakan kisah Malin Kundang pada anakku. Apa yang terjadi padanya usai mendengar kisah itu? Ia menangis tersedu-sedu. Aku kaget dengan reaksinya dan merasa sangat bersalah. Aku pikir kisah Malin Kundang bisa memberi banyak hikmah. Namun, malah membuat anakku sedih dan terlihat ketakutan. Sejak saat itu, aku sebisa mungkin menghindar dari menceritakan kisah sedih pada anakku sebelum tidur malam. Mungkin itu bukan waktu yang tepat. Cerita berhikmah tidak harus disampaikan lewat kisah sedih. Maka, aku berusaha memancing kreatifitas dengan mengarang cerita lucu yang kupaparkan dengan mimik dan intonasi yang mendukung kelucuan cerita itu. Sayangnya aku tak pandai melawak, cerita lucuku lebih sering terasa garing daripada jenaka. Aku tak selalu berhasil membuat anakku tertawa. Tapi, dari sinar matanya aku tahu bahwa ia senang dengan cerita 'lucu' yang kusampaikan.
  • Dongeng mempererat hubungan kami, aku dan anak-anakku. Seperti yang telah kutulis di atas, aku biasa mendongeng sebelum tidur malam. Pada saat itu, keadaan sangat nyaman, santai dan hangat. Segala 'keributan dan pertengkaran' antar anakku di siang hari lenyap tertutup tirai malam. Aku mendongeng, sulungku menyimak, tahu-tahu si bungsu menyeletuk. Celetukannya membahanakan tawa kami. Refleks kucium dan kupeluk si bungsu. Sulungku pun terkekeh mendengar celetukan adiknya, ia lupa bahwa tadi siang berantem dengan adiknya. Kadang-kadang, di tengah cerita malah aku yang terlelap sekejap sehingga ucapanku berubah jadi igauan. Untunglah anakku tak kesal, kami malah tergelak berdua menyadari kata-kataku yang ngaco akibat kantuk. Benar-benar suasana yang menentramkan hati.
  • Dongeng membuatku semakin mencintai buku. Aku telah menyinggung tentang hal ini di atas bahwa membaca adalah amunisi mendongeng. Tanpa membaca aku tak akan bisa mendongeng. Terkadang anakku bertanya,
“Kok Ummi tahu cerita itu?”
“Karena Ummi baca buku.” tandasku.
Anakku terlihat berpikir mendengar jawabanku. Sepertinya ia sepakat dengan jawaban itu. Terbukti, ia tambah suka 'berkencan' dengan buku. Tak jarang, ia menceritakan hasil bacaannya kepadaku dengan semangat dan menggebu-gebu. Gantian aku yang terpukau dan terpaku melihat wawasannya tentang sesuatu. Terima kasih dongeng, terima kasih buku!


Never Ending Story Telling
Nampaknya bukan hanya anakku yang adiksi mendengar dongeng. Aku sebagai penyampai dongeng juga merasa kecanduan untuk mendongeng. Terlebih jika mengingat 31 manfaat dongeng untuk anak-anak seperti yang terdapat dalam buku Cara Pintar Mendongeng. Sungguh dongeng adalah sarana edukasi yang murah, meriah dan menyenangkan.
Aku mematri tekad dalam hati untuk tidak malas mendongengkan anakku. Untuk memperbaiki kualitas cara dan isi dongengku. Untuk melestarikan hobi baik ini ke anak bungsuku (sekarang aku masih fokus mendongeng untuk anak pertamaku), kepada para keponakanku dan ke cucu-cucuku kelak. Untuk tidak pernah berhenti mendongeng, never ending story telling, walau hanya sehari kecuali kami telah sama-sama lelah.

Sumber bacaan:
Cara Pintar Mendongeng karya Andi Yudha Asfandiyar (Dar! Mizan, 2007)

(Diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

note:
gambar dipinjam dari google

Kamis, 17 Desember 2009

[Sharing] Mendongeng dan Didongengi

oleh : Wiwit Wijayanti

Saya mempunyai seorang putri yang saat ini berusia 4,5 tahun. Sejak putri kami lahir, saya dan suami mempunyai kesepakatan yang tak terucap bahwa kami ingin anak kami mencintai kegiatan membaca. Dengan keinginan ini, sejak putri kami bisa dipangku dengan posisi duduk pada usia empat bulan kami mulai membelikannya buku. Yang saya maksud buku disini tentu saja buku bergambar dengan sedikit teks. Namun karena anak dalam usia ini belum bisa berkonsentrasi dalam waktu lama, maka kegiatan membacakan buku ini hanya kami lakukan selama sekitar dua menit, dua atau tiga kali sehari.

Kegiatan membacakan buku ini terus berlanjut. Beberapa bulan kemudian kami mulai membiasakan membacakan buku sebelum putri kami tidur. Sebetulnya, beberapa referensi yang kami baca menyatakan bahwa ”mendongengi” lebih baik daripada ”membacakan buku” karena dongeng akan membuat anak berimajinasi lebih luas dan meningkatkan kreatifitas mereka. Namun sayang, saya dan suami sama-sama menyatakan tidak pandai membuat dongeng. Walaupun beberapa teman mengatakan ”Karang saja dongeng-dongeng sederhana, ajak anakmu ikut mengembangkan ceritanya, mudah kok!” Tapi tetap saja, ketika kami berusaha rasanya garing, sehingga kami menyerah dan kembali mengandalkan buku.

Kebiasaan membacakan buku cepat sekali terlihat hasilnya dalam menanamkan rasa cinta buku kepada putri kami. Ketika berusia sepuluh bulan dan harus opname di rumah sakit, buku menjadi pengusir jenuhnya. Putri kami dapat melupakan tusukan infus di lengan yang mengganggu aktifitasnya saat kami bacakan buku atau saat dia membuka-buka bukunya sendiri. Ketika usianya mendekati satu tahun, kegemarannya pada buku makin menjadi. Kegiatan membacakan buku sebelum tidur bukannya membuatnya mengantuk, tapi malah membuat segar-bugar. Duh! Di satu sisi kami senang karena hal ini menunjukkan bahwa dia mulai menyukai kegiatan membaca dan bercerita, tapi satu sisi yang lain repot juga kan kalau sampai susah tidur begitu? Kadang kami sampai sudah mengantuk, tak punya energi untuk membaca, namun justru putri kami masih segar dan dia menawarkan sebuah solusi ”Ibu tidur saja, Vari yang cerita ya?”

Seiring dengan kemampuan bicaranya, makin terlihat pengaruh positif dari membacakan buku kepada putri kami. Perbendaharaan kosakatanya sangat kaya. Terkadang kami sampai kaget mendengar dia mengucapkan sesuatu yang rasanya belum pernah kami ajarkan dan ketika dikonfirmasi ternyata dia mendengar dari cerita di buku yang kami bacakan. Wah, ternyata kami yang pelupa.

Kegemarannya terhadap buku ini juga memudahkan kami untuk menjauhkannya dari televisi. Putri kami tak pernah merasa kehilangan jika kami tak menyalakan televisi karena dia telah cukup terhibur dengan buku dan mainannya yang lain.

Salah satu kegemaran putri yang muncul kemudian adalah mengarang cerita. Dengan bekal cerita-cerita yang telah didengarnya, dia menjadi suka merangkai cerita. Baik mengembangkan cerita yang sudah ada, mengarang cerita baru dengan menggunakan tokoh-tokoh yang dikenalnya atau membuat cerita yang sama sekali baru. Jika sudah bercerita, idenya mengalir tak kunjung habis, betah sekali dia bercerita, bisa sampai lima belas menit. Kegemaran ini kemudian kami dukung dengan membelikannya boneka tangan dan boneka jari berbentuk binatang. Senang sekali putri kami menerima hadiah ini. Dia jadi bisa memvisualisasikan ceritanya. Dan ternyata boneka ini juga bisa memancing kreatifitas saya dan suami, kami jadi bisa mendongeng dengan alat bantu boneka tangan dan jari ini. Senang sekali!

Ide cara mendongeng lain yang baru-baru ini kami temukan didapatkan dari salah satu VCD yang dimiliki putri kami, yaitu dengan membuat pertunjukan bayangan atau wayang. Menyiapkan pertunjukan ini menjadi proyek bersama keluarga kami. Putri kami dan suami saya menggambar tokoh-tokoh cerita yang mereka inginkan di kertas karton, lalu saya bertugas untuk menggunting gambar mereka dan memasang bambu kecil (saya pakai tusuk sate kambing) untuk pegangan wayangnya. Cukup banyak wayang yang kami buat, tak hanya tokoh-tokoh cerita saja, namun kemudian berkembang ke benda-benda lain seperti rumah, kereta, awan, matahari, bulan, bintang dan lain-lain. Kemudian kami siapkan layar, lilin di belakang layar, mematikan lampu, dan pertunjukan wayang ala kami pun siap digelar.

Sungguh, membaca dan mendongeng memang aktifitas yang menyenangkan!

note :
gambar diambil dari google