Kamis, 17 Desember 2009

[Sharing] Mendongeng dan Didongengi

oleh : Wiwit Wijayanti

Saya mempunyai seorang putri yang saat ini berusia 4,5 tahun. Sejak putri kami lahir, saya dan suami mempunyai kesepakatan yang tak terucap bahwa kami ingin anak kami mencintai kegiatan membaca. Dengan keinginan ini, sejak putri kami bisa dipangku dengan posisi duduk pada usia empat bulan kami mulai membelikannya buku. Yang saya maksud buku disini tentu saja buku bergambar dengan sedikit teks. Namun karena anak dalam usia ini belum bisa berkonsentrasi dalam waktu lama, maka kegiatan membacakan buku ini hanya kami lakukan selama sekitar dua menit, dua atau tiga kali sehari.

Kegiatan membacakan buku ini terus berlanjut. Beberapa bulan kemudian kami mulai membiasakan membacakan buku sebelum putri kami tidur. Sebetulnya, beberapa referensi yang kami baca menyatakan bahwa ”mendongengi” lebih baik daripada ”membacakan buku” karena dongeng akan membuat anak berimajinasi lebih luas dan meningkatkan kreatifitas mereka. Namun sayang, saya dan suami sama-sama menyatakan tidak pandai membuat dongeng. Walaupun beberapa teman mengatakan ”Karang saja dongeng-dongeng sederhana, ajak anakmu ikut mengembangkan ceritanya, mudah kok!” Tapi tetap saja, ketika kami berusaha rasanya garing, sehingga kami menyerah dan kembali mengandalkan buku.

Kebiasaan membacakan buku cepat sekali terlihat hasilnya dalam menanamkan rasa cinta buku kepada putri kami. Ketika berusia sepuluh bulan dan harus opname di rumah sakit, buku menjadi pengusir jenuhnya. Putri kami dapat melupakan tusukan infus di lengan yang mengganggu aktifitasnya saat kami bacakan buku atau saat dia membuka-buka bukunya sendiri. Ketika usianya mendekati satu tahun, kegemarannya pada buku makin menjadi. Kegiatan membacakan buku sebelum tidur bukannya membuatnya mengantuk, tapi malah membuat segar-bugar. Duh! Di satu sisi kami senang karena hal ini menunjukkan bahwa dia mulai menyukai kegiatan membaca dan bercerita, tapi satu sisi yang lain repot juga kan kalau sampai susah tidur begitu? Kadang kami sampai sudah mengantuk, tak punya energi untuk membaca, namun justru putri kami masih segar dan dia menawarkan sebuah solusi ”Ibu tidur saja, Vari yang cerita ya?”

Seiring dengan kemampuan bicaranya, makin terlihat pengaruh positif dari membacakan buku kepada putri kami. Perbendaharaan kosakatanya sangat kaya. Terkadang kami sampai kaget mendengar dia mengucapkan sesuatu yang rasanya belum pernah kami ajarkan dan ketika dikonfirmasi ternyata dia mendengar dari cerita di buku yang kami bacakan. Wah, ternyata kami yang pelupa.

Kegemarannya terhadap buku ini juga memudahkan kami untuk menjauhkannya dari televisi. Putri kami tak pernah merasa kehilangan jika kami tak menyalakan televisi karena dia telah cukup terhibur dengan buku dan mainannya yang lain.

Salah satu kegemaran putri yang muncul kemudian adalah mengarang cerita. Dengan bekal cerita-cerita yang telah didengarnya, dia menjadi suka merangkai cerita. Baik mengembangkan cerita yang sudah ada, mengarang cerita baru dengan menggunakan tokoh-tokoh yang dikenalnya atau membuat cerita yang sama sekali baru. Jika sudah bercerita, idenya mengalir tak kunjung habis, betah sekali dia bercerita, bisa sampai lima belas menit. Kegemaran ini kemudian kami dukung dengan membelikannya boneka tangan dan boneka jari berbentuk binatang. Senang sekali putri kami menerima hadiah ini. Dia jadi bisa memvisualisasikan ceritanya. Dan ternyata boneka ini juga bisa memancing kreatifitas saya dan suami, kami jadi bisa mendongeng dengan alat bantu boneka tangan dan jari ini. Senang sekali!

Ide cara mendongeng lain yang baru-baru ini kami temukan didapatkan dari salah satu VCD yang dimiliki putri kami, yaitu dengan membuat pertunjukan bayangan atau wayang. Menyiapkan pertunjukan ini menjadi proyek bersama keluarga kami. Putri kami dan suami saya menggambar tokoh-tokoh cerita yang mereka inginkan di kertas karton, lalu saya bertugas untuk menggunting gambar mereka dan memasang bambu kecil (saya pakai tusuk sate kambing) untuk pegangan wayangnya. Cukup banyak wayang yang kami buat, tak hanya tokoh-tokoh cerita saja, namun kemudian berkembang ke benda-benda lain seperti rumah, kereta, awan, matahari, bulan, bintang dan lain-lain. Kemudian kami siapkan layar, lilin di belakang layar, mematikan lampu, dan pertunjukan wayang ala kami pun siap digelar.

Sungguh, membaca dan mendongeng memang aktifitas yang menyenangkan!

note :
gambar diambil dari google

Rabu, 16 Desember 2009

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mendongeng Mengalihkan Perhatian Anak dari Televisi

Oleh: Kahar S. Cahyono

Saya bersorak. Gembira sekali rasanya. Betapa tidak, kami menjuarai lomba mendongeng yang diselenggarakan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Serang untuk kategori kelompok. Sepanjang perjalanan pulang, tidak henti-hentinya saya memandangi piala. Penuh rasa syukur dan luapan rasa bahagia.

Kebiasaan mendongeng yang kami lakukan kepada anak didik Raudhatul Athfal (setingkat TK) setiap Jum`at pagi merupakan pelajaran yang paling diminati. Anak-anak duduk melingkar di halaman. Wajah-wajah cerah itu terlihat sangat antusias. Hal ini tentu saja membuat kami, para guru, semakin bersemangat. Kami menyisipkan pesan-pesan moral, pelajaran berhitung, akhlak, budi pekerti, dan sebagainya. Pendek kata, kami mengajar melalui dongeng. Dengan dongeng anak-anak mendapatkan ilmu pengetahuan.

Saya kira, saya tidak perlu menguraikan pendapat para ahli terkait dengan manfaat mendongeng bagi perkembangan anak pada kesempatan ini. Mendongenglah, dan kemudian lihat perubahan apa yang akan terjadi pada anak-anak kita. Hasilnya sungguh ajaib. Mereka lebih peka, memiliki interpersonal yang tinggi, lebih mudah mengingat pelajaran yang diberikan, dan lebih dekat kepada guru/orang tua.

Maka ketika kami menang dalam lomba, saya pikir itu hanyalah sebuah bonus dari apa yang kami lakukan selama ini. Bisa karena biasa. Apalagi yang perlu dikhawatirkan, toh kami sudah terbiasa mendongeng. Begitu pikir saya sesaat sebelum lomba digelar.

Rasanya, untuk bisa mendongeng tidak diperlukan keahlian khusus. Bukankah hampir setiap hari kita bercerita, tentang semua hal? Ini sebenarnya sudah cukup sebagai modal untuk mendongeng. Hanya, memang, kita harus membiasakan diri untuk memdeskripsikannya dalam bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak.
“Abi, tadi kami menang lomba mendongeng lho?” ujar saya kepada suami, penuh kebanggaan.
Diluar dugaan, laki-laki yang saya panggil Abi itu terdiam. Menatap tepat ke mataku, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Umi menang lomba?” Akhirnya suaranya keluar juga.
“Iya dong,” jawab saya dengan senyum merekah.
“Kok saya nggak pernah mendengar umi mendongeng untuk Fadlan dan Haya?”

Deg! Rasanya seperti ketabrak kereta api mendengar kalimat itu. Ya, apa saja yang saya lakukan selama ini? Bahkan sampai-sampai tidak sempat mendongeng untuk anak sendiri?
Kalau saya mendongeng di sekolah, itu memang karena tututan sebagai seorang guru. Suka tidak suka, mau tidak mau, harus dilakukan. Karena memang sudah terjadwal demikian. Tapi dirumah? Seharusnya saya semakin bersemangat, karena itu untuk buah hati kami sendiri. Untuk sosok mungil penerus cita dan asa orang tuanya. Nyatanya, saya tidak melakukannya.
Ada yang salah dalam diri saya.

“Kenapa diam? Jawara dongeng kok jadi pendiam gitu,” suara suami membuyarkan lamunanku.
“Iya, umi salah.”

Inilah awal mula kami membiasakan diri mendongeng untuk anak-anak di rumah. Sulitnya bukan main. Bukan sulit mendongengnya, tetapi menyempatkan diri untuk istikhomah yang menurut saya susah luar biasa. Terlalu banyak alasan buat saya untuk tidak mendongeng. Memasak, mencuci, menyetrika, menyiapkan media pembelajaran esok pagi, dan seterusnya dan seterusnya.

Pelajaran berharga yang bisa dipetik, kita harus menetapkan tujuan (visi dan misi) yang hendak dicapai agar bisa istikhomah dalam mendongeng. Di sekolah, tujuan saya jelas, ini merupakan tuntutan pekerjaan. Lagi pula beberapa wali murid yang kebetulan sedang mengantarkan anaknya juga ikut mendengarkan. Sementara di rumah, bisa saja saya mengatakan bahwa kewajiban orang tua untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Tetapi itu kan jawaban standar. Sebab realitasnya, tidak semudah yang diucapkan. Saya bahkan butuh waktu beberapa minggu untuk terbiasa mendongeng kepada anak-anak.

Subhanallah, ternyata anak kecil dimana-mana sama saja. Semua suka mendengarkan dongeng. Anak murid saya di Raudhatul Athfal, juga cerita banyak kawan, semua mengatakan anak-anaknya suka mendengarkan dongeng.

Benar saja, perubahan besar segera terjadi. Saat ini, Fadlan (4,5) dan Haya (2) lebih senang mendengarkan dongeng-dongeng saya daripada menonton TV. Kalau sebelumnya anak-anak sampai menangis karena dilarang menonton acara televisi yang menurut saya tidak baik untuk perkembangan kepribadiannya anak, saya tinggal mengatakan, “Umi mau mendongeng lho, tapi syaratnya tivi-nya harus dimatikan.” Tanpa menunggu instruksi dua kali, mereka segera mendekat ke samping kanan dan kiri.

Biasanya saya baru mengakhiri dongeng ketika mereka sudah lelap dalam tidur. Jelas sekali, di bibirnya tersungging senyuman. Barangkali keduanya sedang bermimpi bertamsya bersama bidadari.

Seperti yang diceritakan Maimunah,
Tenaga Pengajar di RA As-Sanariyah. Serang - Banten


(diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")

Note:
gambar diambil dari google

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] DONGENG : VISUALISASI dan IMAJINASI

Oleh : Reza Aprianti

Apa yang menjadi kebiasaan orang tua saat melihat anak-anaknya akan beranjak tidur pada malam hari? Ada yang tetap duduk manis di depan televisi tanpa peduli sama sekali. Adapula yang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang masih tersisa, sehingga tidak memperdulikan ketika anak akan tidur. Bahkan ada juga orang tua yang berpesan “ Cepat tidur, biar besok ngak telat kesekolahnya”, sambil berlalu pergi kedapur. Lantas masih adakah orang tua yang dengan sengaja mengantarkan anaknya ketempat tidur, menyelimutinya dan menceritakan dongeng pengantar tidur sampai Sang anak teridur lelap?

Pertanyaan terakhir kiranya wajar untuk dibahas lebih lanjut, karena momen seperti itu sudah sangar jarang kita jumpai. Banyak faktor yang menjadi penyebab hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Pertama, terlalu lelahnya kondisi fisik dan emosional orang tua. Pada malam hari orang tua hanya mempunyai energi sisa dari begitu padatnya aktivitas pada siang harinya. Menyebabkan anak-anak hanya mendapatkan sisa-sisa perhatian, sisa-sisa kasi sayang, sisa-sisa pujian dan semuanya yang masih bisa tersisa. Indikator kedua adalah membacakan dongeng sebelum tidur bukanlah sebuah kebiasaan atau tradisi sehingga tidak masuk dalam agenda rutin keluarga. Ketiga, ketidak tahuan orang tua tentang besarnya manfaat mendongeng bagi perkembangan anak-anak.

Dalam sebuah riset yang dilakukan di Amerika terhadap anak-anak yang kecanduan media baik itu TV, ponsel, game komputer, playstation, dan internet, ternyata salah satu kiat yang bisa digunakan untuk meminimalisir hal tersebut adalah dengan membiasakan para orang tua membacakan cerita sebelum tidur kepada anak-anaknya. Karena ini diyakini dapat mempererat hubungan batin antara keduanya. Mengapa hal ini dirasa sangat penting, maka dari itu akan dijelaskan mengenai manfaat mendongeng sebelum tidur bagi anak-anak.

Dalam ilmu komunikasi, aktifitas mendongeng dapat dikategorikan kedalam bentuk komunikasi antar personal karena berlaku antar dua orang (anak dan orang tua). Proses komunikasi sendiri didefinisikan sebagai proses penyampaiaan pesan dari sumber (sender) ke penerima (reciver) yang berlangsung dua arah (feedback). Dalam proses mendongeng, yang bertindak menjadi sumber adalah orang tua dan yang menerima adalah anak. Sedangkan pesan yang dikirim berupa pesan verbal (kata-kata) dari dongeng yang diceritakan. Tentu saja dalam banyak buku dongeng tidak hanya pesan dalam bentuk verbal yang ditampilkan melainkan dilengkapi juga dengan pesan nonverbal yang berupa gambar yang disebut juga sebagai pesan visual. Buku dongeng yang memuat banyak gambar sangat baik untuk menstimulus daya imajinasi mereka. Dengan membayangkan karakter yang terdapat dalam dongeng tersebut, hal ini sangat baik untuk daya kembang otak kanannya.

Dongeng merupakan sesuatu yang manarik bagi setiap anak-anak. Darinnya dapat tercipta sebuah dunia baru tempat segala imajinasi tentang tokoh dan latar belakang cerita tergambar dalam benak mereka. Visualisasi tokoh-tokoh yang ada dalam dongen dengan warna-warni yang cerah mampu membangkitkan minat mereka untuk terus memperhatikan. Media dongeng yang memuat banyak gambar bisa dikategorikan ke dalam komunikasi visual. Komunikasi dalam bentuk visual dianggap sebagai alat yang bisa menembus dan mengatasi keterbatasan bahasa. Komunikasi visual sendiri berarti bentuk komunikasi yang tidak hanya menghadirkan kejelasan satu arti dari pesan tapi bisa bercabang seiring dengan bentuk dan ornamen yang dibawanya misalnya, warna, emosi, tekanan, komposisi dan lain sebagainya. Selain itu komunikasi visual bisa tidak hanya menghadirkan pesan dalam bentuk tulisan, melainkan lebih berupa gambar, lukisan, foto, desain, karikatur dan lain-lain. Selain itu, komunikasi visual juga dapat diartikan sebagai sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan. Komunikasi visual mengkombinasikan seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi, dan warna dalam penyampaiannya.

Bahasa gambar dinilai jauh lebih komunikatif dibandingkan dengan bahasa tulis. Seperti yang diunggkapkan oleh C. Leslie Martin bahwa“one picture is better than a thousand words”. Bahasa lisan dan tulisan memiliki keterbatasan disamping kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Bahasa lisan dan tulisan mengundang imajinasi dengan perbedaan-perbedaan interpretasi visual. Gambar melengkapi bahasa lisan dan tulisan dalam kaitan menjelaskan keberadaan suatu obyek. Gambar memiliki kemampuan memaparkan lebih rinci dan membatasi rentang interpretasi. Hanya dengan satu gambar mampu memceritakan rangkaiaan peristiwa ataupun kejadian dengan lebih baik. Gambar mampu bercerita banyak dengan berbagai komponen gambar yang mendukung visualisasi agar dapat dimengerti oleh pembaca dengan mudah.

Informasi bergambar akan lebih menarik dibanding yang berbentuk tulisan, karena hampir setiap orang lebih menyukai gambar. Media visual berbentuk gambar merupakan metode yang paling cepat untuk menanamkan pemahaman, walau gambar tidak disertai tulisan sekalipun. Gambar merupakan media yang ampuh untuk mengungkapkan pesan karena lebih mudah dicerna. Visualisasi adalah cara atau sarana yang paling tepat untuk membuat sesuatu yang abstrak menjadi lebih jelas. Penampilan secara visual selalu mampu menarik emosi pembaca dan dapat menolong seseorang untuk menganalisa, kemudian mengkhayalkannya pada kejadian sebenarnya.

Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan agar sang anak tertarik untuk membaca atau mendengarkan cerita pengantar tidur adalah pertama, sangat diusahakan menemani sang anak pada saat membaca. Mulailah membaca bersama mereka sejak anak berusia dini agar mereka cinta buku dan cerita. Kedua, sesuaikan bahan bacaan dengan usia mereka. Ketiga, cara yang baik untuk mendorong anak agar mau membaca adalah dengan membaca secara bergantian. Misalnya orang tua dapat membaca satu halaman kemudian sang anak yang melanjutkannya atau dengan membaca karakter yang satu dan sang anak karakter yang lainnya. Keempat, memberikan kebebasan pada sang anak untuk mengambil dan memilih buku sesuai dengan keinginan mereka atau hal-hal yang berhubungan dengan hobi dan hal-hal lain yang mereka minati.


note :
gambar diambil dari sini

Daftar Pustaka

Orange, Teresa and Louise O’flynn. 2005. The Media Diet for Kids. Hay House, United Kingdom.
Istanto, Freddy H.. Gambar Sebagai Alat Komunikasi Visual. Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra.
Kusmiati R, Artini. 1999. Teori Dasar Disain Komunikasi Visual. Penerbit Djambatan, Jakarta.

(diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca)

Selasa, 08 Desember 2009

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Buku-ku Kehidupanku

Oleh : Ari Pardono

Mendongeng. Itu adalah kegiatan yang umumnya dilakukan oleh orang tua atau guru-guru taman kanak-kanak atau guru Sekolah Dasar. Kegiatan mendongeng yang dilakukan orang tua, biasanya dilakukan saat-saat mau menidurkan sang buah hati, sedangkan para guru mendongeng acapkali dilakukan di saat waktu-waktu jam pelajaran kosong atau saat menanti bunyi bel tanda kegiatan sekolah telah usai. Jarang sekali kegiatan mendongeng dilakukan dengan persiapan khusus, misalnya masalah waktu, tema atau muatan yang akan disampaikan pada obyek yang dituju. Tapi itu dulu, sekarang ini dengan banyaknya media infomasi yang canggih seringkali kegiatan ini terlupakan. Praktis kegiaan mendongeng sekarang ini sangat jarang dilakukan oleh para orang tua atau guru. Mungkin ada baiknya disela-sela banyaknya mata pelajaran di sekolah,kegiatan mendongeng menjadi satu mata pelajaran tersendiri sehingga kegiatan ini mempunyai nilai setara dengan mata pelajaran lainnya.

Masih terbayang jelas sewaktu masih kanak-kanak dulu disaat sore hari setelah maghrib, ayah segera menggelar tikar di halaman rumah. Sambil menunggu ibu berjualan di depan rumah ayah mendongeng cerita untukku. Biasanya ayah mendongeng cerita kancil dan kawan-kawannya. Menarik sekali ayah waktu itu mendongeng untukku. Bahkan sering kali kali dongeng yang dia bawakan sampai sekarang belum ada yang bisa menceritakannya kembali. Kalau hanya cerita Kancil, Bawang Merah Bawang putih, Joko Bodho, Ande-ande Lumut, Timun Emas mungkin semua orang sudah hafal cerita-cerita tersebut. Bahkan sudah diterbikan dalam bentuk buku atau ditayangkan dalam bentuk sinetron atau film, tetapi cerita tentang kisah keluarga dengan belasan anak dan orang tuanya ingin membuang anaknya satu persatu ,dengan mengajaknya pergi ke hutan mungkin hanya ayah yang menyimpan cerita itu, atau dongeng burung gagak yang kehausan di hutan hingga suatu waktu menemukan sebotol air dan kebingungan meminumnya, itu merupakan bagian cerita langka yang ayah miliki. Waktu itu aku sangat antusias sekali dengan berbagai dongeng ayah, sehingga setiap menjelang tidur aku selalu menagih ayah untuk mendongeng, dan selalu ayah menyediakan waktu untukku.

Ayah yang sengaja meluangkan waktunya untukku merupakan cermin tanggung jawab orang tua terhadap anaknya. Terbiasa berbagi peran dalam keluarga bukan merupakan hal yang tabu dalam keluarga kami, terkadang ibu tidak sempat karena kesibukannya. Ayah yang kemudian mengganti ibu untuk sementara waktu demi aku dan saudara-saudaraku. Kebetulan ayah lebih ekspresif dalam membawakannya, sehingga aku dan saudara-saudaraku lebih suka kalau ayah yang mendongeng. Aku kadang larut dalam cerita ayah sehingga bila yang diceritakan tentang kisah-kisah sedih, aku ikut menangis seakan-akan menjadi salah satu tokoh dalam dongeng tersebut. Ketika ayah mendongeng, beliau bukan hanya semata-mata bercerita saja, tapi juga diselingi dengan nyanyian-nyanyian yang menjadikan cerita menjadi lebih hidup. Berbagai tokoh atau karakter yang ada dalam dongeng bisa ayah bawakan dengan baik. Dari karakter binatang sampai karakter seorang gadis atau janda dalam cerita bawang merah dan bawang putih, ayah mampu memerankannya dengan baik.

Kemampuan ayah mendongeng dengan baik tidak terlepas dari pengalaman ayah sewaktu remaja yang biasa bermain wayang atau bersandiwara. Dan hal itu pernah dibuktikan sendiri ketika ada pentas agustusan di kampung secara spontanitas ayah bisa bermain sandiwara dengan bagus. Mungkin karena itu sehingga dongeng yang dibawakan secara monolog bisa menjadi lebih hidup. Layaknya seorang dalang ayah bisa memainkan tokoh dalam dongeng dengan sempurna.
Kebiasaan ayah mendongeng setiap malam menjelang aku dan saudara-saudaraku menjelang tidur sangat mengasyikkan. Karena hal itu merupakan hiburan bagi keluarga kami yang tidak mempunyai televisi. Kemampuan ekonomi keluarga yang pas-pasan sehingga ayah tidak mampu membeli televisi. Praktis hiburan malam hari yang biasa dilakukan oleh kami sekeluarga adalah bermain-main atau mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh ayah.

Ada kejadian yang menarik yang dialaami kakakku. Mungkin kejadian itu tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Suatu waktu ketika di kelas gurunya mendongeng kisah bawang merah dan bawang putih dan dia tiba-tiba menangis keras sehingga guru dan kawan-kawan sekelas bingung, Gurunya mengira kakakku dijahilin kawannya, tapi ternyata dia larut dalam cerita yang dibawakan sang guru. Kemudian guru kakakku menghentikan dongeng tersebut dan kelas akhirnya dibubarkan. Padahal sebelumnya ayah sudah menceritakan dongeng tersebut. Rupanya kakakku selalu terbayang dengan cerita itu, sehingga ketika kembali diceritakan di sekolah dia semakin terbawa dan menganggap itu kisah nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman masa kecil di atas rasanya susah di temui dalam kehidupan zaman sekarang. Aku yang kini sudah berkeluarga dan mempunyai pasangan yang sama-sama bekerja, membuat waktu yang kami sisihkan untuk mengawasi secara penuh kehidupan anak-anak menjadi sangat terbatas. Berangkat kerja pukul enam pagi dan pulang saat maghrib merupakan rutinitas sehari-hari. Namun demikian istriku masih menyempatkan diri untuk membacakan buku cerita untuk si kecil waktu menjelang tidur malam tiba. Sedangkan di kala siang posisi itu sepenuhnya berada di tangan mbak, pengasuh anak-anakku. Mereka diwajibkan untuk membacakan buku cerita untuk anak-anak kami, baik yang sudah bersekolah maupun yang masih bayi. Harapannya mereka bisa terhibur dan terbiasa dengan kegiatan membaca serta bercerita.

Kegiatan membaca buku cerita itu sekarang menjadi bagian dalam kehidupan kami sekeluarga. Karena kami berpikir membacakan cerita lebih mudah dibandingkan dengan mendongeng yang harus hafal di luar kepala. Apalagi seperti yang dilakukan ayah dulu, rasanya sekarang ini susah dijalani. Sehingga pilihan dengan membacakan buku cerita menjadi pilihan utama. Oleh karenanya sejak awal kami menikah, kami bersepakat untuk tidak memiliki televisi terlebih dahulu. Sengaja kami ciptakan kondisi demikian karena hal ini untuk merangsang anak-anak supaya gemar membaca juga. Kami khawatir di saat anak-anak belum mengenal buku, mereka sudah terlena dengan tayangan-tayangan di televisi. Tentu saja hal ini bukan perkara mudah yang harus kami sampaikan kepada keluarga besar, apalagi kepada para pengasuh yang usianya masih ABG. Tapi Insya Allah sejauh ini mereka memahami. Jadilah sekarang di rumah banyak buku cerita, majalah, tabloid dan koran yang kami jadikan sebagai media hiburan dan informasi. Disamping itu juga kami menyediakan radio tape untuk mengikuti perkembangan berita-berita terbaru. Sedangkan untuk menghilangkan rasa kejenuhan kadang-kadang di akhir pekan kami luangkan waktu untuk berjalan-jalan di luar. Ke tempat rekreasi, mengunjungi pameran atau mengikuti pengajian rutin, selain untuk menghilangkan rasa jenuh, tujuan lainnya adalah untuk mengikuti perkembangan kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri bahwa melihat realitas kehidupan nyata pada lingkungan sekitar juga akan menambah wawasan dan pengetahuan.

Untuk: Ayahnda Sugiyo, Farah Kholistiana, Hannan Taqqiyul Islam dan Hannin Nur Syahidah serta mbak-mbak pengasuh.


(diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca)

Note :
gambar diambil dari sini

[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mendongeng, Lebih Dari Sekedar Membangun Dunia Imajinasi Anak

Oleh: Deta Armatia


Jika mengangkat topik mendongeng, terbuka kembali lembaran memori masa kecil. Hampir setiap malam eyang kakung (kakek) mendongeng kepada kakak dan saya. Ritualnya selalu sama, setelah kami memakai ‘seragam tidur’ dan naik ke tempat tidur, eyang akan menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu kamar, lalu beliau duduk di kursi sebelah tempat tidur. “Malam ini eyang akan bercerita tentang si kancil dan buaya!” kata beliau. Walau berbagai versi cerita si kancil sudah sering kami dengar, kami tidak pernah bosan mendengarkannya lagi. Sampai saat ini, dua puluh dua tahun telah berlalu, dan eyang kakung sudah tidak ada di samping kami lagi, tetapi memori ritual mendongeng sebelum tidur tersebut masih lekat di ingatan kami. Menceritakan kembali kenangan tersebut membuat kami tersenyum dan merasa dekat dengan eyang kakung.

Menurut saya banyak dampak positif dari mendongeng, terutama jika hal tersebut dijadikan ritual di dalam keluarga. Mendongeng dapat mempererat hubungan anak dengan orang tua, membangun imajinasi anak, anak dapat lebih mudah untuk mengambil nilai-nilai yang ingin kita tanamkan kepada mereka melaui dongeng, dan banyak hal positif lainnya.

Agar kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan yang berguna bagi perkembangan anak, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses mendongeng adalah:
1. Mengumpulkan materi-materi dongeng
Materi dongeng dapat berupa cerita-cerita klasik, rakyat, fabel (cerita tentang dunia hewan) baik yang internasional maupun cerita asli Indonesia. Dapat pula materi dongeng tersebut kita sendiri yang membuat.

2. Materi dongeng yang dipilih sebaiknya memiliki nilai-nilai baik yang ingin kita tanamkan kepada anak
Contoh:
untuk menanamkan sifat pekerja kerja keras dan berpikiran jauh, kita bisa menceritakan dongeng tentang tiga babi kecil dan serigala. Dalam dongeng tersebut ada tiga babi kecil yang membangun rumah mereka. Babi pertama membangun rumah menggunakan jerami, babi kedua membangun rumah menggunakan kayu, dan babi ketiga membangun rumah menggunakan batu bata. Babi ketiga berkerja lebih keras untuk membangun rumahnya, tetapi hasilnya adalah rumah yang dia bangun merupakan rumah yang terkuat dibandingkan kedua saudaranya dan serigala jahat tidak bisa menghancurkan rumahnya tersebut, tidak seperti kedua saudaranya yang rumah mereka hancur ditiup oleh sang serigala.

3. Pelajari dongeng yang akan kita ceritakan kepada anak
Setelah kita memilih dongeng-dongeng yang sesuai dengan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan kepada anak, pelajari dongeng tersebut. Baca berulang dongeng tersebut, sehingga kita dapat :
• menceritakannya dengan lancar.
• Fokus dalam mengangkat nilai-nilai positif dalam cerita

4. Buat suasana yang menyenangkan saat mendongeng
Hidupkan suasana, gunakan alat-alat bantu sederhana seperti bantal, seprai, selimut, lampu tidur, senter, boneka dan lain sebagainya. Contoh: ketika bercerita tentang petualangan berkemah, buat tenda dari selimut atau seprai, nyalakan lampu tidur di dalamnya. Saat mendongeng fabel sebelum tidur, di kamar yang gelap kita bisa menggunakan senter dan membuat bayangan-bayangan binatang dengan tangan kita. Ketika mendongeng, pastikan kita memahami tokoh-tokohnya, coba buat suara dan ekspresi tubuh kita berbeda untuk masing-masing tokoh.

5. Jalin interaksi dengan anak
Libatkan anak dengan dongeng yang sedang kita ceritakan. Hal ini dapat membuat anak lebih berkonsentrasi dengan cerita dan menghindari kebosanan. Contoh: Jika kita sedang bercerita tentang si kalcil dan harimau, ketika si tokoh harimau keluar, kita bisa bertanya pada anak “Hei, adek tau ngga kalau harimau mengaum suaranya seperti apa?”.

6. Beri penutup dengan diskusi bersama anak, seperti:
a. Memberi pertanyaan
b. Menanyakan pendapat
c. Mengulang nilai-nilai positif yang ingin kita tanamkan kepada anak.

Beri pertanyaan dan pendapat anak tentang dongeng yang baru kita ceritakan Contoh: Ketika bercerita tentang anak yang berbagi mainan dengan adiknya ”Tadi siapa yang baru dibelikan mainan baru oleh kakek? … (anak menjawab), lalu lanjutkan dengan pertanyaan: “Menurut adek kenapa adiknya Rafa sedih?” (anak menjawab) “Menurut adek apa yang sebaiknya Rafa lakukan?” (anak menjawab) “Menurut adek senang tidak Rafa dan adiknya ketika Rafa membiarkan adiknya ikut bermain dengan dia?” dan seterusnya. Lalu tutup dongeng dengan nasehat.

7. Jadikan ritual / aktifitas yang rutin.
Sesuatu yang rutin dilakukan akan lebih melekat di ingatan anak. Tentukan waktu yang paling sesuai bagi kita dan juga bagi anak untuk mendongeng. Kegiatan ini dapat dilakukan setiap hari menjelang anak tidur, atau setiap akhir minggu ketika orang tua tidak berkerja dan anak tidak sekolah.

Kegiatan mendongeng ini sepertinya merupakan kegiatan yang ‘remeh’, namun saya percaya kegiatan ini dapat memberi banyak dampak positif bagi anak, membentuk karakter anak, memberi inspirasi bagi anak dalam memecahkan masalah di kesehariannya, dan yang terpenting adalah mendongeng dapat membentuk hubungan yang dekat antara anak dan orang tua.

(diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca)


note :
gambar diambil dari google