<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770</id><updated>2011-11-07T19:28:13.361-08:00</updated><category term='pengumuman'/><category term='sharing'/><category term='event'/><category term='film'/><category term='lagu'/><category term='review'/><category term='televisi'/><category term='cinta dongeng cinta baca'/><category term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category term='artikel'/><category term='internet'/><title type='text'>KOMPAK</title><subtitle type='html'>&lt;center&gt;Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak Indonesia&lt;/center&gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>63</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-3771615055846516412</id><published>2011-11-07T19:17:00.000-08:00</published><updated>2011-11-07T19:28:13.416-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lagu'/><title type='text'>Umay - Pesta Sekolah (2011): Teks tentang Relasi Anak</title><content type='html'>Oleh:&lt;a href="http://wisnumartha14.blogspot.com/"&gt; Wisnu Martha Adiputra&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Entah mengapa setiap mendengarkan lagu anak-anak saya selalu tering&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-YIYxpLG_a1s/TrigdITDZvI/AAAAAAAAAH4/24WyIEu9yv0/s1600/Umay%2B-%2BPesta%2BSekolah.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 255px; height: 231px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YIYxpLG_a1s/TrigdITDZvI/AAAAAAAAAH4/24WyIEu9yv0/s320/Umay%2B-%2BPesta%2BSekolah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672460152977188594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;at  dengan lagu "Aku Anak Sehat". Lagu itu mengingatkan bagaimana pesan  media apa pun akan selalu rentan terhadap "intervensi" dan kepentingan  penguasa, apalagi pesan media musik rekaman. Coba simak petikan lirik  ini..."&lt;i&gt;aku anak sehat, tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan  cermat...semasa aku bayi selalu diberi ASI, makanan bergizi, dan  imunisasi. Posyandu menungguku setiap waktu&lt;/i&gt;...."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa lagu anak-anak berisi "arahan" untuk ibu dan jelas berisi  pesan komunikasi pembangunan? namun itulah yang terjadi di era Orde  Baru berkuasa di mana media menjadi elemen penting bagi hegemoni  penguasa, &lt;i&gt;ideological state aparattus&lt;/i&gt;, istilah yang dikenalkan  oleh Antonio Gramsci. Tidak hanya kekuasaan pemerintah yanng mungkin  hadir dalam pesan media musik populer. Agen yang lain, terutama media  dan pasar sangat mungkin hadir di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang mirip, di mana "arahan" untuk anak hadir, bisa ditangkap di  album anak-anak yang bagus ini walau pesannya tidaklah terlalu  eksplisit. Arahan tersebut bisa ditemukan di lagu "Menabung". Tidak  seeksplisit arahan "Menabung Pangkal Kaya" pada jaman totaliter Orde  Baru memang karena unsur negara ataupun penguasa tidak muncul, namun  tetaplah modus arahan itu terdengar samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi pesan lagu yang lain juga menarik. Selain semua lagu di album ini  bernuansa ceria dan irama masa kini, pesan di tiap lagu juga unik. Ada  kisah superhero lokal di lagu "Gatotkaca". Walau sebenarnya penulis lagu  bisa merujuk pada superhero Indonesia yang lebih baru semisal Kapten  Indonesia, Darna, Godam, dan Elmaut, daripada Kapten Amerika, Wonder  Woman, Superman+Thor, dan Spiderman (walau tidak ada beda superhero  Indonesia yang saya sebut dengan superhero Amerika itu :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga keceriaan bersekolah di lagu awal "Pesta Sekolah". Hal ini unik  karena biasanya bersekolah dikaitkan dengan suasana menjemukan atau  kaku semacam piket kelas atau upacara, atau "ketakutan" terhadap  otoritas lembaga pendidikan yang berlebihan, semisal ketakutan atas  ujian. Namun di lagu ini sekolah adalah pesta. Bersekolah adalah  aktivitas yang menyenangkan. Di antara semua lagu, saya paling senang  dan agak terkejut dengan lagu "Takkan Nakal Lagi". Lagu ini menunjukkan  nuansa baru relasi antara anak dan orang-tua (mama). Lagu ini bercerita  tentang kesedihan anak-anak setelah berbuat "kenakalan". Hal yang  menarik adalah permintaan si anak agar sang mama juga berhenti marah.  Kita sering lupa, relasi orang tua dan anak bukanlah satu arah. Sang  anak juga memiliki permintaan dalam relasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi lain sang anak dengan anggota keluarga bisa diamati dalam lagu  "Dekat  Dekatlah denganku". Lagu yang berkisah kedekatan sang anak  dengan adiknya. Sang anak yang menjadi kakak menjadi pelindung bagi sang  adik. Relasi yang galib dalam kehidupan namun jarang dimunculkan dalam  teks lagu. Biasanya adik di dalam teks media apa pun menjadi obyek  kelucuan dan kegemasan orang yang lebih dewasa. Pengaruh media dalam  kehidupan anak jelas terlihat dalam lagu "Rocker Kid" dan "Sepakbola".  Suasana hidup anak lelaki memang lekat dengan karakter keren dunia  dewasa nanti, di mana laki-laki semestinya "nge-rock" dan suka dengan  sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album ini secara umum berisi materi yang bagus untuk anak-anak karena  mengungkap kehidupan anak-anak terkini. Sayangnya, distribusi tertutup  album ini yang hanya melalui satu jaringan makanan cepat saji menjadikan  anak-anak sub-urban dan rural memiliki kemungkinan yang lebih kecil  untuk mengaksesnya. Karena lagu anak-anak itu barang langka sebaiknya  ada upaya bersama untuk memperluas konten musik populer yang bisa  diakses anak-anak seluas mungkin. Hal ini lebih baik daripada anak-anak  hanya mengenal lagu-lagu orang dewasa yang tidak sesuai dengan  perkembangan psikologis anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Lagu&lt;br /&gt;1. Pesta Sekolah&lt;br /&gt;2. Takkan Nakal Lagi&lt;br /&gt;3. Rocker Kid&lt;br /&gt;4. Umay Datang&lt;br /&gt;5. Tamasya&lt;br /&gt;6. Sepakbola&lt;br /&gt;7. Dekat, Dekatlah denganku&lt;br /&gt;8. Menabung&lt;br /&gt;9. Doa Dulu&lt;br /&gt;10. Gatotkaca&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-3771615055846516412?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/3771615055846516412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2011/11/umay-pesta-sekolah-2011-teks-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3771615055846516412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3771615055846516412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2011/11/umay-pesta-sekolah-2011-teks-tentang.html' title='Umay - Pesta Sekolah (2011): Teks tentang Relasi Anak'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YIYxpLG_a1s/TrigdITDZvI/AAAAAAAAAH4/24WyIEu9yv0/s72-c/Umay%2B-%2BPesta%2BSekolah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-2909541808826953462</id><published>2011-10-04T21:56:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T22:56:48.501-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sharing'/><title type='text'>Sibukkan Anak!</title><content type='html'>Berikut adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sharing&lt;/span&gt; pengalaman dari Dina Sulaeman, bagaimana beliau membuat kesibukan bagi Reza, putranya, agar anak tidak tergoda mencari hiburan yang tidak sesuai bagi usianya.&lt;br /&gt;========================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibuk&lt;br /&gt;Oleh: &lt;a href="http://bundakirana.multiply.com/"&gt;Dina Sulaeman&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar parenting, bu Elly Risman, dalam sebuah seminar  pernah meng&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-kMpEGmJ79Vg/TovmXDy6ltI/AAAAAAAAAHo/9zTiqKXYb9k/s1600/Reza.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 250px; height: 188px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-kMpEGmJ79Vg/TovmXDy6ltI/AAAAAAAAAHo/9zTiqKXYb9k/s320/Reza.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659870640551401170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;atakan, kurang lebih,  bahwa  anak yang tergoda untuk  mengakses pornografi, baik itu melalui game,  ke warnet, internetan, handphone, dll, adalah anak yang TIDAK ADA  KERJAAN. Artinya, si anak merasa jenuh, di rumah segala sesuatu sudah  tersedia dan dilayani, akhirnya, cari-cari kerjaan lain. Karena itu, solusi utamanya adalah: beri anak kesibukan selain nonton tivi dan main game. Kalau sudah kecanduan gimana? Itu pembahasannya lain lagi, saya juga belum punya ilmunya... :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi buat anak-anak yang belum sampai kecanduan tivi dan game, sejak dini, mari kita ‘kepung’ mereka dengan berbagai aktivitas yang membuat mereka lupa pada tivi dan game. Apa saja aktivitasnya, tentu disesuaikan dengan  kondisi keluarga masing-masing.&lt;br /&gt;Berikut ini kegiatan-kegiatan yang sedang saya kondisikan untuk Reza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.    Membaca  buku &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membaca adalah kegiatan yang harus lahir dari hati, artinya, rasa ‘senang membaca’ itu yang harus ditumbuhkan sejak dini. Caranya antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;‘kepung’ anak dengan buku, di setiap sudut ada buku yang siap dibaca.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;setiap pulang dari berbagai tempat, saya usahakan membawa buku sebagai  oleh-oleh. Oya, kan harga buku mahal yah, nah, triknya, saat ada obral buku (di Gramedia jl Merdeka Bandung, secara berkala biasanya suka ada bazaar buku murah), saya beli langsung banyak, tapi saya sembunyikan dulu. Nanti kalau saya mau ke  kampus atau ke mana, saya bawa satu buku, dan pulangnya, “Reza...mama  bawa oleh-oleh buku..yeee..!asyiiik...! malam ini, kita akan baca buku bareng-bareng...!” ( Katakan dengan intonasi suara penuh semangat, kita ciptakan situasi bahwa mendapat hadiah buku itu sebuah kejutan besar yang menyenangkan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jadikan membacakan buku sebagai ‘hadiah’,   “Kalau Reza melakukan ini..nanti hadiahnya mama bacakan 2 buku...”   (biasanya sih Reza suka nawar, minta bacakan 5 buku, hehe)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;berikan keteladanan: kalau ibu rajin pegang (dan baca) buku, biasanya anak akan meniru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;...(mungkin ada ide tambahan?)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    Membuat kerajinan tang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya bukan orang yang telaten bikin kerajinan tangan, pun bukan orang yang kreatif. Tapi dengan internet, kita bisa belajar. Ada banyak video di you tube yang mengajarkan cara membuat berbagai jenis kerajinan tangan (keywordnya: simple craft kids).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reza alhamdulillah sudah keranjingan ‘berkarya’ (saya mengenalkan kata ‘karya’ kepadanya dan menggunakan dalam percakapan sehari-hari: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reza mau membuat karya apa? Mana karya Reza? Ayo, kita berkarya hari ini! Reza&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; punya ide, kita harus membuat karya apa sekarang?&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kakaknya membuat karya dompet dari kain  felt, lalu dijual, suatu malam, Reza termotivasi untuk membuat 11 hewan  dari kertas (origami) dan besoknya dijual ke teman-temannya seharga  Rp200 per buah. Lumayan, laku semua. Reza pun bangga sekali. (ssst... ini pun saya kondisikan kok: saya memberikan  sejumlah koin 200-an ke guru Reza, lalu, ibu guru membagikan koin itu  ke anak-anak, dan anak-anak diminta membeli karya Reza:D).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.    Membuat Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini yang saya maksud: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aktivitas yang disesuaikan dengan kondisi keluarga&lt;/span&gt;.  Karena kami keluarga penulis (dalam arti sebagian besar  aktivitas kami  untuk mencari nafkah adalah melalui tulisan), jadilah saya pun  mengenalkan cara membuat buku kepada Reza, dan dia asyik sekali, dia  tahan berjam-jam ‘membuat buku’. Caranya mudah kok, siapa saja bisa meniru.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sediakan 3 lembar kertas HVS,  dilipat dua, di-hekter tengahnya, jadilah sebuah buku dengan 12 halaman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cari gambar yang disukai anak di internet, lalu di print seukuran buku  yang mau dibuat. Reza suka sekali Bernard, maka kami pun mengeprint  4 buah gambar Bernard. Gambar ini ditempel di buku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buat teksnya, ajak anak memikirkan apa isi teks buku itu,  disesuaikan dengan gambar. Misalnya, gambar Bernard sedang pakai ban renang, teksnya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bernard adalah beruang yang lucu. Dia suka berenang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Kegiatan ini sekaligus berfungsi mengajari anak membaca tanpa mengeja loh.&lt;br /&gt;Lalu, diskusikan bersama anak, apa judulnya. Ini judul ciptaan Reza: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beruang Suka Melucu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teks itu diprint, lalu digunting, dan ditempel di ‘buku’. Begini contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-qh1fz8fSxAc/TovwSZ9DGcI/AAAAAAAAAHw/khBOTuU7qEU/s1600/buku%2Breza.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 250px; height: 188px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-qh1fz8fSxAc/TovwSZ9DGcI/AAAAAAAAAHw/khBOTuU7qEU/s320/buku%2Breza.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659881555716413890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.    Sepakbola&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena klub sepakbola untuk anak kecil belum ada di lingkungan kami, jadilah saya yang membuat sendiri klub itu. Nama klubnya: &lt;a style="color: rgb(0, 0, 153);" href="http://rumahquraniku.wordpress.com/"&gt;Rumah Qurani&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;FC  (hehehe). Saat ini anggota klub sudah 10 anak. Mendatangkan pelatih  juga loh, guru olahraga lulusan UPI. Biayanya gimana..? Yah, karena kami  tinggal di kampung, iuran anggota gak bisa mahal-mahal, hanya 30rb  perbulan. Dengan &lt;a href="http://bundakirana.multiply.com/photos/hi-res/1M/198"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;guru,  saya bikin perjanjian bagi hasil saja. Jadi berapapun penghasilan yang  didapat, hingga 200rb hak guru, sisanya dibagi 50:50. Bulan yll  ‘penghasilan’ kami hanya 180rb (karena sudah dipotong sewa lapangan,  bikin spanduk, fotokopi brosur), jadi semuanya diserahkan ke pak guru.  Saya blm dapat laba&lt;a href="http://bundakirana.multiply.com/photos/hi-res/1M/198"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; juga gpp..toh tujuan utamanya kan memfasilitasi supaya Reza dan anak-anak sebayanya bisa punya klub bola; ini&lt;a href="http://bundakirana.multiply.com/photos/hi-res/1M/198"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sudah terwujud saja, s&lt;a href="http://bundakirana.multiply.com/photos/hi-res/1M/198"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;aya sangat bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, inilah sekedar bagi-bagi ide... siapa tahu bermanfaat buat  pembaca.  Spiritnya adalah, mari kita bikin anak-anak kita sibuk setiap  hari...mari kita tumbuhkan rasa gemar berkarya dan beraktivitas yang  sehat, bukannya nonton tivi dan main game melulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oiya, kalau teman-teman ada ide tambahan, jangan sungkan-sungkan untuk menyampaikan ya...kita saling berbagi ide yuk:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;Foto diambil dari &lt;a href="http://bundakirana.multiply.com/journal/item/351"&gt;blog Dina Sulaeman&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-2909541808826953462?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/2909541808826953462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2011/10/sibukkan-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2909541808826953462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2909541808826953462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2011/10/sibukkan-anak.html' title='Sibukkan Anak!'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kMpEGmJ79Vg/TovmXDy6ltI/AAAAAAAAAHo/9zTiqKXYb9k/s72-c/Reza.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-2418912362552336469</id><published>2011-03-23T17:48:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T18:05:55.608-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Efek dari Kartun yang Mengandung Kekerasan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-AFakSdL4DdA/TYqYnAKr-YI/AAAAAAAAAHc/BFI88CdRSkc/s1600/ben10h.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 265px; height: 199px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-AFakSdL4DdA/TYqYnAKr-YI/AAAAAAAAAHc/BFI88CdRSkc/s320/ben10h.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587446083533666690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Berikut ini adalah cerita yang dapat menjadi contoh nyata bagaimana efek menonton film kartun yang memuat adegan kekerasan sangat mempengaruhi perilaku anak. Semoga menjadi pelajaran berharga untuk kita semua dan menguatkan tekad untuk makin menjaga anak-anak kita dari serangan tayangan-tayangan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=======================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek dari Kartun yang Mengandung Kekerasan&lt;br /&gt;oleh &lt;a href="http://fetryz.multiply.com/"&gt;Fetry Z. Achmad&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Ini kejadian waktu hari Ahad kemarin ketika Bintang ikut Ambu untuk pengajian di sebuah masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu  datang, Ambu melihat ada teman yang sudah saya kenal,tentu plus anak  balitanya. Usianya 4 tahun, laki-laki dan sudah ada disana bersama dengan  teman seusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang yang masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;new comer&lt;/span&gt;, masih pengikut, apa-apa ngikutin, walaupun nggak diajak. Ambunya hanya perhatikan saja,  karena biasanya anak-anak butuh beradaptasi dengan teman barunya. Walaupun,  sempat digalakin juga, tapi, Bintang masih saja ngikutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu jam setelah itu, sebutlah anaknya bernama Ben, tiba-tiba ngasih jurus Ben10  yang sering ditontonnya, "Jurus Angiiinnn!!!" sambil memutar-mutar  tangannya ke arah Bintang. Refleks, Bintang langsung lari dari kejaran  anak laki-laki tersebut. Teman perempuan Ben tersebut, sebutlah namanya  Dora, ikut-ikutan menyerbu Bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu, Bintang  langsung sembunyi di belakang benteng. Tapi, sedihnya, nah lho, kok  anak-anak itu malah nabok-nabokin tangannya Bintang???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu, Ambu langsung bergegas untuk melerai dan bilang "Nggak main pukul ya sayanggg...."&lt;br /&gt;Sungguh,  jika masih bisa ditolerir untuk pergaulan anak, Ambu biarkan saja.  Tapi, kalau sudah ada main fisik, saya turun tangan. Apalagi Bintang  belum genap 3 tahun, khawatir trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya peluk Bintang, dan  bilang "Ya udah, kakak sementara nggak main dengan Ben dan Dora dulu  yaaaa... Kan masih banyak anak-anak lain..".. Tak lama, Bintang memang  langsung main lagi dengan anak-anak lain, termasuk dengan Ben dan Dora  itu. Tapi, tetap dalam pengawasan Ambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, Ben dan  Dora sebetulnya anak yang sangat baik, apalagi sudah masuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;playgroup&lt;/span&gt; yang direkomendasikan untuk anak-anak yang di-didik sesuai dengan nilai-nilai agama kami. Tapi, karena dia  mempunyai tokoh yang diidolakan itu, secara tidak langsung jadi  terpengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan, bukan berniat turun tangan untuk masalah  anak-anak batita. Tapi, karena Bintang dalam usianya tersebut, masih  dalam pengawasan, dan belum termasuk yang "wajib" bersosialisasi,  makanya masih diawasi dulu. Tapi, ya itu, suka gemes dengan anak-anak yang  terpengaruh dengan film kartun yang mengandung kekerasan, dan  dipraktekkan dengan pukulan, cubitan, tendangan, pada teman-temannya.  Untuk saya sendiri, ini adalah salah satu alasan kenapa Bintang  tidak nonton TV. Jika nonton pun, sangat dibatasi, mengingat selain  film-nya, iklan-iklan di TV juga tidak edukatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga  nonton DVD, cukup selektif. Semoga Bintang paham, mengapa Ambunya  demikian selektifnya untuk melakukan aktivitas sehari-hari untuknya,  sampai saatnya dia akan paham dan bisa memilah sendiri. Lebih rela deh,  anaknya main pasir atau main matahari dibanding harus nonton film yang  tidak edukatif, walaupun itu berlabel kartun.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.squidoo.com/ben10-games"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-2418912362552336469?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/2418912362552336469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2011/03/efek-dari-kartun-yang-mengandung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2418912362552336469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2418912362552336469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2011/03/efek-dari-kartun-yang-mengandung.html' title='Efek dari Kartun yang Mengandung Kekerasan'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-AFakSdL4DdA/TYqYnAKr-YI/AAAAAAAAAHc/BFI88CdRSkc/s72-c/ben10h.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-696614956800023918</id><published>2010-07-30T22:27:00.001-07:00</published><updated>2010-07-30T22:42:52.826-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review'/><title type='text'>Musik Indah Untuk Keluarga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/TFO06sts1VI/AAAAAAAAAHE/t9IHXTZpqoE/s1600/Jazz+for+Family.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 278px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/TFO06sts1VI/AAAAAAAAAHE/t9IHXTZpqoE/s320/Jazz+for+Family.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499938490477761874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;oleh : &lt;a href="http://wisnumartha14.blogspot.com/"&gt;Wisnu Martha Adiputra&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap saya mampir ke dua tempat, toko CD dan toko buku, saya selalu berpikir, CD audio, film, atau buku apa yang bisa saya belikan untuk anak saya? Saya tidak ingin terlalu egois dengan mengakses konten media untuk saya sendiri. Saya juga ingin tetap mengingat konten media untuk anak walau pada prakteknya, kunatitas konten media yang saya akses kira-kira tiga kali lebih banyak dari konten media untuk anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya, untuk konten musik anak bukan hanya kuantitas yang sangat kurang, kualitasnya juga sedikit yang bagus. Beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca betapa musik untuk anak-anak sungguh terbatas. Bila pun ada, kebanyakan mendaur-ulang lagu jaman dulu dengan aransemen yang relatif sama. Ada juga album lagu anak-anak tetapi berasal dari sebuah acara kompetisi menyanyi untuk anak-anak yang menyanyikan lagu orang dewasa. Bagi saya, filosofi acara itu sudah salah sehingga outputnya pun lebih merupakan imitasi untuk anak-anak. Anak-anak di acara itu "dipaksa" menjadi bukan anak-anak bukan hanya karena lagu-lagu yang mereka nyanyikan tetapi sikap dan gaya mereka yang diarahkan seperti orang dewasa atau selebriti tidak bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga jenis musik anak-anak yang lain, yaitu lagu anak-anak dari "jaman dulu". Masih ada album-album dari Sherina dan Tasya walau itu akan berpotensi membingungkan anak-anak yang mengaksesnya karena keduanya telah dewasa. Beberapa album bahkan lebih lama lagi. Saya masih mendapatkan album kompilasi Trio Kwek Kwek dan Melisa, yang rupanya masih diproduksi karena musik untuk anak-anak memang langka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya berkunjung ke toko CD dan toko buku beberapa hari yang lalu itu, ada dua konten media yang agak mengagetkan sekaligus menyenangkan saya, yaitu buku komik tentang perjalanan musik Bono dan U2, dan album CD "Jazz for Family". Konten media pertama akhirnya saya coret karena walaupun berkisah tentang Bono dan supergrup U2 dengan menggunakan komik yang dituliskan di judulnya untuk anak-anak, komik ini bukan untuk anak-anak. Informasi yang diberikannnya lebih ditujukan untuk pembaca yang paham informasi lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konten media kedua benar-benar membahagiakan saya. Sebenarnya saya sudah membaca review-nya di sebuah suratkabar ibukota tetapi entah mengapa saya lupa dengan album ini dan baru saya teringat ketika melihatnya di toko CD secara tak sengaja. Walau untuk ukuran album Indonesia album ini agak mahal tetapi materinya sepadan. Album ini berisi interpretasi ulang lagu anak-anak dalam musik jazz yang disajikan dengan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di rumah, album ini langsung saya putar. Kami bertiga, saya, istri, dan anak, mendengarkannya dengan rasa bahagia atau mungkin juga rasa bahagia itu hadir setelah mendengarkan musiknya yang memang menenangkan. Dan yang paling membahagiakan saya adalah anak saya menikmati lagu-lagu yang telah dikenalnya dalam alunan jazz. Awalnya terlihat dia merasa aneh dengan lagu-lagu yang ada di CD karena dimainkan dengan cara berbeda. Kemudian, dia terlihat senang dengan semua lagu yang diputar. Setelah mendengarkan album ini anak saya menjadi terbiasa dengan improvisasi lagu. Sebelumnya, dia akan protes bila saya menyanyikan lagu dengan gaya berbeda seperti yang dia kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya semacam ini layak diapresiasi. Anthony S. dan kawan-kawan melakukan langkah yang bagus. Walau baru sedikit, menyediakan pilihan yang lebih beragam untuk musik anak-anak adalah upaya luar biasa. Mengenalkan improvisasi yang termaktub dalam musik jazz untuk anak-anak adalah misi berikutnya. Hal ini sejalan dengan beberapa album lagu daerah untuk anak-anak yang saya akses pula. Pelakunya pun sama "Gema Nada Pertiwi". Dari sisi bisnis, ini upaya bagus karena jarang produsen pesan yang "bermain" di wilayah musik anak. Ini juga kasus yang bagus diteliti oleh pembelajar kajian media. Dari sisi sosiokultural, upaya ini juga "mulia" karena mengenalkan keberagaman musik pada anak-anak Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat album ini saya juga mendapatkan moment indah mengakses pesan media. Kami sekeluarga mendengarkan album ini dengan bahagia, membagi kebersamaan di suatu sore yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album: Jazz for Family, “Children Sngs with Jazz Flavour”&lt;br /&gt;Artis: Anthony S, Imam Pras, Arief Setiadi, Galeri Anak&lt;br /&gt;Produksi : Cakrawala Musik Nusantara/GNP, 2009&lt;br /&gt;Harga: Rp. 50.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar lagu:&lt;br /&gt;1. Burung Kakatua&lt;br /&gt;2. Oe Oe, Oa Oa&lt;br /&gt;3. Aku Anak Pintar&lt;br /&gt;4. Desaku&lt;br /&gt;5. Bermain Layang-Layang&lt;br /&gt;6. Pepaya Mangga Pisang Jambu&lt;br /&gt;7. Burung Ketilang&lt;br /&gt;8. Kupu-Kupu&lt;br /&gt;9. Burung Hantu&lt;br /&gt;10. Kapal Api&lt;br /&gt;11.  Kapal Api (instrumental)&lt;br /&gt;12. Aku Anak Pintar (instrumental)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-696614956800023918?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/696614956800023918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/07/musik-indah-untuk-keluarga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/696614956800023918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/696614956800023918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/07/musik-indah-untuk-keluarga.html' title='Musik Indah Untuk Keluarga'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/TFO06sts1VI/AAAAAAAAAHE/t9IHXTZpqoE/s72-c/Jazz+for+Family.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-1932587104899423313</id><published>2010-07-22T20:33:00.000-07:00</published><updated>2010-07-22T20:38:16.555-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='event'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengumuman'/><title type='text'>Lomba Menyanyi Bertema Lingkungan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagi yang berdomisili di Jogja dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/TEkON_Aep-I/AAAAAAAAAG0/ozI3XiCVoBo/s1600/LOMBA+NYANYI+LINGKUNGAN.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 289px; height: 383px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/TEkON_Aep-I/AAAAAAAAAG0/ozI3XiCVoBo/s320/LOMBA+NYANYI+LINGKUNGAN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496940453596932066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-1932587104899423313?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/1932587104899423313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/07/lomba-menyanyi-bertema-lingkungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1932587104899423313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1932587104899423313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/07/lomba-menyanyi-bertema-lingkungan.html' title='Lomba Menyanyi Bertema Lingkungan'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/TEkON_Aep-I/AAAAAAAAAG0/ozI3XiCVoBo/s72-c/LOMBA+NYANYI+LINGKUNGAN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-406502032605648019</id><published>2010-05-23T23:49:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T00:53:58.785-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sharing'/><title type='text'>Melepas Anak ke Dunia Maya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S_ottEHnfeI/AAAAAAAAAGs/nsk0aF23UpM/s1600/internet-Mother+and+son.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S_ottEHnfeI/AAAAAAAAAGs/nsk0aF23UpM/s320/internet-Mother+and+son.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474738549245312482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: &lt;a href="http://mamieksyamil.multiply.com/"&gt;Mamiek Syamil&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat faham dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aware&lt;/span&gt; akan bahaya yang mengintip di setiap sudut dunia maya. Tetapi mengapa saya lepas juga anak-anak saya ke sana? Saya sebenarnya termasuk jenis orang tua paranoid, tidak bisa membiarkan anak-anak saya mendekati, apalagi bersinggungan, dengan apapun yang mengandung bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membawa anak-anak ke dunia maya ibarat membawa mereka ke pantai yang indah, yang berujung ke lautan luas. Bermain di pinggirnya-pinggirnya sangatlah menyenangkan, dan melenakan. Tak sedikit orang yang tak waspada, bahkan cenderung menyepelekan bahayanya. Sampai akhirnya ombak besar menggulung mereka. Bedanya, "ombak besar" dari dunia maya yang "menenggelamkan" anak-anak itu banyak tidak disadari oleh orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membentengi anak-anak untuk tidak berhubungan dengan internet adalah tidak mungkin, kecuali kita ingin memangkas keingintahuan mereka. Internet juga sumber pengetahuan. Seperti halnya buku dan televisi, ada yang baik, ada yang buruk. Bedanya, isi internet yang buruk hanya sejauh satu "klik". Itulah sebabnya saya melepas anak saya seperti orang paranoid (untuk yang satu ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I don't mind to be called paranoid, some people have done it&lt;/span&gt;). Saya ijinkan anak-anak mempunyai situs mereka sendiri, tapi dengan seribu satu persyaratan dan aturan yang harus mereka patuhi. Ibarat badan mereka saya lepas, tapi di badannya saya ikatkan sebuah tali yang bisa saya tarik dan ulur. Teorinya mudah. Prakteknya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini langkah yang saya tempuh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kalau mereka minta dibuatkan situs pribadi, set up account website (multiply, facebook, MySpace atau apapun) dengan e-mail orang tua. Sekarang ini anak-anak saya hanya punya blog. Rengekan mereka untuk membuka FB saya tolak karena menurut saya FB tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;suitable&lt;/span&gt; untuk anak-anak (beberapa temannya punya FB, jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;peer presure&lt;/span&gt;). Saya ijinkan nge-blog karena : bisa untuk latihan menulis, bisa menampilkan hasil karya mereka (gambar dsb) dan saya agak familiar. Ini dia. Orang tua harus familiar dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;oprekan&lt;/span&gt; anaknya. Jangan sampai si anak lebih melek internet daripada ortunya. Kalau anak anda punya situs, anda juga harus punya situs, minimal untuk menguasai pernak-pernik internetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk situs pribadi, syarat untuk menjadi kontak mereka :&lt;br /&gt;- Seusia dengan mereka, preferably dari gender yang sama (saya bukannya membatasi dan pilih-pilih gender)&lt;br /&gt;- Kalau tidak seusia, maka anak-anak saya harus mengenal mereka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;personally&lt;/span&gt; sebagai teman baik ibu (bukan hanya kenal lewat dunia maya).&lt;br /&gt;- Sebelum "accept" &lt;span style="font-style: italic;"&gt;any invitation&lt;/span&gt;, saya harus melihat dulu profile si pengundang, termasuk orang tua si anak (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hopefully &lt;/span&gt;ada foto orang tuanya, untuk menunjukkan si anak ada di bawah pengawasan "mata elang" orang tua). Maksudnya, saya lebih pe-de jika anak saya berteman dengan anak yang juga mendapat pengawasan ketat dari orang tua-nya. Terus terang saya termasuk pilih-pilih dalam memilih teman untuk anak-anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sering-seringlah meninggalkan pesan di situs anak-anak kita, agar orang juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aware&lt;/span&gt; bahwa ortunya "ngglibet". Hal itu juga akan menimbulkan kesan bahwa si anak tidak dibiarkan berkeliaran di dunia maya sendiri (orang yang akan berbuat macam-macam akan berpikir seribu kali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Periksa semua tautan/pernak-pernik yang dipasang di situs mereka. Penyedia jasa counter karena free wajar jika mereka menerima advertising dari mana saja, termasuk indutri pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kita adalah tempat anak berkaca. Anak-anak melihat kita sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;role model&lt;/span&gt;. Kalau kita ingin anak-anak kita baik, ya kita sendiri harus menajdi orang baik. Periksa isi situs kita. Jangan sampai ada kata-kata atau content yang tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;appropriate&lt;/span&gt;. Tunjukkan kepada anak kita bagaimana &lt;span style="font-style: italic;"&gt;etiquette&lt;/span&gt; berinternet yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Usahakan agar anak-anak hanya berinternet di rumah. Selama itu, beri mereka pesan agar bersikap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;responsible&lt;/span&gt;. Tujuannya agar begitu mereka berinternet di luar rumah, mereka tetap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;responsible&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Saya sudah coba pasang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;parental control&lt;/span&gt;, tapi sejauh ini tidak terlalu efektif. Memang sebaiknya parental control dipasang. Tapi semakin anak besar, mereka menuntut jelajah yang lebih luas. Ibaratnya waktu kecil kita bisa menuntut mereka untuk main di halaman rumah. Tapi begitu besar, kita tidak bisa "mengurung" mereka. Jadi hanya bekal keimanan dan kepercayaan saja yang bisa kita tanamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Set up e-mail&lt;/span&gt; hanya jika mereka sudah cukup dewasa, karena dengan e-mail mereka bisa sign-up kemana-mana. E-mail juga susah dimonitor. Kalau ingin bertukar pesan lewat situs saja, lebih mudah dimonitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Yang terakhir, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keep them in our pray!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.digitalbirmingham.co.uk/uploaded_images/1226418744-Mother%20and%20son.JPG"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-406502032605648019?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/406502032605648019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/05/melepas-anak-ke-dunia-maya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/406502032605648019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/406502032605648019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/05/melepas-anak-ke-dunia-maya.html' title='Melepas Anak ke Dunia Maya'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S_ottEHnfeI/AAAAAAAAAGs/nsk0aF23UpM/s72-c/internet-Mother+and+son.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-5577154404319247842</id><published>2010-04-22T20:29:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T19:34:55.962-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lagu'/><title type='text'>Demi Lagu Anak Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S9jtfCItzBI/AAAAAAAAAGc/PuiTxjZpaPk/s1600/Family_Singing.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 252px; height: 246px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S9jtfCItzBI/AAAAAAAAAGc/PuiTxjZpaPk/s320/Family_Singing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465379265219251218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;oleh: Ning Raswani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak bagi saya laksana &lt;span style="font-style: italic;"&gt;playdough&lt;/span&gt;, masih sangat mudah untuk dibentuk karena masih dalam masa perkembangan mental. Sangatlah wajar apabila perilaku anak sehari-hari dipengaruhi oleh apa yang dia lihat, amati, dengar dari lingkungan sekitarnya. Anak akan cenderung menirukan segala sesuatu dari lingkungan dekatnya apa saja yang membuat dia merasa suka, nyaman yang dapat memuaskan keinginan hatinya, walaupun belum tentu hal tersebut memberikan manfaat atau berdampak baik baginya dan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi, merupakan salah satu media yang sangat berpengaruh terhadap perilaku anak sehari-hari, karena sekian banyak stasiun TV &lt;span style="font-style: italic;"&gt;on air&lt;/span&gt; non stop 24 jam; disamping ada radio, PS, internet dan lain-lainnya. Anak akan cenderung menirukan apa saja yang didengar dan dilihatnya setiap acara di televisi, tidak peduli itu acara khusus untuk anak atau bukan. Salah satu bentuk hiburan yang paling mudah ditirukan oleh anak adalah nyanyian, karena hampir setiap anak suka menyanyi. Sayangnya, lagu-lagu yang disuguhkan oleh TV lebih dominan lagu yang sebetulnya diperuntukkan bagi usia remaja/dewasa. Tidak heran apabila anak yang baru berusia 3 tahun bisa hafal semua lagu yang ditayangkan di TV. Celakanya lagi, apabila anak diminta menyanyi bebas di sekolah , dia akan menyanyikan lagu-lagu yang lagi ngetrend di pasaran, sehingga lagu –lagu anak yang indah dan sarat dengan makna yang ditulis oleh para pengarang lagu pada masa lalu itu hanya kadang-kadang dinyanyikan di sekolah untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;event&lt;/span&gt; tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ibu dari dua anak, saya merasa prihatin melihat situasi demikian. Saya berpikir, apa yang harus saya lakukan untuk mengurangi dampak negatip dari media tersebut. Selektif dalam memilihkan acara yang ditonton oleh anak, mendampingi anak saat menonton TV, mengajak diskusi tentang acara yang ditonton, sehingga tidak ditelan mentah-mentah, misalnya menonton dan menirukan lagu-lagu yang maknanya tidak jelas, belum sesuai dengan tingkat usia anak dan mengapresiasi lagu-lagu yang bagus dan memiliki makna yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat situasi yang mana lagu-lagu anak yang baru kurang banyak dibuat, terbetik dalam pikiran , mungkinkah saya bisa menulis lagu yang memiliki makna yang baik dan dapat memberikan inspirasi positip bagi perkembangan pikiran anak dan tidak sekedar sebagai hiburan semata-mata? Persoalannya, saya tidak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang dunia seni musik. Saya belum pernah sama sekali belajar tentang musik.Yang saya tahu hanya sebatas do re mi fa sol la si saja. Latar belakang pendidikan saya di bidang farmasi dan sampai sekarang pun saya masih bergelut dengan pekerjaan di bidang farmasi. Mungkinkah? Mungkinkah? Rasanya tidak mungkin. Namun, pikiran saya selalu terbayang-bayangi oleh keinginan tentang keberadaan lagu anak yang baik. Jadilah saya kuatkan niat untuk mewujudkannya. Walaupun tidak pandai menyanyi, namun seperti anak-anak pada umumnya, sejak kecil saya juga suka bersenandung (bhs.Jawa : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rengeng-rengeng&lt;/span&gt;) pelan, malu didengar orang lain, karena suara yang tidak berkualitas. Kebiasaan tersebut masih terbawa terus hingga kini, karena itu sebagai bentuk hiburan bagi diri sendiri. Waktu yang paling menyenangkan untuk bersenandung adalah saat mengerjakan pekerjaan di pagi hari, misalnya saat memasak, mencuci baju dan juga saat mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 2007, anak-anak saya tidak pernah ketinggalan menonton acara lomba menyanyi di TV dan di akhir tahun 2007 mereka merengek-rengek mau ikut audisi. Wah, repot nih. Kesibukan saya bekerja tidak memungkinkan anak untuk mengikuti berbagai lomba yang sangat merepotkan dan ditambah lagi persaingan yang begitu ketat tersebut. Belum saatnyalah untuk anak-anak mengikuti lomba yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan anak-anak yang suka bernyanyi itu menambah dorongan bagi saya untuk menjawab pertanyaan saya di atas. Mungkinkah? Apa salahnya kalau saya coba. Dengan modal do re mi fa sol la si saya mulai mencoba menulis lagu. Pada awal tahun 2008, setiap pagi saat bangun tidur selalu muncul ide-ide yang mengusik hati saya Sayang rasanya kalau hal itu dibiarkan hilang begitu saja; sedikit demi sedikit berbagai ide yang muncul itu saya kumpulkan. tidak terasa di akhir tahun terkumpul cukup banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;So, what’s next&lt;/span&gt;? Saya tidak tahu apakah tulisan saya itu memiliki nilai? apakah memenuhi persyaratan sebagai layaknya lagu-lagu ynag lain? Saya tidak tahu. Saya memberanikan diri untuk cerita ke seorang teman yang saya anggap cukup bijaksana dan bersedia membantu saya, dia menyarankan saya untuk mencari bantuan musisi. Mencari musisi ternyata cukup sulit juga. Beberapa kenalan musisi sangat padat kesibukannya sehingga tak dapat membantu saya. Baru pada akhir tahun 2009, seorang teman memiliki kenalan yang bersedia membantu saya, dengan catatan tidak bisa dikerjakan dengan cepat karena kesibukan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap berikutnya adalah proses rekaman. Untuk mengajak anak saya mau merekam lagu-lagu saya tidaklah mudah, karena anak saya tahu bahwa ibunya bukan seorang seniman. Mereka meragukan saya. Dengan membujuk pelan-pelan akhirnya anak saya bersedia asalkan ditemani oelh temannya. Baiklah, satu persoalan selesai. Persoalan lain, saya juga tidak tahu studio musik yang baik. Dengan bertanya sana sini akhirnya saya peroleh informasi tentang studio yang cukup baik. Jadilah, rekaman dimulai. Proses rekaman memakan waktu cukup lama, karena kesibukan anak-anak bersekolah dan di hari libur kadang-kadang anak-anak juga berkegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah proses rekaman selesai, saya mendesain cover CD bersama anak-anak saya dan memperbanyak CD untuk diberikan ke beberapa kenalan. Namun belum bisa berhenti sampai disitu . Untuk apa CD yang sudah jadi tersebut? Beberapa teman yang mendengarkan lagu-lagu saya memberikan tanggapan positip dan mendukung untuk mempublikasikan lagu-lagu itu. Saya berpikir lagi dan di waktu senggang saya searching di internet. Kira-kira lembaga apa yang bisa bisa mem-follow-up lagu-lagu tersebut. Saya hubungi WALHI. Alhamdulillah mendapat sambutan sangat positip. Semoga terlaksana nanti akan dilombakan dalam rangka HARI ANAK NASIONAL pada bulan Juli mendatang. Disamping itu saya email ke KOMPAK, untuk sharing pengalaman saya dan berharap dapat memperoleh dukungan untuk karya-karya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga sharing ini bermanfaat bagi pembaca semua. Semoga tulisan ini dapat menyemangati orang tua di seluruh Indonesia, bahwa kita memang harus berusaha keras untuk pendidikan anak. Tidak mungkin jika kita menyerahkan anak pada lingkungan media dan hiburan yang ada pada saat ini. Kita mampu melahirkan mereka, tentu kita mampu untuk memberi mereka pendidikan yang terbaik. Semangat inilah yang ingin saya bagi kepada para pembaca semua. Untuk mendengarkan sebagian lagu saya secara online bisa meluncur ke 4shared.com dengan judul : "suara anak dunia" atau "the voice of the world's children"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 April 2010&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;Ning Raswani&lt;br /&gt;raswanining@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari google&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-5577154404319247842?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/5577154404319247842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/04/demi-lagu-anak-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5577154404319247842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5577154404319247842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/04/demi-lagu-anak-indonesia.html' title='Demi Lagu Anak Indonesia'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S9jtfCItzBI/AAAAAAAAAGc/PuiTxjZpaPk/s72-c/Family_Singing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-6696583141554477855</id><published>2010-03-24T22:39:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T22:46:24.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sharing'/><title type='text'>Serba Salah Televisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S6r3sdAw3kI/AAAAAAAAAGU/w1qdTjW-r6k/s1600/No_Television.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 256px; height: 260px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S6r3sdAw3kI/AAAAAAAAAGU/w1qdTjW-r6k/s320/No_Television.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452442641959542338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: &lt;a href="http://tianarief.multiply.com/"&gt;Tian Arief&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hidup tanpa televisi, kenapa tidak? Kami pernah menjalaninya kira-kira tiga tahunan. Itu terjadi setelah Sony 17 inch yang bertahun-tahun setia menghuni ruang tamu kami, rusak total. Televisi imut itu sengaja kami biarkan teronggok di bawah meja, biar kami tidak bisa menonton plus-minusnya siaran televisi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku sendiri sih, tetap bisa nonton televisi sesekali, sewaktu di kantor. Dan kami juga masih bisa sesekali nonton televisi, sewaktu berkunjung ke rumah mertua di Jakarta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tayangan televisi, selain informasi (berita, talkshow, atau features), juga berisi hiburan, mulai dari film hingga sinetron --yang banyak mengumbar hedonisme dan kekerasan. Selain itu, ada pula iklan, yang memicu kami pada sikap komsumtif. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada tambahannya, Fay, anak semata wayang kami, kosa katanya banyak didominasi kata-kata iklan. Fay, terus menyerap kosa kata dari tayangan televisi, khususnya iklan, yang memang disukainya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejak pesawat televisi rusak, kami jadi lebih tenang. Tak ada lagi bujuk rayu dari tayangan iklan yang menggugah selera, tak ada lagi suara teriakan-teriakan dari promo sinetron kejar tayang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi lama-lama Fay tidak tahan juga. Ia memaksa kami untuk kembali mengadakan televisi di rumah, dengan caranya sendiri. Setiap bertemu siaran televisi, di mana pun berada, Fay antusias sekali menyaksikannya dari dekat. Tampak sekali seperti anak yang tak pernah nonton televisi (dan memang kenyataannya begitu). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang terasa mengganggu, saat Fay memaksa-maksa menonton televisi dari tetangga, kapan pun ada kesempatan. Fay, yang belum mengerti tata krama, langsung menerobos begitu saja di mana pesawat televisi menyala; di ruang tamu, ruang keluarga, bahkan kamar tidur. Kami jadi tidak enak dibuatnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hingga akhirnya, kami mengalah. Sebuah TV Tunner pinjaman kami pasang di monitor komputer yang sudah tidak terpakai. Maka, monitor komputer itu jadilah sebuah pesawat televisi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fay kembali pada hobi lamanya: menyaksikan tayangan iklan, dan setelah habis, ia memindahkan channel ke stasiun lain yang tengah menayangkan iklan. Kosa-kosa kata, terutama dari operator seluler yang sedang "perang promo" pun sering menghiasi bibirnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dampak lainnya, kami jadi punya sumber hiburan, di saat senggang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi kami sudah menetapkan aturan; saat adzan maghrib berkumandang, televisi harus dimatikan, dan Fay harus berwudhu untuk shalat maghrib. Menjelang pukul delapan malam, televisi juga dimatikan (sementara), biar Fay bersiap-siap tidur. &lt;/p&gt; Dan malam hari, televisi monitor komputer itu pun jadi milik kami, ortu yang haus hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://images.google.co.id/imglanding?q=no%20television&amp;amp;imgurl=http://api.ning.com/files/rDqPXm38MNX*9pueiMFDN8o3LkGka-N*bnZI9nlynxPB5KFvjb9Us1d5kFGh*fCuopoi3IVXDItJjAMHN1uLtO54t0OZk87q/No_Television.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://freemanireland.ning.com/profile/zyenide&amp;amp;usg=__OiPrQxFbw4IXK7wwBFu2rbxIiGQ=&amp;amp;h=369&amp;amp;w=363&amp;amp;sz=23&amp;amp;hl=id&amp;amp;itbs=1&amp;amp;tbnid=UMiImZRKhJjJgM:&amp;amp;tbnh=122&amp;amp;tbnw=120&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dno%2Btelevision%26hl%3Did%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&amp;amp;gbv=2&amp;amp;tbs=isch:1&amp;amp;start=0#tbnid=UMiImZRKhJjJgM&amp;amp;start=1"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-6696583141554477855?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/6696583141554477855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/03/serba-salah-televisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6696583141554477855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6696583141554477855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/03/serba-salah-televisi.html' title='Serba Salah Televisi'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S6r3sdAw3kI/AAAAAAAAAGU/w1qdTjW-r6k/s72-c/No_Television.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-6277109256962902745</id><published>2010-03-18T19:03:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T21:42:56.883-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Dunia Palsu</title><content type='html'>Oleh: &lt;a href="http://luqmanhakim.multiply.com/"&gt;Luqman Hakim&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Imitation is the sincerest form of television&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kepalsuan adalah bentuk yang paling tulus dari televisi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fred Allen, Komedian Absurd Amerika (1894 - 1956)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pulang kerja, akhir pekan, bersantai di rumah, hiburan mudah dan gampang dicari adalah televisi. Ada 11 saluran televisi nasional dan beberapa saluran televisi lokal yang selalu menunggu dan siap untuk diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S6LcJOtkgYI/AAAAAAAAAGM/OXQrrUGLQG0/s1600-h/Pokemon.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 183px; height: 229px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S6LcJOtkgYI/AAAAAAAAAGM/OXQrrUGLQG0/s320/Pokemon.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450160550197887362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan kepalsuan, melihat keindahan di luar angan, mengamati kehidupan orang lain dalam kotak kaca, hal yang meninabobokkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;Lahirlah generasi televisi, anak-anak yang dibesarkan dengan suara dan gambar yang keluar dari layar kaca. Orang tua dan pengasuh yang capek menjaga anak, membiarkannya berimajinasi dengan tontonan di luar batas kapasitas mencerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, tahun 1997 tercatat tak kurang 685 anak terserang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;photosensitive epilepsy&lt;/span&gt; atau bentuk kejang yang dipicu oleh rangsangan visual saat menyaksikan film kartun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pokemon&lt;/span&gt; episode &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Pocket Monster'&lt;/span&gt; (&lt;a href="http://www.webmd.com/epilepsy/news/20050920/avoiding-pokemon-seizures-from-tv-video-games"&gt;webmd.com&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton televisi di ruangan gelap dalam jarak dekat, tayangan dengan transisi gambar sangat cepat dengan warna cahaya yang mencolok, membuat mata bekerja ekstra keras untuk dikirim ke otak dan dicerna di sana. Saat begini rentan dan mudah terkena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;photosensitive epilepsy&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara liputan investigatif apalagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reality show&lt;/span&gt; banyak memiliki sisi kelam. Acara yang mengangkat kisah nyata tentang kehidupan beserta pernak-perniknya sebenarnya tidak nyata dan sudah diset oleh produser dengan seperangkat kru lewat skrip kreatif. Tayangan-tayangan aneh yang sepertinya tak akan ada di dunia nyata tapi bisa tampil di tv, semua itu ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;makelarnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;broker&lt;/span&gt; khusus yang menyediakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;talent&lt;/span&gt; sampai eksekusi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shooting&lt;/span&gt;. Mau liputan investigatif apalagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reality show&lt;/span&gt;, semua bisa disediakan berdasarkan skrip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayaran masing-masing &lt;span style="font-style: italic;"&gt;talent&lt;/span&gt; berkisar antara Rp 25.000 s.d. Rp 250.000, tergantung atas kelihaiannya dalam berakting (&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;baca&lt;/span&gt;: menipu pemirsa). Ketika program acara disodorkan ke televisi, harga jelas di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;generate&lt;/span&gt; dalam sebuah paket tayangan dan tidak dijabarkan secara rinci. Kecuali bila diminta, namun sangat jarang. Elemen harga termahal adalah konsep dan ide kreatif (&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;baca&lt;/span&gt;: seluk-beluk menipu pemirsa hingga kecanduan menonton acara model begini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bak membuat film, sebuah adegan yang ter-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;captured&lt;/span&gt; kamera bisa disuruh ulang apabila gambar tak bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di studio juga sama. Apabila bangku penonton di dalam studio tak terisi penuh, ini jelas merusak gambar. Untuk menyiasatinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;broker&lt;/span&gt; khusus penonton menyediakan pemirsa studio bayaran yang bisa disuruh-suruh produser. Disuruh teriak, mencemooh, tepuk-tangan, ikut aktif dalam acara, pokoknya apa saja. Istilahnya PSK (Penonton Studio Komersial), dibayar oleh televisi dengan bayaran Rp 50.000 perorang untuk tiap acara, tapi oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;broker&lt;/span&gt; sudah dipotong dan para PSK hanya menerima Rp 20.000 s.d. 30.000 saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kejujuran dalam tayangan&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; model begini, tanpa harus menyebut program acara apalagi stasiun televisinya, semua yang ada sudah teratur dan terencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liputan kriminal lebih menyeramkan lagi, jurnalis di lapangan bisa mengarahkan polisi saat penggerebekan. Tersangka bisa diarahkan untuk dipukuli massa, bahkan ditembak mati di lokasi dengan alasan biar gambar bagus dan mencengangkan pemirsa. Polisi sudah mahfum dengan hal-hal begini, hanya polisi bodoh saja yang mau menuruti kemauan jurnalis bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam televisi, pemirsa disuguhi acara sampah yang jauh dari mencerdaskan. Sedikit sekali yang benar-benar dekat dengan pengetahuan. Kebohongan, kepalsuan, kemunafikan, kekerasan, itulah yang disuguhkan oleh televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, sebagai orang yang pernah ada dalam lingkaran dunia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;broadcasting&lt;/span&gt;, terpaksa harus saya bongkar segala kepalsuan ini. Toh kita senang dibohongi, dan itulah yang jadi komoditi televisi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-6277109256962902745?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/6277109256962902745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/03/dunia-palsu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6277109256962902745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6277109256962902745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/03/dunia-palsu.html' title='Dunia Palsu'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S6LcJOtkgYI/AAAAAAAAAGM/OXQrrUGLQG0/s72-c/Pokemon.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-3065624788486572231</id><published>2010-03-18T18:50:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T21:43:13.308-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mengupas Habis Rating &amp; Share Televisi</title><content type='html'>Oleh: &lt;a href="http://luqmanhakim.multiply.com/"&gt;Luqman Hakim&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Wah keren lho, acara 'anu' ratingnya sampe 9..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omongan yang kerap dibincangkan ketika membicarakan acara televisi. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating&lt;/span&gt; juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;share&lt;/span&gt; di dunia televisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rating: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jumlah pemirsa&lt;br /&gt;–––––––––––––––– X 100%&lt;br /&gt;Populasi Penduduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu terhadap populasi atau suatu target populasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Share:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pemirsa pada channel tertentu&lt;br /&gt;––––––––––––––––––––––––– X 100%&lt;br /&gt;Jumlah total pemirsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * * * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bertambah pusing dengan rumus di atas, mari kita bahas pertanyaan paling dasar tentang televisi; Mengapa stasiun televisi kerap berpedoman pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;share&lt;/span&gt; sebagai barometer dari kesuksesan sebuah acara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekilas Abstrak Rating &amp;amp; Share &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya teman yang kerja di stasiun televisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tanyakan apa itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;share&lt;/span&gt;, tanyakan sejelas mungkin sampai kita benar-benar mengerti istilah ini. Tanyakan saja sebagai orang awam yang tak mengerti istilah 'aneh' dunia televisi. Berani dijamin, tak semua orang yang bekerja di stasiun televisi mengerti benar tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;share&lt;/span&gt; kecuali mereka yang memang ada di divisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;programming&lt;/span&gt; yang biasa mengurus penempatan slot acara, terutama juga yang ada di departemen riset yang memaparkan fakta data &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating &amp;amp; share&lt;/span&gt; untuk ditindaklanjuti keberlangsungan program acara, pun para eksekutif produser, produser dan asisten produser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi keharusan seorang eksekutif produser, produser dan asisten produser mengerti benar istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;share&lt;/span&gt; agar mahfum, apakah acara yang dikelolanya masuk kategori ditonton atau diacuhkan pemirsa. Sudah menjadi kewajibannya juga bagi para manajer apalagi direksi mengerti istilah ini untuk menentukan kebijakan ekspansi atau malah memberangus sebuah acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Rabu, AGB Nielsen lembaga riset yang mengkhususkan diri pada Survey Kepemirsaan Televisi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Television Audience Measurement &lt;/span&gt;–&lt;span style="font-style: italic;"&gt; TAM)&lt;/span&gt; mengucurkan data statistik ke 10 stasiun televisi nasional minus TVRI. 10 stasiun televisi terestrial (sebutan untuk tv yang siarannya sampai ke seluruh Indonesia) antara lain; RCTI, SCTV, Trans TV, Indosiar, TPI, Trans 7, tvOne, Global TV, ANTV dan Metro TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kebetulan perusahaan yang membuat Survey Kepemirsaan Televisi di Indonesia yang dipercaya oleh stasiun televisi di Indonesia hanya AGB Nielsen. Entah percaya atau terpaksa percaya, karena tidak ada perusahaan survey riset sejenis yang mampu melakukannya dengan sangat kompleks dan lengkap seperti AGB Nielsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Siapa AGB Nielsen? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img class="alignright" src="http://images.luqmanhakim.multiply.com/image/jGNRseitBnLgq-C6UI9SfA/photos/1M/300x300/546/logo.gif?et=SB%2Ch8AUFtCrqOzt7sSK0KA&amp;amp;nmid=0" border="0" /&gt;AGB Nielsen adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;joint venture&lt;/span&gt; antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;VNU-Media Measurement &amp;amp; Information&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Audits of Great Britain&lt;/span&gt; Group (AGB Group) dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nielsen Media Research&lt;/span&gt;-nya yang berdiri Maret 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah AGB-Nielsen Media Research Indonesia resmi beroperasi sebagai badan hukum di Indonesia untuk bisnis Survey Kepemirsaan Televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelumnya di tahun 1976 Nielsen sudah masuk ke Indonesia dan bergabung dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Survey Research Indonesia&lt;/span&gt; dalam bagiannya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Survey Research Group&lt;/span&gt; yang mendata informasi dan pelayanan media cetak dan elektronik untuk keperluan industri periklanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1991, ketika televisi swasta nasional baru ada tiga, RCTI (1989), SCTV (1990), TPI (1991), Nielsen menawarkan jasa Survey Kepemirsaan Televisi untuk memudahkan televisi swasta nasional mendapatkan kue dari bisnis iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1994, Nielsen mengambil-alih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Survey Research Group&lt;/span&gt; dan bisnis Survey Kepemirsaan Televisi jadi bagian dari Departemen Media AC Nielsen Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah di tahun 2005 nama AC Nielsen sedikit berganti menjadi AGB Nielsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada 30 negara yang sudah didatangi oleh AGB Nielsen dalam melakukan kegiatan Survey Kepemirsaan Televisi, yaitu; Australia, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Armenia, Azerbaijan, Kroasia, Cyprus, Georgia, Yunani, Hungaria, Irlandia, Italia, Macedonia, Moldova, Polandia, Serbia, Slovenia, Swedia, Turki, Libanon, Afrika Selatan, Republik Dominika, Meksiko, Puerto Rico dan Venezuela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Penentuan Populasi Data oleh AGB Nielsen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGB Nielsen membagi populasi data pada 2273 rumahtangga koresponden yang tersebar di 10 kota besar Indonesia&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Surabaya dan sekitarnya (Gerbangkertasusila)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bandung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semarang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Medan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Makassar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yogyakarta dan sekitarnya (DIY, Sleman &amp;amp; Bantul)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Palembang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Denpasar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banjarmasin&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt;:&lt;/b&gt; AGB Nielsen Peoplemeter Technology, January 2010 (&lt;a href="http://www.agbnielsen.net/aboutus/aboutus.asp" target="_blank"&gt;agbnielsen.net&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sungguh aneh, apabila data yang diambil dari kota besar berdasarkan tingkat populasi penduduk terbanyak, seharusnya riset diambil dari kota berdasarkan urutan penduduk terbanyak seperti data di bawah ini&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table width="358" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: right;" valign="top" width="28" nowrap="nowrap"&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt;7.&lt;br /&gt;8.&lt;br /&gt;9.&lt;br /&gt;10.&lt;br /&gt;11.&lt;br /&gt;12.&lt;br /&gt;13.&lt;br /&gt;14.&lt;br /&gt;15.&lt;br /&gt;16.&lt;br /&gt;17.&lt;br /&gt;18.&lt;br /&gt;19.&lt;br /&gt;20.&lt;br /&gt;21.&lt;br /&gt;22.&lt;br /&gt;23.&lt;br /&gt;24.&lt;br /&gt;25.&lt;br /&gt;26.&lt;br /&gt;27.&lt;br /&gt;28.&lt;br /&gt;29.&lt;br /&gt;30.&lt;br /&gt;31.&lt;br /&gt;32.&lt;br /&gt;33.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="260" nowrap="nowrap"&gt;Jawa Barat - Bandung&lt;br /&gt;Jawa Timur - Surabaya&lt;br /&gt;Jawa Tengah - Semarang&lt;br /&gt;Banten - Serang&lt;br /&gt;DKI Jakarta&lt;br /&gt;Sumatera Utara - Medan&lt;br /&gt;Sulawesi Selatan - Makassar&lt;br /&gt;Lampung&lt;br /&gt;Sumatera Selatan - Palembang&lt;br /&gt;D.I. Aceh&lt;br /&gt;Riau - Pekanbaru&lt;br /&gt;Sumatera Barat - Padang&lt;br /&gt;Nusa Tenggara Timur - Kupang&lt;br /&gt;Nusa Tenggara Barat - Mataram&lt;br /&gt;Kalimantan Barat - Pontianak&lt;br /&gt;Bali - Denpasar&lt;br /&gt;D.I. Yogyakarta&lt;br /&gt;Kalimantan Selatan - Banjarmasin&lt;br /&gt;Kalimantan Timur - Samarinda&lt;br /&gt;Jambi&lt;br /&gt;Sulawesi Tengah - Palu&lt;br /&gt;Sulawesi Utara - Manado&lt;br /&gt;Sulawesi Tenggara - Kendari&lt;br /&gt;Kalimantan Tengah - Palangkaraya&lt;br /&gt;Papua - Jayapura&lt;br /&gt;Bengkulu&lt;br /&gt;Kepulauan Riau - Tanjung Pinang&lt;br /&gt;Maluku - Ambon&lt;br /&gt;Kepulauan Bangka Belitung - Pangkal Pinang&lt;br /&gt;Sulawesi Barat - Mamuju&lt;br /&gt;Gorontalo&lt;br /&gt;Maluku Barat - Ternate&lt;br /&gt;Papua Barat - Manokwari &lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="70" align="right" nowrap="nowrap"&gt;(38.965.440)&lt;br /&gt;(36.294.280)&lt;br /&gt;(31.977.968)&lt;br /&gt;(9.028.816)&lt;br /&gt;(8.860.381)&lt;br /&gt;(12.450.911)&lt;br /&gt;(7.509.704)&lt;br /&gt;(7.116.177)&lt;br /&gt;(6.782.339)&lt;br /&gt;(5.201.002)&lt;br /&gt;(4.579.219)&lt;br /&gt;(4.566.126)&lt;br /&gt;(4.260.294)&lt;br /&gt;(4.184.411)&lt;br /&gt;(4.052.345)&lt;br /&gt;(3.383.572)&lt;br /&gt;(3.343.651)&lt;br /&gt;(3.281.993)&lt;br /&gt;(2.848.798)&lt;br /&gt;(2.635.968)&lt;br /&gt;(2.294.841)&lt;br /&gt;(2.128.780)&lt;br /&gt;(1.963.025)&lt;br /&gt;(1.914.900)&lt;br /&gt;(1.875.388 )&lt;br /&gt;(1.549.273)&lt;br /&gt;(1.274.848)&lt;br /&gt;(1.251.539)&lt;br /&gt;(1.043.456)&lt;br /&gt;(969.429)&lt;br /&gt;(922.176)&lt;br /&gt;(884.142)&lt;br /&gt; (643.012)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Sumber&lt;/u&gt;:&lt;/b&gt; BPS Number of Population by Province, 2005 (&lt;a href="http://www.datastatistik-indonesia.com/component/option,com_tabel/kat,1/idtabel,111/Itemid,165/" target="_blank"&gt;datastatistik-indonesia.com&lt;/a&gt;) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diketahui pasti alasan Nielsen mengapa membagi data populasi pada 10 kota besar yang tak runut berdasarkan jumlah penduduk terbanyak. Apabila memang diambil berdasarkan jumlah populasi terbesar, harusnya Denpasar, Banjarmasin, DI Yogyakarta tidak masuk dalam hitungan, yang masuk adalah DI Aceh, Riau, Padang juga Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat, yang diukur dalam Survey Kepemirsaan Televisi oleh AGB Nielsen hanya untuk televisi terrestrial alias televisi dengan jaringan siaran nasional, adapun televisi lokal tidak masuk dalam hitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rahasia Penghitungan Rating &amp;amp; Share&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koresponden AGB Nielsen tersebar di 10 kota besar Indonesia dan dibagi berdasarkan SES (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Social Economic &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S6LaBXTdUHI/AAAAAAAAAGE/gqW3LhglDCU/s1600-h/localpe1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 207px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S6LaBXTdUHI/AAAAAAAAAGE/gqW3LhglDCU/s320/localpe1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450158216042074226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Status&lt;/span&gt;) kelas A, B, C, D dan E. Tidak diketahui pasti dasar pembagian tersebut, berapa banyak koresponden dari masing-masing kelas, Nielsen hanya mengatakan bahwa tingkat penyebaran panel didasarkan pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Establishment Survey&lt;/span&gt; (ES) di 10 kota besar. Dari sini dilakukanlah pembagian SES berdasarkan populasi yang persentasenya tidak sama antara kelas A, B, C, D dan E. Data yang diambil adalah pola kebiasaan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai korespondennya siapa saja, Nielsen memberi batasan bahwa koresponden yang diambil adalah bukan orang televisi dan periklanan, baik secara langsung ataupun tidak langsung yang memiliki hubungan teman atau tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Survey Kepemirsaan Televisi yang dilakukan Nielsen, mereka memberikan alat survey elektronik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;peoplemeter&lt;/span&gt;) pada 2273 rumah tangga koresponden untuk dipasang di televisi yang ditonton dan untuk nantinya dipakai sebagai dasar pengukuran kebiasaan menonton televisi. Pembantu, sopir, satpam, tamu dan yang tidak terdaftar sebagai anggota rumah tangga koresponden tidak akan diukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peoplemeter&lt;/span&gt; akan mengambil data pada koresponden ketika menonton televisi, jumlah penonton televisi di sekitar dengan tingkatan umur. Ada alat seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;remote control&lt;/span&gt; yang berisi tombol-tombol, seperti tombol 1 untuk ayah, tombol 2 untuk ibu dan sebagainya. Alat ini terhubung langsung ke kantor AGB Nielsen melalui sinyal GSM, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Magnetic Media&lt;/span&gt; (CD) pun FTP untuk mencatat aktivitas dan perilaku pemirsa dalam rumah tangga koresponden. Saat mengganti channel, alat itu kembali menanyakan data penonton, begitu pula jika selesai menonton televisi, tombol untuk mematikan pengukuran harus ditekan sebagai tanda tidak diukur lagi. Cukup merepotkan, tapi itu sudah menjadi resiko dari koresponden AGB Nielsen, toh ada imbalan tertentu bila menjadi koresponden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang terkumpul oleh AGB Nielsen diolah dengan software statistik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Ariana'&lt;/span&gt;, data yang diolah adalah data-data berupa pemirsa, demografi, program yang ditonton, iklan, juga saat mengganti-ganti acara. Hasilnya berupa data kepemirsaan, data rumahtangga dan demografi responden, serta data perpindahan channel yang ditonton per menit dari panel rumahtangga yang telah diproses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kelihatan (agak) sedikit transparan di mata klien terhadap metode penghitungannya, Nielsen memberikan kesempatan bagi orang televisi untuk mengetahui validitas penghitungan dengan langsung melihat lokasi di lapangan, memantau langsung di lokasi apa yang dilakukan korespondennya. Tapi tetap dengan catatan, orang dari televisi itu tidak diperkenankan untuk mengenalkan diri pada koresponden dan menyebutkan identitas dirinya berasal dari stasiun televisi mana. Ditakutkan orang dari televisi tertentu bisa mempengaruhi kebiasaan menonton koresponden Nielsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana orang televisi tersebut bisa melihat secara langsung perilaku koresponden dalam mengikuti pengambilan data riset Survey Kepemirsaan Televisi, pun alasan-alasan kenapa acara itu yang ditonton.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-3065624788486572231?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/3065624788486572231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/03/mengupas-habis-rating-share-televisi.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3065624788486572231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3065624788486572231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/03/mengupas-habis-rating-share-televisi.html' title='Mengupas Habis Rating &amp; Share Televisi'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S6LaBXTdUHI/AAAAAAAAAGE/gqW3LhglDCU/s72-c/localpe1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-2143221092451053958</id><published>2010-02-23T23:41:00.000-08:00</published><updated>2010-03-18T21:45:48.750-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sharing'/><title type='text'>Tentang Televisi, yang Makin Tak Bisa Diandalkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S4TcP3OcNcI/AAAAAAAAAF8/TI6aw7iiyhk/s1600-h/sad-tv.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 247px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S4TcP3OcNcI/AAAAAAAAAF8/TI6aw7iiyhk/s320/sad-tv.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441716414851069378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh: &lt;a href="http://akuhayu.wordpress.com/"&gt;Hayu Hamemayu &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="entry-content"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Saya sudah sering mengeluh tentang televisi. Tapi kali ini saya ingin mengeluh lagi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini tentang ketidakmampuan televisi menjawab kebutuhan dasar saya, atas informasi, dan juga hiburan. Awalnya saya masih mengira bahwa televisi mampu menjadi penyedia hiburan yang cukup ampuh. Kotak ajaib yang bisa menghapus lelah dan gundah di kala luang. Tapi ternyata saya salah. Televisi tak cuma tak pandai dalam menyampaikan informasi, tapi juga gagal dalam menghibur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana tidak? Tayangan apa yang bisa menghibur saya saat ini ketika televisi didominasi oleh acara-cara tidak bermutu yang membosankan dan begitu-begitu saja. Berita yang monoton. &lt;em&gt;Reality show&lt;/em&gt; yang sok menggurui. Sinetron yang aktingnya pas-pasan dan adegannya menangis saja. Hingga tayangan komedi yang terus-terusan merusak properti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-460"&gt;&lt;/span&gt;Mulanya ada beberapa tayangan yang bisa saya andalkan. Macam &lt;em&gt;Ninja Warrior, America’s Got Talent&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;TV Champion&lt;/em&gt;. Tapi lagi-lagi saya harus kecewa karena jadwal yang tidak menentu dan diubah-ubah sesuka hati stasiun televisi. Tak lagi bisa saya melihat acara yang cukup menarik dan apik dalam kacamata hiburan itu. Lalu apa yang saya dapat dari media yang penetrasinya paling besar di Indonesia ini? Jangankan informasi, hiburan saja sudah tak bisa dinikmati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belum soal “kepandaian” televisi dalam “mengajari” masyarakat sehingga orang sekarang bangga sekali jika kesedihan dan ruang privatnya diekspose di media. Mereka berlomba-lomba menangis, meratap, dan media memberikan ruang (yang sangat lebar) untuk itu. Bahkan ketika ratapan dan tangisan itu hanya untuk sekedar eksistensi, bukan untuk mencari dukungan atau meraih simpati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang kemudian berbondong-bondong meniru, mengikuti apa yang mereka lihat di televisi. Kasus yang paling sering terjadi saat ini adalah soal kenakalan anak kecil (biasanya SD) yang berujung ke pengadilan. Entah dengan motivasi apa, orang tua zaman sekarang gemar sekali mengadukan perkelahian anaknya hingga pengadilan. Meskipun itu hanya gara-gara ketidaksengajaan atau ejek-ejekan khas anak kecil. Misal memanggil dengan nama bapak atau mengejek nama orang tua. Suatu hal yang sangat umum terjadi di saat kita SD atau SMP.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya masih ingat benar, ketika saya sekolah dulu, saya dibilang anak dalang karena nama bapak saya Sugito, hampir sama dengan nama dalang terkenal di masa itu: Hadi Sugito. Bahkan saat SMA, David, salah seorang sahabat saya “memfitnah” saya dengan mengatakan bahwa bapak saya adalah calon bupati Gunungkidul. Gara-garanya, nama salah satu kandidat calonnya adalah Sugito, meskipun bukan Sugito bapak saya. Tapi saya tidak marah, saya hanya ketawa-ketawa. Bahkan bapak saya pun tak tersinggung. Meski dia tahu benar apa yang menjadi permainan anaknya. Begitu juga dengan teman saya yang lain, dengan orang tua dan panggilan mereka masing-masing.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lain dengan orang tua sekarang yang gemar sekali mengajak anaknya ke meja hijau untuk permasalahan yang menurut saya kadang terlalu sepele, bisa diselesaikan tanpa pengadilan. Mereka tidak mempertimbangkan kondisi psikologis anak, yang belum akil baliq saja sudah dilabeli sebagai terdakwa. Saya dengar, ada anak yang sampai stres, pingsan dan muntah-muntah segala. Kasihan, dalam kasus ini, justru anak yang jadi korban. Sementara orang tua sibuk sok-sokan menuntut tanpa mempedulikan duduk perkara yang sebenarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut saya, hal ini salah satunya disebabkan oleh apa yang mereka tonton di televisi. Ketika televisi menayangkan kasus-kasus seperti itu, mereka jarang menggulirkan wacana bahwa sebenarnya hal-hal seperti ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan saja. Misal dengan meminjam komentar ahli, psikolog anak atau hakim sendiri yang sering menekankan bahwa kasus-kasus seperti ini tidak perlu dibawa ke pengadilan. Media terutama televisi justru gencar memberitakan, mengekspos muka si anak dan menggembar-gemborkan informasi tentang kenakalan anak tanpa mempertimbangkan beban anak yang masih sangat belia tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rupa-rupanya, selain tak lagi bisa diandalkan, televisi juga masih memberi dampak negatif bagi masyarakat. Meski studi tentang audiens pasif telah lama dikritik dan ditinggalkan, bagi saya, barangkali kemungkinan adanya tipe masayarakat yang seperti itu masih perlu kita kaji lagi. Karena ternyata, media tak hanya punya dampak bagi anak-anak tapi juga untuk orang dewasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;note:&lt;br /&gt;gambar dipinjam dari &lt;a href="http://dailyinternetdigest.com/wp-content/uploads/2007/12/sad-tv.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-2143221092451053958?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/2143221092451053958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/02/tentang-televisi-yang-makin-tak-bisa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2143221092451053958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2143221092451053958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/02/tentang-televisi-yang-makin-tak-bisa.html' title='Tentang Televisi, yang Makin Tak Bisa Diandalkan'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S4TcP3OcNcI/AAAAAAAAAF8/TI6aw7iiyhk/s72-c/sad-tv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-1572384269419629075</id><published>2010-02-23T18:14:00.000-08:00</published><updated>2010-02-23T18:25:51.364-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sharing'/><title type='text'>Catatan Perjalanan Mendongeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S4SMuySrcYI/AAAAAAAAAF0/d9ig_MNAzH0/s1600-h/sidik+mendongeng2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 278px; height: 185px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S4SMuySrcYI/AAAAAAAAAF0/d9ig_MNAzH0/s320/sidik+mendongeng2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441628985172390274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dongeng,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir sebulan (bahkan "setahun") menunaikan amanah mendongeng&lt;br /&gt;keliling di Jogja, barulah saya berkesempatan menuliskan laporan ringkas ini,&lt;br /&gt;sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai pendongeng ...:-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dongeng keliling (selanjutnya ditulis DK) terwujud atas undangan&lt;br /&gt;penuh cinta dari mbak Yusi, pendiri Perpustakaan Keliling Bali, serta dukungan&lt;br /&gt;penuh dari komunitas sanggar baca (Harapan Mulia-Bantul, Brayat Pesing - Kulon&lt;br /&gt;Progo,Bukit Hijau-Bantul, Rumah Pelangi-Muntilan, Omah Ngisor-Magelang). Kami&lt;br /&gt;bertiga (saya, mbak Yusi, mbak Susan asal Inggris) menghampiri sekaligus&lt;br /&gt;menghibur anak-anak di beberapa sanggar di atas, dengan dongeng dan kegiatan&lt;br /&gt;mewarnai.Kami pun juga berbagi ilmu dan pengalaman dengan para relawan di sana,&lt;br /&gt;seputar pengelolaan taman baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perjalanan DK tersebut,saya sampaikan beberapa catatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Taman baca yang dipadukan dengan sanggar kesenian, merupaan kombinasi yang&lt;br /&gt;tepat dalam "menggiring" minat baca anak-anak dan remaja. Aneka aktivitas&lt;br /&gt;terkait membaca, dilakukan seiring dengan aneka aktivitas kesenian, yang&lt;br /&gt;tampaknya merupakan ciri khas sekaligus kebanggaan tersendiri bagi tiap-tiap&lt;br /&gt;sanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Peran serta para relawan kesenian yang sekaligus sebagai relawan baca,&lt;br /&gt;mengukuhkan dan mengikat anak-anak untuk selalu datang ke sanggar. Berlatih&lt;br /&gt;menari, melukis, bermain musik, menonton video bersama-sama, menjadi kegiatan&lt;br /&gt;keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mestinya menjadi "cambuk" bagi pengelola taman baca yang belum/tidak&lt;br /&gt;menggabungkan kegiatan seni dengan kegiatan membaca, untuk melengkapi&lt;br /&gt;taman/rumah baca menjadi sebuah sanggar seni sekaligus taman baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Semangat untuk saling belajar sekaligus "bertukar" relawan demi langgengnya&lt;br /&gt;kegiatan sanggar, juga terlihat. Mas Anto dari sanggar Omah Ngisor, misalnya,&lt;br /&gt;rela menempuh perjalanan jauh untuk membagikan ilmu kepada pengelola sanggar&lt;br /&gt;lain di sekitar lereng Merapi. Demikian pula mas Gunawan, pengelola sanggar&lt;br /&gt;Rumah Pelangi, kerap bertandang ke beberapa lokasi yang cukup jauh, untuk&lt;br /&gt;merancang dan mewujudkan kegiatan kesenian massal gabungan beberapa sanggar&lt;br /&gt;taman baca.&lt;br /&gt;Luar biasa !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mendongeng, merupakan aktivitas "selingan" yang menarik minat anak-anak.&lt;br /&gt;Demikian pula bagi para relawannya, yang sebagian tidak percaya diri bila&lt;br /&gt;diminta mendongeng. Alhamdulillah, kami bisa berbagi pengalaman dan menumbuhkan&lt;br /&gt;minat mereka untuk tampil mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, "amunisi" mendongeng yang sudah saya siapkan sejak dari Jakarta, juga&lt;br /&gt;menarik minat mereka, karena saya membuat sendiri pernak-pernik dongeng dari&lt;br /&gt;bahan-bahan di sekitar rumah. Guntingan kertas, tusuk gigi, serbuk teh, piala&lt;br /&gt;imitasi, topi, sudah bisa dimanfaatkan sebagai alat mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pertukaran koleksi bacaan antar taman baca, seperti yang selama ini telah&lt;br /&gt;dilakukan oleh mbak Yusi di Bali, turut menambah gairah para relawan. Secara&lt;br /&gt;bergilir (setiap 2 bulan),koleksi bacaan baru yang sudah dikemas rapi dalam&lt;br /&gt;kotak plastik besar, diantarkan langsung ke sanggar lain. Pertukaran koleksi&lt;br /&gt;antar sanggar telah dikoordinasikan dengan baik oleh mas Gunawan dari Rumah&lt;br /&gt;Pelangi.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kota-kota lain ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan laporan ringkas diatas memberikan inspirasi dan wawasan tambahan&lt;br /&gt;bagi rekan-rekan pengelola taman baca dan perpustakaan dimanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, sebagaimana biasanya, saya menawarkan diri untuk mendongeng gratis&lt;br /&gt;bagi taman baca dan panti asuhan di seputar Jakarta, di akhir pekan&lt;br /&gt;(sabtu-minggu)atau sesudah jam kerja. Kirimkan saja SMS ke 0815 8604 9900 untuk&lt;br /&gt;permintaan mendongeng. Tak perlu dijemput..;-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/notifications.php#%21/sidikb"&gt;Sidik Budiyanto&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pendongeng Keliling&lt;br /&gt;Ketua Dompet Sosial Al Kautsar (DSAK) - Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;gambar diambil dari facebook Pak Sidik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-1572384269419629075?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/1572384269419629075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/02/catatan-perjalanan-mendongeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1572384269419629075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1572384269419629075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/02/catatan-perjalanan-mendongeng.html' title='Catatan Perjalanan Mendongeng'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S4SMuySrcYI/AAAAAAAAAF0/d9ig_MNAzH0/s72-c/sidik+mendongeng2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-5530910794190819998</id><published>2010-02-18T18:46:00.000-08:00</published><updated>2010-03-18T21:46:14.580-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Diperlukan Segera: Literasi Digital</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S338QKFD1lI/AAAAAAAAAFs/-qJnEEB1bMo/s1600-h/kids_on_facebook.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 236px; height: 236px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S338QKFD1lI/AAAAAAAAAFs/-qJnEEB1bMo/s320/kids_on_facebook.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439781279447111250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: &lt;a href="http://duniakreatif.multiply.com/"&gt;Wisnu Martha Adiputra&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini kita dikejutkan dengan dua peristiwa yang berkaitan dengan Facebook. Peristiwa tersebut adalah prostitusi terselubung yang melibatkan perempuan-perempuan di bawah umur dan “penculikan” perempuan muda. Sebagian pihak menyalahkan Facebook sebagai sarana terjadinya tindak kejahatan. Sebagian lagi menyalahkan anak-anak muda yang terlalu naif dalam berinteraksi dengan orang lain yang masih asing. Sementara sebagian yang terakhir menyalahkan pengawasan orang tua yang kurang intens pada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis, semua pihak mesti bertanggung-jawab dalam beberapa kejadian yang melibatkan media baru, terutama internet, belakangan ini. Kecenderungan yang terjadi saat ini, terutama terbaca di media televisi, kita menyalahkan Facebook. Pengambinghitaman ini adalah sesuatu yang kurang tepat. Facebook bukanlah akar permasalahan yang sebenarnya. Lebih luas lagi, internet bukanlah permasalahan sebenarnya. Seperti halnya jenis media yang lain, baik itu media “lama” (majalah, suratkabar, radio, dan televisi), ataupun media “baru” (internet, game, dan handphone), semuanya potensial berdampak positif ataupun negatif. Tergantung dari penggunanya dan motif-motif yang melatarbelakanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab utama dari penyalahgunaan media baru adalah ketidakpahaman dan ketiadaan kecakapan dalam berinteraksi dengannya. Kini kita sebagai masyarakat memerlukan literasi digital agar dapat mengakses media baru dengan lebih baik dan efektif. Apa itu literasi digital? Secara singkat literasi digital dapat didefinisikan sebagai ragam keterampilan atau kecakapan yang diperlukan oleh seorang individu ketika mengakses media baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literasi digital merupakan perkembangan lebih jauh dari dua jenis literasi lain yang telah dikenal sebelumnya, literasi dan literasi media. Literasi adalah kecakapan yang berhubungan dengan media cetak. Pengakses yang memiliki tingkat literasi yang bagus akan lebih mungkin membaca, menulis, dan memahami konvensi dalam media cetak dengan lebih baik. Literasi seringkali disebut sebagai melek huruf. Pada masa lalu literasi dianggap sebagai indikator kemajuan sebuah masyarakat. Kemampuan baca tulis adalah salah satu penanda penting tingkat pembangunan di sebuah negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, literasi media yang dikembangkan dari konsepsi literasi, adalah kecakapan individu dalam mengakses media audio-visual, terutama televisi. Literasi media melihat bahwa rangkaian isi pesan media melalui gambar dan suara yang ditata sedemikian rupa tidak dapat menggunakan literasi. Literasi media di dalam bahasa Indonesia seringkali disebut dengan nama melek media. Kini literasi media berkembang dengan pesat di berbagai negara. Di Kanada dan Amerika Serikat, pengetahuan mengenai literasi dan literasi media bahkan masuk di dalam kurikulum sekolah dasar. Kedua negara tersebut sudah menyadari bahwa pemahaman atas media cetak dan media audio-visual mesti diteguhkan secara formal karena begitu pentingnya pemahaman atas media pada masa sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini di banyak negara di seluruh dunia, pemahaman mengenai literasi digital berusaha disebarkan dengan cepat karena dampak penggunaan media baru sudah sangat terasa. Literasi digital sendiri tidak memiliki nama yang sama di berbagai kalangan. Literasi digital bisa disebut literasi media baru (new media literacy), dan juga literasi komputer. Hal yang terpenting, apa pun namanya, jenis literasi terbaru ini memiliki prinsip bahwa pesan media baru itu konvergen atau bisa diakses dari banyak jenis media baru, proses komunikasi yang terjadi adalah proses multi arah, dan memperpendek ruang dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literasi digital diperkuat lagi dengan perkembangan teknologi internet yang telah mengarah pada perubahan mendasar yang menyatukan jaringan sosial di dunia nyata dan dunia maya. Karakter penyatuan tersebut hadir dalam web 2.0 (atau lebih). Media baru sekarang semakin menyatukan kehidupan sosial dan kehidupan virtual individu. Pesan media baru kini juga kebanyakan diproduksi oleh individu. Individu saling bertukar berita dan cerita yang berpotensi “mengganggu” kemapanan media arus utama. Kini lahirlah di media baru, varian lain jurnalisme, yang disebut sebagai peer to peer journalism dan citizen journalism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak adalah pengguna media baru yang cenderung belum tinggi tingkat kecakapannya sehingga rentan menerima interaksi yang multi arah tadi. Di dalam media lama atau media konvensional, datangnya pesan bisa diduga walaupun banyak. Sementara di dalam media baru, seperti Facebook di internet, pesan itu bisa hadir dari mana saja dan cenderung tidak terduga, baik jumlah dan arahnya. Bila tidak cakap, tidak hati-hati dan diawasi dengan baik, anak-anak adalah pengakses yang rentan terhadap efek negatif media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literasi digital seperti halnya kedua jenis literasi yang lain, perlu pula untuk diperluas menjadi urusan kolektif walaupun awalnya lebih ditujukan untuk individu. Hal ini terutama ditujukan untuk anak-anak yang belum lengkap kemampuannya dalam mengakses media baru. Dalam urusan mengakses internet, anak-anak seharusnya ditemani oleh para orang-tua untuk di sekolah dan para guru di sekolah.&lt;br /&gt;Orang-tua dan guru adalah mitra anak-anak dalam mengakses media bukan pihak yang berbeda. Ironisnya, orang-tua dan guru belum menganggap menemani anak-anak bermedia sebagai aktivitas yang penting dan bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga ragam literasi sudah kita perlukan secara mendesak, terutama literasi digital. Literasi digital diperlukan untuk mengarungi samudera pesan media baru. Literasi digital diperlukan bagi anak-anak kita dalam “berenang” di media baru agar mendapatkan manfaat darinya. Anak-anak juga memerlukan orang dewasa sebagai mitra mengakses media. Tetapi, apakah itu mungkin, sementara ada orang-tua yang memiliki anak usia sekolah dasar membiarkan anaknya membuka account Facebook? Sebab individu sebenarnya baru boleh membuka account Facebook ketika berusia tiga belas tahun ke atas sesuai ketentuan pengelola Facebook dan tentunya rekomendasi dari para ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Opini ini dalam versi yang sedikit lebih singkat muncul di harian Kedaulatan Rakyat, 16 Februari 2010. Semoga literasi, literasi media, dan literasi digital semakin termasyarakatkan dengan baik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://images.google.co.id/imglanding?q=kid%20facebook&amp;amp;imgurl=http://www.momlogic.com/images/kids_on_facebook_are_dumb_pm-thumb-270x270.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://www.momlogic.com/2009/04/kids_on_facebook_are_dumb.php&amp;amp;usg=__NDoO7l0yD9xU7fjq6W_VCBrlML4=&amp;amp;h=270&amp;amp;w=270&amp;amp;sz=30&amp;amp;hl=id&amp;amp;itbs=1&amp;amp;tbnid=7S4MhTrDuYVj7M:&amp;amp;tbnh=113&amp;amp;tbnw=113&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dkid%2Bfacebook%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa%3DG&amp;amp;gbv=2&amp;amp;sa=G&amp;amp;start=11#tbnid=7S4MhTrDuYVj7M&amp;amp;start=15"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-5530910794190819998?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/5530910794190819998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/02/diperlukan-segera-literasi-digital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5530910794190819998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5530910794190819998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/02/diperlukan-segera-literasi-digital.html' title='Diperlukan Segera: Literasi Digital'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S338QKFD1lI/AAAAAAAAAFs/-qJnEEB1bMo/s72-c/kids_on_facebook.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-4125327207543706225</id><published>2010-01-31T05:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T05:59:42.002-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengumuman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[PENGUMUMAN] Pemenang Lomba Menulis Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca"</title><content type='html'>Akhirnya tiba juga saat yang kita nantikan bersama, pengumuman pemenang Lomba Menulis Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca" yang diselenggarakan atas kerjasama KOMPAK dan Lingkar Pena Publishing House!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya kami akan mengambil 3 pemenang utama dan 2 pemenang hiburan dari 26 artikel yang masuk. Namun ternyata kami menemui kesulitan karena seluruh artikel yang masuk ditulis dengan bagus, baik dari isi maupun penuturannya. "Beti alias beda tipis!" kata Mbak Deeyand Rahmadiyanti, CEO Lingkar Pena, yang menjadi juri untuk lomba kali ini. Karena "beti" itulah, akhirnya Mbak Dee meemutuskan untuk mengambil 3 pemenang utama dan 3 pemenang hiburan. Ini dia pemenangnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang:&lt;br /&gt;  1. Cinta Baca Sejak Dini (Syasya Azisya)&lt;br /&gt;  2. Panggung Imajinasi (Gita Lovusa)&lt;br /&gt;  3. Ayo Kenali Indonesia Lewat Dongeng dan Cerita Rakyat (Eka Nugraha Putra)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiburan:&lt;br /&gt;  1.  Negeri Warna-warni dan Pesannya (Umi Laila Sari)&lt;br /&gt;  2. Membuka Dunia Bersama di Kecil (Dian Arymami)&lt;br /&gt;  3. Cinta Dongeng Cinta Baca: Virus yang harus Ditularkan (Norma Widayati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat kami ucapkan kepada para pemenang. Mohon dapat mengirimkan alamat untuk pengiriman hadiah ke alamat email yang sama dengan alamat email pengiriman artikel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga mengucapkan terima kasih atas seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam lomba ini, semoga terus bersemangat berbagi untuk pendidikan anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam KOMPAK!&lt;br /&gt;Admin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-4125327207543706225?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/4125327207543706225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/01/pengumuman-pemenang-lomba-menulis.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4125327207543706225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4125327207543706225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/01/pengumuman-pemenang-lomba-menulis.html' title='[PENGUMUMAN] Pemenang Lomba Menulis Artikel &quot;Cinta Dongeng, Cinta Baca&quot;'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-8035170781102772964</id><published>2010-01-03T19:26:00.000-08:00</published><updated>2010-03-18T21:46:32.384-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Dicari: Televisi Peduli Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S0FgIBTo4rI/AAAAAAAAAFk/L-9C671i9ec/s1600-h/kid-and-tv_notext.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 234px; height: 195px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S0FgIBTo4rI/AAAAAAAAAFk/L-9C671i9ec/s320/kid-and-tv_notext.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422721117236814514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;oleh: &lt;a href="http://duniakreatif.multiply.com/"&gt;Wisnu Martha Adiputra&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="post_message"&gt;&lt;br /&gt;Ada yang ingat atau tahu dengan nama Heri Setyawan? mungkin hanya sedikit dari kita yang tahu. Heri Setyawan, 12 tahun, adalah pelajar kelas I SMP. Namanya tidak seterkenal Prita Mulyasari dan Luna Maya, dua orang yang menjadi korban dan hampir menjadi "martir" dari UU ITE yang “katro” itu. Nama Heri juga tidak sepenting nama presiden kita yang cengeng, yang sedikit sedikit mengeluh dan mengadu pada rakyatnya. Semestinya pemimpinlah yang menjadi tempat mengadu rakyatnya. Bukan sebaliknya. Walau nama Heri Setyawan tidak begitu terkenal bila dibandingkan dengan Prita, Luna Maya, dan nama presiden kita, tetapi nama Heri bisa menjadi penting bila kita menjadikannya sebagai tonggak pembenahan televisi (swasta) kita. Peristiwa yang berkaitan dengan Hery Setyawan adalah salah satu peristiwa media pada bulan Desember lalu yang menarik untuk didedah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heri Setyawan adalah korban terkini dari tayangan televisi. Berdasarkan keterangan polisi, Heri tewas karena kecelakaan yang terjadi akibat menirukan aksi Limbad. Limbad adalah bintang acara The Master, acara kompetisi para pesulap profesional di salah satu stasiun televisi, RCTI. Pada berbagai aksinya, Limbad sering melakukan atraksi yang spektakuler dan membahayakan. Walau lebih banyak muncul pada malam hari di atas pukul 22.00 WIB, Limbad juga hadir sebagai bintang tamu pada program acara di waktu yang mudah diakses oleh anak-anak walau pada pukul 22.00 ke atas pun anak-anak masih mungkin menonton bila orang-tua yang seharusnya bertanggung-jawab tidak mengawasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heri Setyawan adalah korban anak-anak kesekian sebagai akibat tayangan televisi yang tidak “sehat” bagi mereka. Belum lekang dalam ingatan kita, bagaimana acara Smackdown pada tahun 2004 dikecam habis-habisan oleh masyarakat karena menimbulkan korban jiwa dan luka-luka anak-anak yang tidak berdosa. Acara tersebut akhirnya dihentikan penayangannya setelah beberapa kali mengabaikan peringatan dari pihak berwenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban anak-anak ini adalah korban yang “riil”, artinya korban yang terluka ataupun meninggal dunia. Bagaimana dengan korban yang tidak riil? Misalnya anak-anak korban acara ngerjain beberapa tahun&lt;br /&gt;yang lalu, anak yang depresi karena dikerjain membawa narkoba ke sekolah. Atau bagaimana anak-anak yang “dipaksa” menyanyikan lagu-lagu dewasa pada kontes menyanyi lagu anak-anak? Efek negatifnya mungkin tidak terlihat secara langsung tetapi berpengaruh secara psikis dan dalam waktu yang lebih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, bila sudah timbul korban seperti ini, tidak ada pihak yang mau disalahkan atau bila tidak, berbagai pihak yang seharusnya bertanggung-jawab malah saling menyalahkan satu sama lain. Pihak RCTI misalnya, seperti diberitakan oleh Koran Tempo tanggal 17 Desember 2009, tidak ingin disalahkan karena telah mengklasifikasikan acara the Master sebagai tayangan untuk dewasa dan ditayangkan di atas pukul 22.00. seharusnya, pihak stasiun televisi juga mengawasi tayangannya dengan ketat dan jangan sampai tayangan yang tidak sesuai untuk anak-anak “merembes” ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah, seperti biasanya, tidak terdengar di dalam kasus meninggalnya Heri. Padahal untuk kasus yang lain, misalnya pelarangan buku, pemerintah terlampau cepat “bertindak” dan mengklasifikasikan buku yang dilarang sebagai hal yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Seharusnya pihak pemerintah membantu pihak berwenang lain, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), untuk mengawasi siaran televisi yang tidak sesuai untuk anak-anak dengan mensinergikan pengawasan tersebut pada pihak berwenang, semisal bidang pendidikan dan bidang budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dan lembaga negara atau masyarakat sipil yang mewakili kepentingan publik juga mesti memperhatikan “tayangan” pesan media yang lain, tidak hanya televisi. Kasus munculnya korban dari Smackdown dulu sebenarnya juga dipengaruhi oleh game konsol Smackdown yang mudah didapatkan dan dimainkan di rumah atau pun di arena bermain. Demikian juga pesan media yang lain. Perhatian harus terus ada walau hampir tidak mungkin mengawasi keseluruhan pesan media mengingat perkembangan teknologi komunikasi yang demikian canggih dan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara juga bisa merevitalisasi lembaga penyiaran publik yang telah digagas sejak tahun 2002. Bila memang “mendisiplinkan” televisi swasta begitu sulitnya, model penyiaran alternatif bisa dikembangkan, yaitu penyiaran publik dan juga penyiaran komunitas. Negara, atau pemerintah dalam skup lebih kecil, bisa memfasilitasi produksi pesan audio visual seperti pada masa lalu di mana fasilitasi oleh negara menghasilkan program acara bagus seperti Aku Cinta Indonesia,Si Unyil, Losmen, Jendela Rumah Kita dan Rumah Masa Depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak yang paling berkaitan dengan anak-anak adalah pihak yang paling penting. Siapa mereka? Mereka adalah orang dewasa yang ada di masyarakat. Tidak hanya orang tua, tetapi juga seluruh warga dewasa dalam sekelompok masyarakat. Di sekolah misalnya, kelompok manusia dewasa itu adalah guru. Guru bisa memberikan pemahaman tentang televisi yang sebenarnya pada peserta didik, sekaligus menggunakannya sebagai media pembelajaran. Di rumah, kelompok dewasa itu antara lain adalah orang-tua. Orang tua harus memperhatikan tayangan televisi untuk anaknya. Seperti halnya konsumsi makanan, “konsumsi” tayangan televisi pun seharusnya diatur dan diawasi oleh orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi Penyiaran Indonesia juga wajib memberikan peringatan dan pengawasan terus-menerus agar stasiun televisi tidak terlalu lepas tangan terhadap tayangannya sendiri walau hal ini sulit. Ada banyak kejadian yang menunjukkan bagaimana stasiun televisi di Indonesia bisa seenaknya dan tidak mengindahkan aturan yang berlaku. Bukti yang terakhir adalah pihak stasiun televisi yang belum sepenuhnya mau bersinergi dengan pihak lokal padahal sudah diamanatkan oleh UU no 32 tentang Penyiaran sejak tahun 2002 dan seharusnya sudah diterapkan pada tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua wajib menemani anak-anak yang belum mengerti ketika menonton selain juga membatasi durasi waktu menonton. Bila orang tua tidak dapat melakukannya karena berbagai hal, terutama karena bekerja, orang tua dapat menitipkan anaknya pada orang dewasa lain di rumah untuk menemani anak-anak menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para orang tua dalam sebuah komunitas juga sebaiknya saling berbagi mengenai tayangan televisi. Hal ini mesti dilakukan karena tingkat literasi media untuk para orang tua pun berbeda-beda, ada orang tua yang paham tetapi juga ada yang tidak. Ada orang tua yang tidak peduli dengan dampak tayangan televisi dan orang tua yang peduli haruslah mengingatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sudah demikian, berarti kita menempatkan tayangan televisi sebagai kepentingan bersama. Bila banyak kelompok masyarakat sudah sadar akan arti televisi yang sehat bagi anak-anak, mereka akan memiliki keinginan dan “kekuatan” untuk memberi masukan kepada pihak penyelenggara siaran televisi. Setahu saya, sudah banyak elemen masyarakat sipil yang bergerak di bidang literasi media secara umum dan juga secara khusus, gerakan penyadaran media peduli anak. Yogyakarta misalnya, memiliki sekitar sepuluh organisasi masyarakat sipil yang peduli pada peningkatan pemahaman terhadap media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ini adalah tonggak kita sebagai bangsa untuk membenahi (lagi) tayangan televisi kita yang cenderung melupakan peran pentingnya bagi masyarakat. Jangan sampai ada Heri yang lain, anak-anak korban tayangan televisi yang tidak sesuai bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, bagaimana pun juga, televisi Indonesia mungkin memiliki potensi bagi kemajuan bangsa ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, anak-anak pasti adalah elemen terpenting bagi bangsa ini di masa mendatang….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari &lt;a href="http://two-way-television.com/images2/kid-and-tv_notext.gif"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-8035170781102772964?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/8035170781102772964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/01/oleh-wisnu-martha-adiputra-ada-yang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/8035170781102772964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/8035170781102772964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2010/01/oleh-wisnu-martha-adiputra-ada-yang.html' title='Dicari: Televisi Peduli Anak'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S0FgIBTo4rI/AAAAAAAAAFk/L-9C671i9ec/s72-c/kid-and-tv_notext.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-1441941156098394785</id><published>2009-12-31T18:12:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T19:19:25.665-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Menjadikan Dongeng dan Bacaan Sahabat Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S0FdNzFlBgI/AAAAAAAAAFU/xXMdYlkD3xA/s1600-h/daln245l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 250px; height: 232px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S0FdNzFlBgI/AAAAAAAAAFU/xXMdYlkD3xA/s320/daln245l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422717917964076546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Nurul Setyorini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membentuk generasi muda bangsa ini menjadi generasi pembelajar yang cinta membaca demi mengembangkan wawasannya dan memuaskan rasa haus akan pengetahuan, bukanlah sebuah proses yang instan. Seperti kata pepatah, ‘tak kenal maka tak sayang’, orang-orang dewasa di sekeliling anak perlu membangun situasi dan kondisi yang mampu menumbuhkan minat baca anak, sedari dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam cara dapat ditempuh untuk menumbuhkan minat baca, seperti mendekatkan buku dalam kehidupan keseharian anak sehingga ia telah mengenal benda bernama buku, bahkan sejak ia belum bisa membaca. Buku untuk anak sendiri sebaiknya disesuaikan perkembangan anak, dimana anak biasanya tertarik dengan buku yang kuat unsur visualnya alias buku cerita bergambar. Lebih jauh, situasi rumah yang ramah dengan aneka bacaan mulai dari yang serius sampai yang ringan, ensiklopedia, koran, novel, majalah dan sebagainya, tentunya akan lebih mendukung bagi tumbuhnya kecintaan anak pada dunia membaca. Metode lainnya yang bisa dilakukan ialah dengan mendongeng, dimana aktivitas yang satu ini dapat dilakukan dengan atau tanpa buku. Di samping manfaat-manfaat yang dikandung dalam dirinya sendiri, mendongeng ibarat sebuah kendaraan yang dapat mengantarkan anak pada tahap lebih lanjut yakni keterampilan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut survey yang dilakukan terhadap 500 anak berusia 3-8 tahun yang dipimpin oleh Richard Woolfson dan disponsori oleh Disney/Pixar World of Cars, hampir 2/3 anak menginginkan orangtua mereka menyempatkan waktu membacakan dongeng sebelum tidur . Hal ini setidaknya memberikan gambaran bahwa kegiatan mendongeng merupakan salah satu aktivitas yang disukai oleh anak-anak. Bahkan aktivitas mendongeng, telah diakui secara ilmiah, memberikan manfaat bagi tumbuh-kembang anak secara kognitif maupun psikologis. Lingkungan awal bagi bayi sampai usia balita, yang diisi dengan rangsangan positif seperti aktivitas mendongeng ini, akan berpengaruh terhadap perkembangan otak mereka, dimana pada usia dua belas tahun kemampuan otak mereka lebih baik ketimbang mereka yang dibesarkan dalam lingkungan yang kurang menstimulasi perkembangan otak .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak manfaat dapat dipetik dari kegiatan mendongeng. Pertama, kegiatan mendongeng ini merupakan salah satu cara untuk mempererat kebersamaan dan ikatan emosi antara orangtua dan anak. Ritual mendongeng sebelum tidur bisa menjadi memori manis yang dikenang anak sampai ia dewasa kelak. Kedua, aktivitas mendongeng dapat mengasah kemampuan berbahasa anak. Dalam filsafat konstruktivisme, mendongeng dapat dipandang sebagai sarana untuk mengembangkan bahasa lisan dan kemampuan literasi anak. Mendongeng adalah proses menghadirkan realitas sosial melalui cerita, ke dalam alam pikiran anak-anak, yang dilakukan melalui bahasa. Mendongeng membantu anak memahami makna realitas yang dihayati bersama oleh masyarakat, seperti apa itu binatang, tumbuhan, sampai hal abstrak seperti kebaikan dan kasih sayang. Selain itu, mendongeng dapat memperkaya perbendaharaan kosakata yang dipunyai anak. Ditambah lagi, jika dibangun suasana mendongeng yang interaktif maka bisa digunakan untuk memancing umpan balik dari anak, seperti adanya tanya jawab tentang apa yang terjadi dalam kisah dongeng tersebut. Ketiga, dongeng dapat merangsang imajinasi anak, baik dongeng tanpa buku maupun dengan buku. Misalnya, ketika diceritakan bagaimana petualangan kancil yang nakal karena suka mencuri timun diakhiri dengan jebakan boneka orang-orangan sawah yang telah dilumuri lem, atau bagaimana Timun Emas berlari-lari menghindari kejaran raksasa, atau megahnya kastil-kastil ala cerita Eropa seperti Putri Salju yang tidak dapat dijumpai di negeri sendiri, atau cerita Pandawa yang harus menghadapi Kurawa yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung, seratus! Lebih lanjut, imajinasi anak dapat mendorong tumbuhnya proses kreatif dalam diri anak, yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan seperti menggambar atau memainkan tokoh-tokoh dalam dongeng dengan benda-benda mainannya. Selain itu, dongeng juga mampu menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral pada anak tanpa harus menggurui. Melalui berbagai karakter dan penokohan yang ada dalam dongeng, dapat ditanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, empati, kasih sayang, tolong menolong, yang dapat membentuk kepribadian anak yang positif. Namun, dengan menyesuaikan perkembangan daya nalar anak, karakter-karakter yang diperkenalkan memiliki pendirian yang tegas, mewakili kebaikan ataukah kejahatan, protagonis ataukah anatagonis. Ini adalah pijakan dasar anak nantinya menyelami dunia lebih dalam, yang ternyata juga memiliki karakter abu-abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng untuk anak tidak hanya harus memperhatikan isi dan narasi cerita (what story) dan tujuan mendongeng seperti menanamkan pesan moral (why tell that story) seperti yang diungkapkan sebelumnya, melainkan juga harus menimbang unsur-unsur lain yakni untuk siapa dongeng itu dibacakan (who listen the story), bagaimana cara penyampaiannya (how to tell the story) juga kapan dan dimana cerita itu akan disampaikan (when and where). Karena target audiens dari kegiatan mendongeng ini adalah anak-anak, maka cara penyampaian cerita tentunya dengan kemasan dan bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak. Kompleksitas isi cerita yang ditawarkan gradual mengikuti tingkat usia anak, dan yang tidak kalah penting ialah menyangkut fisik buku yang mencakup unsur visual, ilustrasi, lay out sampai ketebalan buku. Ruang fisik dan waktu yang disediakan untuk mendongeng pun juga dapat diatur lebih fleksibel dan tidak semata terikat pada ‘dongeng sebelum tidur’ yang umumnya dibacakan di (ruang) kamar pada (waktu) sebelum anak tidur. Pada saat anak bermain misalnya, tempatnya pun bisa di ruang keluarga, kebun dan sebagainya. Terakhir, bagaimana kualifikasi pendongeng juga memiliki peran yang signifikan terkait bagaimana penyampaian dongeng tersebut. Pendongeng idealnya memiliki kedekatan dengan anak, yakni keluarga besar dan terutama orangtuanya sendiri. Sang pendongeng sendiri harus memiliki ‘keterlibatan’ dalam cerita yang dibawakannya, artinya ia harus menyukai, menjiwai cerita, dan menikmati proses mendongeng itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendongeng harus pula memiliki keseriusan dalam membacakan dongeng, mampu membawakan dongeng itu dari awal sampai selesai. Selain itu, tidak kalah penting juga adalah kreativitas dalam penyampaian dongeng, misalnya penggunaan alat peraga dalam membawakan dongeng seperti boneka, wayang. Juga dapat ditambah unsur penunjang seperti musik dan efek suara (sound effect) baik dari alat pemutar maupun manual dilakukan manusia. Apalagi dengan komunikasi nonverbal yang kuat dari mimik muka dan gesture, mampu membuat cerita yang dibawakan menjadi lebih ‘hidup’, yang akan semakin mendorong antusiasme anak terhadap acara mendongeng ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, meluangkan waktu mendongeng anak-anak ternyata memiliki efek yang positif bagi anak dalam proses mereka bertumbuh dan berkembang. Anak adalah harapan masa depan umat manusia, maka berikanlah mereka bekal untuk meneruskan keberlangsungan peradaban umat manusia. Mewujudkan cita-cita yang besar itu dapat dimulai dari hal kedengarannya sederhana, mendongeng....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;M E., Young. 1999. Early child development: Investing in the future, Washington DC: World Bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.cartoonstock.com/newscartoons/cartoonists/dal/lowres/daln245l.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkaya Imajinasi dengan Dongeng. 2009. Terarsip dalam: http://indonesiabuku.com/?p=2039&lt;br /&gt;Suciati, Irli Sri. 2007. Seputar Bagaimana dan Apa Bercerita atau Mendongeng yang Baik kepada Anak-anak. Mimbar Pustaka Jatim No.01/Th.I/Januari-Maret 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan arikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-1441941156098394785?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/1441941156098394785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-menjadikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1441941156098394785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1441941156098394785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-menjadikan.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Menjadikan Dongeng dan Bacaan Sahabat Anak'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S0FdNzFlBgI/AAAAAAAAAFU/xXMdYlkD3xA/s72-c/daln245l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-4573728019184458583</id><published>2009-12-31T18:08:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T19:19:42.142-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Buku dan Dongeng: Hiburan yang Mencerdaskan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S0Fd9_nTO5I/AAAAAAAAAFc/yUfq5JgYUFA/s1600-h/kid+reading.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 243px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S0Fd9_nTO5I/AAAAAAAAAFc/yUfq5JgYUFA/s320/kid+reading.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422718745960463250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Marlina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma Mengeluh&lt;br /&gt;Sering mendengar ucapan orang tua seperti ini?&lt;br /&gt;“Duh anak saya nggak mau membaca buku pelajarannya”! atau “Anak saya malas sekali jika disuruh membaca.” Saya acap kali mendengar  keluhan serupa dari ibu-ibu sekitar saya.&lt;br /&gt;Disisi lain, saya pernah menghadiahkan sebuah buku parenting tentang masa emas 3 tahun pertama pada seorang kerabat,  dan tanggapannya adalah : “Akh, saya nggak mau baca buku itu, karena tidak ada gambarnya, terlalu tebal!”  Wow. Jadi mereka akan mengeluh jika anaknya malas atau tidak suka membaca, namun untuk membaca sendiri pun mereka enggan. Ironis.&lt;br /&gt;Ada juga orang tua yang membiarkan anak-anak mereka lebih menyukai menonton TV dari pada membaca buku dan akhirnya menjadikan televisi sebagai pangkalan hiburan dan informasi utama keluarga. Seluruh keluarga, dari orang tua hingga anak –anak menelan semua sajian televisi yang sebagian besar berisi sinetron, infotainment, gossip, iklan, lagu lagu dewasa dan persaingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berkeluarga, sungguh saya tidak mau menjadikan televisi sebagai pusat hiburan di keluarga kami. Televisi memang mempunyai daya tarik yang begitu kuat dan sanggup membuat anak duduk tenang, namun efek negative dari banjir informasi yang tak tersaring, jauh lebih berbahaya!&lt;br /&gt;“Apakah hanya Tv aja sih yang bisa begitu membius pemirsanya?” “Apakah memang tak ada hal lain yang bisa menarik perhatian anak-anak?” “Benarkah tidak ada hal lain yang bisa menjadi kebiasaan anak-anak?” “Tapi apa?” “Bagaimana caranya?”  Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu melintas.&lt;br /&gt;Saya sangat percaya bahwa membaca adalah kegiatan membuka wawasan baru yang lebih menantang daripada sajian instan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemar Membaca&lt;br /&gt;Saya dan suami suka sekali membaca dan ingin Lula, anak kami, dapat meneladani kebiasaan kami ini. Saya mulai berpikir bagaimana caranya. Saya mulai menggali lebih dalam. Mulai bertanya pada diri saya sendiri. Mengapa saya suka membaca? Karena saya terbiasa membaca.  Atau mengapa buku itu saya baca? Karena saya tertarik dengan buku itu dan ingin tahu lebih dalam dan lebih lanjut dari buku itu. Tapi bagaimana caranya memperkenalkan kepada putri kecil saya hingga akhirnya tertarik pada buku.&lt;br /&gt;Saya yang begitu dekat dengan almarhum papa, sering melihat papa membaca buku.  Beliau gemar sekali membaca buku cerita silat. Ko Ping Ho menjadi buku favorit beliau. Dan mungkin saya secara alamiah menjadi tertular kesukaannya akan buku. Oke, mungkin “menularkan” adalah kata kerja yang saya cari. Saya mulai mencoba cara ini. Menularkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menularkan&lt;br /&gt;Sungguh saya belum punya cara yang sudah terbukti manjur. Tapi saya coba menularkan kebiasaan saya dan suami membaca, dengan cara memamerkan kebiasaan itu sesering mungkin di depan anak kami. Itu cara kami ke lula. Awalnya hanya untuk mengenalkan yang namanya buku.  Mulai dari ternyata buku itu ada yang bergambar, berwarna hingga oh ternyata buku itu bisa sobek dan mengeluarkan suara saat disobek. Tidak apa. Itu harga sebuah pembelajaran, saya pikir saat itu. Ternyata berhasil menarik perhatian Lula.&lt;br /&gt;Lula juga mulai tahu kalo buku A adalah buku bunda, buku B adalah buku ayah.Bagian atas rak buku berisi buku ayah, bagian tengah berisi buku bunda. Yah memang karena di kamar kami, dari 4 lemari, 3 diantaranya berisi buku.&lt;br /&gt;Lalu, berikutnya apa? Dia sudah mengenal, tapi dia belum tertarik untuk membaca atau sekedar berlama-lama dengan buku. Bukan hanya  karena gambar tapi memang tertarik untuk membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng&lt;br /&gt;Untuk tujuan yang kedua ini, saya memilih membacakan. Bukan sekedar membacakan tentunya, tapi membacakannya juga harus menarik, paling tidak menarik perhatian anak untuk beralih dari aktifitasnya dia yang lain jadi mendengarkan apa yang saya baca.&lt;br /&gt;Mendongeng, itulah pilihan saya. Kebetulan waktu SMA, saya ikut aktif di kegiatan drama sekolah jadi mudah buat saya mengatur ekspresi. Jadilah saya mendongeng bak pendongeng professional. Dan ternyata berhasil. Lula, selalu diam memperhatikan ketika saya mulai membaca dengan suara lantang, berintonasi dan sedikit bergaya. Entah karena lula bingung melihat kehebohan bundanya atau benar-benar karena dia tertarik bacaan yang saya baca, entahlah. Hahahaha.. tidak apa,  yang penting membuat Lula tertarik dulu.&lt;br /&gt;Itu terus saya lakukan setiap hari, meskipun waktunya tidaklah tetap. Karena hingga lula umur 1 tahun saya masih aktif bekerja. Tapi saya sungguh menikmati. Menikmati memamerkan kehebohan saya. Menikmati rasa takjub Lula melihat bundanya. Dan menikmati lula diam mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu demi waktu berlalu, Lula beranjak besar. Beranjak susah diajak tidur siang. Tapi ada trik khususnya bunda. Kalau Lula tidak mau tidur siang karena asyik bermain, saya akan bilang, “siapa yang mau tidur sama bunda dan dibacakan buku?” Langsung Lula beranjak dari aktifitasnya dan siap-siap tidur siang.&lt;br /&gt;Ketika Lula sudah bisa bicara, dia mulai meminta saya membacakan untuknya. Dia mulai memilih buku yang dia ingin saya bacakan atau yang ingin dibelinya. Bahkan pernah suatu hari dia dapat ‘angpau” dari neneknya dan ketika ditanya ingin beli apa, Lula dengan serta merta menjawab ingin membeli buku dan dibacakan bunda.  Lula terlihat sudah memiliki rasa ingin tahu tentang isi buku yang dia pilih. Ok, satu step lagi sudah terselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca melatih imajinasi&lt;br /&gt;Di lain kesempatan, saya sering melihat lula membaca sendiri buku yang pernah saya bacakan dengan kata-kata yang hampir persis sama dengan yang ada di buku. Mungkin dia hapal, karena waktu itu dia belum bisa membaca. Terkadang juga hanya berdasarkan gambar yang ada, lula berimajinasi sendiri mengarang ceritanya. Dan yang membuat menarik, intonasi pun menyertai imajinasinya.&lt;br /&gt;Saat bermain sekolah-sekolahan bersama teman-temannya, Lula juga suka membacakan buku sesuai hapalan atau imajinasinya.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, Lula sudah mulai tertular.” Ucap saya saat itu. Lula kini sudah mulai membaca dan dia sudah memiliki rak khusus buku-bukunya. Isinya segala macam buku. Dia yang akan memilih buku yang mana yang ingin dia baca atau dibacakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Cinta&lt;br /&gt;Dengan cinta semua bisa dilakukan. Meskipun tidak ikut latihan khusus mendongeng, karena cinta kepada anak dan keinginan membuatnya gemar membaca, saya bisa menjadi pendongeng.&lt;br /&gt;Bahkan saya pernah mendapatkan hadiah karena mendongeng di sebuah acara yang dihadiri para orang tua, yang diselenggarakan sebuah penerbit bacaan anak. Saat itu setiap orang diminta memilih satu buku bacaan anak yang mereka terbitkan dan diminta mendongeng di depan forum. Alhamdulillah tanpa disangka, saya menjadi pemenang. Ketika ditanya apakah saya seorang pendongeng, saya menjawab iya, mendongeng untuk anak saya. Dan saat mendongeng tadi, saya membayangkan sedang mendongeng untuk anak saya, meskipun di depan saya adalah para orang tua.&lt;br /&gt;Cara yang saya sering lakukan sebelum mendongeng adalah membiasakan membaca dulu ceritanya. Sehingga saya tidak lagi terlalu berfokus pada buku bacaan atau pada teksnya. Saya bisa pindahkan fokusnya ke perubahan suara (sesuai jumlah tokohnya) dan sedikit gaya tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, untuk hasil yang terbaik tidak ada yang instant. Semua butuh proses. Termasuk menumbuhkan kegemaran membaca. Butuh proses mengenalkan, membuat tertarik dan mencontohkan. Terbukti saat lula belajar membaca, dia senang sekali karena sebelum belajar terlebih dibacakan dongeng oleh ibu gurunya. Hasilnya, tidak saja dia jadi bisa membaca dengan cepat (kurang dari 3 bulan) tapi juga jadi gemar membaca.&lt;br /&gt;Jalan masih panjang, masih banyak yang harus di eksplorasi dan dengan sabar dipelajari.&lt;br /&gt;Lakukan dengan cinta untuk orang-orang tercinta, maka hal luar biasa akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan arikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.quintessentiallanguage.com/kid%20reading.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-4573728019184458583?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/4573728019184458583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-buku-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4573728019184458583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4573728019184458583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-buku-dan.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Buku dan Dongeng: Hiburan yang Mencerdaskan'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/S0Fd9_nTO5I/AAAAAAAAAFc/yUfq5JgYUFA/s72-c/kid+reading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-3790727277252166375</id><published>2009-12-31T01:07:00.000-08:00</published><updated>2009-12-31T01:10:27.314-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Negeri Warna-warni dan Pesannya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzxqdjfaRFI/AAAAAAAAAFM/bKoQTKt49RY/s1600-h/mother-and-son-reading_1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 289px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzxqdjfaRFI/AAAAAAAAAFM/bKoQTKt49RY/s320/mother-and-son-reading_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421325107422970962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Umi Laila Sari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum menemukan risetnya secara pasti. Mungkin hanya penilaian individu  dengan lingkungan tinggal di kota. Tentang kenangan masa lalu di usia kanak-kanak saya, dongeng sebelum tidur. Sebab, sesudah zaman masa kecil saya, jarang –semoga bukan tidak ada-- lagi orang tua yang mendedikasikan waktunya satu atau dua jam untuk  ngeloni seraya mengisahkan cerita tutur warisan nenek-kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu bingung mencari sebabnya. Bahwa kehidupan modern telah merubah banyak hal. Termasuk kebiasaan dalam keluarga. Mendengarkan suara lembut penuh muatan cinta dari orang tua menjelang tidur bukan lagi satu-satunya pilihan anak. Sudah tersedia berbagai kecanggihan tehnologi yang siap membuai anak-anak millenium ke alam nirwananya. Tanpa harus –seolah- membuang waktu orang tua secara kurang efektif. Konsep realitisnya di kehidupan penuh persaingan sekarang ini memang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi toh, kehidupan tidak hanya ditarik garis hitam-putih pada efektifitas waktu dan tuntutan materi. Kehidupan adalah investasi kebaikan dan menanam perbaikan adalah  sisi terpenting humanisme. Dan hubungan orang tua-anak adalah ikatan humanisme paling hakiki dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mendongeng dalam tradisi leluhur ngeloni tadi, akan menjadi sangat bermakna bagi pembentukan karakter  anak. Bagaimana orang tua selalu menyelipkan ajaran hidup tentang keuletan dan kerja keras pada kisah lomba lari kura-kura dan kelinci. Bagaimana juga anak akan selalu mengingat bahwa sifat tamak dan licik tetap akan membawa kesengsaraan hidup seperti tokoh monyet yang tidak pernah puas dengan makanan yang dimilikinya. Rekaman masa kecil adalah memori kuat yang tentu tidak ingin disia-siakan orang tua.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya sempat tertegun dengan pengalaman adik saya. Usianya hampir memasuki usia sekolah. Saya menyempatkan diri mengajaknya ke toko buku. Ketika tiba di stand buku anak, saya biarkan ia beberapa saat melihat-lihat buku yang beraneka rupa. Sebuah buku tidak terlalu tebal dengan gambar lebih dari setengah halaman yang akhirnya dipilih adik saya. Si Anjing Bandel, demikian judulnya. Ternyata, ia memutuskan untuk mengambilnya karena tertarik dengan gambar beberapa ekor anjing yang warna-warni. Lucu dan menggenaskan. Meskipun ia sesungguhnya menyukai kucing. Begitu tiba di rumah, tanpa memberi saya jeda untuk istirahat, ia meminta saya membacakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, buku ini kan dibeli biar Didik belajar baca. Tu kan tulisannya besar-besar dan sedikit, jadi mudah bacanya. Ayo dong, kalau mau tau ceritanya, adek belajar baca.” Kata saya membujuknya.&lt;br /&gt;“Iya, adek mau kok bacanya tapi besok, sekarang ayuk dulu yang bacanya. Didik dengerin dulu,” katanya yang telah siap berbaring di tempat tidurnya dan mengacungkan buku kearah saya. Saya mengalah. Membacakan dengan perlahan kisah di buku itu. Tidak hanya sekali, ketika telah sampai pada kata tamat, adik saya menginginkan untuk dibacakan ulang.&lt;br /&gt;Saya tersadar ada yang berbeda manakala tidak lagi terdengar suara ‘guk… guk…’ dari bocah kecil itu. Sebelumnya, ia selalu menimpali teriakan itu setiap saya membacakan kalimat ‘… dan anjing bandel itu memakan pudding susu…’, atau ‘…dan anjing bandel itu menyelinap di dalam lobang…’. Ah,  ternyata bujang kecil kami telah terlelap bersama imajenasi kebun rumput nan luas tempat sang anjng bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertama saya mendongeng. Nampaknya serupa pula keadaan ibu dulu sewaktu mendongengi saya Si Kancil yang Cerdik. Keesokan harinya adik saya begitu semangat membuka tiap lembar buku tersebut. Tertatih-tahih mengingat huruf lalu mengejanya  agar dapat dibaca. Pada sela-sela waktu, ia menceritakan kembali pada dirinya seolah ia telah membaca hingga halaman terakhir. Padahal saya tahu ia telah menghafal ceritanya ketika malam saya mendongeng. Dan yang sangat luar biasa dalah ia tetap mengingatnya hingga kini. Saat buku tersebut telah di makan usia. Saat saya hampir tidak ingat lagi kejadian tersebut. Saat ia telah memiliki buku-buku lain. Ingatan luar biasa untuk satu kali saya mendongeng.      &lt;br /&gt;Meski demikian, tetap saja menumbuhkan minat anak untuk membaca dan orang tua untuk mendongeng bukan perkara mudah. Terkadang meski orang tua telah memiliki pemahaman yang baik tentang betapa berharganya kegiatan tersebut bagi tumbuh kembang anak. Saya sepakat pada pengalihan pemikiran bahwa membaca bukan kewajiban tetapi kegemaran. Orang tua tidak merasa terbebani dengan memberikan dirinya –bukan hanya waktu-- pada anak untuk mendongeng. Dan anak semakin menikmati dunia bahagianya dengan buku sebagai sahabat bermainnya. Ada beberapa tips yang saya yakini dapat mewujudkan kecintaan akan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, memberi prioritas khusus terhadap kegemaran membaca dan mendongeng. Jelas, ini akan sulit dilakukan hanya oleh salah satu orang tua. Suami-istri harus memiliki kesepakan tersebut.  Perhatian yang dimaksud kesungguhan tekad untuk memberikan pikiran, tenaga, waktu juga meteri. Semisal, ada agenda dan budged khusus untuk aktifitas membaca dalam keluarga akan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pastikan terlebih dahulu bahwa kita –orang tua atau orang dewasa disekitar anak—sangat  menikmati aktifitas membaca atau mendongeng. Anak begitu mengetahui ketika kita tidak menghadirkan hati dalam menjalani sesuatu. Terkesan hanya kewajiban yang harus dilakukan orang tua kepada anak, tidak lebih. Mungkin dalam kondisi tertentu ketika kita tidak terlalu ‘baik’ untuk mendongeng atau menemani membaca, akan lebih bijak berkata, “maaf sayang, bunda sepertinya kurang enak badan butuh istirahat lebih awal, bunda akan sangat senang kalau kamu mau membaca sendiri dulu untuk hari ini,” dibanding tetap memaksakan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, libatkan anak dalam membuat keputusan tentang kegemaran membaca. Semisal, tentang ke perpustakaan umum bersama dan mendaftarkan diri menjadi anggota di sana. Tentang letak perpustakaan rumah. Tentang buku apa yang akan dibeli sebagai kado orang-orang terdekat dan trik ini adalah yang paling saya sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menciptakan suasana rumah yang nyaman untuk membaca. Standar kenyamanana sangat subjektif. Namun yang paling perlu diperhatikan adalah kecendrungan anggota keluarga ketika membaca. Ada sebagian orang yang lebih menikmati membaca dengan suasana sangat hening di dalam kamar. Tetapi ada juga yang lebih menyukai sedikit suara alam atau instrument. Selebihnya adalah hal umum yang memang harus diperhatikan misalnya kondisi tempat yang bersih serta pencahanyaan cukup. Ada keluarga yang mengkhususkan satu ruang khusus di rumah sebagai perpustakaan tetapi ada pula yang meletakkan buku hampir di setiap sudut rumah agar setiap anggota keluarga dapat membaca kapan saja dan dimana saja sesuka mereka, sebagaimana yang terjadi di rumah kami. Terserahlah, bagaimanapun wujudnya selama kenyamanan dapat diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, bebaskan anak mencari buku atau kisah yang ingin didengar atau dibaca. Cara ini dilakukan agar anak  merasa tetap menemukan dunianya. Tidak perlu memaksa anak membaca buku –yang dalam pandangan orang tua-- total bermuatan ilmiah. Sesungguhnya dalam kisah-kisah anak banyak pula pembelajaran yang dapat mereka peroleh. Tanpa perlu dikomandoi seiring kegemaran membaca, anak akan memperluas jenis bahan bacaannya.&lt;br /&gt;Saya yang ketika kanak-kanak sangat menyukai mmembaca dongeng tentang kerajaan di negeri warna-warni, pada usia SMP akhirnya sangat menyukai membaca buku tentang astronomi, geografi hingga arkeologi. Dalam kondisi ini, orang tua  berada ‘di samping anak’. Menegaskan kembali pesan moral yang terdapat dalam bahan bacaan. Artinya, meski anak membaca negeri warna-warni, orang tua mengingatkan ada pembelajaran di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, mintalah anak mereview kembali bahan bacaan yang telah dibaca atau didengar. Bagi saya, tidak bermasalah jika suatu ketika, orang tua dan anak bertukar peran. Sang anak yang mendongeng sebelum mereka tidur.  Begitu pula dalam keseharian, orang tua dapat mengulang ingatan atau komentar  anak tentang bacaan mereka. “Eh, dek, buku tadi cerita apa sich?” atau, “Menurutmu, tokoh Kupu-kupu di buku itu baik atau tidak?” Meminta anak menceritakan kembali hasil bacaannya saaat berkumpul bersama di ruang keluarga adalah bentuk penghargaan bagi anak. Tentunya setelah itu, orang tua memberinya tepuk tangan dan pujian karena ia telah dapat berbuat lebih baik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua tips di atas, sejatinya kegemaran membaca pada anak adalah bermula dari kecintaan akan membaca. Dan untuk bisa cinta membaca, anak harus telah terbiasa membaca bahkan sejak mereka dalam kandungan. Yup, orang tua yang menginginkan anaknya mencintai membaca mereka harus telah lebih dahulu ‘menggilai’ membaca. Dan bersyukur, orang tua saya telah melakukannya meski awalnya tanpa mereka sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi;&lt;br /&gt;Sumardiono, Homeschooling, A Leap for Better Learnig; Lompatan Cara Belajar, PT Alex Media Komputindo; Jakarta, 2007.&lt;br /&gt;Teresa Orange dan Luuise O’Flynn,  The Media Diet for Kids, terj., Penerbit Serambi; Jakarta, 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel ”Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari &lt;a href="http://education.more4kids.info/uploads/Image/mother-and-son-reading_1.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-3790727277252166375?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/3790727277252166375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-negeri-warna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3790727277252166375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3790727277252166375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-negeri-warna.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Negeri Warna-warni dan Pesannya'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzxqdjfaRFI/AAAAAAAAAFM/bKoQTKt49RY/s72-c/mother-and-son-reading_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-5361200496012637988</id><published>2009-12-30T20:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T22:44:44.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Pesona Buku dalam Warna-Warni Kehidupanku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szwo31-Lb5I/AAAAAAAAAFE/Tc3IeVfwZkg/s1600-h/colorful-books.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 254px; height: 211px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szwo31-Lb5I/AAAAAAAAAFE/Tc3IeVfwZkg/s320/colorful-books.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421252991293026194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Nola Sangkuntala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang menanyakan kepadaku, kegiatan apa yang paling menyenangkan sedunia, pasti aku akan spontan menjawab : membaca. Sebentar, jangan buru-buru menjawab, benar nih, bukan tidur, makan, atau belanja, itu juga aktivitas yang menyenangkan lho, terutama buat wanita? Tidak lah, aku yakin karena biasanya aku lebih pilih memundurkan waktu tidurku untuk menyelesaikan buku yang sudah sekian persen dibaca, sering lupa makan kalau sudah tenggelam dengan kisah-kisah di buku yang aku baca, bahkan rela mengurangi anggaran belanja demi segerobak daftar buku-buku yang sudah antri ingin dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar- benar bersyukur Allah mengaruniaiku minat baca yang luar biasa. Kalo dikilas balik, kadang heran juga, kenapa aku begitu menikmati segala sesuatu yang berbau-bau baca dan buku. Seingatku, nenekku dulu memang sering bercerita dongeng anak-anak saat aku dan kedua adikku menginap di kediamannya, ibuku juga termasuk rajin membacakan cerita-cerita di majalah bobo pinjaman (saat itu kami tidak mampu membeli), dan kami bertiga mendengarkan cerita itu sambil tidur berdesak-desakan di satu bantal.  Hmmm, kenangan yang menyenangkan, menurutku. Aku juga ingat benar, salah satu guruku di kelas 3 SD, pada hari-hari tertentu, pas di ujung jam pelajaran, mendongengi kami dengan cerita-cerita yang menakjubkan. Asyik sekali rasanya, kami sekelas yang biasanya hingar bingar, bisa duduk manis dengan mulut terkunci, mendengarkan dengan rasa ketertarikan yang besar, bahkan rela pulang sedikit lebih lambat daripada cerita tidak usai didongengkan, meskipun terkadang kami harus pulang dengan rasa penasaran luar biasa saat cerita dinyatakan bersambung ke episode berikutnya yang berarti harus menunggu kesempatan di lain hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, meskipun dengan kondisi keuangan yang sangat pas-pasan cenderung kurang, orangtuaku mampu menyekolahkan kami di sekolah yang memiliki fasilitas perpustakaan sangat memadai. Ada dua perpustakaan dengan ruangan cukup lapang, meja-meja yang tersekat rapi, serta koleksi buku-buku yang lengkap. Aku selalu merasa, perpustakaan merupakan surga bagiku, dan tidak mungkin meluangkan sedikit waktu istirahatku tanpa menengok kesana. Rasanya tidak ada puas-puasnya berkelana dari satu buku ke buku yang lain. Serunya lagi, diantara padatnya jadwal pelajaran selama seminggu, selalu terselip satu mata pelajaran resmi dengan judul ”Perpustakaan”,  artinya, sekolahku mewajibkan setiap kelas mengunjungi perpustakaan selama satu jam pelajaran sesuai jadwal yang sudah disusun, dan murid-murid dibolehkan meminjam buku untuk dibawa pulang. Aku benar-benar menghargai kebijakan ini, mau tidak mau, setiap anak, dalam seminggu harus ke perpustakaan, harus bersentuhan dengan buku-buku, suka maupun tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersekolah di sekolah yang muridnya rata-rata golongan menengah ke atas (aku tidak termasuk kategori ini), ternyata juga menguntungkan bagiku. Masa kecilku yang dihimpit kesulitan finansial kelas wahid, tentu saja menempatkan buku sebagai komoditi larangan yang tidak layak dibeli. Sebenarnya sih bukan tidak layak dibeli, tapi tidak akan pernah mampu terbeli, karena harganya tidak murah, dan kami lebih membutuhkan benda yang bisa mengenyangkan perut daripada memuaskan batin. Nah, punya teman-teman kaya, ternyata cukup menjadi solusi untuk memenuhi hasrat membacaku yang terus menerus bergelora. Mereka, yang kebetulan terlahir dari orang tua dengan pendapatan lebih dari cukup, biasanya dijejali dengan beraneka bacaan, buku-buku berwarna warni, serial-serial top saat itu, komik-komik menawan hati, dan tentu saja merupakan berkah luar biasa bagiku karena aku bisa meminjam kapan saja aku mau. Dari merekalah aku kenal dongeng-dongeng seperti Cinderella, Putri Aurora, Putri Salju, juga buku-buku Pustaka Cerita Gramedia, novel-novel Enid Blyton seperti Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Malory Towers, atau komik serial Nina, Smurf, Asterix, Tintin, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, orang tuaku tidak pernah melarangku membaca, sekalipun itu buku komik, tetapi tentu saja dengan pengawasan bahwa prestasi belajarku tidak pernah mengalami penurunan. Memang sih, hobi membacaku tidak lalu secara otomatis membuatku menjadi orang yang cerdas sepanjang masa. Tapi setidaknya, kebiasaan membaca telah terbukti mempermudah hidupku. Saat aku kecil, buku merupakan benda ajaib yang bisa membuatku melupakan kesedihan-kesedihan, membuatku berani bermimpi dan selalu berharap bahwa esok hari pasti keadaanku akan membaik seperti cerita dan dongeng di buku, asal aku mau berusaha sekuat tenaga. Aku tidak pernah mengalami kesulitan saat pelajaran mengarang, yang biasanya jadi momok bagi siswa lain. Bahkan pertanyaan pertama yang diajukan teman SDku setelah sekian tahun tidak bertemu dan akhirnya bisa bertegur sapa lagi lewat facebook adalah apakah aku masih jago mengarang seperti dulu. Aku jadi geli, padahal sebenarnya waktu dulu itu aku bukannya mengarang, tetapi menceritakan kembali dongeng-dongeng yang pernah aku baca, meskipun memang sih karangan esayku tentang sekolah yang bersih dan sehat waktu jaman SD sempat memperoleh juara ketiga pada lomba porseni tingkat propinsi. Lumayan juga ya, bisa mengharumkan nama sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman kuliah, aku juga sangat terbantu dengan kebiasaanku membaca. Sekian banyak laporan-laporan praktikum yang harus aku buat dengan tenggat waktu yang bisa bikin gila, alhamdulillah selalu bisa terselesaikan dengan hasil yang baik, nilai yang cukup bagus, karena aku tidak pernah mengerjakan asal-asalan, comot sana sini dari laporan kakak tingkat. Yang ada, aku rajin ke perpustakaan daerah, mencari-cari buku yang berhubungan, dan membuat intisari dari buku-buku tersebut, sampai jadi entah berapa rangkuman buku ala aku yang masih tersimpan saat ini. Kapan saja butuh bahan, aku membuka-buka lagi dari rangkuman buku yang ada. Kadang memang menjemukan berkubang dengan buku-buku usang di perpustakaan, untunglah dari kecil aku sudah suka buku, sehingga tidak terlalu terganggu dengan keharusan ini, meskipun kalo boleh memilih, aku pasti lebih suka meninggalkan buku-buku tebal itu dan beralih ke komik-komik manga yang ngetop jaman itu. Jangan berpikir kebiasaan membaca hanya berguna saat kita masih jadi anak sekolahan. Setelah bekerja, dan kebetulan aku bekerja di bidang yang agak menyimpang dengan latar belakang pendidikanku, satu-satunya cara belajar tanpa perlu merepotkan orang lain dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kadang bikin malu, adalah rajin membaca dan mencari informasi lewat literatur-literatur yang ada. Bedanya, sekarang yang aku baca tidak harus benar-benar dalam bentuk buku, karena fasilitas internet memudahkan semua hal, tapi intinya tetap sama, yaitu membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pencinta buku, pastinya aku juga selalu ingin menularkan hobiku itu ke orang lain. Rasanya kok sayang sekali kalo sampai ada orang yang tidak sempat mengetahui indahnya kisah-kisah yang sudah mempesonaku. Begitu juga yang aku inginkan untuk kedua jagoan kecilku yang baru berumur 3 tahun dan 2 tahun. Tapi aku tidak pernah memaksakan ke anak-anak untuk harus jadi orang yang suka membaca. Aku hanya memfasilitasi dan memberikan contoh. Aku dan suami yang kebetulan juga suka membaca, menyediakan satu area khusus untuk menempatkan dua rak buku yang sarat dengan berbagai buku. Kami rajin membelikan mereka buku-buku, bahkan sampai berburu buku-buku masa kecilku yang saat ini masih dijual dalam kondisi bekas sekalipun. Kemudian membacakannya kapan saja mereka minta, dan kapan saja kami ada waktu luang. Mereka sangat tertarik dengan buku-buku yang penuh aneka warna, meskipun kadang kisahnya sangat standar. Anakku yang sulung bahkan sudah bisa menceritakan kembali beberapa buku anak-anak karangan Clara Ng dengan satu kalimat per halaman saat masih berusia kurang dari 2 tahun, saking seringnya minta dibacakan buku tersebut. Sementara anakku yang kedua, ternyata lebih suka lagi dengan buku, dalam sehari entah berapa kali ia mengobrak-abrik rak buku, memintaku atau suami, bahkan kakek, nenek dan tantenya untuk membacakan, dan saat semua orang sibuk, dia akan duduk sendiri, membuka halaman demi halaman, dan mengocehkan cerita-cerita menurut versinya. Kadang ia minta kakaknya yang mendongeng, dan pasti terdengar celotehan2 menggemaskan dari mereka berdua yang sama-sama belum bisa membaca, tapi sok tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling nyata yang bisa mereka lihat tentang efek nikmatnya membaca, tentu dari kita sebagai orang tua. Mereka sangat terbiasa melihatku membaca novel setebal bantal sambil mengasuh mereka, menemani mereka bermain, atau saat mereka tidur dan tiba-tiba terbangun di tengah malam. Mereka paham mama dan papanya suka membaca, meskipun dengan jenis bacaan yang berbeda, dan biasanya mereka suka meniru. Satu lagi yang bisa mereka nikmati dari hobiku membaca, aku memiliki satu blog yang membahas buku-buku yang pernah aku baca, belum terlalu banyak sih yang dibahas, tetapi mereka menyadari kehadiran blog itu meskipun belum bisa membaca, dan hanya bisa menikmati foto-foto buku yang mereka kenal, sering tiba-tiba mereka bilang, ”Buka laptop, Ma, mo liat buku mama yang ada di komputer”.&lt;br /&gt;Usaha mengenalkan dunia baca kepada mereka tentunya sangat terlalu dini untuk dilihat hasilnya. Mereka masih akan terus berkembang dan mengalami perubahan minat seiring pertumbuhan fisik dan mental mereka. Tapi setidaknya saat ini kami berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka secara seimbang, baik buku maupun mainan, bahkan film anak-anak bermutu (meskipun ternyata mereka tidak atau belum menyukai kegiatan menonton, mau tak mau aku ikut bersyukur akan hal ini), dan yang paling penting kami tak lupa berusaha memenuhi kebutuhan mereka terhadap waktu kebersamaan serta perhatian dari kedua orang tuanya. Aku dan suamiku hanya bisa berharap yang terbaik untuk mereka seperti dongeng-dongeng masa kecilku yang selalu berakhir bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel ”Cinta Dongeng, Cinta Baca”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note : gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.vanvolumes.com/images/colorful-books.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-5361200496012637988?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/5361200496012637988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-pesona-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5361200496012637988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5361200496012637988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-pesona-buku.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Pesona Buku dalam Warna-Warni Kehidupanku'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szwo31-Lb5I/AAAAAAAAAFE/Tc3IeVfwZkg/s72-c/colorful-books.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-2039184677334475100</id><published>2009-12-30T20:10:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T20:18:34.152-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Cinta Dongeng, Cinta Baca: Virus Cinta yang Harus Ditularkan!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szwlqhk2IiI/AAAAAAAAAE0/lovVvt1DIJM/s1600-h/love+to+read.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 287px; height: 195px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szwlqhk2IiI/AAAAAAAAAE0/lovVvt1DIJM/s320/love+to+read.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421249463944880674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Norma Widayati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu, apakah benar Alien itu ada? Kalau ya, mereka berasal dari planet mana? Kalau tidak, apakah ada makhluk lain yang lebih cerdas daripada manusia? Mungkinkah ada kehidupan lain di jagat raya, karena alam semesta itu ’kan sangat luas? Bu, apa yang menyebabkan gunung berapi meletus? Kenapa di Indonesia sering terjadi gempa?Apakah benar Allah marah karena manusia telah merusak alam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah sebagian pertanyaan murid-murid di Sekolah Dasar yang sering saya temui. Betapa keingintahuan mereka begitu besar terhadap sebuah peristiwa maupun informasi yang mereka temukan. Tidak jarang pertanyaan mereka membuat kening guru dan orangtua berkerut. Bagaimana menjawabnya? Apa yang harus kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman sekarang setiap orangtua dan pendidik harus menyiapkan diri untuk mampu menjawab pertanyaan kritis anak-anak. Itulah mengapa saya memberi judul seperti di atas, karena saya pikir virus cinta buku dan dongeng akan menjadi sarana yang tepat untuk mengatasi kebimbangan kita. Buku dan dongeng akan merangsang imajinasi anak-anak sehingga lebih cerdas baik secara intektual, emosional maupun spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal ini, sebenarnya kemarin saya sempat bingung juga untuk menulis, karena saya masih single dan belum punya anak. Namun saya pikir  tidak ada salahnya untuk mencoba, setidaknya berbagi pengalaman saya sebagai pribadi maupun sebagai staf pengajar di sebuah sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil saya menyukai buku, hal ini tidak terlepas dari peran orangtua terutama ibu yang suka membelikan majalah anak-anak. Waktu itu saya menyukai majalah anak-anak seperti Gatotkaca, Putra Kita, si Kuncung, Bobo dan Ananda. Sebenarnya saya juga menyukai buku-buku, namun karena kondisi keuangan belum memungkinkan dan jarak toko buku yang cukup jauh, maka ibu berinisiatif meminjamkan buku dari perpustakaan di sekolah tempat ibu mengajar. Hal ini membuat saya cukup senang walau hanya dengan buku pinjaman. Apalagi ditambah kebiasaan ibu mendongeng sebelum tidur untuk saya dan adik-adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat sekali, suatu ketika saya bersitegang dengan ayah karena beliau tidak mau membelikan saya majalah Bobo terbitan terbaru. Sebagai anak kecil, saya tidak mau menerima alasan ayah yang sedang capek pulang dari kantor. Akhirnya saya mengambil sepeda dan mulai mengayuh. Pikir saya waktu itu, pasti ayah tidak akan tega membiarkan saya, anak perempuannya yang masih duduk di kelas 5 SD pergi sendiri ke agen majalah. Sebenarnya sih itu akal-akalan saya saja supaya ayah merasa bersalah dan mau mengantar saya membeli majalah. Eh, tunggu punya tunggu, ternyata ayah saya tidak tergerak hatinya. Beliau tetap saja membiarkan saya mengayuh sepeda sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya hancur dan sambil menangis, saya mulai mengayuh sepeda menyusuri jalan. Sebenarnya jarak antara rumah dengan agen majalah hanya sekitar 2 km, namun pada waktu itu bagi saya jarak tersebut cukup jauh dan berbahaya karena harus melewati jalan raya yang cukup padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berusaha mengatasi ketakutan yang bercampur keinginan untuk membuktikan bahwa tanpa ayah pun saya bisa mendapatkan majalah itu, saya pun bersemangat mengayuh sepeda. Di tengah lamunan saya, tiba-tiba ada suara dari arah belakang. Ayah memanggil-manggil nama saya dan dengan perasaan bersalah mencoba mengawal saya sampai ke tujuan.  Alangkah senangnya saya, akhirnya saya mendapatkan juga majalah yang saat itu berharga Rp 500,00. Saya mendapatkan banyak pengetahuan dari majalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, letak rumah saya hanya terpaut dua bangunan dari rel kereta api. Di tengah situasi yang serba sulit, saya mendapatkan hiburan dari koran-koran bekas yang beterbangan dibuang para penumpang kereta api. Bila mendapatkan karikatur maupun cergam yang lucu-lucu, saya tertawa-tawa sendiri sembari menyambung sobekan koran-koran bekas alas tidur itu. Hal ini sangat berkesan karena saat pelajaran mengarang, saya menceritakan kisah ini dan berhasil mendapat angka 8. Tidak terlalu mengecewakan ’kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berganti, sekarang saya sudah menjadi salah satu pengajar di sebuah sekolah swasta. Kegemaran saya tentang buku semakin menjadi-jadi. Saya merasa buku adalah kekayaan saya, jadi saya berusaha menyisihkan gaji walau sedikit untuk membeli buku. Alhamdulillah saya mempunyai banyak teman untuk berdiskusi tentang buku. Buku-buku inspiratif seperti Tetralogi Laskar Pelangi, Three Cups of Tea, La Tahzan, sampai novel Twilight Saga menjadi bahan diskusi kami. Kami saling memberikan informasi mengenai buku baru yang layak untuk dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya dan teman-teman masih terus berusaha menularkan virus cinta buku dan dongeng terhadap murid-murid dan kolega kami. Di sekolah, kami mengadakan acara Morning Meeting, yaitu semacam pemanasan supaya anak-anak siap mendapatkan pelajaran. Dalam acara tersebut, ada beberapa hal yang dilakukan seperti Brain Gym, tebak kuis, maupun Story Telling. Biasanya kami menyuruh salah satu anak sehari sebelumnya untuk membaca salah satu buku, kemudian keesokan harinya dia harus bercerita di depan kelas. Selanjutnya kami sebagai guru akan membantu membuat kuis sesuai isi cerita. Anak yang dapat bercerita dengan lancar dan mampu menjawab kuis akan mendapat bintang atau reward lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak juga kami beri kebebasan untuk membawa buku dari rumah ke sekolah. Biasanya yang mereka bawa adalah buku-buku ensiklopedia, buku cerita seperti KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya), buku-buku tentang kisah nabi, dan lain-lain. Anak-anak yang membawa buku cukup banyak sehingga kami mengadakan voting untuk menentukan buku mana yang akan dibaca terlebih dahulu. Dalam sehari biasanya 1- 2 buku kami bacakan di sela-sela kegiatan belajar mengajar. Acara tersebut dilanjutkan dengan kuis, misalnya dengan pertanyaan tentang judul buku, nama tokoh, pengarang, penerbit, lokasi kejadian, dan sebagainya. Anak yang bisa menjawab kuis dengan benar akan mendapatkan tambahan bintang yang dapat ditukarkan dengan reward berupa pernak-pernik lucu. Alhamdulillah, anak-anak senang dengan acara ini.&lt;br /&gt;Ada pengalaman lucu terkait dengan virus cinta buku ini. Suatu hari saya mendapat kado dari murid saya. Saya merasa heran karena saat itu saya tidak sedang ulangtahun atau mengalami momen istimewa. Gadis kecil berumur 7 tahun itu ternyata menghadiahi saya sebuah buku berjudul La Tahzan for Jomblo. Subhanallah, saya geli bercampur haru, apalagi teman-teman saya sampai tertawa menggoda. Usut punya usut, ternyata dia memberikan kado itu setelah membaca profil saya di Facebook, dimana salah satu buku favorit saya adalah La Tahzan. Kata mamanya, dia merasa bahwa kami mempunyai hobi yang sama, bahkan buku yang sejenis. Dia adalah pembaca setia La Tahzan for Kids. Hebatnya lagi, dia sendiri yang memilih kado itu di toko Gramedia. Subhanallah...&lt;br /&gt;Untuk menunjang pemularan virus cinta tersebut, pada Hari Ibu atau Bulan Bahasa, sekolah kami mengadakan lomba bercerita, lomba menulis puisi maupun resensi buku. Alhamdulillah peminatnya cukup banyak dan acara kami mendapatkan dukungan sepenuhnya dari orangtua murid. Bahkan ada murid kami yang sudah mampu menjuarai lomba bercerita/ mendongeng tingkat propinsi. Selain itu, pada hari-hari sekolah biasa, perpustakaan menjadwalkan jam berkunjung siswa. Setiap anak berhak meminjam dan membaca buku di sana. Itu semua dimaksudkan supaya anak-anak gemar membaca buku dan mendapatkan manfaat darinya.&lt;br /&gt;Saya pikir memang sangat bijak bila kita mengenalkan buku dan dongeng kepada anak-anak sejak usia dini. Masa Golden Age merupakan masa penting pertumbuhan otak sehingga semakin banyak hal positif ditanamkan, InsyaAllah skill dan performance anak juga akan berkembang dengan baik. Hal ini juga patut mendapat perhatian kita apalagi saat ini  banyak sekali tayangan televisi yang kurang mendidik dan cenderung instan. Kemudahan akses internet yang tanpa kontrol juga menjadi potensi yang sangat membahayakan anak-anak generasi penerus bangsa.&lt;br /&gt;Selain program untuk anak-anak, kami sebagai pendidik juga mengadakan acara yang menunjang kegemaran membaca buku. Pada hari tertentu kami mengadakan acara sharing dan bedah buku. Di sela-sela kesibukan mengajar, kami juga melengkapi koleksi perpustakaan sekolah dengan berbelanja buku-buku. Alhamdulillah Yogyakarta merupakan salah satu kota yang sangat aktif menyelenggarakan pameran buku sehingga akses kami semakin luas dalam mendapatkan buku-buku berkualitas. Kami juga sering berbagi pengalaman untuk dapat menyampaikan materi pelajaran melalui dongeng atau cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk cita-cita ke depan, saya mempunyai mimpi mengenai perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum sehingga masyarakat bisa mengakses manfaat dari buku. Perpustakaan itu dilengkapi dengan taman bermain sehingga anak-anak bisa bermain sepuasnya. Bangunan lain yang penting adalah semacam aula atau pendopo kecil untuk tempat membaca buku, bedah buku maupun story telling. Saya yakin Indonesia akan jauh lebih maju bila masyarakat menggemari buku dan dongeng sebagai sarana edukatif. Bukan tidak mungkin bangsa ini akan menyamai Jepang bila masyarakatnya cerdas dan kreatif.   Semoga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel ”Cinta Dongeng, Cinta Baca”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note : gambar dipinjam dari &lt;a href="http://farm2.static.flickr.com/1274/775089650_a604d8de8b.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-2039184677334475100?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/2039184677334475100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-cinta-dongeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2039184677334475100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2039184677334475100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-cinta-dongeng.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Cinta Dongeng, Cinta Baca: Virus Cinta yang Harus Ditularkan!'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szwlqhk2IiI/AAAAAAAAAE0/lovVvt1DIJM/s72-c/love+to+read.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-1577065494783186328</id><published>2009-12-30T20:03:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T20:08:20.359-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Panggung Imajinasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwjmI6k23I/AAAAAAAAAEs/pZEGFgDXsKY/s1600-h/imagination2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 283px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwjmI6k23I/AAAAAAAAAEs/pZEGFgDXsKY/s320/imagination2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421247189582404466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Gita Lovusa&lt;br /&gt;&lt;div class="post_message"&gt;&lt;br /&gt;Cha senang sekali membaca ilustrasi di buku, tabloid, majalah, selebaran atau apa pun. Dengan tekun ia memerhatikan gambar-gambar yang tertera di sana. Matanya melirik ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah. Semua sudut gambar ditelusuri. Tak jarang ia berbicara dengan sang gambar. “Mamam. Yo, mamam..” Tangannya menunjuk-nunjuk pada seekor kelinci kecil. “Mii. Inci. Mamam.” Kalau ia sudah menegur saya, saatnya saya masuk ke dalam dunianya. “Kelincinya lagi makan ya?” “Iya..,” jawabnya ceria. “Siapa yang kasih makan?” Cha terdiam. Matanya berbinar melihat gambar-gambar yang lain. Saya pun ikut terdiam. “Mamam...,” ujarnya kembali sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah gambar kelinci di buku dapat berlanjut dengan dongeng ajaib ciptaan saya. Ketika Cha sudah puas dengan gambar-gambarnya, saya ambil sebuah boneka kelinci miliknya. Suara mulai saya sesuaikan, mimik muka pun saya ubah. Lalu berkata,&lt;br /&gt;“Kakak Cha, aku lapar. Mau makan...” Cha menengok dengan senyum yang sungguh sumringah. Membuat imajinasi saya semakin lancar berjalan.&lt;br /&gt;“Waw! Hai, Inci..,” katanya.&lt;br /&gt;“Kakak Cha punya makanan? Aku mau, Kak. Aku lapar.”&lt;br /&gt;Lalu Cha mengambil makanan dengan tangan dan menyuapkannya padaku, “Aaa..” “Enyak?” tanya Kakak Cha.&lt;br /&gt;“Enaaakkk. Makasih ya, Kakak Cha.”&lt;br /&gt;“Ma..,” artinya ‘sama-sama’.&lt;br /&gt;Dongeng ajaib bin interaktif ini bisa terus berlanjut dan berkembang ke hal-hal lain, atau bisa juga hanya seperti itu saja. Kadang panjang dan penuh dengan tokoh, kadang singkat dan pemainnya sedikit. Semua saya sesuaikan dengan situasi saat itu. Kalau Cha masih terlihat antusias, akan saya lanjutkan. Tapi kalau Cha mulai mengajak hal lain, dongeng itu akan saya hentikan dan melanjutkan dengan kegiatan yang lain.&lt;br /&gt;Awalnya saya sedikit khawatir dengan kebiasaan Cha yang lebih senang memerhatikan gambar. Jika saya membacakan buku untuknya, maka hanya akan bertahan sebanyak 3-4 halaman. Sesudah itu, bukunya akan ia ambil dan ia kembali menekuni gambar-gambar yang atraktif itu. Lalu saya menemukan kata ini di sampul belakang Anne of Green Gables, “Imagination is more important than knowledge” – Albert Einstein. Saya terhenyak dan memandang lama kata-kata itu. Mencoba mencernanya lebih dalam.&lt;br /&gt;Kalau saja seorang genius seperti beliau mengatakan hal seperti itu, maka hampir bisa dipastikan bahwa itu adalah benar. Mungkin saja, teori-teori yang diciptakannya itu bermula dari sebuah imajinasi. Setelah saya membaca buku karangan Lucy M.Montgomery tersebut, saya semakin terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa Anne, tokoh utama dalam kisah itu, adalah anak yang sangat senang berimajinasi. Ia menamakan semua jenis tempat, semua jenis pohon dengan nama-nama yang sangat cantik dan imajinatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjadi mengerti dan membiarkan Cha melakukan hobinya itu. Membacakan buku tetap saya lakukan, namun dengan porsi yang disesuaikan.&lt;br /&gt;Suatu ketika, saat Cha sedang asyik mengamati gambar di tabloid anak. Ia berujar, “Ayah...Ayah..,” sambil menunjuk sebuah foto dokter yang mengasuh suatu rubrik di tabloid tersebut. Saya tertawa, “Ayahnya siapa itu, Cha?” “Ayah, Ayah.” Kosakatanya yang masih terbatas di usia yang hampir menginjak 2,5 tahun terkadang membuat acara dongeng ajaib berjalan hanya satu arah. Tak apa. Saya yakini ini sebagai bagian dari proses, sebisa mungkin saya hargai apa pun yang keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;Membaca atau mendongeng bisa kami lakukan di manapun. Kasur di kamar tidur atau lantai dapur bisa menjadi panggungnya. Masjid, mobil atau alam luas bisa menjadi gedungnya. Selama Cha atau saya menemukan obyek asyik yang meningkatkan daya imajinasi, di situlah panggung imajinasi kami berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung imajinasi: Ruang tamu, ruang bermain, ruang perpustakaan yang bergabung menjadi satu.&lt;br /&gt;Saya melilit sebuah kain sarung di leher. Merapikannya lalu terbang ke sana ke mari layaknya seekor kupu-kupu. Hinggap di satu bunga dan menikmati waktu dengan menghisap manisnya. Tanpa kata-kata. Tapi Cha memerhatikan saya dengan begitu seksama. Kemudian ia pun mengambil kain bedong dan meminta saya untuk melilitkan di lehernya. Kupu-kupu kecil itu pun mulai terbang, mencari bunga yang akan dihinggapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung imajinasi: Dapur&lt;br /&gt;Cha sedang asyik memegang dua kertas kado gulung, kemudian ia memberikannya satu pada saya. Ia mengajak saya bermain pedang-pedangan, kata-kata yang terucap dari bibir kami hanya, “Tring..tring..” yang mengesankan bahwa itu adalah bunyi pedang yang beradu. Saya biarkan saja permainan kami terus berlanjut meski hanya dengan kata ‘tring’ dan senyuman. Cha sudah terlihat lelah lalu ia menghentikan permainannya.&lt;br /&gt;“Cha capek ya?” tanya saya.&lt;br /&gt;“Iya..”&lt;br /&gt;“Tadi Cha main apa?”&lt;br /&gt;“Mai...”&lt;br /&gt;Ia menjawab pertanyaan dengan mengulang kata ‘main’. Saya tak melanjutkan pertanyaan. Sambil meluruskan kaki, saya teringat ucapan Kak Andi Yudha Asfandiyar sewaktu mengisi pelatihan di Masjid Salman ITB beberapa tahun lalu. Isinya kurang lebih begini, “Jangan paksa anak untuk menjawab pertanyaan kita. Bisa jadi pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan akan membatasi imajinasinya. Biarkanlah mereka asyik bermain di dunianya.”&lt;br /&gt;Meski kadang ada rasa penasaran di dalam hati untuk mendengar apa yang ada di pikirannya, tetapi sebisa mungkin saya tahan keinginan itu. Khawatir malah akan merubuhkan imajinasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung imajinasi: Jalan raya dan taman kecil di dekat rumah&lt;br /&gt;Ketika sedang asyik berjalan, saya melihat seekor capung yang sedang sekarat. Saya memberi tahu Cha. “Cha, lihat! Capungnya kasihan.” Cha melihat ke arah capung itu dan mendekat ke saya. Menarik-narik tangan saya untuk segera pergi menjauh. Oh, rupanya Cha takut. Saya ikuti langkah kakinya sampai di sebuah taman rumput kecil yang penuh ilalang.&lt;br /&gt;“Cha, capung tadi kasihan ya. Lagi sakit kayanya.” Cha diam saja karena sedang asyik bermain dengan ilalang.&lt;br /&gt;“Eh, ada kupu-kupu,” kata saya memecah keheningan. Cha pandangi kupu-kupu yang terbang dengan gemulai.&lt;br /&gt;“Capung tadi juga temannya kupu-kupu loh, Cha. Kupu-kupu ini tau ngga ya kalau temannya, capung, sedang sakit?”&lt;br /&gt;“Ngga..,” kata Cha.&lt;br /&gt;“Oh, kupu-kupunya ngga tau? Kita kasih tau yuk!” Cha mengangguk-angguk girang.&lt;br /&gt;“Eh, Cha. Nama kupu-kupunya siapa ya?”&lt;br /&gt;“Mimi...”&lt;br /&gt;“Nama yang bagus. Mimi. Terus nama capungnya siapa?”&lt;br /&gt;“Upi..”&lt;br /&gt;“Oke. Kita kasih tau Mimi yuk, kalau Upi lagi sakit.”&lt;br /&gt;Kami mendekati Mimi secara perlahan lalu berbisik, “Mimi, tadi kami lihat, Upi sedang sakit di jalanan. Coba kamu tengok ya.”&lt;br /&gt;Cha mengikuti gaya saya yang berbisik, lalu tertawa kecil. Mimi kemudian terbang, mungkin ia segera mencari Upi untuk menolongnya. Ketika kami berjalan pulang, Upi sudah tidak lagi sekarat di jalan aspal. Mata saya mencari.&lt;br /&gt;“Oh, itu dia. Mimi dan Upi sedang bermain bersama. Senangnya.”&lt;br /&gt;Lalu kami berdua berjalan pulang. Menyusuri sungai kecil yang airnya hitam, melewati deretan warung dan berlari ketika hampir sampai di rumah.&lt;br /&gt;Esok hari, panggung imajinasi kami akan berada di mana ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber referensi:&lt;br /&gt;Anne of Green Gables, Lucy M.Montgomery, Penerbit Qanita. Maret, 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note : gambar dipinjam dari &lt;a href="http://suttongrapevine.files.wordpress.com/2009/07/dsc_0135.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-1577065494783186328?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/1577065494783186328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-panggung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1577065494783186328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1577065494783186328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-panggung.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Panggung Imajinasi'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwjmI6k23I/AAAAAAAAAEs/pZEGFgDXsKY/s72-c/imagination2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-2792630754656908494</id><published>2009-12-30T19:48:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T20:03:00.906-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Berawal dari Rumah :Menumbuhkan Cinta Baca &amp; Buku Pada Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwhTRZ0K_I/AAAAAAAAAEk/d54Cq6DYZTc/s1600-h/children_reading2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 277px; height: 186px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwhTRZ0K_I/AAAAAAAAAEk/d54Cq6DYZTc/s320/children_reading2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421244666420145138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;oleh : Luluk Maslachah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itulah yg menjadi acuan saya untuk memulai segalanya dari rumah, terutama dalam hal mendidik anak. Dari Rumahlah kita mendapatkan ilmu pertama kali, mulai sejak dalam kandungan, lahir, balita, remaja sampai dewasa. Hal-hal kecil dan kebiasaan yang dilakukan di dalam rumah tangga adalah merupakan pelajaran penting yang tidak langsung menjadi ilmu pertama anak kita.&lt;br /&gt;'Anda mungkin punya simpanan kekayaan berlimpah ruah : Peti-peti perhiasan dan pundi-pundi emas. Namun kau tidak pernah bisa lebih kaya daripada aku ---- Aku punya bunda yang membacakanku buku'. --Stirickland Gillilan,'The Reading Mother- dari : READ ALOUD Handbook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendidik anak, saya tidak punya obsesi atau target bahwa anak saya harus bisa membaca pada umur tertentu. Malah cenderung saya membebaskan anak saya untuk bisa membaca secara alami sesuai usia pertumbuhannya. Karena bagi saya, memaksa anak untuk bisa membaca sebelum usianya adalah sama saja menyiksa anak secara halus, otaknya dipaksa untuk berpikir dan menghapal yg seharusnya dia sedang mengalami masa pertumbuhan dengan bebas dan terarah baik motorik halus dan kasarnya. Jika ada anak yg sudah bisa membaca sebelum usia sekolah, memang itu suatu keistimewaan si anak dan menjadi kebanggaan bagi orang tuanya... Nih loh.. anak saya usia 2,5 tahun sudah bisa baca, anak saya belum masuk TK sudah lancar membacanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan pada anak sangat berbeda-beda, dalam hal ini kemampuan mengenal huruf dan membaca. Hal itu tergantung bagaimana peran serta orang tua dan keluarga yang mengeliling anak tersebut. Istilah lain adalah “anak bisa dan terbiasa karena iklim dan kebiasaan keluarga tempat dia tinggal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat, seorang psikolog anak mengatakan, bahwa mengajarkan atau lebih ekstrimnya memaksa anak untuk membaca adalah sama saja dengan ‘memampatkan perkembangan otak anak dan menjadikan otak anak tersebut jadi mudah lelah’. Berdasarkan hal itu, sejak anak saya dalam kandungan, saya juga tidak mempunyai keinginan untuk mengajarkan anak membaca pada usia yg belum waktunya. Tetapi saya “menekankan pada anak untuk mencintai buku”. Mungkin anda jadi bingung kan ? Ada yg berpendapat, mencintai buku kan juga sama saja menyuruh anak untuk membaca. Boleh..bisa jadi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam hal ini yang saya tekankan adalah bahwa anak mulai usia Nol Tahun sampai usia balita sudah ‘mengenal dan mencintai buku’. Tidak perlu dia harus bisa membaca untuk mencintai buku sejak kecil. Karena meskipun anak sudah bisa membaca, apalagi yang diikutkan kursus baca, belum tentu sepulang dari rumah dia akan suka membaca sampai besar nanti. Sungguh sayangkan? Padahal biaya untuk kursus baca juga tidak murah apalagi bagi keluarga sederhana seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya ?&lt;br /&gt;Masing-masing ibu dan orang tua tentu mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mengenalkan cinta buku pada anaknya. Sejak anak saya masih bayi dan masih saya gendong, saya suka mengajak dia ke toko buku. Pada waktu itu koleksi buku anak saya belum begitu banyak, saya suka membacakan dia apa saja, buku, koran, tulisan yang seolah-olah saya berbicara dengan dia. Sehingga dia merasa diajak bicara ternyata waktu saya bacakan dia diam seolah2 dengan tekun mengerti apa yang saya bacakan. Dan jika dia menangis karena mengantuk, maka saya bacakan dia apa aja yang bisa dibaca, sampai suatu waktu saya pernah membacakan anak saya buku resep makanan. Ternyata dia tidak tidur2 juga. Mungkin dia pikir bacaan resep makanan yang berisi bahan bumbu halus, bahan isi, bumbu kuah dan sejenisnya itu merupakan suatu cerita yg menarik, dikira dongeng kali ya...meski ibunya yg baca sudah terkantuk2...hehhehe. Akhirnya saya tertegun, anak ini kok gak tidur2 tapi tetap mendengarkan. Saya sadar, bahwa ada anak yg diam dan tidak rewel jika dibacakan sesuatu hinga saya mempunyai keyakinan bahwa anak saya ini suka dibacakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian ketika anak saya menginjak usia 6 bulan, dia sudah bisa duduk, saya bertambah giat untuk mencarikan buku-buku anak untuk dia. Alhasil dia sangat suka, meski masih dipegang-pegang, dibuka tidak beraturan, sampai sobek jika kertasnya tipis tapi saya lihat ‘dia sangat menikmati’ dengan mainan bukunya. Pada usia selanjutnya, tiap hari terutama pada waktu mau tidur saya suka membacakan buku anak pada dia. Sampai sekarang, saya sempat kecapekan karena sudah membacakan lebih dari 10 bukupun dia kok tidak tidur? akhirnya ibunya yg tertidur pulas.. hehehhee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 1 tahun ke atas setelah dia bisa jalan sendiri, saya ajak dia ke toko buku, dari situlah terlihat bahwa anak saya suka buku. Meskipun dia belum mengenal huruf dengan pasti tapi dia sudah tertarik dengan gambar yang dia suka terutama Ikan, Pesawat, kereta api dan alat transportasi lain. Saya merasa nyaman jika mengajak anak saya ke toko buku karena dia sangat menikmati sekali suasananya dan dia suka juga berkeliling2 untuk mencari gambar2 yang dia suka. Tapi dengan syarat, perut anak saya tidak boleh kosong sewaktu masuk ke toko buku sehingga acara bs berjalan dengan lancar.. J&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umur mendekati 2 tahun dan sampai sekarang dia berumur 2,9 tahun, Jika saya ajak ke toko buku ataupun pameran buku, saya senang sekali karena dia tidak merasa capek dan rewel untuk berkeliling mengikuti saya melihat-lihat dan mencari buku.&lt;br /&gt;Jika dia melihat gambar depan buku yang dia suka, seperti ikan, pesawat, kereta, dan sebagainya, dia akan berhenti di depan rak buku tersebut dan berteriak, Bu.. itang.... awat.., terus dia ambil salah satu buku ditunjukkan ke saya dan dia buka-buka buku tersebut dengan riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang lucu dan membikin saya haru pada waktu dia saya ajak ke acara Book Fair Jakarta 2009 di Gelora Bung Karno. Dari Depok kita naik kereta menuju Jakarta, kemudian kita naik busway 2 kali, trus kita berjalan dari pintu gerbang ke gedung... anak seumur dia gitu loh...syukur tidak rewel dan sangat enjoy ajjaa.... hehhehe. Saya ajak dia keliling mengunjungi stand-stand di pameran itu. Kita tahu bahwa stand yang ikut pameran waktu itu banyak sekali, jadi tidak mungkin kita masuki satu persatu. Jika saya sudah menemukan buku yg cocok untuk dia terutama yang harganya tidak mahal2 banget, dia tampak gembira. Akhirnya sampai di stand terakhir yang mendekati pintu keluar... karena sudah capek dan kantong sudah menipis, eh dia malah jongkok di depan rak buku yang berisi buku anak-anak bergambar bagus-bagus itu...kebetulan buku yang dia lihat berukuran besar dan berada di rak bagian bawah, saya cuma nunjukin dia aja, ituloh gambarnya bagus. Dan saya lanjutkan untuk melihat buku lainnya. Lah kok ternyata dia tidak bergerak sedikitpun dari rak tersebut...malah dia terus jongkok, diam di situ dan tidak mau berdiri...Saya sempat kebingungan, padahal saya sudah niat dan bertekad jangan’kepincut buku’ yg di stand ini deh . Eeeehh.. anak saya malah tidak bergeming, saya ajak pulang dan keluar ruangan tidak mau. Akhirnya dengan terpaksa saya harus mengambil ATM dadakan yang disediakan oleh panitia. Saya keluar gedung dan sebelumnya tidak lupa saya titipkan anak saya ke Mbak penjaga stand, untung mbaknya baik dan tidak judes.. :-) Akhirnya.... terbeli lagi buku yang ‘ditongkrongi’ anak saya meskipun dia rela saya tinggal untuk pergi ke ATM. Pengalaman yg tidak terlupakan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari toko buku, biasanya anak saya selalu langsung minta dibacakan atau dijelaskan isi buku tersebut, baik gambarnya, ataupun kita disuruh menggambar seperti yg ada di buku tersebut.Yah.. memang kadang capek, karena dia minta dilakukan berulang2 padahal kita masih barusan masuk rumah, belum membereskan hal-hal lain. Tapi Tidak masalah ...Demi anak ...:-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah.... ternyata anakku sangat suka dan mencintai buku meski belum bisa membaca. Alhasil, dengan seringnya saya lihatkan buku2 baik sewaktu kita di rumah mapun waktu ke toko buku, setiap dia melihat huruf atau angka dia selalu meneriakkan beberapa huruf dan dibaca dengan kata yang lain. Misal dia berteriak A U B O dengan percaya dirinya membaca jadi kata ‘ PESAWAT’ atau kata lain...hehhehehe. Otomatis sampai sekarang jadi akrab dengan huruf-huruf yang ada di sekelilingnya, apapun dan dimanapun yang dia lihat ada huruf-hurufnya, dia selalu memanggil saya dan bicara, “Bu...A,B,C,H,.. dst“ maksudnya, dia memberitahu ada tulisan disana, baik itu tulisan yang terpampang besar di jalan2 atau tulisan kecil merk di bagian dalam leher baju. hehhehe sungguh tidak menyangka...Sekarang jika kita sedang melihat sesuatu, baik itu langsung di hadapan/sekitar kita atau di TV, saya selalu bicara, ‘Dek, itu kan seperti yang ada di buku Faiz’...dia meng-iyakan dan menunjuk arah buku dan minta diambilkan buku yang sama dengan obyek tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus berusaha mengenalkan pada dia bahwa : ”Buku adalah Jendela Ilmu”. Ilmu apa saja, pengetahuan umum, kemandirian anak, agama, sosial dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dengan buku yang sering saya bacakan pulalah perbendaharaan kata anak saya semakin banyak dan bertambah. Buku yang kita berikan untuk anak tidak harus selalu dengan harga mahal, banyak buku2 bekas yang masih bagus dan isinya juga mendidik, kenapa tidak ?&lt;br /&gt;AYO KITA GIATKAN “CINTA BUKU PADA ANAK KITA” sehingga mereka menjadi generasi yang berwawasan luas, punya ilmu yang bermanfaat bagi hidup dan lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.usu.edu/asusu/assets/img/profiles/377/profile_pics/children_reading2.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-2792630754656908494?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/2792630754656908494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-berawal-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2792630754656908494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2792630754656908494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-berawal-dari.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Berawal dari Rumah :Menumbuhkan Cinta Baca &amp; Buku Pada Anak'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwhTRZ0K_I/AAAAAAAAAEk/d54Cq6DYZTc/s72-c/children_reading2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-8910098926397688436</id><published>2009-12-30T19:38:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T19:46:32.173-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Investasi dalam Dongeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzweVv8NHxI/AAAAAAAAAEc/v72oHjI3PKQ/s1600-h/mother_%26_child_reading.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 213px; height: 241px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzweVv8NHxI/AAAAAAAAAEc/v72oHjI3PKQ/s320/mother_%26_child_reading.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421241410442305298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Dini Noor Hidayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang yang cerah, Franklin si kura-kura bersama Bear si beruang dan Beaver berang-berang sedang bekerjasama mengecat mobil-mobilan, ketika Pak Mole tetangga mereka menghampiri dan mengamati bahwa mobil-mobilan itu belum dilengkapi klakson. Pak Mole menjanjikan untuk membelikan klakson di kota besok, tapi ia sedang bingung siapa yang mau mengurus rumahnya ketika ia pergi? Franklin yang merasa sudah besar sanggup membantu Pak Mole. Namun ternyata kemudian, Franklin melupakan tugas dan tanggungjawabnya karena terlalu asyik bermain dengan teman-temannya. Akibatnya, Franklin harus meminta maaf atas kesalahannya dan harus berusaha memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal cerita diatas diambil dari Franklin Storybooks ciptaan Paulette Bourgeois dan Brenda Clark , yang menjadi dongeng kesayangan anak-anak saya. Sebagai ibu dari tiga anak, saya banyak menemukan kejadian yang menakjubkan seputar pengasuhan anak-anak. Kepolosan dan rasa ingin tahu yang besar dalam diri anak terkadang membuat saya gemas, bahwa ternyata saya tidaklah lebih pandai dari seorang guru TK yang mahir menjawab berbagai pertanyaan mudah. Pertanyaan yang gampang dijawab namun terasa sulit diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dipahami anak, merupakan pertanyaan yang sering muncul seiring dengan upaya anak mengindera lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Selalu ingin tahu’, adalah ciri utama anak cerdas. Rasa ingin tahu ini merupakan suatu reaksi positif terhadap pengenalan pada diri sendiri beserta dunia yang mengelilinginya. Dalam perkembangan kecerdasannya, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi anak yaitu : nature, nurture dan nutrition. Selama ini banyak orangtua mempercayai bahwa faktor genetiklah (nature) yang dianggap berperan besar dalam menurunkan kecerdasan pada anak. Demikian juga peran nutrisi (nutrition) dalam pembentukan sel-sel tubuh dan otak supaya anak tumbuh sehat dan cerdas, Sayangnya, faktor nurture atau pengasuhan belum dioptimalkan dalam upaya pembentukan anak. Kendala tersebut dapat disebabkan berbagai faktor, misalnya: kesibukan dan karir orangtua yang menyita waktu dan perhatian sehingga melimpahkan tanggungjawab kepada orang lain, minimnya informasi yang dipunyai mengenai cara pengasuhan anak yang maksimal, atau juga dikarenakan adanya anggapan sempit bahwa pendidikan formal saja sudah cukup untuk membekali masa depan anak. Padahal jika orangtua mau sedikit kreatif, selalu ada cara untuk mendampingi anak dalam suatu proses pembelajaran. Salah satunya dengan menciptakan suatu aktivitas menyenangkan yang disebut dengan  mendongeng.&lt;br /&gt;Mendongeng atau bercerita adalah satu media komunikasi yang ampuh dalam mentransfer ide dan gagasan kepada anak dalam sebuah kemasan menarik. Mendongeng itu semudah bergosip. Merangkai kata-kata persuasif, deskriptif, naratif atau imajinatif menjadi sebentuk kisah yang atraktif, sekedar untuk berbagi makna cerita. Mendongeng atau storytelling bertujuan menuangkan gagasan dalam pikiran, tidak saja untuk menghibur pendengarnya, namun juga untuk menularkan nilai-nilai yang terkandung dalam inti cerita. Seorang storyteller dari Inggris, David England, menyebutkan bahwa storytelling dapat bermanfaat dalam memperkaya perbendaharaan kata-kata (vocabulary) . Ditambah lagi, mendengarkan dongeng akan melatih daya tangkap anak selama proses menyimak. Tentu saja, latihan konsentrasi ini akan melatih ingatan anak untuk berfikir lebih detail mengenai suatu objek dan memperbanyak kosakata anak, suatu modal utama yang sangat diperlukan bagi pengembangan kemampuan komunikasi verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng juga berguna bagi anak agar dapat mengatur perasaannya. Perhatian anak ketika menyimak dongeng, diperkaya dengan intonasi nada, mimik muka, gesture, menambah pengalamannya untuk lebih pandai mengolah rasa dan memupuk percaya diri dalam mengatasi suatu masalah, yang nantinya ini akan berpengaruh pada penghargaan diri (self-esteem) anak. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam sebuah dongeng, antaralain: kejujuran, tolong-menolong, kebersamaan, keberanian, persahabatan, dan sebagainya, berperan besar dalam melatih kepekaan sosial anak terhadap lingkungannya. Kisah Franklin bersama dengan sahabat-sahabatnya dalam mengatasi permasalahan sehari-hari misalnya, dapat menawarkan suatu gambaran mengenai pentingnya rasa setiakawan, saling menghormati, dan saling menolong dalam berteman. Anak dapat belajar berbicara, mengungkapkan perasaannya, berfikir luas dalam mempertukarkan gagasan, mengembangkan kreativitas, serta belajar cara berkomunikasi baik yang efektif secara verbal maupun non-verbal. Dengan demikian, tanpa disadari ibu telah melatih kemampuan interpersonal dalam diri anak, suatu ketrampilan yang dibutuhkan bagi perluasan jaringan sosial kehidupannya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut S. Devi , pada masa kanak-kanak hingga dewasa pembelajaran dan motivasi haruslah digiatkan untuk mengimbangi dinamika kerja otak manusia. Mendongeng ternyata sangat membantu dalam proses tersebut, termasuk juga memberikan kegunaan yang lainnya yaitu :&lt;br /&gt;1.    Membuka pemikiran dan wawasan anak terhadap pengetahuan baru. Jalaluddin Rakhmat, seorang pakar komunikasi, menyebutkan bahwa kebaruan (novelty) merupakan inti dari pengayaan lingkungan otak anak, yang dapat dicapai dengan memberikan latihan mental yang menantang dan merangsang kerja otak anak.  Prinsipnya adalah dengan mempertahankan rasa ingin tahu anak, maka anak akan terangsang dan tertantang mencari jawaban yang akan mengarahkannya pada pertanyaan berikutnya. Dongeng yang baik dapat merangsang dan menggugah kekuatan berpikir melalui alur yang baik, membawa anak pada arus dan kegairahan cerita.&lt;br /&gt;2.     Mengembangkan imajinasi anak dan kreativitas.  Kata-kata yang penuh makna yang didapat dari dongeng akan mendorong anak untuk menciptakan gambar-gambar yang jelas dalam pikiran anak. Tentu saja, ini akan memupuk kreativitas dalam diri anak, mengingat satu objek bisa digambarkan berlainan pada pikiran satu anak dengan anak lainnya. Dengan adanya ‘pemutaran bioskop’ di dalam otak, sesungguhnya anak tengah mengembangkan kemampuan visualnya.&lt;br /&gt;3.    Membangkitkan motivasi dan menemukan inspirasi. Suatu resep yang ampuh untuk memompa motivasi adalah dengan menceritakan kisah orang-orang sukses karena kerja kerasnya. Menyediakan buku-buku tentang sejarah dan orang-orang yang berjasa akan membuka pikiran anak bahwa orang-orang tersebut adalah juga orang biasa, yang membedakan adalah adanya rasa ingin tahu yang melahirkan gagasan cemerlang, semangat tinggi, dan kerja keras dalam mencapai tujuan hidup. Dengan membuka wawasan anak seluas-luasnya, maka anak dapat memulai untuk menyusun cita-citanya sedini mungkin dan mengembangkan kualitas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet manfaat mendongeng diatas dapat menjadi tujuan yang ingin kita raih supaya buah hati kita tumbuh menjadi manusia yang cerdas, menghargai dirinya sendiri juga orang lain disekitarnya. Dan satu manfaat paling besar yang akan dirasakan oleh anak seumur hidupnya, yaitu perasaan selalu dicintai. Mendongeng akan mempererat hubungan orangtua dan anak, karena orangtua dapat memahami kemampuan anak melalui komunikasi dan interaksi yang terjalin selama bercerita. Karena dicintai, maka anak merasa dihargai, dan selanjutnya turut meninggikan penghargaan anak pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui beragam kegunaan dongeng, maka sedini mungkin orangtua perlu membiasakan mendongeng sebagai aktivitas yang mengasyikkan, tidak saja bagi anak, namun juga bagi orang tua. Anak-anak saya biasa berangkat tidur dengan membawa buku cerita kesukaannya, dan meminta saya untuk menceritakannya sebelum terlelap. Kami terbiasa untuk berdialog tentang cerita Franklin si kura-kura, dan seringkali saya terkejut menemukan gagasan-gagasan lucu yang spontan tercetus dari pikiran anak. Suatu perasaan nyaman yang selalu menyelimuti kami, bahwa saya dapat mengajak pikiran anak berpetualang dengan cara yang sederhana, supaya anak-anak dapat membawa petualangan itu ke dalam mimpi, menyimpan dalam alam bawah sadarnya, dan mempraktekkannya di kehidupan nyata.&lt;br /&gt;Mendongeng haruslah menjadi kebiasaan baru yang menyenangkan, tidak menjadi masalah jika anda harus menjalani profesi sebagai guru TK pada malam hari, merasa lelah untuk menjawab ribuan pertanyaan yang meluncur dari mulut mungil anak anda, atau menyisihkan sekian rupiah demi memenuhi rak buku dengan ratusan buku cerita. Mendongeng adalah bekal bagi anak untuk memberikan gambaran dan memperkaya pangalaman untuk membantunya menaklukkan persoalan kehidupannya saat ini dan nanti. Maka tidaklah berlebihan jika mendongeng dapat kita katakan sebagai upaya investasi yang sangat menguntungkan bagi masa depan anak. Jadi silahkan berinvestasi, karena suatu saat nanti, anda dapat menuai hasil yang menakjubkan dari kerja keras anda selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari&lt;a href="http://www.clipartheaven.com/clipart/kids_stuff/images_%28g_-_z%29/mother_&amp;amp;_child_reading.gif"&gt; sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-8910098926397688436?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/8910098926397688436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-investasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/8910098926397688436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/8910098926397688436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-investasi.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Investasi dalam Dongeng'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzweVv8NHxI/AAAAAAAAAEc/v72oHjI3PKQ/s72-c/mother_%26_child_reading.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-185975725179873375</id><published>2009-12-30T19:22:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T19:38:04.107-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mengembangkan Imajinasi Anak Melalui Dongeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szwcck8ouxI/AAAAAAAAAEU/LnTqCE9iptE/s1600-h/imagination.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 239px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szwcck8ouxI/AAAAAAAAAEU/LnTqCE9iptE/s320/imagination.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421239328727153426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Jantan Putra Bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teringat jelas dalam ingatan dongeng yang selalu diceritakan kepada saya waktu kecil, yaitu dongeng “Kancil Nyolong Timun” . waktu itu saya dengan penuh imajinasi membayangkan keadaan alam, bentuk binatang Kancil, dan petani yang jengkel karena buah mentimunnya dicuri si Kancil yang cerdik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, jarang sekali saya mendengar anak kecil—sehabis didongengkan orangtuanya—bercerita tentang Kancil Nyolong Timun atau dongeng-dongeng lainnya kepada teman-temannya. Saya rasa hal ini dikarenakan anak-anak sudah tidak pernah mendapatkan dongeng-dongeng. Orangtua terkadang malas membacakan dongeng kepada anaknya, mereka malah membiarkan anaknya tidur di depan televisi. Sehingga jarang sekali anak-anak saat ini yang mengerti dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi telah menguasai dunia anak-anak. Sehingga anak-anak lebih ramah terhadap televisi daripada buku. Dalam hal pendidikan, buku lebih mendidik ketimbang televisi. Hal ini dikarenakan televisi merupakan cerita bergambar yang bisa dinikmati bahkan bisa menyihir anak hingga betah berlama-lama di depan televisi untuk menonton acara kesayangannya. Sedangkan buku akan merangsang anak untuk berimajinasi, sehingga membuat anak dapat berpikir kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak semua film mempunyai efek negatif, pastinya ada juga efek positifnya. Beberapa film yang bisa mendidik misalnya saja Denias; Senandung di Atas Awan kisah seorang anak Papua yang mempunyai keinginan keras untuk dapat mengenyam pendidikan formal, yaitu sekolah. Dengan penuh semangat, Denias berjuang untuk bisa sekolah. Namun di kemudian hari terjadi musibah yang menewaskan ibunya serta guru yang mengajar pulang ke Jawa. Namun, dengan kegigihannya serta didukung oleh Guru Sam, Denias dapat meneruskan kembali sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film-film seperti inilah yang dapat mengajarkan kepada anak bahwa hidup harus mempunyai semangat dan keinginan yang keras. Walaupun kadang film seperti membuat anak menganggap bahwa pendidikan sekolah adalah menjadi kebutuhan utama, sehingga melupakan pendidikan non formal serta bersosialisasi yang tidak kalah penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah baiknya, ketika masih anak-anak banyak disuguhi dongeng dan buku ketimbang nonton film. Ketika masih anak-anak, daya imajinasi serta berpikir kreatif adalah hal yang utama untuk mendidik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng—baik yang didongengkan oleh orangtuanya atau dengan membaca buku sendiri—adalah hal yang baik. Seperti dongeng fabel Tiga Tupai Kecil terbitan Mizan, isinya mempunyai beberapa hal positif yang dapat dipetik, misalnya saja mengajari anak memperkenalkan nama-nama hewan, banyak nasihat bijak yang dapat diambil, seperti pentingnya berbagi dan bersahabat, serta menghargai perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ketika anak menjadi dewasa, dongeng-dongeng tersebut—meskipun sedikit—tetap akan ada yang bisa diingat dengan imajinasinya masing-masing. Hal ini dapat membantu anak dalam bergaul dengan teman sebaya, sehingga nantinya anak tidak menjadi asosial. Karena banyak cerita yang bisa ia bagi dengan teman-temanya, maupun hasil dari pelajaran yang dipetik dari dongeng itu secara tidak langsung bisa terbawa dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan banyaknya pilihan buku dongeng, seharusnya dapat memacu para orangtua memilih dan mendongengkan untuk anak-anaknya. Mengenalkan anak terhadap sesuatu sangat mudah jika dilakukan melalui dongeng. Mengenalkan anak terhadap warna, berhitung, nama binatang, nama tumbuhan dan lain sebagainya itu sangat mudah disampaikan dan ditangkap oleh anak melalui dongeng.&lt;br /&gt;Buku Seri Tokoh Dunia yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo juga sangat menarik untuk diberikan kepada anak. Mengenalkan beberapa tokoh dunia yang diceritakan dengan sangat menarik dan mudah dipahami. Dari Sidharta Gautama, Isaac Newton, Julius Caesar dan masih banyak lagi tokoh dunia ada dalam buku Seri Tokoh Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu si anak dapat mengenali para tokoh sejak dini. Baik sejarah, atau berbagai hal yang ditemukan oleh para tokoh itu. Sehingga sejak dini anak mempunyai semangat dan cita-cita, setidaknya impian untuk menjadi seperti mereka. Setidaknya ketika si anak mempunyai impian atau cita-cita menjadi seperti para tokoh dunia, si anak tidak akan malas, namun mencotoh hal-hal yang dilakukan oleh para tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya hal seperti ini tidak lepas dari peran aktif orangtua dalam mendidik anak serta mengarahkan anak untuk membaca buku. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi contoh yang baik. Kalau otangtuanya saja malas membaca buku dan mendongeng untuk anaknya, bagaimana bisa berharap nantinya si anak mau membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak adalah makhluk yang pandai menirukan sesuatu dengan cepat, baik hal baik maupun hal buruk. Jika sejak dini diperkenalkan terhadap hal yang baik, melalui dongeng atau buku niscaya si anak ketika dewasa akan cinta dongeng dan cinta terhadap buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel “Cinta Dongeng, Cinta Baca”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note : gambar dipinjam dari &lt;a href="http://rlv.zcache.com/imagination_in_reading_outer_space_card-p137707622437933024qiae_400.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-185975725179873375?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/185975725179873375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-mengembangkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/185975725179873375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/185975725179873375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-mengembangkan.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mengembangkan Imajinasi Anak Melalui Dongeng'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szwcck8ouxI/AAAAAAAAAEU/LnTqCE9iptE/s72-c/imagination.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-6363858350711885249</id><published>2009-12-30T19:17:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T19:22:32.965-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Agar Anak Gemar Membaca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwY1zNvX6I/AAAAAAAAAEE/ZSYsjvTAPp0/s1600-h/buy-book-as-gift-kid-200X200.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwY1zNvX6I/AAAAAAAAAEE/ZSYsjvTAPp0/s320/buy-book-as-gift-kid-200X200.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421235364007206818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Sri Indah Aruminingsih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempunyai kesukaan alias hobi membaca. Dari kecil sampai menjadi ibu-ibu begini, saya selalu mengusahakan setiap hari untuk membaca. Saya tidak mempunyai banyak uang, sehingga sedikit sekali tempat di muka bumi ini yang bisa saya kunjungi. Namun saya tidak menyesalinya, karena dengan membaca, saya bisa mengunjungi tempat mana pun yang saya ingin kunjungi dengan membaca. Saya bisa ‘berbicara’ dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia, dari berbagai macam suku, bangsa dan agama dengan membaca. Itulah mengapa buku disebut sebagai jendela ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin ‘menularkan’ kegemaran saya ini kepada kedua jagoan saya (5 dan 2,5 tahun). Senang sekali saya melihat si kakak sudah menyukai buku-buku yang saya belikan untuknya. Suatu ketika dia lebih memilih dibelikan buku daripada mainan ketika saya tawarkan kepadanya. Semua ini tidak begitu saja bisa terjadi, tetapi memang saya ‘kondisikan’ anak-anak untuk lebih mencintai buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut bebarapa tip yang bisa saya bagikan berdasarkan pengalaman pribadi saya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berikan contoh teladan&lt;br /&gt;Bagaimana kita mau menjadikan anak-anak kita agar gemar membaca jika kita sendiri, sebagai orang tua, tidak mempunyai kegemaran membaca sama sekali? Jadi, agar kebiasaan ini ‘menular’ kepada buah hati kesayangan kita, maka harus orang tua dulu yang mencontohkan kegemaran ini. Selalu luangkan waktu kita untuk membaca. Dengan seringnya anak melihat orang tuanya membaca, insya Allah anak-anak pun akan tertular kebiasaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kenalkan buku sejak dini&lt;br /&gt;Semakin sering kita mengajak komunikasi dengan bayi-bayi kita, akan semakin bagus kemampuan bahasa yang dimilikinya. Kenalkan buku cerita pada anak-anak sejak mulai dia lahir. Berikan buku yang menarik kepadanya. Buku yang paling pas untuk anak batita adalah yang banyak gambarnya. Semakin berwarna, maka akan semakin menarik untuk si kecil. Balita akan lebih mudah menerima buku yang mempunyai lebih banyak tulisan. Semakin bertambah umur anak, kenalkan dengan buku yang memiliki bacaan. Bacakanlah bacaan-bacaan itu kepadanya. Luangkanlah sedikit waktu kita untuk menceritakan bacaan itu kepadanya.&lt;br /&gt;Oh ya, tentunya kita harus mewaspadai kebiasaan si dua tahun yang masih gemar tantrum alias marah-marah sendiri tanpa sebab dan akibat. Biasanya si tantrum ini akan merusak apa pun yang dimilikinya, termasuk buku-buku yang kita sediakan untuknya. Maka tidak ada salahnya jika buku-buku yang kita sediakan untuknya pada rentang usia ini bukanlah buku-buku yang mahal-mahal alias buku murah. Aktivitasnya dalam merobek-robek buku janganlah kita larang, karena itu hanyalah ekspresinya untuk mengeksplorasi buku yang ada di hadapannya. Jangan pula karena kebiasaannya merobek buku menjadikan kita malas untuk memberinya buku. Jika kita terlanjur membelikannya buku mahal, maka jika tantrumnya sedang kumat, sediakanlah di hadapannya buku-buku murah itu, dan kita amankan buku-buku mahal tersebut dari jangkauannya. Pengalaman saya sih, saya memberikan buku seharga seribuan (paling mahal 3 ribu) untuk si tantrum ini. Percaya deh, kebiasaan ini akan berkurang seiring bertambahnya usianya. Yang penting, selalu arahkan si tantrum ini dan berikan nasihat bagus menurut usianya untuk kebiasaannya yang jelek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bacakan buku cerita dengan menarik dengan mendongeng/storytelling&lt;br /&gt;Mendongenglah untuk anak-anak. Anak-anak selalu suka didongengi. Tidak ada salahnya kita sebagai orang tua mengetahui teknik mendongeng. Dengan mendongeng, kegiatan membaca menjadi kegiatan yang menyenangkan buat anak-anak. Minimal dongengilah anak-anak kita sekali sehari sebelum tidurnya di malam hari. Mungkin kita akan sedikit menjerit karena anak-anak sering meminta dibacakan satu buku berkali-kali. Sabarlah dan jangan matikan motivasi mereka dengan menolaknya.&lt;br /&gt;Kegiatan mendongeng sangat bagus manfaatnya buat anak-anak. Kita bisa mengajari moral yang baik tanpa menggurui kepada anak. Kita bisa mengajari shirah misalnya kepada anak tanpa kita perlu bersusah payah. Kita bisa mengajari membaca, berhitung, sholat, berdoa dan lain-lain kepada anak juga lewat kegiatan mendongeng ini. Jangan lupa, dengan mendongengi anak, bonding kepada anak akan lebih terasa. Keterikatan jiwa lebih bisa terjadi.&lt;br /&gt;Ada satu lagi yang juga termasuk kegiatan storytelling ini. Bahkan bagian darinya, yaitu speak aloud. Ya, membacakan buku cerita kepada anak. Dalam speak aloud ini, si ibu membacakan buku cerita kepada anak dengan keras, word by word, bahkan kalau perlu menunjuk tiap kata itu dan dengan intonasi yang berbeda. Ini bisa sangat membantu kognisi si anak. Diyakini, kegiatan speak aloud ini bisa lebih membuat seorang anak lebih gampang diajari membaca.&lt;br /&gt;Ada teknik tersendiri dalam speak aloud ini. Buat anak sedekat mungkin pada kita saat membacakannya cerita. Pada anak yang belum bisa duduk, dudukkan dia di pangkuan kita. Pada anak yang sudah bisa berdiri, biarkan kepalanya bersandar di dada kita. Ini akan memberikan efek bonding yang luar biasa.&lt;br /&gt;Saya berusaha mendongengi anak-anak tiap malam sebelum tidur. Kegiatan ini saya seling antara mendongeng dan speak aloud. Luar biasa efeknya memang saya rasakan buat anak-anak. Dalam umurnya yang belum genap 5 tahun, si sulungku sudah agak lancar membacanya. Subhanallah….&lt;br /&gt;Si sulungku ini sekarang malah sedang keranjingan mendongeng dengan boneka tangan. Tapi berhubung kami tidak punya boneka tangan, maka ternyata kreativitas dia keluar. Dia menggunakan kaos kaki! Subhanallah. Awalnya dia tidak bisa melihat kaos kakiku menganggur dan selalu diambilnya untuk dipakainya mendongengi adiknya. Walau risih, aku terhibur juga. Aku memfasilitasi dengan memberikannya kaos kaki bersih yang lucu punyaku yang dulu kubeli dan tidak pernah kupakai. Hmmm…malah kreativitas anak beranak ini jadi muncul ya..:) Aku sengaja tidak membelikannya boneka tangan, biar muncul lagi kreativitasnya yang lain..:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sisihkan sebagian pengeluaran bulanan untuk membelikan anak buku&lt;br /&gt;Jadikanlah ini sebuah kewajiban bagi kita sebagai orang tua. Atur pos pengeluaran sehingga selalu ada pos untuk membelikan anak-anak buku. Tidak harus banyak kok, tapi sesuaikan dengan budget yang kita punya. Jika pendapatan kita minim, maka galilah kreativitas kita untuk ini. Namun, jika kita mempunyai pendapatan yang lumayan besar, jangan segan untuk memposkan lebih besar pengeluaran untuk ini.&lt;br /&gt;Ajak anak ke toko buku. Biarkan mereka memilih buku apa pun yang mereka suka. Jangan lupa, sesampai di rumah, kita diskusikan isi buku tersebut kepada anak. Insya Allah dengan cara ini anak-anak akan semakin bersemangat membaca buku karena buku yang dibacanya adalah pilihannya sendiri.&lt;br /&gt;Beberapa tokoh film yang disukai anak-anak juga bisa kita jadikan acuan untuk membelikan mereka buku. Anak-anak akan menyukai buku yang berisi tokoh yang mereka lihat di film (naruto, sponge bob, spiderman, superman, deelel).&lt;br /&gt;Beberapa hal yang bisa penulis bagi untuk yang berpendapatan pas-pasan :&lt;br /&gt;a. menabung untuk membeli buku&lt;br /&gt;Terutama jika kita ingin membelikan anak buku yang kita tahu bagus tetapi harganya mahal. Jangan lupa sosialisasikan kegiatan menabung ini pada anak, dan ajak dia berpartisipasi menabung dengan menyisihkan uang jajan mereka, sehingga mereka paham bahwa ibunya telah berupaya keras membelikannya buku bacaan. Di samping itu, kebiasaan menabung ini akan menjadi kebiasaan yang sangat bagus untuk anak-anak.&lt;br /&gt;b. hunting ke toko loak&lt;br /&gt;Banyak kok buku-buku bagus yang ada di toko-toko loak. Saya tidak segan ngubek-ubek toko loak di Bandar Lampung untuk mencari buku-buku bacaan dan pelajaran untuk anak-anak. Jelilah memilih. Biarpun murah, pastikan fisik dan isi buku yang kita beli bagus dan akan disukai anak-anak.&lt;br /&gt;c. membuat buku sendiri&lt;br /&gt;Anak-anak suka sekali berkreasi. Ajak mereka membuat buku bikinan mereka sendiri. Gunting gambar-gambar dari koran/majalah/buku-buku bekas dan tempel di kertas-kertas bekas print out yang tidak terpakai (tapi ingat yang masih banyak halaman putihnya) dan satukanlah kertas-kertas ini menjadi sebuah buku. Kreatif bukan? Dijamin anak-anak akan sangat menyukai aktivitas gunting-tempel ini.&lt;br /&gt;d. download ebook gratis&lt;br /&gt;Sekarang banyak kok situs-situs yang menyediakan layanan download ebook gratis. Kita bisa mendapatkan bacaan gratis di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berikan hadiah berupa buku&lt;br /&gt;Pada momen-momen istimewa yang dimilikinya, ulang tahun dan kenaikan kelas misalnya, belikanlah buku untuk anak-anak daripada membelikannya mainan atau barang-barang wah yang lain. Ini akan membuat anak semakin menghargai keberadaan buku dan semakin menggemarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ajak anak ke perpustakaan&lt;br /&gt;Sesekali ajaklah anak-anak ke perpustakaan. Biarkan mereka menjelajahi isi perpustakaan dan membaca buku apa pun yang mereka suka di sana. Biarkan mereka menjelajahi rak demi rak buku dan berimajinasi di sana. Jangan lupa, karena di perpustakaan dilarang membuat keributan, maka lebih dahulu kita kondisikan anak-anak untuk tidak membuat kehebohan di dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ajari anak membaca&lt;br /&gt;Tidak perlu memasukan anak ke les untuk mengajarinya membaca, walaupun memberikan les kepadanya juga bukan hal yang jelek. Jika anak sudah menyukai buku sejak mereka kecil, maka mengajarinya membaca insya Allah menjadi sebuah usaha yang tidak terlalu susah. Jangan paksa anak untuk bisa membaca. Ajari mereka dengan pendekatan belajar sambil bermain dan lihatlah hasil yang akan kita dan anak-anak dapatkan. Tentu dibutuhkan kesabaran ekstra untuk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ajak anak untuk menceritakan kembali&lt;br /&gt;Anak-anak selalu suka diajak berdiskusi tentang buku yang pernah mereka baca atau kejadian apapun yang mereka lihat dan dengar. Mintalah anak untuk menceritakan kembali hal-hal tersebut kepada kita. Jangan meremehkan apa pun yang mereka ceritakan. Ingat, kita dianugerahi Allah dua telinga untuk lebih banyak mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Jangan paksakan target membaca pada anak&lt;br /&gt;Setiap anak mempunyai kecepatan yang berbeda untuk belajar membaca dan membaca itu sendiri. Biarkan dan dengarkan mereka membaca (pada anak-anak yang sudah bisa membaca), sehingga kita bisa tahu kemajuan bacaannya. Jangan paksa mereka harus menghabiskan sekian halaman setiap hari. Memberi target boleh saja, asal disesuaikan dengan kemampuan anak. Dalam waktu-waktu tertentu saya ‘mewajibkan’ si sulung yang sudah agak lancar membaca untuk menyelesaikan satu buku kecil atau sekian halaman dari buku-buku yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Bahkan, jika si anak belum bisa membaca, biasanya mereka akan ‘pura-pura membaca’ sesuai dengan gambar di buku atau dari bacaan yang kita ceritakan kepadanya. Hargai usaha mereka ini. Berikan apresiasi dan tidak boleh diremehkan. Beri pujian jika perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Taruh buku pada tempat yang mudah dijangkau anak&lt;br /&gt;Biarkan anak menemukan apa yang ingin dia baca sendiri. Jangan biarkan DVD player atau PS atau mainannya lebih mudah dijangkau baginya dibanding koleksi buku-bukunya. Kalau perlu sediakan buku-buku di samping tempat tidurnya sehingga dia bisa dengan sangat mudah menjangkaunya. Jangan pula jadikan tempat tidur sebagai ‘tempat haram’ untuk serakan buku. Biarkan dia membuka buku-bukunya di atas kasur, asalkan tanamkan pula kebiasaan tanggung jawab kepadanya untuk selalu membereskan barang-barang miliknya selesai dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Tetap biasakan anak membaca walaupun sedang berlibur&lt;br /&gt;Aktivitas membaca jangan sampai terhenti hanya karena anak-anak sedang libur sekolah. Selalu biasakan mereka membaca kapan pun dan di mana pun. Saya selalu menyediakan satu tas penuh bukunya jika bepergian jauh atau minimal satu buku bacaan untuk kedua anak saya jika bepergian yang tidak terlalu jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Variasikan bacaan anak&lt;br /&gt;Ajarkan anak-anak untuk menyukai majalah, koran, komik atau bacaan apa pun untuk memvariasikan bacaannya. Kenalkan mereka dan berpetualanglah dengan anak-anak untuk menggali ilmu-ilmu yang ada di balik bacaan-bacaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa tip yang bisa penulis sharekan di sini. Harapannya agar semakin banyak anak-anak Indonesia yang menjadikan membaca sebagai satu kegiatan yang mengasyikkan baginya, sehingga akan lahir generasi-generasi yang lebih bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel ”Cinta Dongeng, Cinta Baca”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari &lt;a href="http://i.ehow.com/images/a04/ge/j8/buy-book-as-gift-kid-200X200.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-6363858350711885249?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/6363858350711885249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-agar-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6363858350711885249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6363858350711885249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-agar-anak.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Agar Anak Gemar Membaca'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwY1zNvX6I/AAAAAAAAAEE/ZSYsjvTAPp0/s72-c/buy-book-as-gift-kid-200X200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-8825643440905497519</id><published>2009-12-30T19:09:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T19:17:28.276-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] I Love to Tell a Story and My Baby Loves to Read</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwWjKCObfI/AAAAAAAAAD8/27hnF1OgXuk/s1600-h/baby_reading.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 260px; height: 227px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwWjKCObfI/AAAAAAAAAD8/27hnF1OgXuk/s320/baby_reading.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421232844692155890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Dewi Mora Rizkiana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuliskan kecerdasan si kecil serasa menemukan sebuah buku kosong yang setiap kali kita ingin mengisinya, tiba – tiba halaman demi halaman menjadi penuh. Namun saat ‘dipaksa’ untuk menuliskannya serasa semua kembali ‘kosong’ atau boleh dibilang kita menemukan ‘a new book’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka buku, suka menulis, suka mendongeng, dan suka sekali -belajar- ‘menggambar’ -at least but not last- untuk konsumsi anak – anak dibawah asuhan saya. Saat Tuhan mengaruniakan ‘amanah’ terindahnya pada tahun 2008 tepatnya 17 September, saya menemukan ‘something’ new. Anak saya terasa begitu cepat bertambah kecerdasannya, mulai cuma bisa nangis, teriak, dan tidur, pelan namun pasti dia bisa tengkurap, duduk, merangkak, berjalan, dan sekarang sudah bisa berlari dan berkomunikasi. Subhanalloh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, saya suka sekali mendongeng untuk anak saya, dan hal itu terbantu dengan adanya buku – buku untuk balita -yang kadang- saya buat sendiri. Pada awalnya anak saya cuma suka memegang, merebut, dan melempar, namun saya pantang menyerah, saya lebih suka -nantinya- anak saya akan menjadi kutu buku daripada TV-mania (meski bukan antipati, karena ada banyak program anak – anak yang saya ikuti cukup bagus di beberapa stasiun TV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan ‘perkenalan’ anak saya dengan buku :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Awal saya kenalkan buku pada anak saya sejak di kandungan, dari inspirasi yang saya dapatkan saya menuliskan naskah – naskah dongeng yang saya dongengkan untuk anak – anak di bawah asuhan saya.&lt;br /&gt;2. Dalam setiap dongeng yang saya ceritakan, suara masing – masing tokoh selalu saya bedakan, dengan intonasi naik turun dan ekspresi sesuai situasi dan kondisi alur cerita.&lt;br /&gt;3. Beberapa hari setelah dia lahir saya suka menceritakan tentang kisah – kisah inspiratif kepadanya.&lt;br /&gt;4. Usia 1 bulan saat dia bisa mengangkat kepalanya saya ‘kenalkan’ dengan buku sebenarnya, dia tersenyum melihat -meski tak sepenuhnya paham-, tapi saya berprasangka baik dia suka.&lt;br /&gt;5. Setelah dia bisa memegang, saya berikan buku padanya, dan dia mulai bersahabat.&lt;br /&gt;6. Setelah dia duduk dan merangkak, dia mulai bisa meraih buku kesukaannya, meski sebatas dilihat, dipegang, dan bahkan dilempar.&lt;br /&gt;7. Usia 1 tahun, saat dia mulai bisa berjalan, hal yang membuat saya ‘surprise’ adalah saat ia membawakan buku kesukaannya ke depan saya dan membuka, serta menunjuk gambarnya sambil berkata ‘tu’ berkali – kali.&lt;br /&gt;8. Hal lain yang saya lakukan adalah mengajaknya ke toko buku sejak dia masih bayi, ke pameran – pameran buku, dan berusaha membelikannya sebuah buku untuk dibacakan kepadanya.&lt;br /&gt;9. Saat anak saya berusia 14 bulan, saat saya bilang ‘sayang, tolong ambil bukumu, ayo kita baca bersama….” Dengan bergegas dia akan mendapatkan bukunya dan duduk di depan saya, membukanya dengan semangat dan menunjuk – nunjuk gambar sambil berkata ‘tu tu tu!’. Terkadang saat dia membaca bagian dimana disitu ada anak yang bersahabat dengan binatang, dia akan mengelus – elus bukunya seperti biasa saya ajarkan. Lucu sekali!&lt;br /&gt;10. Sekarang anak saya berusia 15 bulan, dia suka membawa buku apa saja ke depan saya dan mengulurkannya dengan harapan saya akan membacakan buku itu untuknya meski hanya satu kata. Seumpama saya tak memperhatikannya dia akan ngambeg sampai saya membacakan buku itu untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya setiap anak memiliki begitu banyak kecerdasan yang bisa diasah oleh kita sebagai orangtua. Dan kecerdasan anak tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lain karena mereka memiliki ‘keunikan’ tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kejadian lucu saat saya sekeluarga mengurus paspor ke kantor imigrasi, si kecil yang suka berlarian melihat pamflet di sekitar loket ruang tunggu, dia menunjuk apa saja dengan isyarat ingin dibacakan, jadilah kami keliling dan saya bacakan setiap kata yang ditunjuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya do’a beserta harap dalam setiap aktivitas saya sebagai bunda, semoga kelak si kecil menjadi manusia yang berguna bagi lingkungan sekitarnya, minimal untuk dirinya, amiin….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba "Cinta Dongen, Cinta Baca")&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-8825643440905497519?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/8825643440905497519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-i-love-to-tell.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/8825643440905497519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/8825643440905497519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-i-love-to-tell.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] I Love to Tell a Story and My Baby Loves to Read'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwWjKCObfI/AAAAAAAAAD8/27hnF1OgXuk/s72-c/baby_reading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-4881867967267812121</id><published>2009-12-30T18:50:00.001-08:00</published><updated>2009-12-30T18:56:51.885-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Menggurui Anak-anak dengan Dongeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwSvtzgBzI/AAAAAAAAAD0/t9ikiUCJh-Y/s1600-h/kindergarten01.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 262px; height: 196px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwSvtzgBzI/AAAAAAAAAD0/t9ikiUCJh-Y/s320/kindergarten01.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421228662405990194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Isti Zusrianah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng merupakan aktifitas favorit saya sebagai pengajar TK di sebuah kampung kecil di Bantul, Yogyakarta. Ekspresi anak-anak ketika mendengarkan cerita saya, antusiasme mereka menebak-nebak akhir cerita dan semangat mereka berebutan menjawab pertanyaan “ujian” saya ketika cerita sudah selesai merupakan kepuasan tersendiri bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saya tidak menganggap penting kegiatan mendongeng, hanya sekedar bagian dari aktifitas mengajar karena tuntutan Satuan Kegiatan Harian yang harus saya laksanakan. Atau menjadi aktifitas andalan saya ketika anak-anak ribut dan tidak bisa dikendalikan. Apalagi saya tidak melihat hasil yang signifikan dari kegiatan mendongeng, seperti yang pernah saya tanyakan di sebuah seminar. Saya katakan waktu itu, anak-anak itu begitu antusias mendengarkan cerita saya, bisa menangkap pesan moral yang saya sampaikan. Tapi kenapa setelah saya selesai bercerita mereka kembali bersikap “liar”  seolah yang saya sampaikan hilang begitu saja. Kang Puji nara sumber seminar itu mengatakan bahwa, jangan heran ketika kita bercerita anak-anak itu begitu antusias tapi setelah itu mereka juga masih “antusias” menakali temannya, hanya perlu diingat bahwa apa yang kita sampaikan itu tidak hilang tetapi akan selalu berada di “alam bawah sadar” mereka dan bahkan bisa mereka ingat sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mengingatkan saya akan deskripsi Teoritis Maria Montessori tentang tahap-tahap yang yang harus dilalui seorang anak untuk memunculkan kedisiplinan batin. Pada tahap ketidakteraturan gerakan-gerakan tubuh, anak-anak cenderung mengalami kekacauan gerakan yang memerlukan bantuan orang tua dan guru dengan cara-cara yang menarik agar gerakan-gerakan tubuh itu menjadi lebih harmonis. Tahapan yang menyertai “kekacauan” ini adalah kesulitan atau ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada benda-benda nyata. Pikirannya lebih suka berkelana dalam dunia fantasi. Orang beranggapan bahwa fantasi itu berciri kreatif, padahal menurut Montessori justru sebaliknya, fantasi itu tidak ada nilainya atau sekedar bayang-bayang. Pikiran yang melanglang buana yang terlepas dari realita juga terlepas dari kondisi yang normal dan sehat. Di dunia fantasi yang khayalan memang tumbuh subur, tidak ada kontrol kesalahan, tidak ada upaya untuk mengkoordinasikan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi “kacau” inilah menurut saya, orang tua dan guru bisa menanamkan nilai-nilai melaui media dongeng. Dunia fantasi anak yang tidak ada kontrol kesalahan itu bisa dimasuki konsep benar salah menurut nilai-nilai agama, sosial dan budaya di mana mereka tinggal. Bahwa, keinginan kita dibatasi oleh aturan yang jika itu dilanggar akan menyebabkan berkurang atau hilangnya penerimaan lingkungan terhadap keberadaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kegiatan mendongeng dipastikan bisa merubah perilaku anak, tentu jika dilakukan dengan baik dan disesuaikan dengan tingkat penerimaan anak akan sebuah nilai yang akan disampaikan. Menurut Kak Andi Yudha, seorang trainer dongeng anak-anak dan penulis buku anak, segala sesuatu yang disimpan dalam bentuk cerita jauh lebih bermakna daripada segala sesuatu yang dijejalkan ke dalam otak hanya dalam bentuk fakta. Pada dasarnya bercerita adalah kegiatan berbagi rasa, membuka diri secara tulus, menyampaikan perasaan, mengungkapkan nilai-nilai dan menyampaikan pengalaman dengan sungguh-sungguh sehingga dapat diterima dan diserap oleh anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya orang tua tidak perlu khawatir jika belum bisa menjadi pendongeng seperti Kak Bimo atau Kak WeeS, tidak perlu berkecil hati jika belum bisa mempraktekkan tehnik-tehnik mendongeng seperti yang ada di buku-buku panduan mendongeng. Kejadian sehari-hari yang anak-anak atau orang tua temui bisa dijadikan bahan cerita, tentu dengan bumbu-bumbu yang pas dan  tidak lupa memasukkan nilai-nilai moral dalam cerita itu. Bisa juga menggunakan media buku cerita yang banyak dijual di Toko Buku, kalau perlu bisa mengajak anak ke toko buku dan memilih sendiri cerita yang disukainya. Meskipun belum bisa membaca, anak-anak bisa “membaca” ilustrasi buku yang biasanya menjadi daya tarik tersendiri bagi anak. Para ahli pendidikan sepakat bahwa, lingkungan yang selalu mendukung anak dengan merangsangsangnya melalui pendekatan visual dengan cara memperkenalkan buku secara fisik, kemudian membacakan atau menceritakannya akan membuat anak termotivasi untuk lebih jauh mendalami buku sehingga suatu saat buku menjadi sebuah kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para guru, tentu ada kiat khusus agar kegiatan mendongeng menjadi lebih menyenangkan. Yang selama ini saya praktekkan, selain menggunakan media buku cerita bergambar dan menggunakan ekspresi wajah dan perubahan intonasi suara, saya biasanya menjadikan beberapa anak sebagai contoh kakakter seperti dalam dongeng. Anak yang disebut namanya akan merasa senang dan ia terpancing untuk bercerita tentang keluarganya, hewan peliharaannya atau kejadian yang menimpanya. Memang akan sedikit terjadi “kekacauan” karena anak-anak yang lain juga akan berebut bercerita, tetapi komunikasi dua arah ini diperlukan untuk menghindari kebosanan anak-anak, yang penting masih berada dalam alur cerita yang sudah dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, saya sering memberi “pertanyaan ujian” setelah cerita selesai dibacakan, dan anak-anak akan antusias menjawabnya. Ini juga bisa kita jadikan indikator kesuksesan kita dalam menyampaikan cerita, jika anak-anak bisa menjawab pertanyaan seputar cerita yang telah kita bacakan berarti mereka benar-benar mendengarkan apa yang kita sampaikan.&lt;br /&gt;Tentu, cerita atau dongeng hanya salah satu media untuk menanamkan nilai, tapi sejauh ini dongeng dianggap yang paling efektif untuk “menggurui” anak-anak sehingga tanpa sadar anak-anak itu menerima nilai-nilai agama, sosial dan budaya yang Insya Allah akan selalu tertanam di hati mereka. Seperti halnya orang tua, anak-anak juga tidak suka digurui dengan kata-kata : tidak boleh, jangan, harus begini harus begitu, tetapi dengan dongeng mereka tidak akan merasa digurui. Jadi, menggurui anak-anak dengan dongeng, kenapa tidak kita biasakan dari sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;                               Yogyakarta, 30 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bahan Bacaan :&lt;br /&gt;1.    Maria Montessori, “The Absorbent Mind, Pikiran Yang Mudah Menyerap”, Pustaka Pelajar : 2008.&lt;br /&gt;2.    Kak Andi Yudha, “Cara Pintar Mendongeng”, DAR! Mizan : 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.skee.com/images/kindergarten01.gif"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-4881867967267812121?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/4881867967267812121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-menggurui-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4881867967267812121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4881867967267812121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-menggurui-anak.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Menggurui Anak-anak dengan Dongeng'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzwSvtzgBzI/AAAAAAAAAD0/t9ikiUCJh-Y/s72-c/kindergarten01.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-7356338312853087168</id><published>2009-12-29T23:22:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T01:17:54.159-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Orang Tua Sumber Inspirasi Buah Hati Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzsCq1FiMmI/AAAAAAAAADs/32a7OnfBF7g/s1600-h/SuperStock_1555R-304587.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 199px; height: 299px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzsCq1FiMmI/AAAAAAAAADs/32a7OnfBF7g/s320/SuperStock_1555R-304587.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420929511298576994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Hardono Umardani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia anak memang merupakan dunia yang penuh warna dan merupakan masa-masa yang sangat menentukan bagi permulaan kehidupan kita. Masa anak-anak ibaratnya sebuah lembaran kertas putih bersih..kosong..siap diisi dengan berbagai warna… hitam, putih atau pun warna warni pelangi yang bertebaran menghiasi setiap sudutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat masa kecil dulu, sedikit merangkai kilas balik memori sampai dengan sekarang sudah punya keluarga sendiri, istri tercinta dan sepasang buah hati yang selalu menghiasi hari kami. Saya dilahirkan bukan kebetulan tapi merupakan takdir Yang Maha Kuasa dari rahim seorang ibu yang berprofesi sebagai pengajar sekolah dasar. Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara tentunya banyak hal positif yang bisa saya dapatkan dari kakak-kakak yang sudah lebih dahulu berpengalaman dalam kehidupan walaupun tidak kalah banyak juga sisi negatif yang harus disaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pengajar, ibu selalu menanamkan disiplin belajar kepada anak-anaknya. Satu hal yang sampai sekarang masih menjadi kegemaran beliau adalah kebiasaan membaca dan itu secara tidak langsung mendorong minat saya untuk mengikuti jejak beliau sebagai pencinta buku bacaan. Saya dulu paling rajin menyongsong kedatangan ibunda tercinta yang setiap awal minggu mengambil rapel koran harian dan majalah mingguan dari kecamatan untuk sekolah. Memang sedikit cerdik kalau tidak mau dibilang mengakali, karena Koran yang semestinya konsumsi untuk sekolah saya baca duluan, meskipun isi berita hampir sebagian agak basi seminggu yang lalu, baru kemudian keesokan harinya ibu bawa ke sekolah. Pada waktu itu walaupun belum paham benar dengan materi berita yang dibaca, tidak sedikit pun menyurutkan minat baca saya yang begitu besar. Bahkan menjadikan bahan pertanyaan ke kakak-kakak tentang istilah-istilah yang kurang paham yang kadang mereka juga susah untuk memberikan penjelasan yang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan di rumah tidak bisa ditinggalkan juga di sekolah. Perpustakaan sekolah mempunyai koleksi buku-buku cerita yang cukup beragam dan dari sekian banyak buku yang di simpan pada rak-rak dan lemari tidak satu pun yang lolos belum terbaca. Bahkan saya sampai dipercaya untuk menyimpan kunci pintu ruang perpustakaan oleh penjaga sekolah, karena kebiasaan teman yang lain pulang sekolah saya masih menyempatkan diri untuk membaca atau mencari buku bacaan baru untuk dibawa pulang bahkan juga di hari minggu. Sampai sekarang pun masih kebayang beberapa cerita anak yang pernah saya baca. Bagaimana sensasinya ikut merasakan kekhawatiran tokoh dalam sebuah buku yang menceritakan seorang anak yang ketakutan karena tumbuh pohon tomat yang berbuah dari atas kepalanya. Atau cerita tentang detektif cilik yang cerdik dan penuh keberanian melawan para penjahat. Kalau jaman dahulu sudah ada buku cerita seperti kisah “Laskar Pelangi’ misalnya, mungkin akan semakin menambah minat baca dan semangat belajar bagi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal pengalaman yang didapat pada saat masa kecil dahulu, saya mencoba menitik beratkan bahwa peran keluarga dan orang-orang dekat lebih-lebih lagi orang tua sangat besar terhadap kebiasaan dan minat dari anak-anak kita di luar bakat yang sudah melekat pada masing-masing individu. Dengan memberikan contoh kebiasaan kita sehari-hari kepada anak-anak kita besar sekali pengaruhnya terhadap perilaku, minat maupun untuk menggali potensi-potensi yang ada pada anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak sulung saya, perempuan usia 3 tahun, senang sekali apabila di berikan hadiah berupa buku cerita atau dongeng bergambar, yang pada gilirannya nanti akan merengek ke papa, mama atau eyangnya untuk membacakan ceritanya. Untuk usia pra sekolah buku cerita bergambar lebih efektif untuk merangsang daya imajinasi si kecil, bahkan bisa memicu si kecil untuk menceritakan ulang dari mulutnya yang dengan versi dan imajinasi seorang anak kecil. Anak kecil akan cenderung untuk menirukan perilaku orang dewasa di sekelilingnya terlebih kedua orang tuanya. Mereka akan sangat bangga bisa melakukan hal yang kita lakukan, tidak ketinggalan peralatan yang kita gunakan. Bisa dibayangkan bagaimana si kecil dengan senangnya ketika diberi hadiah mainan peralatan memasak. Imajinasi mereka akan mengatakan bahwa dia bisa melakukan kegiatan mamanya. Atau ketika diberikan hadiah replika mainan laptop, betapa bangganya si kecil duduk bersebelahan dengan papanya sambil sama-sama menghadap laptop masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pada dasarnya setiap anak kecil mempunyai kecenderungan untuk menirukan apa-apa yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya dan ini bisa kita jadikan sebagai pemicu untuk membangkitkan minat baca mereka. Tidak harus diperlukan orang tua yang pintar mendongeng atau pun seorang kutu buku dengan kacamata tebal, yang diperlukan hanyalah kedekatan dan komunikasi dengan si kecil. Luangkan waktu senggang kita untuk bermain dengan si kecil, ketika membaca Koran, buku atau pun bahkan ketika kita sedang melakukan pekerjaan di rumah dengan computer, jangan merasa terganggu dengan kehadiran si kecil di samping kita. Sebagian dari kita sering beranggapan atau merasa aktivitas kita terganggu oleh kehadiran si kecil di sekitar kita ketika sedang bekerja, tapi hal ini bisa di atasi dengan merubah paradigm yang kita yakini selama ini. Ciptakanlah hubungan yang dekat dengan buah hati kita, lakukan dengan mengalir secara alami. Tempatkan posisi kita untuk memberikan contoh dan suri tauladan bagi si kecil bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan merupakan salah satu factor yang sangat berpengaruh bagi perkembangan buah hati kita dan kita sebagai orang tua merupakan orang-orang terdekat dengan mereka Buatlah lembaran putih bersih yang masih kosong itu dengan coretan yang penuh warna dan bermakna dengan menempatkan kita sebagai suri tauladan yang baik bagi buah hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cikarang, 30 December 2009 - HUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;gambar dipinjam dari &lt;a href="http://wwwdelivery.superstock.com/WI/223/1555/PreviewComp/SuperStock_1555R-304587.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-7356338312853087168?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/7356338312853087168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-orang-tua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/7356338312853087168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/7356338312853087168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-orang-tua.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Orang Tua Sumber Inspirasi Buah Hati Kita'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzsCq1FiMmI/AAAAAAAAADs/32a7OnfBF7g/s72-c/SuperStock_1555R-304587.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-1095497284784135409</id><published>2009-12-29T22:16:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T22:17:53.590-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] “Bunda,…. Mau Dong Diceritain??!!”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzrwbapNNOI/AAAAAAAAADk/9dlmH2a1H0M/s1600-h/pbmotherreading.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 298px; height: 205px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzrwbapNNOI/AAAAAAAAADk/9dlmH2a1H0M/s320/pbmotherreading.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420909455293101282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;oleh : Widyana Abdullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Cerita kami dimulai, ketika kakak lahir. Saat itu, semua waktu dan perhatian kami tercurah hanya untuk dia. Bermain…makan…jalan-jalan…&lt;/span&gt;&lt;div class="post_message"&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;tidur… semua hanya dengan kakak. Kami bisa merasakan, bahwa saat itu ‘situasi rumah’  berjalan nyaman-nyaman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua terasa berbeda, ketika adiknya lahir.&lt;br /&gt;Huffff...&lt;br /&gt;Hampir tiap hari terjadi keributan. Entah berebut mainan, entah berebut makanan…atau apalah, yang bisa memancing keributan mereka. Terus terang kami sangat prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak buku yang kami baca, untuk mencari cara memecah perselisihan antara kakak adik. Berbagai metode sudah coba kami terapkan. Tetapi tetap saja hasilnya tidak seperti yang kami harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang coba kami mengerti, bukannya kakak tidak menyayangi adik, atau bukan juga kakak tidak ingin berbagi dengan adik. Tetapi kakak hanya ingin mencuri perhatian dari kami. Perhatian yang dulu hanya diberikan untuknya…kebersamaan yang dulu hanya mutlak untuk dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begini kami sangat bingung. Kami merasa tidak pernah membedakan mereka berdua. Tidak pernah memberi lebih pada satu diantara mereka. Kami terus mengevaluasi diri…evaluasi…dan selalu evaluasi, apakah kami sudah melakukan kesalahan dalam mengasuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berjalannya waktu, ada suatu peristiwa yang mengubah semuanya.&lt;br /&gt;Saat Dinda sedang menangis, berebut mainan dengan kakaknya. Saya datang dengan buku kumpulan dongeng ditangan. Saat itu saya hanya berpikir, mungkin dengan membacakan cerita dari dalam buku kumpulan dongeng ini, saya dapat menyatukan mereka berdua dalam satu kegiatan yang bisa membuat mereka menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hayo, siapa yang mau bunda dongeng in…?” kata saya sambil menunjukkan buku kumpulan dongeng.&lt;br /&gt;Kakak dan adik menoleh. Mereka melihat buku yang saya tunjukkan. Ajaib, adik sudah tidak menangis lagi. Kakak pun sudah tidak segarang tadi ketika sedang berebut mainan dengan adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu cukup menyita perhatian mereka. Sengaja saya membawa buku kumpulan dongeng yang didalamnya banyak gambar-gambar yang menarik. Digambar dengan bentuk-bentuk yang lucu. Dan di warnai dengan warna yang menarik. Belum saya bacakan saja, mereka sudah tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gambar apa ini Bunda?”&lt;br /&gt;“Ini hewan apa Bunda?”&lt;br /&gt;“Mereka sedang apa bunda?”&lt;br /&gt;Begitu celoteh mereka. Mereka baru saja melupakan kejadian yang membuat mereka bertengkar. Sekarang mereka sedang duduk bersama dengan saya. Adik di kanan dan kakak di kiri. Mereka mendengarkan saya mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, saya membacakan dongeng tentang dua ekor angsa. Angsa-angsa itu kakak-beradik. Mereka hidup rukun…saling bantu…dan saling berbagi. Kehidupan mereka sangat bahagia.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, banjir melanda di daerah mereka. Sang adik angsa hilang hanyut diterjang banjir. Betapa sedih dan kesepian hidup sang kakak angsa. Setiap hari kakak angsa menyusuri sungai untuk mencari keberadaan adik angsa kesayangannya. Dan, hingga suatu hari pencarian itu membuahkan hasil. Adik angsanya berhasil ditemukan dalam kelompok angsa lain di hulu sungai. Betapa bahagia sang kakak angsa. Mereka berkumpul kembali dan hidup bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, kakak dan adik lebih bisa menempatkan perannya. Mereka menjadi lebih rukun. Kami sangat bersyukur sekali. Dan sejak saat itu, setiap hari kami membiasakan diri untuk menyempatkan membaca beberapa dongeng. Kakak dan adik selalu antusias jika saya sudah memegang buku kumpulan dongeng favorit mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, tanpa kita sadari mendongeng adalah cara yang sangat efektif untuk membentuk kepribadian anak-anak kita sejak dini. Dengan mendengarkan dongeng atau cerita, anak-anak dapat menilai perbuatan mana yang baik dan mana yang tidak baik melalui tokoh-tokoh yang ada dalam cerita.&lt;br /&gt;Dongeng juga mengandung nilai-nilai etika, moral, kejujuran, kerja keras, kesetiaan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak dan adik menjadi terbiasa mendengar dongeng dari saya. Mereka selalu meminta saya untuk mendongeng. Kami, bertiga…duduk bersama mendongeng…mendengar berbagai cerita, menyalurkan berbagai emosi mereka, ada sedih, marah, gembira…menggali banyak ilmu darinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjadi ‘sangat ingin tahu’ hanya dengan melihat gambar-gambar yang ada di dalam sebuah buku. Terkadang, saya melihat mereka berdua sedang membuka-buka halaman buku-buku kumpulan dongeng yang lain (yang sengaja kami beli kemudian) hanya untuk sekedar melihat gambarnya. Kemudian menerka-nerka cerita yang ada di dalam buku. Bahkan, pernah saya melihat kakaknya, mencoba bercerita untuk adiknya meski hanya melihat dari gambarnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kebiasaan baru dari keluarga kami sekarang. Jika kami ingin memberi hadiah untuk anak-anak, kami akan lebih memilih membelikan hadiah buku dongeng atau buku ilmu pengetahuan kepada mereka. Dan mereka selalu menyambutnya dengan antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, buku adalah aset yang tak ternilai harganya. Melalui buku, anak-anak kita tumbuh dengan wawasan, dan kematangan berpikir mereka. Dengan buku, anak-anak mengenal berbagai nuansa emosi. Ada emosi sedih, marah, geli, dan lain sebagainya, dalam suatu jalinan kasih sayang yang akrab antara seorang ibu dan anaknya. Anak-anak akan begitu gembira mendengar dongeng-dongeng kita. Sekaligus merasa aman dan mesra dekat dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, alangkah baiknya jika kita bisa menyediakan sedikit dari waktu kita untuk mendongeng bersama dengan anak-anak kita. Ada beberapa kiat yang bisa kita terapkan agar mendongeng kita menjadi ‘sedikit’ menarik (karena saya pikir, kita bukan pendongeng yang handal bukan?).&lt;br /&gt;a. Pilihan tema cerita dan isi cerita harus tepat untuk usia anak-anak kita.&lt;br /&gt;Bila usia anak di bawah 6 tahun, umumnya punya daya khayal tertentu dengan cerita binatang.&lt;br /&gt;Bila usia anak di atas 6 tahun, mereka sudah bisa diberi dongeng tentang manusia.&lt;br /&gt;b. Menirukan suara orang, binatang, angin.&lt;br /&gt;Usahakan untuk tidak bercerita secara monoton. Saat kita menyebut seseorang berbicara, maka tirukanlah suaranya dan bedakanlah secara jelas dengan tokoh lain.&lt;br /&gt;Demikian juga, saat kita menyebut binatang, tirukanlah auman harimau, meong kucing, desis ular, gonggongan anjing, ringkik kuda, cicit tikus dan sebagainya.&lt;br /&gt;Semua itu akan menjadi titik perhatian dan kelucuan bagi anak-anak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Putri Pandan Wangi, PANDUAN MENDONGENG UNTUK SI KECIL, cetakan pertama Maret 2006, Penerbit Lintang Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;gambar dipinjam dari &lt;a href="http://picture-book.com/files/userimages/2045u/pbmotherreading.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-1095497284784135409?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/1095497284784135409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-bunda-mau-dong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1095497284784135409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1095497284784135409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-bunda-mau-dong.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] “Bunda,…. Mau Dong Diceritain??!!”'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzrwbapNNOI/AAAAAAAAADk/9dlmH2a1H0M/s72-c/pbmotherreading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-5795968092067510896</id><published>2009-12-29T21:17:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T21:30:21.532-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Cinta Baca Sejak Dini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzrlXQrYpDI/AAAAAAAAADc/Vvp_6amv_1U/s1600-h/leila_pregnant_reading.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 251px; height: 246px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzrlXQrYpDI/AAAAAAAAADc/Vvp_6amv_1U/s320/leila_pregnant_reading.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420897289270502450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Syasya Azisya&lt;br /&gt;&lt;div class="post_message"&gt;&lt;br /&gt;“Mohon maaf bunda, aku mau ke tempat sepi dulu ya...” kata anak saya Mirza ( 5 thn) lalu ngeloyor pergi. Setelah beberapa saat dia kembali sambil cengar-cengir sendiri.&lt;br /&gt;“Tadi Mas Mirza habis ngapain sih? “ tanyaku penasaran melihat tingkah lucunya itu, tiba-tiba pamit menghilang dan kembali lagi dengan senyum cengar-cengirnya.&lt;br /&gt;“Mas Mirza tadi abis buang gas bunda....” jawabnya tertawa, kini dia tertawa seperti puas berhasil melakukan suatu hal besar.&lt;br /&gt;“Oalah... abis buang gas to.. pinter mas..kalau mau buang gas pergi dulu yang jauh ya...” jawabku.&lt;br /&gt;“Iya bunda, kan Mas Mirza ingat yang dikatakan di buku itu.. itu lho bun buku yang 'Aku Tidak Kentut Sembarangan' “ jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang telah membiasakan membacakan buku pada anak-anak saya sejak mereka masih dalam kandungan. “Mengapa sejak dalam kandungan dan apa ngaruhnya sih masih di dalam perut kok dibacakan buku?” mungkin akan ada pertanyaan seperti itu. Jawaban saya untuk pertanyaan itu adalah : Bukankah Ibu adalah sekolah pertama untuk anak-anaknya? Oleh karena itu kita sudah harus memainkan peran sebagai sekolah bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Selain itu saya yakin bahwa meski masih janin, dia bisa mendengar apa yang saya bacakan. Sembari mengelus lembut perut yang membuncit saya bacakan cerita-cerita anak khusunya yang mengajari anak agar berakhlak dan perilaku yang mulia, seperti buku “Jangan Kentut Sembarangan “ itu salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak manfaat membacakan cerita yang telah saya lihat pada diri anak-anaknya. Salah satunya anak menjadi berperilaku positif seperti yang dicontohkan melalui bacaan. Hal lain yang saya rasakan manfaatnya pada diri Mirza adalah kemampuannya mengingat kosa kata bahkan kalimat dan keseluruhan isi cerita yang ada di dalam buku. Mungkin anda tidak percaya, tapi sungguh saya tidak bohong. Mirza hafal seluruh isi dialog buku cerita tentang Mino, hafal diluar kepala. Bahkan saya sering sengaja menyalahkan satu atau dua kata, dia akan segera mengoreksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membiasakan anak membaca saya yakin anak akan memiliki kecerdasan linguistic yang memadai. Kecintaannya kepada bacaan akan tumbuh dan terus berkembang bila orangtuanya terus memberikan stimulus pada mereka. Bacaan adalah sumber ilmu. Saya percaya bahwa tidak ada orang yang sukses yang tidak gemar membaca. Adnan Oktar atau yang terkenal dengan nama Harun Yahya adalah orang yang gemar membaca, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Faudzil Adhim. Gola Gong bahkan presiden SBY adalah penggemar bacaan. Oleh karena itu bila ingin kesuksesan menyertai anak kita kenalkan dan ajak anak untuk mencintai bacaan, tentu saja bacaan yang bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu menunggu anak berusia lima atau enam bulan untuk bisa membacakan sebuah buku. Kita bisa mulai mengenalkan membaca kepada anak sejak awal kelahirannya.Pada masa komunikasi prasimbolik setiap rangsangan komunikasi member pengaruh yang sangat besar bagi ketrampilan komunikasi anak, termasuk di dalamnya kemampuan berbahasa dan bepikir. Membacakan buku kepada dengan suara dikeraskan (reading aloud) selain bermanfaat sebagai rangsangan komunikasi yang baik, juga mendorong anak menyukai membaca [Faudzil Adhim, 2004].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat reading aloud ini bahkan secara langsung dirasakan oleh seorang ibu bernama Marcia Thomas yang berasal dari Memphis, Tennesse cukup menarik untuk kita simak. Sebagaimana dikutip oleh Jim release dalam The Read Aloud Handbook, Marcia Thomas bercerita,&lt;br /&gt;“Anak kami, Jennifer lahir pada September 1984. Jennifer lahir dengan down syndrome. Pada usia dua bulan, kami diberi tahu bahwa Jennifer hamper-hampi mengalami kebutaan, tuli dan keterbelakangan mental yang parah. Setelah kami membaca buku The Read aloud Handbook tentang pentingnya membacakan buku kepada anak, kami memutusan untuk memberikan “diet “ kepada anak kami dengan sekurang-kurangnya membacakan sepuluh buku sehari. Ketika itu Jennifer harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama tujuh minggu karena jantung dan bedah korektif. Kami mulai membacakanbuk kepadanya saat dia masih menjalani perawaran intensif dan manakala kami tidak bisa menemaninya, kami meninggalkan tape berisi rekaman cerita dan meminta kepada perawat untuk menghidupkannya untuk anak kami”&lt;br /&gt;Usaha yang dilakukan oleh Marcia Thomas ini ternyata tidak sia-sia. Pada usia SD, anaknya selalu memperoleh nilai tertinggi untuk pelajaran membaca. Tidak ada kegemaran yang lebihdisukai oleh Jennifer melebihi membaca. Kisah Jennifer ini menunjukkan bahwa membaca atau tepatnya membacakan buku kepada bayi, tidak saja dapat menumbuhkan minat baca yang tinggi. Lebih dari itu, membaca buku bisa meningkatkan kecerdasan anak dan bahkan dapat dipakai sebagai terapi untuk balita bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sangat terinspirasi oleh kisah Hellen Keller. Seorang yang bisu, tuli sekaligus buta tapi ternyata mampu menjadi seorang yang sukses. Apa sih kunci kesuksesannya itu? Ternyata karena dia sudah sering “dibacakan” buku oleh gurunya. “Dibacakan” di sini maksudnya bukan dibacakan (reading aloud) karena kondisinya yang tidak memungkinkan itu namun dibacakan dengan mendiktekan dengan cara bahasa isyarat yang disentuhkan di tangannya. Benang merah dari semua itu adalah bahwa ajak anak untuk membaca sejak kecil, sedini mungkin, terutama di usia golden agenya di mana saat itu anak akan mudah menyerap ilmu dan kebiasaan yang kita tanamkan untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak kita sejak dini yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buka buku bersama anak&lt;br /&gt;Setelah anak kita mulai tumbuh besar, kegiatan membaca buku bersama bisa kita lakukan secara berkala. Lama kelamaan kegiatan ini akan menjadi sebuah kegiatan yang mengasikkan. Saya sendiri menjadikan kegiatan membaca buku bersama anak saya sebagai momen-momen yang paling saya tunggu-tunggu. Setelah lelah seharian bekerja di kantor, malam harinya sebelum tidur, anak saya Mirza selalu meminta untuk dibacakan buku bersama saya. Ketika usianya sudah memasuki masa kritis, saat umurnya 4 tahun. Segala apa yang saya bacakan untuknya selalu memicu pertanyaan-pertanyaa kreatif yang akan keluar dari bibir mungilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih bacaan yang tepat&lt;br /&gt;Begitu banyak buku yang beredar di pasaran, membuat kita sebagai ibu harus selektif memilihkan bacaan yang tepat untuk buah hati kita. Pilihlah bacaan yang tidak hanya mampu memberikan hiburan atau kesenangan untuk anak kita, namun juga bergizi tinggi dan dapat membentuk kepribadian dan akhlak yang baik untuk anak-anak kita. Sekarang ini sudah banyak buku-buku cerita anak dengan konten seperti itu, kebanyakan yang sering saya bacakan untuk anak-anak saya adalah buku-buku terbitan Mizan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajak anak untuk berwisata buku&lt;br /&gt;Mengajak anak berwisata tak melulu harus pergi ke tempat-tempat wisata yang mahal, yang meski mempunyai nilai edukatif namun juga akan mengosongkan isi kantong kita. Be smart buns.. pilihkan alternative lain untuk berwisata bagi anak yang murah, meriah namun memiliki nilai edukasi yang tinggi? Apa ada sih tempat yang seperti ini?&lt;br /&gt;Ada, jawabannya adalah toko buku. Saya berusaha menurunkan kesenangan saya ini kepada anak-anak saya dengan maksud agar mereka mau mencintai buku sebagai sumber ilmu dan menjadikan membaca tidak hanya sebagai hobi tapi menjadi sebuah kebutuhan primer bagi untuk memperkaya jiwa mereka. Alhamdulilah, usaha saya sudah mulai menampakkan hasilnya. Setiap kali saya membawa anak saya ke toko buku langganan keluarga kami di Depok Town Square, saat itu Mirza akan langsung berlari menuju rak buku anak-anak yang sudah dihafalkan dan mulailah dia akan mengeksplore rak itu dan memilih-milih buku yang akan dibelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiahi anak dengan buku&lt;br /&gt;Sebagian kita mungkin menerapkan reward and punishment dalam mendidik anak-anak. Bila anak-anak bresprestasi atau menunjukkan sebuah perilaku akhlaq yang baik, tak salah bila kita menghargainya dengan memberikan sebuah hadiah. Dengan pemberian hadiah itu diharapkan si anak akan merasa disayang, dihargai dan pada akhirnya akan membuat dia menjadi semakin bersemangat untuk meraih prestasi atau berperilaku yang lebih baik lagi. Lalu bentuk hadiah apa yang sebaiknya kita berikan untuk mereka? Buku, adalah hadiah terbaik untuk mereka. Buku juga bisa diberikan untuk hadiah di moment istimewa seperti saat ulang tahun..&lt;br /&gt;Dengan semakin terbiasa menerima buku, lama kelamaan kecintaan anak terhadap buku akan terbentuk sejak dini dan anak akan terbiasa dengan kegiatan membaca, lama kelamaan membaca akan menjadi sebuah kegiatan yang rasanya ada yang kurang bila belum dilakukan. Saat itu berarti minat membaca anak kita telah tumbuh, tugas ibu selanjutnya adalah untuk menjaganya agar hal itu makin berkembang dan subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenalkan dengan berbagai macam bentuk buku&lt;br /&gt;Ada buku untuk bayi yang terbuat dari bahan yang anti air, ini bisa kita kenalkan untuk anak kita yang masih bayi. Bawa kemanapun kita pergi, biarkan dia mengekslpore sesukanya.&lt;br /&gt;Ada pula buku yang berbentuk seperti bantal, yang terbuat dari kain dengan tampilan menarik yang bisa diberikan untuk anak kita sebagai sarana belajar sekaligus bermain.&lt;br /&gt;Yang sering dikhawatirkan oleh kalangan ibu adalah bila anak (terutama balita) memegang buku, biasanya anak akan mengeksplorenya dengan menggigit atau bahkan merobeknya. Duh..buku baru gitu loh, kok sudah dirobek-robek..sayang banget, gitu kan ?&lt;br /&gt;Maka untuk anak balita, berikan buku yang terbuat dari bahan kertas yang tebal (hard ) yang tak akan mudah rusak bila digigit atau dirobek untuk anak. Namun hati-hati juga nih bun.terkadang ada buku yang bagian ujung-ujungnya lancip sehingga dapat membahayakan anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyediakan berbagai macam buku yang memadai&lt;br /&gt;Agar minat membaca anak-anak kita tak terhenti di tengah jalan, maka tugas kita lah menyediakan berbagai jenis bacaan bermutu yang bervariasi. Karena bisa jadi ketika anak sudah memiliki minat yang cukup tinggi untuk membaca, tapi suatu saat saat dia sedang butuh bacaan tapi tak menemukan bacaan di rumah kita, bisa jadi minatnya akan berkurang atau bahkan lama-kelamaan menghilang. Sisihkan sebagian uang bulanan kita dan anggarkan untuk membeli buku, buat perpustakaan kecil-kecilan di rumah untuk menampung koleksi buku kita itu, atur dengan rapi agar menarik minat orang untuk mendekatinya, mengambil buku yang ada di dalamnya, lalu membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letakkan buku di manapun&lt;br /&gt;Di setiap sudut rumah kita mustinya selalu ada buku. Di mobil, di ruang tengah, di ruang makan, di dapur apalagi di kamar. Dengan demikian anak akan sering melihat ada buku dan mudah meraihnya lalu membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tip-tips diatas bisa kita lakukan dalam upaya menumbuhkembangkan minat baca anak sejak dini. Dan semoga anak-anak kita kelak menjadi generasi cinta baca, cinta ilmu, cinta agama..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar referensi :&lt;br /&gt;1. Membuat Anak Gila Membaca, Faudzil Adhim&lt;br /&gt;2. Rich Mom Poor Mom , Syasya Azisya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://springcityart.com/links/leila_pregnant_reading.jpg"&gt;sini &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-5795968092067510896?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/5795968092067510896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-cinta-baca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5795968092067510896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5795968092067510896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-cinta-baca.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Cinta Baca Sejak Dini'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzrlXQrYpDI/AAAAAAAAADc/Vvp_6amv_1U/s72-c/leila_pregnant_reading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-3189500201522945944</id><published>2009-12-29T20:53:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T21:15:15.070-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Ayo Kenali Indonesia Lewat Dongeng dan Cerita Rakyat!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzrhBkrivcI/AAAAAAAAADM/ZkPySpgws7E/s1600-h/antojadul27624.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 209px; height: 308px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzrhBkrivcI/AAAAAAAAADM/ZkPySpgws7E/s320/antojadul27624.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420892518636240322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Eka Nugraha Putra&lt;br /&gt;&lt;div class="post_message"&gt;&lt;br /&gt;Ketika generasi muda kita saat ini sedikit jumlahnya yang mengenal betul budaya bangsa Indonesia yang pada jaman dahulu lahir dari dongeng, cerita rakyat dan legenda maka pilihan yang paling mungkin dilakukan untuk mengenalkan budaya Indonesia lewat bacaan adalah kepada anak-anak. Sosok anak-anak adalah sosok yang polos dan mudah meniru dari apa yang diketahuinya, dilihat, didengar termasuk juga yang dibacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miris tentunya kalau sampai anak-anak Indonesia yang akan jadi generasi mendatang bangsa ini justru lebih mengenal budaya luar negeri, sekarang saja gelagatnya sudah mulai nampak. Ketika generasi muda kita ada yang membentuk komunitas Harajuku dimana itu merupakan budaya Jepang, apakah kita mau anak-anak sekarang jadi “Jepang”, “Amerika” dan “Inggris” tapi fisiknya Indonesia? Tentunya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari pengenalan budaya Indonesia lewat dongeng dan cerita rakyat, antara lain :&lt;br /&gt;1. Anak-anak Indonesia akan mendapat banyak pelajaran moral sejak dini, dongeng kancil yang banyak sekali versinya itu banyak memberikan pesan-pesan moral atau contoh lain cerita rakyat Kepel Iwel-Iwel dari Yogyakarta yang punya pesan moral agar kita tidak menilai orang dari sosoknya saja.&lt;br /&gt;2. Alternatif hiburan anak yang edukatif, kalau dibiasakan sejak dini maka anak-anak akan punya kegemaran membaca. Kegemaran membaca yang jadi kebiasaan positif ini tentu lebih baik ketimbang kegemaran anak-anak sekarang yang suka menonton televisi dengan acara yang semakin minim nilai edukasinya atau bermain playstation sampai lupa waktu.&lt;br /&gt;3. Menumbuhkan minat baca, dimulai dari bacaan yang ringan, menghibur namun tetap mendidik maka nantinya anak-anak akan terbiasa dengan buku, kalau kebiasaan ini dibawa sampai dewasa maka membaca akan menjadi bagian dari tiap-tiap individu di Indonesia. Kebiasaan inilah yang akan membuat bangsa kita punya peradaban membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun memang ada sedikit hambatan ketika kita akan menularkan kegemaran membaca dan rasa cinta akan budaya Indonesia dimana anak-anak juga merupakan sosok yang labil, sehingga tidak mungkin disodori langsung buku-buku bacaan tersebut, perlu pendekatan yang berbeda namun akhirnya tetap mengena. Pendekatan ini menggunakan tiga tahapan agar nantinya hasil yang didapat anak-anak ini bisa punya rasa cinta tanah air dan budayanya sendiri. Tiga tahapan tersebut diawali pada tahapan mengenal dulu budaya daerah masing-masing, mempelajari nilai-nilai positif dalam ekspresi kebudayaan tersebut (bentuknya bermacam-macam seperti bahasa, lagu, cerita rakyat dan lain-lain). Tahapan berikutnya adalah mengapresiasi, dimana anak-anak pada tahapan ini menjadikan budaya daerah asalnya yang sudah dikenali dan dipelajari itu dihargai, dengan menghargai budaya daerahnya akan timbul rasa cinta sehingga tanpa diminta pun mereka akan menjaga produk-produk kebudayaannya. Tahapan yang terakhir dan terpenting adalah mengaktualisasi, bentuk menjaga produk kebudayaan pada tahapan mengapresiasi salah satunya diterapkan lewat cara mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Lewat tahapan ini nantinya anak-anak selain menjadi gemar membaca akan punya rasa cinta terhadap budaya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman saya, ketika saya aktif sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial, khususnya anak-anak (yatim piatu, anak jalanan dan anak-anak lainnya). Kegiatan yang berkaitan dengan menumbuhkan minat baca memang merupakan kegiatan yang belum bisa berdiri sendiri, artinya memang harus ada kegiatan utama dan kegiatan baca dongeng serta cerita rakyat ini mendampinginya.&lt;br /&gt;Pada saat itu gagasan yang sempat muncul adalah program pengenalan budaya Indonesia lewat buku-buku bacaan yang berisi dongeng, legenda, fabel dan cerita rakyat asli Indonesia. Program ini dinamakan Ayo Kenali Indonesia! Dalam Ayo Kenali Indonesia ini tiga tahapan (mengenal, mengapresiasi dan mengaktualisasi) menjadi unsur-unsurnya dimana tahapan mengenal dan mengapresiasi adalah langkah teknisnya dan bertujuan agar anak-anak bisa mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaannya tidak hanya terpaku pada anak-anak yang berada di sekolah saja, namun juga anak-anak lain di luar sekolah sebagai lembaga pendidikan formal (Panti Asuhan, Anak Jalanan, Rumah Singgah dan lain-lain). Artinya program ini ditujukan mampu membawa dampak yang lebih luas karena segmen yang ditarget juga lebih luas. Ide dasar dalam program ini adalah dengan mengenalkan cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah kepada anak-anak tersebut. Dikenalkan di sini artinya pelaksana programnya berlaku sebagai pencerita atau bisa juga meminjamkan buku-buku cerita rakyat tersebut kepada mereka. Pada pertemuan berikutnya mereka diminta menceritakan ulang dalam bahasa dan gaya mereka sendiri di hadapan teman-temannya. Dua pertemuan ini sudah mengakomodasi tahapan mengenal dan mengapresiasi yang sudah diuraikan di atas, namun ini harus dilakukan dengan sering karena belum tentu dua kali pertemuan saja efektif. Dengan terus menambah koleksi cerita maka program ini bisa terus berjalan. Bahkan bukan tidak mungkin dikembangkan dalam bentuk apresiasi versi anak-anak didikan ini sendiri, misalnya pementasan drama berdasar cerita rakyat yang dipilih, gambar atau komik strip dengan ide cerita dari cerita rakyat yang dipilih dan lain-lain. Semua itu dilakukan dengan tujuan mereka mampu mengaktualisasikan kebudayaan daerah sebagai akar kebudayaan nasional sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi menurut saya, bacaan dan dongeng yang perlu ditekankan adalah edukasi, namun edukasi berupa pengenalan terhadap kebudayaan dan kearifan lokal yang dimiliki Indonesia. Tujuan akhirnya adalah anak-anak gemar membaca dan menyadari keragaman budaya kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note :&lt;br /&gt;Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://img524.imageshack.us/i/antojadul27624.jpg/"&gt;sini &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-3189500201522945944?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/3189500201522945944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-ayo-kenali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3189500201522945944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3189500201522945944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-ayo-kenali.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Ayo Kenali Indonesia Lewat Dongeng dan Cerita Rakyat!'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzrhBkrivcI/AAAAAAAAADM/ZkPySpgws7E/s72-c/antojadul27624.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-6114587677582810973</id><published>2009-12-29T16:55:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T16:59:03.594-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Membuka Jendela Dunia Melalui Buku dan Dongeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szqltf9QIQI/AAAAAAAAADE/0-obpjvPCKU/s1600-h/Hanoi-host-book-reading.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 211px; height: 282px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szqltf9QIQI/AAAAAAAAADE/0-obpjvPCKU/s320/Hanoi-host-book-reading.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420827302584918274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Liliek Budiastuti Wiratmo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, mengapa jalan kok berbintik-bintik?”&lt;br /&gt;“Apa saja bahan untuk membuat jalan?”&lt;br /&gt;“Aspal itu apa?&lt;br /&gt;“Dari mana asal Aspal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan semacam itu keluar dari bibir mungil putera sulung kami ketika masih di Taman Kanak-Kanak Kelas Nol Kecil. Pertanyaan yang tiada habis dan bosan ia lakukan. Di dapur, di kamar, di kala mandi, di jalan, dimana pun ia tak lelah bertanya. Sebagai orang tua kami selalu berusaha menjawab setiap pertanyaannya bahkan merangsangnya untuk terus bertanya dan bertanya. Bagi kami dengan bertanya ia akan banyak tahu tentang banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tak semua pertanyaannya dapat kami jawab. Bila itu yang terjadi, kami dengan jujur akan menjawab: “Ibu/Ayah belum tahu, coba nanti Ibu/Ayah cari dulu.” Dan kami selalu berusaha mendapatkan jawaban dari berbagai sumber. Entah karena alasan itu atau karena menurutnya kami bisa memenuhi rasa ingin tahunya suatu hari ia bertanya: “Kok Ibu/Ayah selalu tahu, tahu dari mana?” Waktu itu dengan ringan kami jawab: “Karena membaca, Nak.” Dialog itu terus berlanjut dan menjadi pendorong minat bacanya yang terus tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perkenalan Dini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai mengenalkan bacaan kepada Si Sulung sejak ia baru berumur kira-kira satu tahun. ‘Bocil’ -Bobo Kecil- adalah majalah pertama yang dikenalnya. Awalnya ia senang membuka halaman demi halaman dan melihat gambar beraneka bentuk dan warna sambil kami bacakan teksnya.  Saat ia mulai tertarik pada alat tulis kami membacakan perintah yang ada di majalah itu dan ia yang mengisi atau mewarnainya. Pengalaman yang sama dilakukan pada putra kedua kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng menjadi ritual wajib sebagai pengantar tidur yang mengasyikan bagi kami semua, walau kadang-kadang kami- ayah dan ibunya lakukan secara bergantian. Dongeng yang diceritakan adalah dongeng klasik yang pernah kami dengar di masa kecil, seperti ‘Bawang Merah dan Bawang Putih’, ‘Kancil yang Nakal’ dan sebagainya. Kami juga membacakan dongeng yang dimuat di majalah atau surat kabar. Tak jarang kami menceritakan dongeng yang kami ciptakan sendiri. Bahkan kami pernah membuat buku dongeng yang dicetak bagus dengan tokoh baik yang menggunakan nama kedua putera kami. Acara mendongeng ini kami selingi dengan menyanyikan lagu anak-anak, lagu daerah serta lagu-lagu wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kegiatan membaca dan mendongeng yang menggembirakan ini merangsang sikap kritis dan mendorong minatnya untuk cepat belajar membaca.   Semua tulisan yang dilihatnya dibaca. Koran, majalah, nama warung, nama bis, bahkan tulisan di samping becak pun menarik perhatiannya. Tak jarang kami diminta menghentikan kendaraan agar dapat membaca tulisan yang dilihatnya. Pada usia 5 tahun saat masuk Taman Kanak-kanak ia telah lancar membaca majalah ‘Bobo’ yang kami langgan untuknya, tanpa pernah memaksanya belajar membaca apalagi les membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku Sebagai Hadiah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melihat minat membaca mereka yang sangat tinggi kami tak hanya berusaha memupuk semangat yang telah tumbuh tersebut, tetapi mengharuskan kami sangat selektif memilih media dan bacaan di rumah. Dengan kesadaran bahwa membaca akan memberi ruang yang luas untuk belajar dan mengembangkan imajinasi serta berpikir kritis, sejak kedua putera kami masih kanak-kanak kami selalu memberi buku sebagai hadiah utama pada setiap moment penting mereka. Ulang tahun, setelah menerima rapot catur wulan atau semester dan kenaikan kelas atau ketika ia mencapai prestasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga kriteria buku yang dibeli. Pertama, buku yang kami pilihkan. Kedua, buku yang dipilihnya sendiri. Dan ketiga, buku yang kami pilih bersama berdasarkan kesepakatan. Biasanya kami memilih buku pengetahuan dan agama, anak-anak memilih komik atau dongeng dan buku kompromi yang temanya berganti sesuai situasi saat itu. Beberapa jenis buku yang selalu kami beli adalah serial dongeng dari berbagai daerah, ilmuwan-penemu berbagai ilmu dan teknologi, cerita nabi dan agama, di samping buku-buku fiksi terkenal dunia. Meskipun anak-anak boleh memilih bacaan sendiri tetapi tetap dengan rambu-rambu yang juga disepakati. Bila awalnya buku yang mereka baca adalah cerita bergambar, seiring pertambahan usia secara perlahan bergeser ke buku-buku minim atau tanpa gambar. Walaupun hingga kini mereka tetap suka membaca komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan menjadikan buku sebagai hadiah meluas ke luar rumah. Kami biasa membawa oleh-oleh buku bacaan ketika berkunjung ke rumah saudara yang mempunyai anak kecil. Buku juga menjadi hadiah untuk keponakan yang khitan, berulang tahun, atau naik kelas. Buku menjadi buah tangan ketika menjenguk anak-anak yang sakit atau untuk kenang-kenangan untuk teman kedua putera kami yang pindah. Bahkan keponakan yang melahirkan pun mendapat kado buku. Buku-buku yang menginspirasi menjadi pilihan. Lebih dari sepuluh buku ‘Laskar pelangi’ karya Andrea Hirata diberikan sebagai hadiah dan kenang-kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku koleksi yang kami miliki seperti Serial Lima Sekawan, Harry Potter, Lord of The Rings, empat buku karya Andrea Hirata-Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov, Gajah Mada, berbagai komik, majalah dan sebagainya tak dinikmati sendiri. Buku-buku itu berpindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Bagi kami lebih baik buku rusak karena dibaca daripada  rapi tapi tak pernah disentuh-walaupun mereka merawat buku-bukunya dengan baik. Ini menjadi salah satu cara menularkan minat baca kepada anak-anak yang lain. Karena dari pengamatan kami aktifitas membaca tidak hanya melatih konsentrasi dan daya imajinasi, tetapi menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi sehingga mempunyai pengetahuan yang luas sehingga mampu melihat berbagai persoalan dari berbagai sisi secara kritis. Kami ingin anak-anak lain mendapat kesempatan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note :&lt;br /&gt;gambar dipinjam dari&lt;a href="http://www.travelatvietnam.com/Photos/News/Hanoi-host-book-reading.jpg"&gt; sini &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-6114587677582810973?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/6114587677582810973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-membuka.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6114587677582810973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6114587677582810973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-membuka.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Membuka Jendela Dunia Melalui Buku dan Dongeng'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szqltf9QIQI/AAAAAAAAADE/0-obpjvPCKU/s72-c/Hanoi-host-book-reading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-5136198054496933031</id><published>2009-12-29T00:51:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T00:58:49.909-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Asyiknya Mendongeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SznEWuNoQBI/AAAAAAAAAC8/4bgx6PjSHRs/s1600-h/mother-teaching-botany-her-kid-thumb3081790.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 196px; height: 262px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SznEWuNoQBI/AAAAAAAAAC8/4bgx6PjSHRs/s320/mother-teaching-botany-her-kid-thumb3081790.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420579521158463506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Diah Pramesti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng merupakan salah satu aktivitas yang menyenangkan bagi orang tua dan anak-anak. Mungkin juga bagi Anda. Namun tahukah Anda, bahwa di balik aktivitas mendongeng sebenarnya banyak sekali manfaat yang dapat kita petik. Mendongeng bisa menjadi sarana mendekatkan diri dengan anak Melalui dongeng kita juga bisa mengajak si Kecil berimajinasi dan membantunya menumbuhkan rasa percaya diri. Sebagaimana kata Kak Seto Mulyadi, “Orang tua yang baik akan menyempatkan waktu untuk mendongeng untuk anak-anaknya. Pendidikan moral dalam dongeng begitu lengkap. Mendongeng juga merupakan jembatan komunikasi yang paling baik antara orang tua dan anak sejak dini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sangat disayangkan, dewasa ini tradisi mendongeng dalam keluarga mulai tergantikan oleh segala yang serba instan seperti radio dan televisi. Hal ini dikarenakan para orang tua sibuk mencari nafkah yang notabene demi sang anak juga. Para orang tua merasa tidak sempat meluangkan waktunya meski hanya beberapa saat. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa mendongeng hanya bisa dilakukan menjelang tidur. Cara berpikir seperti itulah yang justru menjadi beban para orang tua. Ada saja alasan yang mereka ungkapkan. Apakah kebersamaan dengan buah hati harus dikorbankan karena egoisme orang tua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu memilih satu waktu khusus untuk memulainya. Ada banyak cara yang bisa ditempuh agar kebersamaan kita dengan buah hati tidak terlewatkan sementara kesibukan orang tua tetap berjalan. Tak perlu menunggu waktu senggang untuk sekadar mendongeng. Tiap Anda sempat bisa dijadikan ritual yang menyenangkan. Sebagaimana yang saya lakukan, saat memandikan si Kecil bisa menjadi momen yang sangat mengasyikan. Di sela-sela mandi biasa saya selipkan dongeng “Bidadari Mandi”. Gemericik air dari kran menambah imajinasinya terhadap cerita yang saya bawakan, sehingga muncul celoteh-celoteh lucu yang justru menambah seru cerita itu. Sambil mandi saya juga dengan mudah mengorek kegiatannya seharian. Si kecil pun bercerita tanpa merasa terinterogasi. Dan, saat-saat mandi menjadi waktu yang sangat ia nantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anak sudah terbiasa dengan dongeng, saya yakin anak dengan sendirinya akan menginspirasi Anda banyak cerita. Mungkin Anda sendiri akan heran mendengar celotehannya. Sebagaimana saya waktu si Kecil melihat anak ayam. Ia pun bertanya “Di mana ibunya? Masih kecil kok main sendiri. Nakal ya Bu jadi nggak punya teman.” Nah, dari celotehan itu saja banyak sekali ide cerita yang bisa saya bawakan. Saat itu saya sendiri juga heran, mengapa saya menjadi begitu ahli mendongeng. Prinsipnya, mendongeng tidak harus merujuk pada cerita yang mungkin pernah Anda dengar atau dari buku yang telah Anda baca. Alam sekitar bisa menjadi bahan inspirasi, bahkan lebih nyata. Kita bisa menjadi pengarang sekaligus pemeran utamanya. Dan satu hal yang penting, selipkan pesan moral di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memulai mendongeng diperlukan kemauan dan kerelaan kita untuk menikmati kebersamaan dengan si Kecil. Saya, seorang ibu yang tidak selalu bisa menemani si Kecil seharian. Jadi, kebersamaan dengan si Kecil yang sedikit ini akan selalu saya nikmati. Selain dalam aktivitas harian, di saat bersantai pun sesekali saya berusaha memperkenalkannya dengan buku cerita, yang tentu menarik dari segi gambar dan warnanya. Meski tidak jarang buku-buku tersebut hanya sebagai alat pengusir gerah atau pengganti kipas. Namun bagi saya, tidak apalah anggap saja sebagai perkenalan covernya dulu. Memulai anak untuk mencintai buku memang lebih susah. Herannya, suatu saat si Kecilku tidak mau dikipasi dengan buku lain selain buku-buku yang sering saya tunjukkan. Dan, tak terasa bukunya terbuka juga lembar demi lembar. Asyik! Nah, langkah selanjutnya yang bisa Anda coba yaitu memperkenalkannya dengan bacaan yang sesuai usianya. Suatu ketika ia akan menyadari bahwa membaca itu mengasyikan bahkan waktu-waktu membaca bersama Anda sangat dinantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka:&lt;br /&gt;Mendongeng untuk Si Kecil Yuk! &lt;a href="http://ceritarakyatnusantara.com/" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://ceritarakyatnusanta&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;ra.com&lt;/a&gt;. Diakses 18 April 2009.&lt;br /&gt;Moral Dongeng Rangsang Kecerdasan Spiritual Anak. &lt;a href="http://ceritarakyatnusantara.com/" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://ceritarakyatnusanta&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;ra.com&lt;/a&gt;. Diakses 30 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;gambar dipinjam dari &lt;a href="http://thumbs.dreamstime.com/thumb_181/1188865951rHk4c3.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-5136198054496933031?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/5136198054496933031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/oleh-diah-pramesti-mendongeng-merupakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5136198054496933031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5136198054496933031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/oleh-diah-pramesti-mendongeng-merupakan.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Asyiknya Mendongeng'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SznEWuNoQBI/AAAAAAAAAC8/4bgx6PjSHRs/s72-c/mother-teaching-botany-her-kid-thumb3081790.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-4183136717057150739</id><published>2009-12-29T00:23:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T00:29:36.219-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Dongeng Mamakku Jadi Bahan Ajar Untuk Anakku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szm9P_jB19I/AAAAAAAAAC0/4TfJxyi9Dbc/s1600-h/storyteller.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 260px; height: 255px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szm9P_jB19I/AAAAAAAAAC0/4TfJxyi9Dbc/s320/storyteller.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420571708971145170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Wawa Wilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamak begitulah aku memanggil ibuku, dia CUMA ibu rumah tangga dengan 6 orang anaknya yang sekarang sudah beralih peran menjadi orang tua. Sering terlintas dipikiranku betapa hebatnya Papa dan Mamakku, tanpa pendidikan tinggi mereka bisa menjadikan kami 6 orang anaknya mandiri dengan keadaan serba secukupnya. Dibanding sanak keluarga kami yang lain, keluarga kami termasuk agak kesulitan secara finansial karena Papa dan Mamak hanya penjual makanan di pasar malam. Aku ingat kerepotan Mamak sebagai penanggung jawab utama kegiatan ekonomi keluarga kami itu, dari mulai belanja, masak dan mengurus 6 anaknya yang berumur hampir sebaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi satu hal yang melekat kuat dalam ingatanku, Mamakku masih sempat mendongeng setiap malam untuk aku dan kakak-kakakku. Dulu belum ada buku-buku dongeng, jadi Mamakku menceritakan secara lisan sambil tiduran dikamar. Kalau sekarang aku pikirkan kembali, kenapa selalu sambil tiduran dikamar, mungkin karena Mamakku terlalu lelah untuk mendongeng sambil duduk di ruang tamu setelah seharian mempersiapkan makanan untuk dijual dan mengurus anak-anaknya. Sampai pada kesimpulan ini, aku tidak berani lagi memakaikan kata keterangan CUMA didepan sebutan ibu rumah tangga untuk Mamakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu beberapa bulan terakhir ini aku merasakan suatu perasaan yang ”tidak hebat”, ”tidak bijaksana”, ”tidak maksimal”, terutama ”tidak adil” kepada anakku semata wayang yang baru berusia 3 tahun. Menjelang waktu tidurnya aku jarang sekali sudah sampai dirumah, apalagi untuk membacakan dongeng. Tapi puji Tuhan dalam beberapa bulan ini jugalah akhirnya aku sadar bahwa aku harus menjadi sedikitnya seperti Mamakku di malam hari, mendongeng! Aku tahu perkerjaan yang aku lakukan sekarang jauh lebih ringan daripada perkerjaan Mamakku dulu, jadi seharusnya paling tidak aku bisa seperti Mamak di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku rutin membacakan dongeng untuk anakku menjelang tidurnya. Buku-buku dongeng mulai memenuhi bawah kasurnya. Setiap buku atau judul dongeng yang selesai aku ceritakan dengan semangat anakku akan memberi tanggal dan namanya sambil berjanji dia akan menjadi anak baik seperti pesan moral yang selalu aku ulangi diakhir cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sekarang juga rajin membaca artikel tentang pendidikan anak dan manfaat mendongeng, aku sadar dan mengakui bahwa ternyata sebagian besar pegangan hidupku selama hampir 34 tahun ini berpedoman pada dongeng-dongeng Mamakku, dan aku yakin karena dongeng-dongeng Mamakku lah yang membuat aku merasa harus sekolah dengan giat dan bekerja dengan baik dan jujur, hebat bukan dongeng Mamakku !! Papa dan Mamakku tidak bisa membekali kami dengan cukup materi tapi kasih sayang dengan dongeng sebagai sebagai media peyampai pesan moralnya terbukti mampu menjadikan kami manusia yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebagian kecil dari dongeng Mamakku dan pelajaran hidup yang aku dapatkan :&lt;br /&gt;• Dongeng ” Dewi Sri ” aku terbiasa untuk hemat , tidak berlebihan dan tidak menyia-nyiakan makanan.&lt;br /&gt;• Dongeng ” Anak Katak Yang Suka Membantah Ibunya ” terpatri dalam pikiranku bahwa patuh pada orang tua akan membawa kebaikan pada kita sendiri.&lt;br /&gt;• Dongeng ” Anak Kambing Yang Suka Berbohong ” aku belajar bahwa hal terpenting dalam hidup adalah kejujuran dan bahwa kebohongan hanya akan melahirkan kebohongan-kebohongan selanjutnya.&lt;br /&gt;• Dongeng ” Putri Serakah ” mengajarkan padaku bahwa pada satu titik dalam kehidupan , kita butuh lebih dari sekedar materi. Kita butuh cinta kasih dan kedamaian.&lt;br /&gt;• Dongeng ” Doa Petani ” inilah dongeng yang paling banyak mengiringi kehidupanku, bahwa Tuhan selalu mendengar doa orang yang mau bekerja dan berusaha, tapi tidak untuk orang yang pemalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap dengan kebiasaan baruku membacakan dongeng kepada anakku setidaknya membekali dia pesan-pesan moral yang bisa menjadi pengangan hidupnya sama seperti dongeng Mamakku. Ayo mendongeng !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://blog.securitymonks.com/images/storyteller.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-4183136717057150739?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/4183136717057150739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-dongeng_29.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4183136717057150739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4183136717057150739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-dongeng_29.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Dongeng Mamakku Jadi Bahan Ajar Untuk Anakku'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szm9P_jB19I/AAAAAAAAAC0/4TfJxyi9Dbc/s72-c/storyteller.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-6675683227064452088</id><published>2009-12-28T16:42:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T00:30:04.286-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Ummi, Bacakan Buku Cerita Untukku..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzlYi46BO4I/AAAAAAAAACs/2bWVsiaY20U/s1600-h/65f35a738c67255f51fa463ea4eb-grande.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 286px; height: 197px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzlYi46BO4I/AAAAAAAAACs/2bWVsiaY20U/s320/65f35a738c67255f51fa463ea4eb-grande.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420460982931635074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Dwi Yuli Rahayu&lt;br /&gt;&lt;div class="post_message"&gt;&lt;br /&gt;Untuk merangsang minat baca anak, tak dapat dipungkiri, bahwa dengan cara membacakan cerita kepada anak atau mendongeng sangat berpengaruh kuat pada kecintaan anak terhadap buku. Karena sebuah kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan sangat berpengaruh pada kebiasaan anak setelah mereka dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ibu dari seorang putra yang sekarang berusia 21 bulan, saya berharap bahwa anak saya kelak akan tumbuh menjadi anak yang gemar membaca. Maka melalui tulsian ini, saya hanya ingin memberikan sedikit pengalaman tentang kebiasaan membacakan cerita kepada anak.&lt;br /&gt;Usia dini atau para ahli sering menyebutnya dengan Golden Age, adalah usia-usia yang sangat tepat memulai segala sesuatu dengan kebaikan. Menanamkan kebiasaan yang baik pada anak adalah salah satunya. Jika kita berharap anak kita akan cinta membaca, maka sudah seharusnya sejak dalam kandungan kita harus membiasakan kebiasaan ini pada diri kita. Mulai dari diri kita sendiri untuk menyukai membaca. Dan ketika anak kita lahir maka kenalkan secara dini aktivitas membaca buku padanya. Karena usia anak saya masuk pada golongan batita, maka saya lebih suka mengenalkan buku yang bergambar menarik, penuh warna warni. Biasanya saya membacakan cerita ketika akan tidaur dan di waktu-waktu senggang dengan melihat keadaan anak apakah pas untuk dibacakan cerita atau tidak. Biasanya anak batita akan sangat tertarik jika dibacakan dengan menunjukkan gambar-gambar seraya memperdengarkan alur cerita yang berhubungan dengan cerita dan dengan intonasi suara yang pas. Jangan seperti membaca teks. Usahakan ketika membacakan cerita, suara disesuaikan dengan alur cerita. Misalkan suara kucing ya ucapkan kata “meong..” dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan ajaibnya membacakan cerita kepada anak saya adalah, ketika suatu malam saya merasa kecapekan, dan tidak membacakan dia buku, tiba-tiba anak saya yang ketika itu berusia 19 bulan, mengambil sebuah buku di rak buku khusus milik dia sambil mengatakan “ta..ta…” mungkin maksudnya “baca-baca cerita Ummi”, maklum anak saya masih belum lancar bicaranya waktu itu. Subhaanalloh, saya sangat takjub dengan itu semua. Benarlah kiranya kebiasaan baik itu harus ditanamkan sejak dini. Begitu pula ketika saya membacakan sebuah cerita tentang kisah sahabat Rasulullooh, yang di buku ada kalimatnya” Salman dipeluk oleh ayahnya”, dan ada gambarnya dua orang anak dan bapak saling berpelukan. Seketika itu juga, anak saya segera menghampiri abinya dan mengatakan “uk..uk..” yang artinya “peluk…peluk..”.&lt;br /&gt;Dari situ saya juga memahami bahwa, ketika membacakan ceritapun sebagai orang tua kita harus memperhatikan apa yang kita bacakan untuk mereka. Kemudian tak lupa untuk memilah mana buku-buku yang seharusnya mereka baca. Jangan asal dongeng, dan asal minta membaca, namun yang mereka baca tidaklah bermanfaat. Pilihlah buku-buku sains yang sekarang dikemas secara apik, sehingga anak tidak merasa sedang membaca buku yang “berat”. Begitu pula jika anak sudah mulai senang membaca dan kita tahu ternyata dia lebih suka membaca komik, maka pilihkan untuknya komik yang berbobot. Sekarang sudah banyak komik-komik yang tidak melulu tentang sebuah pertarungan, percintaan yang dikemas dalam sebuah komik kartun, tapi sudah banyak komik tentang tokoh-tokoh ilmuwan, seperti komik Aviciena, Hayyan Ibnu Jabir, semua itu komik yang mengisahkan tentang penemuan mereka dalam bidang kedokteran dan ilmu fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, banyak tantangan dalam menumbuhkan minat baca anak, karena biasanya sebagai orang tua kita kadang berpikir instant. Sudahlah dari pada capek-capek mending suruh nonton televisi saja. Akhirnya mereka, anak-anak itu menjadi enggan untuk menyentuh buku apalagi untuk membacanya. Sebagai orang tua, sudah sewajarnya kita harus lebih memperbanyak wawasan tentang pendidikan anak, karena buku merupakan sumber ilmu yang tidak bias dipandang sebelah mata. Kita bisa dengan mudah membedakan anak yang suka membaca buku dan yang tidak suka. Anak-anak yang suka membaca buku, kosa katanya cenderung berlimpah dibandingkan dengan anak yang tidak suka membaca buku. Ini saya temukan dengan memeprhatikan anak-anak di sekitar lingkungan rumah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, menumbuhkan minat baca haruslah dimulai dari lingkungan terdekat anak, yaitu keluarga. Banyak program-program pemerintah, sekolah, instansi yang menggembor-gemborkan tentang bagaimana menumbuhkan minat baca anak. Bahkan diperingati setiap bulan September dengan berbagai acara-acara yang sangat meriah. Namun terkadang jika kita cermati, hanya berhenti sampai pada gebyarnya saja, jarang ada tindak lanjutnya. Padahal seharusnya yang digenjot untuk menumbuhkan minat baca itu adlah orang tua. Bagaimana anak akan gemar membaca jika di rumah mereka tidak ada buku yang memadai sebagai bahan bacaan, atau mereka sama sekali tidak pernah melihat orang tua mereka membaca buku. Ini merupakan tantang besar bagi kita semua sebagai orang tua. Sudah selayaknya gerakan-gerakan massal tentang pentingnya membaca kita tekankan kepada orang tua. Jika alas an ekonomi tidak mampu membeli buku, maka jalan keluarnya sangat mudah. Ada banyak perpustakaan disekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tulisan ini, hanya ingin meluruskan satu pemahaman, bahwa kecintaan anak terhadap buku hanya bisa dimulai dari lingkungan terdekat mereka. Adakah orang di dalam keluarganya yang biasa membacakan cerita untuknya? Atau adakah orang di dalam keluarganya yang peduli bahwa hadiah terindah atas semua prestasi yang dicapainya dan kado terindah dalam setiap ulang tahunnya adalah sebuah buku? Hm..sepertinya jarang ya kita menemui orang tua yang memberi kado ulang tahun anaknya dengan sebuah bingkisan berisi buku. Mudah-mudahan kita bisa memulainya dari sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit memberi kiat dalam rangka membiasakan anak dalam mencintai buku. Pertama, jadikan toku buku atau perpustakaan sebagai tempat favoritnya atau hadiah jalan-jalan atas segala prestasinya atau dalam rangka kado ulang tahunnya. Atau bisa mengajaknya ke pameran buku yang sering digelar. Kedua, bacakan cerita bergambar untuk usia batita, dengan menunjukkan gambar-gambarnya. Perhatikan gaya bahasa dan intonasi anda dalam bercerita. Usahakan setiap kata-kata dalam cerita seperti nyata. Misalkan, jika disebutkan suara kakek-kakek, cobalah bersuara seperti kakek-kakek, caranya dengan menggigit bibir bagian bawah. Atau jika suara anak-anak cobalah dengan suara kecil dan seterusnya. Ketiga, jadikan memberi hadiah atau kado berupa buku sebagai kebiasaan dalam setiap momen-momen penting. Jangan lupa pilih buku yang menarik dari segi warna, ketebalan buku (jangan terlalu tebal atau terlalu tipis, jika terlalu tebal anak sudah malas membawanya karena berat), pilihkan juga yang berisi gambar-gambar yang menarik. Keempat, jika anak menyukai buku sejenis komik, pilihkan komik yang bermutu, karena apa yang anak-anak baca akan terekam dengan sendirinya di dalam otak mereka. Kelima, hindari mengenalkan anak pada buku-buku yang bertema kekerasan, mengandung pornografi, dan menyelipkan kata-kata yang tidak sopan ataupun kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit berbagi pengalaman, mudah-mudahan bermanfaat. Sehingga anak-anak kita akan dengan sendirinya meminta kita untuk membacakan cerita untuk mereka. “Ummi, bacakan buku cerita untukku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;gambar dipinjam dari &lt;a href="http://cdn.wn.com/ph/img/c9/31/65f35a738c67255f51fa463ea4eb-grande.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="L4XMY" type="hidden"&gt;&lt;input id="post_form_id" name="post_form_id" value="84cb5f88969003312a00f4080de3f444" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-6675683227064452088?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/6675683227064452088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-ummi-bacakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6675683227064452088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6675683227064452088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-ummi-bacakan.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Ummi, Bacakan Buku Cerita Untukku..'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzlYi46BO4I/AAAAAAAAACs/2bWVsiaY20U/s72-c/65f35a738c67255f51fa463ea4eb-grande.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-7163539946155979692</id><published>2009-12-28T16:40:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T00:30:20.651-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Membuka Dunia Bersama Si Kecil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzlTnpVrnKI/AAAAAAAAACk/euNv2pgjs64/s1600-h/Storytelling.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 299px; height: 206px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzlTnpVrnKI/AAAAAAAAACk/euNv2pgjs64/s320/Storytelling.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420455567093898402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Dian Arymami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;and all there ever will be to know and understand.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-- Albert Einstein&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng? Siapa yang tak suka?&lt;br /&gt;Saya teringat waktu mengecam pendidikan sekolah, ada tiga mata pelajaran yang sangat saya sukai; bahasa, kimia dan sejarah. Persoalannya hanya satu, gurunya selalu memulai kelas itu dengan sebuah cerita. Dari cerita mereka dapat menjelaskan berbagai hal dengan menyenangkan, membuat siswa tertarik dan semangat untuk mempelajari lebih materi yang diberikan. Inilah yang coba saya lakukan bila harus berbicara didepan para mahasiswa, atau presentasi di publik. Mengawali dengan sebuah cerita. Cerita begitu leluasa menjelaskan berbagai persoalan, bisa menjadi contoh yang lebih aktual atau setidaknya bisa membuat publik sebentar terhenyak dalam keheningan untuk mendengarkan kita. Semua orang pasti tertarik untuk mendengarkan sebuah cerita. Tanpa ada batasan umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang tua bercerita kepada anak-anak mereka, khususnya sebagai ritual mendongeng sebelum tidur. Hal ini tidak hanya memberikan waktu berharga membangun ikatan relasi bersama anak, namun juga menginisiasi pengenalan buku pada anak-anak. Bercerita sembari membuka lembaran buku, secara tidak langsung membuat anak-anak menyukai buku. Mengenalkan tulisan dan mempercepat proses belajar membaca. Marjanovic-Umek dkk, juga menyatakan bahwa dongeng sangat signikan untuk perkembangan bahasa anak-anak. Namun tentu, bukan hanya proses membaca dan membaca buku yang menjadi penting, apalagi dengan prasyarat pendidikan ‘bisa membaca’ yang kian diterapkan sangat dini belakangan ini, atau sebagai patokan intelektualitas anak, tapi juga persoalan imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi dalam kamus psikologi mendeskripsikan imajinasi sebagai pengorganisasian data dari pengalaman masa lampau dengan relasi baru dalam pengalaman ide masa sekarang. Dengan kata lain dengan mencampur atau mengkombinasikan hal-hal lama dengan yang baru untuk membentuk sebuah gambaran dalam pikiran. Kenapa imajinasi begitu penting? Bukankan semua orang dengan mudah dapat melakukan imajinasi, sehingga kita tidak perlu susah payah menumbuhkan imajinasi pada anak? Setidaknya itu yang sempat melintas dalam pikiran saya mengenai imajinasi. Namun saya mulai mendapat pandangan lain, saat saya mendengar cerita seorang rekan yang sedang melakukan penelitian di Taman Kanak-kanank (TK) untuk tesis di bidang psikologi pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sekolah TK yang cukup ternama, dengan metode pembelajaran berbagai bahasa dan dipandang sangat baik oleh banyak keluarga. Sekolah itu sangat bagus, rapi dengan jumlah perbandingan pengajar dan siswa yang baik. Siswa-siswanya sudah sangat pandai membaca, mengeja dan berbicara dalam berbagai bahasa, tapi kelas itu sangat sepi. Tidak ada kegaduhan. Tidak ada teriakan, tangis atau canda tawa. Ini sebuah TK. Mereka membaca bersama, berdoa bersama, menyanyi bersama. Lebih mengejutkan lagi, saat bel istirahat berdering, tidak ada satu siswa pun yang keluar untuk bermain, hanya duduk dikelas, menanti pelajaran berikutnya dengan sangat rapi. Maaf, saya tak dapat menahan untuk mengulanginya; ini sebuah TK. Siswa-siswa ini tampaknya takut untuk keluar dari pola. Saya sangat terkejut dan prihatin mendengar cerita ini. Akan jadi apa siswa-siswa ini kelak? Pintar, disiplin, rajin membaca, itu pasti. Tapi apakah hanya ini yang modal dibutuhkan kelak saat anak-anak beranjak menginjak dunia sendiri. Kepintaran, kedisiplinan tanpa ada keberanian untuk menginisiasi, mencoba, menciptakan hal baru. Ada yang kurang? Ya. Imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menganggap sepele imajinasi, sebagai proses yang tidak membumi, irasional dan membuang waktu. Namun dengan imaginasi kita sebenarnya mengasah kecerdasan, mengasah pengelolaan emosi hingga mengasah proses pemecahan masalah. Bayangkan saja, dalam kondisi darurat, tersesat di hutan misalnya, bila kita tidak pernah memiliki imajinasi, kita dapat duduk berhari-hari menanti pertolongan tanpa inisiasi untuk menolong diri sendiri. Mungkin ini contoh yang terlalu ekstrim, tentu banyak hambatan sehari-hari yang dapat dibayangkan tak mampu terpecahkan bila tak ada campur tangan imaginasi. Imajinasi essensial dalam pertahanan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jenis dasar imajinasi; imajinasi imitative dan imajinasi kreatif. Imajinasi imitative merupakan imajinasi dari rekonstruksi masa lampau yang dikreasi, seperti anak bermain dokter-pasien, tapi dokter yang disuntik oleh pasiennya. Ini merupakan proses-proses kreasi imajinasi imitatif. Imajinasi kreatif disisi lain merupakan restrukturisasi impresi masa lalu yang melibatkan gambaran-gambaran dalam pikiran dan pengalaman untuk menciptakan sensasi atau kondisi yang belum pernah dialami. Misalnya saja seorang anak bermain dengan mobil-mobilan yang kemudian mendarat di planet Pluto. Tentu anak ini belum pernah ke Pluto, namun memiliki berbagai gambaran tentang Pluto dan gambaran kemampuan control pada mobil-mobilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Thompson dalam bukunya Natural Childhood mengatakan bahwa bila imaginasi diasuh sejak dini, ia dapat menjadi jangkar darurat dalam hidup. Imaginasi memberikan basis untuk tumbuh kembang anak dan akhirnya di dunia kelak. Anak-anak bila diberikan ruang dan dukungan untuk mengembangkan imajinasi, berarti mereka dibekali dan diasah untuk menjadi orang dewasa yang fleksibel, cerdas dan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara untuk mengasuh imajinasi anak. Mulai dari memberi mainan yang ‘kurang sempurna’ hingga yang paling mudah; mendongeng. Tak ragu lagi saat keponakan saya berumur 2 tahun berlari membawa buku resep kepada saya untuk meminta saya menceritakan buku tersebut. Saya dengan senang membuka buku itu, terpampang foto ayam yang lezat dan deretan bumbu-bumbu, saya memulai cerita dengan, ‘suatu hari, se-ekor ayam datang kekota...’. Baru satu kalimat itu, mata keponakan saya berbinar melihat gambar dan senyumnya mengembang lebar. Proses kreasi imajinasi dimulai. Tentu sekarang dia sudah besar dan bisa membedakan buku cerita dan buku resep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya sudah mempunyai satu anak. Proses mendongeng, memperkenalkan buku, mengasah imajinasi saya harap dapat saya lakukan, sebab mungkin pernyataan Albert Einstein diatas memang benar. Jadi kenapa tidak mendongeng, selain begitu banyak manfaatnya, ia sangat menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refrensi:&lt;br /&gt;Robertson, Ian. Opening the Mind’s Eye: How Images and Language Teach us How to See. New York: St. Martin’s Press, 2002.&lt;br /&gt;Roeckelein, Jon E. Imagery in Psychology, A Reference Guide. Connecticut: Praeger,2004.&lt;br /&gt;Thomson, John. Natural Childhood. New York: Simon &amp;amp; Schuster, 1994.&lt;br /&gt;Marjanovic-Umek, dkk. Developmental Levels of Child’s Story telling. Dipresentasikan dalam European Annual Meeting of Early Childhood Education Research Association. Lefkosia, Cyprus. 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.graphics-folio.com/heatherscratchboard/Storytelling.gif"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-7163539946155979692?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/7163539946155979692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-membuka-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/7163539946155979692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/7163539946155979692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-membuka-dunia.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Membuka Dunia Bersama Si Kecil'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SzlTnpVrnKI/AAAAAAAAACk/euNv2pgjs64/s72-c/Storytelling.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-4744164620130658383</id><published>2009-12-27T20:04:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T00:30:35.466-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mendongeng Satu Menit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szgw2z3rIhI/AAAAAAAAACc/_CNl4UzPR58/s1600-h/73980211.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 242px; height: 242px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szgw2z3rIhI/AAAAAAAAACc/_CNl4UzPR58/s320/73980211.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420135869735182866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Yudith Fabiola&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Mula Mendongeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ummi...itaaa.” pinta anak sulungku.&lt;br /&gt;Maksudnya, ia memintaku bercerita tapi gaya bicaranya sengaja ia cadel-cadelkan.&lt;br /&gt;Memintaku bercerita adalah ritual yang selalu dilakukannya sebelum tidur malam. Tidak pandang tidur di awal malam atau tidur tengah malam. Biasanya sehabis bepergian seharian dan sampai rumah malam hari, sulungku akan tidur larut malam. Meski demikian, ia selalu menagihku bercerita. Kalau tubuhku tak lelah, dengan senang hati kulayani keinginannya. Tapi, kalau badanku sudah penat, kantuk membuat mataku berat, ingin rasanya kutampik rengekannya. Namun, aku lebih sering tidak tega menolaknya. Maka kupenuhi permintaannya meski hanya mendongeng satu menit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan bercerita atau mendongeng ini telah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir. Kebiasaan yang bermula karena tidak sengaja. Sejak anakku tak lagi memintaku membacakan buku untuknya sebelum tidur. Tiga tahun lampau, anakku senang sekali dibacakan buku sebelum tidur. Tentu saja aku meresponnya dengan gembira. Sudah menjadi cita-citaku sejak lama bahwa aku ingin anakku gemar membaca. Maka, kuperkenalkan ia pada buku sejak ia berumur 5 bulan. Jika dulu aku yang memilih buku yang akan dibacakan sebelum tidur, lama-lama ia sendiri yang mengambil buku-buku untuk kubacakan. Dari satu buku, bertambah-tambah menjadi selusin buku. Ya, selusin buku untuk dibaca sebelum tidur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, seperti biasa anakku membawa banyak buku untuk dibacakan sebelum tidur. Hari itu aku tak bisa berkompromi dengan rasa lelah maka aku minta padanya hanya membaca satu atau dua buku. Ia tak mau. Aku juga keukeuh. Akhirnya ia memang menuruti perintahku tapi...apa yang terjadi keesokan hari dan seterusnya? Ia tak mau dibacakan satu bukupun sebelum tidur! Alangkah terkejutnya aku. Sedih dan menyesal berbaur menjadi satu. Tak kusangka dampak penolakanku kemarin begitu dahsyat membekas dalam dirinya. Penyesalanku tak habis-habis hingga hari ini. Oleh karena itu, aku tak mau mengulangi kesalahan tersebut di anak keduaku. Kembali ke cerita tadi, karena anakku tidak mau dibacakan buku, aku pun mendongeng untuknya. Rupanya, dongeng yang kusampaikan padanya membuatnya senang. Sejak hari itu hingga tadi malam anakku ketagihan dongeng sebelum tidur. Entah mengapa, ia sulit tidur jika aku belum mendongeng. Sedangkan baca buku, ia melakukannya sendiri sejak mulai lancar membaca. Fiuuuh...rasa berdosaku berkurang sedikit demi sedikit demi melihat hobi membacanya tak luntur karena ulahku bertahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dongeng Sebelum Tidur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku biasa mendongeng sebelum anakku tidur di malam hari. Siang hari rasanya tak nyaman untuk mendongeng. Aku sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan urusan di luar rumah. Anakku pun sibuk sekolah, membaca atau bermain. Meski awalnya tak sengaja, aku dan anakku menyepakati (tanpa tertulis) bahwa dongeng lebih sering sebagai pengantar tidur malam.&lt;br /&gt;Ada saja yang kudongengkan untuknya. Mulai legenda masa lampau hingga cerita yang kureka-reka sendiri. Aku merasa mendongeng banyak manfaatnya untukku dan anakku. Mendongeng setali tiga uang dengan membaca. Anak-anak dapat dinasehati lewat dongeng tanpa merasa digurui. Jika awalnya aku menganggap kegiatan ini hanya kegiatan 'asal, belakangan pandanganku berubah. Apalagi setelah membaca buku Cara Pintar Mendongeng karya Andi Yudha Asfandiyar. Dongeng ternyata bukan pekerjaan ecek-ecek. Meski aku hanya mendongeng di depan anakku sendiri, meski dongengku hanya beberapa menit tapi aku merasa harus mempersiapkan diri sebelum mendongeng. Persiapan yang kulakukan adalah mengumpulkan sebanyak mungkin amunisi cerita dengan banyak membaca dan 'membaca'. Membaca berbagai buku, termasuk buku anak-anak. Juga 'membaca' alam dan kejadian di sekitar dan seputar kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senang mendongeng untuk anakku sebab:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mendongeng menyuruhku untuk berpikir. Dongeng apa yang akan kuceritakan malam ini? Bagaimana isinya? Siapa tokohnya? Kadang-kadang, anakku yang menentukan tokoh dalam dongeng yang akan kuceritakan. Ia mengarang nama dan usia si tokoh lalu aku membuat cerita dengan tokoh rekaannya itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendongeng melatih anak untuk menyimak perkataan seseorang. Hal ini yang kulihat dari anakku. Ia akan serius menyimak uraianku. Ia tidak pernah tertidur sebelum dongeng berakhir. Terkadang ia menyela, bertanya bahkan memrotes isi dongengku :D. Ia juga kerap melisankan kembali cerita yang disampaikan gurunya di sekolah. Kemarin-kemarin ia sempat bilang padaku bahwa ia akan merindukan wali kelasnya di kelas dua (kini ia akan memulai kelas tiga). Ketika kutanya alasannya, jawabannya singkat saja karena gurunya senang bercerita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendongeng menantangku untuk kreatif. Aku adalah seorang yang minim imajinasi dan kreativitas. Dongeng yang kuceritakan jarang berasal dari imajinasiku. Biasanya aku menceritakan ulang kisah yang pernah kudengar atau kubaca. Dulu, aku pernah menceritakan kisah Malin Kundang pada anakku. Apa yang terjadi padanya usai mendengar kisah itu? Ia menangis tersedu-sedu. Aku kaget dengan reaksinya dan merasa sangat bersalah. Aku pikir kisah Malin Kundang bisa memberi banyak hikmah. Namun, malah membuat anakku sedih dan terlihat ketakutan. Sejak saat itu, aku sebisa mungkin menghindar dari menceritakan kisah sedih pada anakku sebelum tidur malam. Mungkin itu bukan waktu yang tepat. Cerita berhikmah tidak harus disampaikan lewat kisah sedih. Maka, aku berusaha memancing kreatifitas dengan mengarang cerita lucu yang kupaparkan dengan mimik dan intonasi yang mendukung kelucuan cerita itu. Sayangnya aku tak pandai melawak, cerita lucuku lebih sering terasa garing daripada jenaka. Aku tak selalu berhasil membuat anakku tertawa. Tapi, dari sinar matanya aku tahu bahwa ia senang dengan cerita 'lucu' yang kusampaikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dongeng mempererat hubungan kami, aku dan anak-anakku. Seperti yang telah kutulis di atas, aku biasa mendongeng sebelum tidur malam. Pada saat itu, keadaan sangat nyaman, santai dan hangat. Segala 'keributan dan pertengkaran' antar anakku di siang hari lenyap tertutup tirai malam. Aku mendongeng, sulungku menyimak, tahu-tahu si bungsu menyeletuk. Celetukannya membahanakan tawa kami. Refleks kucium dan kupeluk si bungsu. Sulungku pun terkekeh mendengar celetukan adiknya, ia lupa bahwa tadi siang berantem dengan adiknya. Kadang-kadang, di tengah cerita malah aku yang terlelap sekejap sehingga ucapanku berubah jadi igauan. Untunglah anakku tak kesal, kami malah tergelak berdua menyadari kata-kataku yang ngaco akibat kantuk. Benar-benar suasana yang menentramkan hati.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dongeng membuatku semakin mencintai buku. Aku telah menyinggung tentang hal ini di atas bahwa membaca adalah amunisi mendongeng. Tanpa membaca aku tak akan bisa mendongeng. Terkadang anakku bertanya,&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;“Kok Ummi tahu cerita itu?”&lt;br /&gt;“Karena Ummi baca buku.” tandasku.&lt;br /&gt;Anakku terlihat berpikir mendengar jawabanku. Sepertinya ia sepakat dengan jawaban itu. Terbukti, ia tambah suka 'berkencan' dengan buku. Tak jarang, ia menceritakan hasil bacaannya kepadaku dengan semangat dan menggebu-gebu. Gantian aku yang terpukau dan terpaku melihat wawasannya tentang sesuatu. Terima kasih dongeng, terima kasih buku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Never Ending Story Telling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya bukan hanya anakku yang adiksi mendengar dongeng. Aku sebagai penyampai dongeng juga merasa kecanduan untuk mendongeng. Terlebih jika mengingat 31 manfaat dongeng untuk anak-anak seperti yang terdapat dalam buku Cara Pintar Mendongeng. Sungguh dongeng adalah sarana edukasi yang murah, meriah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;Aku mematri tekad dalam hati untuk tidak malas mendongengkan anakku. Untuk memperbaiki kualitas cara dan isi dongengku. Untuk melestarikan hobi baik ini ke anak bungsuku (sekarang aku masih fokus mendongeng untuk anak pertamaku), kepada para keponakanku dan ke cucu-cucuku kelak. Untuk tidak pernah berhenti mendongeng, never ending story telling, walau hanya sehari kecuali kami telah sama-sama lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber bacaan:&lt;br /&gt;Cara Pintar Mendongeng karya Andi Yudha Asfandiyar (Dar! Mizan, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;gambar dipinjam dari google&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-4744164620130658383?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/4744164620130658383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-mendongeng_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4744164620130658383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4744164620130658383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-mendongeng_27.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mendongeng Satu Menit'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Szgw2z3rIhI/AAAAAAAAACc/_CNl4UzPR58/s72-c/73980211.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-4795936072150058936</id><published>2009-12-17T01:10:00.001-08:00</published><updated>2009-12-20T22:35:17.327-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sharing'/><title type='text'>[Sharing] Mendongeng dan Didongengi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8UwrjzSuI/AAAAAAAAABU/O2f2G5o26hw/s1600-h/Storytelling_fun8.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 252px; height: 201px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8UwrjzSuI/AAAAAAAAABU/O2f2G5o26hw/s320/Storytelling_fun8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417571703309159138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;oleh : Wiwit Wijayanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempunyai seorang putri yang saat ini berusia 4,5 tahun. Sejak putri kami lahir, saya dan suami mempunyai kesepakatan yang tak terucap bahwa kami ingin anak kami mencintai kegiatan membaca. Dengan keinginan ini, sejak putri kami bisa dipangku dengan posisi duduk pada usia empat bulan kami mulai membelikannya buku. Yang saya maksud buku disini tentu saja buku bergambar dengan sedikit teks. Namun karena anak dalam usia ini belum bisa berkonsentrasi dalam waktu lama, maka kegiatan membacakan buku ini hanya kami lakukan selama sekitar dua menit, dua atau tiga kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan membacakan buku ini terus berlanjut. Beberapa bulan kemudian kami mulai membiasakan membacakan buku sebelum putri kami tidur. Sebetulnya, beberapa referensi yang kami baca menyatakan bahwa ”mendongengi” lebih baik daripada ”membacakan buku” karena dongeng akan membuat anak berimajinasi lebih luas dan meningkatkan kreatifitas mereka. Namun sayang, saya dan suami sama-sama menyatakan tidak pandai membuat dongeng. Walaupun beberapa teman mengatakan ”Karang saja dongeng-dongeng sederhana, ajak anakmu ikut mengembangkan ceritanya, mudah kok!” Tapi tetap saja, ketika kami berusaha rasanya garing, sehingga kami menyerah dan kembali mengandalkan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan membacakan buku cepat sekali terlihat hasilnya dalam menanamkan rasa cinta buku kepada putri kami. Ketika berusia sepuluh bulan dan harus opname di rumah sakit, buku menjadi pengusir jenuhnya. Putri kami dapat melupakan tusukan infus di lengan yang mengganggu aktifitasnya saat kami bacakan buku atau saat dia membuka-buka bukunya sendiri. Ketika usianya mendekati satu tahun, kegemarannya pada buku makin menjadi. Kegiatan membacakan buku sebelum tidur bukannya membuatnya mengantuk, tapi malah membuat segar-bugar. Duh! Di satu sisi kami senang karena hal ini menunjukkan bahwa dia mulai menyukai kegiatan membaca dan bercerita, tapi satu sisi yang lain repot juga kan kalau sampai susah tidur begitu? Kadang kami sampai sudah mengantuk, tak punya energi untuk membaca, namun justru putri kami masih segar dan dia menawarkan sebuah solusi ”Ibu tidur saja, Vari yang cerita ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan kemampuan bicaranya, makin terlihat pengaruh positif dari membacakan buku kepada putri kami. Perbendaharaan kosakatanya sangat kaya. Terkadang kami sampai kaget mendengar dia mengucapkan sesuatu yang rasanya belum pernah kami ajarkan dan ketika dikonfirmasi ternyata dia mendengar dari cerita di buku yang kami bacakan. Wah, ternyata kami yang pelupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemarannya terhadap buku ini juga memudahkan kami untuk menjauhkannya dari televisi. Putri kami tak pernah merasa kehilangan jika kami tak menyalakan televisi karena dia telah cukup terhibur dengan buku dan mainannya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kegemaran putri yang muncul kemudian adalah mengarang cerita. Dengan bekal cerita-cerita yang telah didengarnya, dia menjadi suka merangkai cerita. Baik mengembangkan cerita yang sudah ada, mengarang cerita baru dengan menggunakan tokoh-tokoh yang dikenalnya atau membuat cerita yang sama sekali baru. Jika sudah bercerita, idenya mengalir tak kunjung habis, betah sekali dia bercerita, bisa sampai lima belas menit. Kegemaran ini kemudian kami dukung dengan membelikannya boneka tangan dan boneka jari berbentuk binatang. Senang sekali putri kami menerima hadiah ini. Dia jadi bisa memvisualisasikan ceritanya. Dan ternyata boneka ini juga bisa memancing kreatifitas saya dan suami, kami jadi bisa mendongeng dengan alat bantu boneka tangan dan jari ini. Senang sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide cara mendongeng lain yang baru-baru ini kami temukan didapatkan dari salah satu VCD yang dimiliki putri kami, yaitu dengan membuat pertunjukan bayangan atau wayang. Menyiapkan pertunjukan ini menjadi proyek bersama keluarga kami. Putri kami dan suami saya menggambar tokoh-tokoh cerita yang mereka inginkan di kertas karton, lalu saya bertugas untuk menggunting gambar mereka dan memasang bambu kecil (saya pakai tusuk sate kambing) untuk pegangan wayangnya. Cukup banyak wayang yang kami buat, tak hanya tokoh-tokoh cerita saja, namun kemudian berkembang ke benda-benda lain seperti rumah, kereta, awan, matahari, bulan, bintang dan lain-lain. Kemudian kami siapkan layar, lilin di belakang layar, mematikan lampu, dan pertunjukan wayang ala kami pun siap digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, membaca dan mendongeng memang aktifitas yang menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note :&lt;br /&gt;gambar diambil dari &lt;a href="http://images.google.co.id/"&gt;google&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-4795936072150058936?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/4795936072150058936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/sharing-mendongeng-dan-didongengi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4795936072150058936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/4795936072150058936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/sharing-mendongeng-dan-didongengi.html' title='[Sharing] Mendongeng dan Didongengi'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8UwrjzSuI/AAAAAAAAABU/O2f2G5o26hw/s72-c/Storytelling_fun8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-2940136162922533725</id><published>2009-12-16T22:46:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T22:28:07.241-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mendongeng Mengalihkan Perhatian Anak dari Televisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8VMWXTLBI/AAAAAAAAABc/ZuGwaiN6JpE/s1600-h/reading.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8VMWXTLBI/AAAAAAAAABc/ZuGwaiN6JpE/s320/reading.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417572178655915026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Kahar S. Cahyono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersorak. Gembira sekali rasanya. Betapa tidak, kami menjuarai lomba mendongeng yang diselenggarakan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Serang untuk kategori kelompok. Sepanjang perjalanan pulang, tidak henti-hentinya saya memandangi piala. Penuh rasa syukur dan luapan rasa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan mendongeng yang kami lakukan kepada anak didik Raudhatul Athfal (setingkat TK) setiap Jum`at pagi merupakan pelajaran yang paling diminati. Anak-anak duduk melingkar di halaman. Wajah-wajah cerah itu terlihat sangat antusias. Hal ini tentu saja membuat kami, para guru, semakin bersemangat. Kami menyisipkan pesan-pesan moral, pelajaran berhitung, akhlak, budi pekerti, dan sebagainya. Pendek kata, kami mengajar melalui dongeng. Dengan dongeng anak-anak mendapatkan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, saya tidak perlu menguraikan pendapat para ahli terkait dengan manfaat mendongeng bagi perkembangan anak pada kesempatan ini. Mendongenglah, dan kemudian lihat perubahan apa yang akan terjadi pada anak-anak kita. Hasilnya sungguh ajaib. Mereka lebih peka, memiliki interpersonal yang tinggi, lebih mudah mengingat pelajaran yang diberikan, dan lebih dekat kepada guru/orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika kami menang dalam lomba, saya pikir itu hanyalah sebuah bonus dari apa yang kami lakukan selama ini. Bisa karena biasa. Apalagi yang perlu dikhawatirkan, toh kami sudah terbiasa mendongeng. Begitu pikir saya sesaat sebelum lomba digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, untuk bisa mendongeng tidak diperlukan keahlian khusus. Bukankah hampir setiap hari kita bercerita, tentang semua hal? Ini sebenarnya sudah cukup sebagai modal untuk mendongeng. Hanya, memang, kita harus membiasakan diri untuk memdeskripsikannya dalam bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak.&lt;br /&gt;“Abi, tadi kami menang lomba mendongeng lho?” ujar saya kepada suami, penuh kebanggaan.&lt;br /&gt;Diluar dugaan, laki-laki yang saya panggil Abi itu terdiam. Menatap tepat ke mataku, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.&lt;br /&gt;“Umi menang lomba?” Akhirnya suaranya keluar juga.&lt;br /&gt;“Iya dong,” jawab saya dengan senyum merekah.&lt;br /&gt;“Kok saya nggak pernah mendengar umi mendongeng untuk Fadlan dan Haya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg! Rasanya seperti ketabrak kereta api mendengar kalimat itu. Ya, apa saja yang saya lakukan selama ini? Bahkan sampai-sampai tidak sempat mendongeng untuk anak sendiri?&lt;br /&gt;Kalau saya mendongeng di sekolah, itu memang karena tututan sebagai seorang guru. Suka tidak suka, mau tidak mau, harus dilakukan. Karena memang sudah terjadwal demikian. Tapi dirumah? Seharusnya saya semakin bersemangat, karena itu untuk buah hati kami sendiri. Untuk sosok mungil penerus cita dan asa orang tuanya. Nyatanya, saya tidak melakukannya.&lt;br /&gt;Ada yang salah dalam diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa diam? Jawara dongeng kok jadi pendiam gitu,” suara suami membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;“Iya, umi salah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah awal mula kami membiasakan diri mendongeng untuk anak-anak di rumah. Sulitnya bukan main. Bukan sulit mendongengnya, tetapi menyempatkan diri untuk istikhomah yang menurut saya susah luar biasa. Terlalu banyak alasan buat saya untuk tidak mendongeng. Memasak, mencuci, menyetrika, menyiapkan media pembelajaran esok pagi, dan seterusnya dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran berharga yang bisa dipetik, kita harus menetapkan tujuan (visi dan misi) yang hendak dicapai agar bisa istikhomah dalam mendongeng. Di sekolah, tujuan saya jelas, ini merupakan tuntutan pekerjaan. Lagi pula beberapa wali murid yang kebetulan sedang mengantarkan anaknya juga ikut mendengarkan. Sementara di rumah, bisa saja saya mengatakan bahwa kewajiban orang tua untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Tetapi itu kan jawaban standar. Sebab realitasnya, tidak semudah yang diucapkan. Saya bahkan butuh waktu beberapa minggu untuk terbiasa mendongeng kepada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, ternyata anak kecil dimana-mana sama saja. Semua suka mendengarkan dongeng. Anak murid saya di Raudhatul Athfal, juga cerita banyak kawan, semua mengatakan anak-anaknya suka mendengarkan dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, perubahan besar segera terjadi. Saat ini, Fadlan (4,5) dan Haya (2) lebih senang mendengarkan dongeng-dongeng saya daripada menonton TV. Kalau sebelumnya anak-anak sampai menangis karena dilarang menonton acara televisi yang menurut saya tidak baik untuk perkembangan kepribadiannya anak, saya tinggal mengatakan, “Umi mau mendongeng lho, tapi syaratnya tivi-nya harus dimatikan.” Tanpa menunggu instruksi dua kali, mereka segera mendekat ke samping kanan dan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya saya baru mengakhiri dongeng ketika mereka sudah lelap dalam tidur. Jelas sekali, di bibirnya tersungging senyuman. Barangkali keduanya sedang bermimpi bertamsya bersama bidadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diceritakan Maimunah,&lt;br /&gt;Tenaga Pengajar di RA As-Sanariyah. Serang - Banten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;gambar diambil dari &lt;a href="http://images.google.co.id/"&gt;google&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-2940136162922533725?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/2940136162922533725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-mendongeng_16.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2940136162922533725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2940136162922533725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-mendongeng_16.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mendongeng Mengalihkan Perhatian Anak dari Televisi'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8VMWXTLBI/AAAAAAAAABc/ZuGwaiN6JpE/s72-c/reading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-3818206314362111246</id><published>2009-12-16T01:35:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T22:30:52.525-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] DONGENG : VISUALISASI dan IMAJINASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8WBc9c5zI/AAAAAAAAABk/_BLpAXzhuoU/s1600-h/maintoon.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 220px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8WBc9c5zI/AAAAAAAAABk/_BLpAXzhuoU/s320/maintoon.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417573090959615794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Reza Aprianti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi kebiasaan orang tua saat melihat anak-anaknya akan beranjak tidur pada malam hari? Ada yang tetap duduk manis di depan televisi tanpa peduli sama sekali. Adapula yang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang masih tersisa, sehingga tidak memperdulikan ketika anak akan tidur. Bahkan ada juga orang tua yang berpesan “ Cepat tidur, biar besok ngak telat kesekolahnya”, sambil berlalu pergi kedapur. Lantas masih adakah orang tua yang dengan sengaja mengantarkan anaknya ketempat tidur, menyelimutinya dan menceritakan dongeng pengantar tidur sampai Sang anak teridur lelap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terakhir kiranya wajar untuk dibahas lebih lanjut, karena momen seperti itu sudah sangar jarang kita jumpai. Banyak faktor yang menjadi penyebab hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Pertama, terlalu lelahnya kondisi fisik dan emosional orang tua. Pada malam hari orang tua hanya mempunyai energi sisa dari begitu padatnya aktivitas pada siang harinya. Menyebabkan anak-anak hanya mendapatkan sisa-sisa perhatian, sisa-sisa kasi sayang, sisa-sisa pujian dan semuanya yang masih bisa tersisa. Indikator kedua adalah membacakan dongeng sebelum tidur bukanlah sebuah kebiasaan atau tradisi sehingga tidak masuk dalam agenda rutin keluarga. Ketiga, ketidak tahuan orang tua tentang besarnya manfaat mendongeng bagi perkembangan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riset yang dilakukan di Amerika terhadap anak-anak yang kecanduan media baik itu TV, ponsel, game komputer, playstation, dan internet, ternyata salah satu kiat yang bisa digunakan untuk meminimalisir hal tersebut adalah dengan membiasakan para orang tua membacakan cerita sebelum tidur kepada anak-anaknya.  Karena ini diyakini dapat mempererat hubungan batin antara keduanya. Mengapa hal ini dirasa sangat penting, maka dari itu akan dijelaskan mengenai manfaat mendongeng sebelum tidur bagi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu komunikasi, aktifitas mendongeng dapat dikategorikan kedalam bentuk komunikasi antar personal karena berlaku antar dua orang (anak dan orang tua). Proses komunikasi sendiri didefinisikan sebagai proses penyampaiaan pesan dari sumber (sender) ke penerima (reciver) yang berlangsung dua arah (feedback). Dalam proses mendongeng, yang bertindak menjadi sumber adalah orang tua dan yang menerima adalah anak. Sedangkan pesan yang dikirim berupa pesan verbal (kata-kata) dari dongeng yang diceritakan. Tentu saja dalam banyak buku dongeng tidak hanya pesan dalam bentuk verbal yang ditampilkan melainkan dilengkapi juga dengan pesan nonverbal yang berupa gambar yang disebut juga sebagai pesan visual. Buku dongeng yang memuat banyak gambar sangat baik untuk menstimulus daya imajinasi mereka. Dengan membayangkan karakter yang terdapat dalam dongeng tersebut, hal ini sangat baik untuk daya kembang otak kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng merupakan sesuatu yang manarik bagi setiap anak-anak. Darinnya dapat tercipta sebuah dunia baru tempat segala imajinasi tentang tokoh dan latar belakang cerita tergambar dalam benak mereka. Visualisasi tokoh-tokoh yang ada dalam dongen dengan warna-warni yang cerah mampu membangkitkan minat mereka untuk terus memperhatikan. Media dongeng yang memuat banyak gambar bisa dikategorikan ke dalam komunikasi visual. Komunikasi dalam bentuk visual dianggap sebagai alat yang bisa menembus dan mengatasi keterbatasan bahasa. Komunikasi visual sendiri berarti bentuk komunikasi yang tidak hanya menghadirkan kejelasan satu arti dari pesan tapi bisa bercabang seiring dengan bentuk dan ornamen yang dibawanya misalnya, warna, emosi, tekanan, komposisi dan lain sebagainya. Selain itu komunikasi visual bisa tidak hanya menghadirkan pesan dalam bentuk tulisan, melainkan lebih berupa gambar, lukisan, foto, desain, karikatur dan lain-lain. Selain itu, komunikasi visual juga dapat diartikan sebagai sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan. Komunikasi visual mengkombinasikan seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi, dan warna dalam penyampaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa gambar dinilai jauh lebih komunikatif dibandingkan dengan bahasa tulis. Seperti yang diunggkapkan oleh C. Leslie Martin  bahwa“one picture is better than a thousand words”. Bahasa lisan dan tulisan memiliki keterbatasan disamping kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Bahasa lisan dan tulisan mengundang imajinasi dengan perbedaan-perbedaan interpretasi visual. Gambar melengkapi bahasa lisan dan tulisan dalam kaitan menjelaskan keberadaan suatu obyek. Gambar memiliki kemampuan memaparkan lebih rinci dan membatasi rentang interpretasi. Hanya dengan satu gambar mampu memceritakan rangkaiaan peristiwa ataupun kejadian dengan lebih baik. Gambar mampu bercerita banyak dengan berbagai komponen gambar yang mendukung visualisasi agar dapat dimengerti oleh pembaca dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi bergambar akan lebih menarik dibanding yang berbentuk tulisan, karena hampir setiap orang lebih menyukai gambar. Media visual berbentuk gambar merupakan metode yang paling cepat untuk menanamkan pemahaman, walau gambar tidak disertai tulisan sekalipun. Gambar merupakan media yang ampuh untuk mengungkapkan pesan karena lebih mudah dicerna. Visualisasi adalah cara atau sarana yang paling tepat untuk membuat sesuatu yang abstrak menjadi lebih jelas. Penampilan secara visual selalu mampu menarik emosi pembaca dan dapat menolong seseorang untuk menganalisa, kemudian mengkhayalkannya pada kejadian sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan agar sang anak tertarik untuk membaca atau mendengarkan cerita pengantar tidur adalah pertama, sangat diusahakan menemani sang anak pada saat membaca. Mulailah membaca bersama mereka sejak anak berusia dini agar mereka cinta buku dan cerita. Kedua, sesuaikan bahan bacaan dengan usia mereka. Ketiga, cara yang baik untuk mendorong anak agar mau membaca adalah dengan membaca secara bergantian. Misalnya orang tua dapat membaca satu halaman kemudian sang anak yang melanjutkannya atau dengan membaca karakter yang satu dan sang anak karakter yang lainnya. Keempat, memberikan kebebasan pada  sang anak untuk mengambil dan memilih buku sesuai dengan keinginan mereka atau hal-hal yang berhubungan dengan hobi dan hal-hal lain yang mereka minati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note :&lt;br /&gt;gambar diambil dari &lt;a href="http://www.ahes.k12.nj.us/ahes/Media%20Center/___zumuhead.html_files/maintoon.gif"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orange, Teresa and Louise O’flynn. 2005. The Media Diet for Kids. Hay House, United Kingdom.&lt;br /&gt;Istanto, Freddy H.. Gambar Sebagai Alat Komunikasi Visual. Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra.&lt;br /&gt;Kusmiati R, Artini. 1999. Teori Dasar Disain Komunikasi Visual. Penerbit Djambatan, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-3818206314362111246?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/3818206314362111246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-dongeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3818206314362111246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3818206314362111246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-dongeng.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] DONGENG : VISUALISASI dan IMAJINASI'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8WBc9c5zI/AAAAAAAAABk/_BLpAXzhuoU/s72-c/maintoon.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-7108014000352921495</id><published>2009-12-08T21:27:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T22:35:55.807-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Buku-ku Kehidupanku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8WZDFtbTI/AAAAAAAAABs/yw2eVYuPRZg/s1600-h/readingreadiness1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 240px; height: 237px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8WZDFtbTI/AAAAAAAAABs/yw2eVYuPRZg/s320/readingreadiness1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417573496331791666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Ari Pardono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng. Itu adalah kegiatan yang umumnya dilakukan oleh orang tua atau guru-guru taman kanak-kanak atau guru Sekolah Dasar. Kegiatan mendongeng yang dilakukan orang tua, biasanya dilakukan saat-saat mau menidurkan sang buah hati, sedangkan para guru mendongeng acapkali dilakukan di saat waktu-waktu jam pelajaran kosong atau saat menanti bunyi bel tanda kegiatan sekolah telah usai. Jarang sekali kegiatan mendongeng dilakukan dengan persiapan khusus, misalnya masalah waktu, tema atau muatan yang akan disampaikan pada obyek yang dituju. Tapi itu dulu, sekarang ini dengan banyaknya media infomasi yang canggih seringkali kegiatan ini terlupakan. Praktis kegiaan mendongeng sekarang ini sangat jarang dilakukan oleh para orang tua atau guru. Mungkin ada baiknya disela-sela banyaknya mata pelajaran di sekolah,kegiatan mendongeng menjadi satu mata pelajaran tersendiri sehingga kegiatan ini mempunyai nilai setara dengan mata pelajaran lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terbayang jelas sewaktu masih kanak-kanak dulu disaat sore hari setelah maghrib, ayah segera menggelar tikar di halaman rumah. Sambil menunggu ibu berjualan di depan rumah ayah mendongeng cerita untukku. Biasanya ayah mendongeng cerita kancil dan kawan-kawannya. Menarik sekali ayah waktu itu mendongeng untukku. Bahkan sering kali kali dongeng yang dia bawakan sampai sekarang belum ada yang bisa menceritakannya kembali. Kalau hanya cerita Kancil, Bawang Merah Bawang putih, Joko Bodho, Ande-ande Lumut, Timun Emas mungkin semua orang sudah hafal cerita-cerita tersebut. Bahkan sudah diterbikan dalam bentuk buku atau ditayangkan dalam bentuk sinetron atau film, tetapi cerita tentang kisah keluarga dengan belasan anak dan orang tuanya ingin membuang anaknya satu persatu ,dengan mengajaknya pergi ke hutan mungkin hanya ayah yang menyimpan cerita itu, atau dongeng burung gagak yang kehausan di hutan hingga suatu waktu menemukan sebotol air dan kebingungan meminumnya, itu merupakan bagian cerita langka yang ayah miliki. Waktu itu aku sangat antusias sekali dengan berbagai dongeng ayah, sehingga setiap menjelang tidur aku selalu menagih ayah untuk mendongeng, dan selalu ayah menyediakan waktu untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah yang sengaja meluangkan waktunya untukku merupakan cermin tanggung jawab orang tua terhadap anaknya. Terbiasa berbagi peran dalam keluarga bukan merupakan hal yang tabu dalam keluarga kami, terkadang ibu tidak sempat karena kesibukannya. Ayah yang kemudian mengganti ibu untuk sementara waktu demi aku dan saudara-saudaraku. Kebetulan ayah lebih ekspresif dalam membawakannya, sehingga aku dan saudara-saudaraku lebih suka kalau ayah yang mendongeng. Aku kadang larut dalam cerita ayah sehingga bila yang diceritakan tentang kisah-kisah sedih, aku ikut menangis seakan-akan menjadi salah satu tokoh dalam dongeng tersebut. Ketika ayah mendongeng, beliau bukan hanya semata-mata bercerita saja, tapi juga diselingi dengan nyanyian-nyanyian yang menjadikan cerita menjadi lebih hidup. Berbagai tokoh atau karakter yang ada dalam dongeng bisa ayah bawakan dengan baik. Dari karakter binatang sampai karakter seorang gadis atau janda dalam cerita bawang merah dan bawang putih, ayah mampu memerankannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan ayah mendongeng dengan baik tidak terlepas dari pengalaman ayah sewaktu remaja yang biasa bermain wayang atau bersandiwara. Dan hal itu pernah dibuktikan sendiri ketika ada pentas agustusan di kampung secara spontanitas ayah bisa bermain sandiwara dengan bagus. Mungkin karena itu sehingga dongeng yang dibawakan secara monolog bisa menjadi lebih hidup. Layaknya seorang dalang ayah bisa memainkan tokoh dalam dongeng dengan sempurna.&lt;br /&gt;Kebiasaan ayah mendongeng setiap malam menjelang aku dan saudara-saudaraku menjelang tidur sangat mengasyikkan. Karena hal itu merupakan hiburan bagi keluarga kami yang tidak mempunyai televisi. Kemampuan ekonomi keluarga yang pas-pasan sehingga ayah tidak mampu membeli televisi. Praktis hiburan malam hari yang biasa dilakukan oleh kami sekeluarga adalah bermain-main atau mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejadian yang menarik yang dialaami kakakku. Mungkin kejadian itu tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Suatu waktu ketika di kelas gurunya mendongeng kisah bawang merah dan bawang putih dan dia tiba-tiba menangis keras sehingga guru dan kawan-kawan sekelas bingung, Gurunya mengira kakakku dijahilin kawannya, tapi ternyata dia larut dalam cerita yang dibawakan sang guru. Kemudian guru kakakku menghentikan dongeng tersebut dan kelas akhirnya dibubarkan. Padahal sebelumnya ayah sudah menceritakan dongeng tersebut. Rupanya kakakku selalu terbayang dengan cerita itu, sehingga ketika kembali diceritakan di sekolah dia semakin terbawa dan menganggap itu kisah nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman masa kecil di atas rasanya susah di temui dalam kehidupan zaman sekarang. Aku yang kini sudah berkeluarga dan mempunyai pasangan yang sama-sama bekerja, membuat waktu yang kami sisihkan untuk mengawasi secara penuh kehidupan anak-anak menjadi sangat terbatas. Berangkat kerja pukul enam pagi dan pulang saat maghrib merupakan rutinitas sehari-hari. Namun demikian istriku masih menyempatkan diri untuk membacakan buku cerita untuk si kecil waktu menjelang tidur malam tiba. Sedangkan di kala siang posisi itu sepenuhnya berada di tangan mbak, pengasuh anak-anakku. Mereka diwajibkan untuk membacakan buku cerita untuk anak-anak kami, baik yang sudah bersekolah maupun yang masih bayi. Harapannya mereka bisa terhibur dan terbiasa dengan kegiatan membaca serta bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan membaca buku cerita itu sekarang menjadi bagian dalam kehidupan kami sekeluarga. Karena kami berpikir membacakan cerita lebih mudah dibandingkan dengan mendongeng yang harus hafal di luar kepala. Apalagi seperti yang dilakukan ayah dulu, rasanya sekarang ini susah dijalani. Sehingga pilihan dengan membacakan buku cerita menjadi pilihan utama. Oleh karenanya sejak awal kami menikah, kami bersepakat untuk tidak memiliki televisi terlebih dahulu. Sengaja kami ciptakan kondisi demikian karena hal ini untuk merangsang anak-anak supaya gemar membaca juga. Kami khawatir di saat anak-anak belum mengenal buku, mereka sudah terlena dengan tayangan-tayangan di televisi. Tentu saja hal ini bukan perkara mudah yang harus kami sampaikan kepada keluarga besar, apalagi kepada para pengasuh yang usianya masih ABG. Tapi Insya Allah sejauh ini mereka memahami. Jadilah sekarang di rumah banyak buku cerita, majalah, tabloid dan koran yang kami jadikan sebagai media hiburan dan informasi. Disamping itu juga kami menyediakan radio tape untuk mengikuti perkembangan berita-berita terbaru. Sedangkan untuk menghilangkan rasa kejenuhan kadang-kadang di akhir pekan kami luangkan waktu untuk berjalan-jalan di luar. Ke tempat rekreasi, mengunjungi pameran atau mengikuti pengajian rutin, selain untuk menghilangkan rasa jenuh, tujuan lainnya adalah untuk mengikuti perkembangan kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri bahwa melihat realitas kehidupan nyata pada lingkungan sekitar juga akan menambah wawasan dan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk: Ayahnda Sugiyo, Farah Kholistiana, Hannan Taqqiyul Islam dan Hannin Nur Syahidah serta mbak-mbak pengasuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note :&lt;br /&gt;gambar diambil dari &lt;a href="http://mrsvierkant.files.wordpress.com/2009/06/readingreadiness1.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-7108014000352921495?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/7108014000352921495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-buku-ku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/7108014000352921495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/7108014000352921495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-buku-ku.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Buku-ku Kehidupanku'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8WZDFtbTI/AAAAAAAAABs/yw2eVYuPRZg/s72-c/readingreadiness1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-6450785604939890656</id><published>2009-12-08T21:26:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T22:36:14.213-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mendongeng, Lebih Dari Sekedar Membangun Dunia Imajinasi Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8WtjTJ4FI/AAAAAAAAAB0/XCqIDfntHEU/s1600-h/Story_Telling_by_SheCow.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 211px; height: 282px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8WtjTJ4FI/AAAAAAAAAB0/XCqIDfntHEU/s320/Story_Telling_by_SheCow.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417573848575500370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Oleh: Deta Armatia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jika mengangkat topik mendongeng, terbuka kembali lembaran memori masa kecil. Hampir setiap malam eyang kakung (kakek) mendongeng kepada kakak dan saya. Ritualnya selalu sama, setelah kami memakai ‘seragam tidur’ dan naik ke tempat tidur, eyang akan menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu kamar, lalu beliau duduk di kursi sebelah tempat tidur. “Malam ini eyang akan bercerita tentang si kancil dan buaya!” kata beliau. Walau berbagai versi cerita si kancil sudah sering kami dengar, kami tidak pernah bosan mendengarkannya lagi. Sampai saat ini, dua puluh dua tahun telah berlalu, dan eyang kakung sudah tidak ada di samping kami lagi, tetapi memori ritual mendongeng sebelum tidur tersebut masih lekat di ingatan kami. Menceritakan kembali kenangan tersebut membuat kami tersenyum dan merasa dekat dengan eyang kakung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Menurut saya banyak dampak positif dari mendongeng, terutama jika hal tersebut dijadikan ritual di dalam keluarga. Mendongeng dapat mempererat hubungan anak dengan orang tua, membangun imajinasi anak, anak dapat lebih mudah untuk mengambil nilai-nilai yang ingin kita tanamkan kepada mereka melaui dongeng, dan banyak hal positif lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Agar kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan yang berguna bagi perkembangan anak, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses mendongeng adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;1. Mengumpulkan materi-materi dongeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Materi dongeng dapat berupa cerita-cerita klasik, rakyat, fabel (cerita tentang dunia hewan) baik yang internasional maupun cerita asli Indonesia. Dapat pula materi dongeng tersebut kita sendiri yang membuat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;2. Materi dongeng yang dipilih sebaiknya memiliki nilai-nilai baik yang ingin kita tanamkan kepada anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Contoh: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;untuk menanamkan sifat pekerja kerja keras dan berpikiran jauh, kita bisa menceritakan dongeng tentang tiga babi kecil dan serigala. Dalam dongeng tersebut ada tiga babi kecil yang membangun rumah mereka. Babi pertama membangun rumah menggunakan jerami, babi kedua membangun rumah menggunakan kayu, dan babi ketiga membangun rumah menggunakan batu bata. Babi ketiga berkerja lebih keras untuk membangun rumahnya, tetapi hasilnya adalah rumah yang dia bangun merupakan rumah yang terkuat dibandingkan kedua saudaranya dan serigala jahat tidak bisa menghancurkan rumahnya tersebut, tidak seperti kedua saudaranya yang rumah mereka hancur ditiup oleh sang serigala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;3. Pelajari dongeng yang akan kita ceritakan kepada anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Setelah kita memilih dongeng-dongeng yang sesuai dengan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan kepada anak, pelajari dongeng tersebut. Baca berulang dongeng tersebut, sehingga kita dapat :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;• menceritakannya dengan lancar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;• Fokus dalam mengangkat nilai-nilai positif dalam cerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;4. Buat suasana yang menyenangkan saat mendongeng &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hidupkan suasana, gunakan alat-alat bantu sederhana seperti bantal, seprai, selimut, lampu tidur, senter, boneka dan lain sebagainya. Contoh: ketika bercerita tentang petualangan berkemah, buat tenda dari selimut atau seprai, nyalakan lampu tidur di dalamnya. Saat mendongeng fabel sebelum tidur, di kamar yang gelap kita bisa menggunakan senter dan membuat bayangan-bayangan binatang dengan tangan kita. Ketika mendongeng, pastikan kita memahami tokoh-tokohnya, coba buat suara dan ekspresi tubuh kita berbeda untuk masing-masing tokoh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;5. Jalin interaksi dengan anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Libatkan anak dengan dongeng yang sedang kita ceritakan. Hal ini dapat membuat anak lebih berkonsentrasi dengan cerita dan menghindari kebosanan. Contoh: Jika kita sedang bercerita tentang si kalcil dan harimau, ketika si tokoh harimau keluar, kita bisa bertanya pada anak “Hei, adek tau ngga kalau harimau mengaum suaranya seperti apa?”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;6. Beri penutup dengan diskusi bersama anak, seperti:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;a. Memberi pertanyaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;b. Menanyakan pendapat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;c. Mengulang nilai-nilai positif yang ingin kita tanamkan kepada anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Beri pertanyaan dan pendapat anak tentang dongeng yang baru kita ceritakan Contoh: Ketika bercerita tentang anak yang berbagi mainan dengan adiknya ”Tadi siapa yang baru dibelikan mainan baru oleh kakek? … (anak menjawab), lalu lanjutkan dengan pertanyaan: “Menurut adek kenapa adiknya Rafa sedih?” (anak menjawab) “Menurut adek apa yang sebaiknya Rafa lakukan?” (anak menjawab) “Menurut adek senang tidak Rafa dan adiknya ketika Rafa membiarkan adiknya ikut bermain dengan dia?” dan seterusnya. Lalu tutup dongeng dengan nasehat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;7. Jadikan ritual / aktifitas yang rutin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sesuatu yang rutin dilakukan akan lebih melekat di ingatan anak. Tentukan waktu yang paling sesuai bagi kita dan juga bagi anak untuk mendongeng. Kegiatan ini dapat dilakukan setiap hari menjelang anak tidur, atau setiap akhir minggu ketika orang tua tidak berkerja dan anak tidak sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kegiatan mendongeng ini sepertinya merupakan kegiatan yang ‘remeh’, namun saya percaya kegiatan ini dapat memberi banyak dampak positif bagi anak, membentuk karakter anak, memberi inspirasi bagi anak dalam memecahkan masalah di kesehariannya, dan yang terpenting adalah mendongeng dapat membentuk hubungan yang dekat antara anak dan orang tua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;(diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel "Cinta Dongeng, Cinta Baca)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note :&lt;br /&gt;gambar diambil dari &lt;a href="http://images.google.co.id/"&gt;google&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-6450785604939890656?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/6450785604939890656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-mendongeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6450785604939890656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6450785604939890656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/12/cinta-dongeng-cinta-baca-mendongeng.html' title='[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mendongeng, Lebih Dari Sekedar Membangun Dunia Imajinasi Anak'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8WtjTJ4FI/AAAAAAAAAB0/XCqIDfntHEU/s72-c/Story_Telling_by_SheCow.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-6943258254063148387</id><published>2009-11-16T00:16:00.000-08:00</published><updated>2009-12-16T01:47:08.035-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengumuman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta dongeng cinta baca'/><title type='text'>[Lomba] Cinta Dongeng, Cinta Baca</title><content type='html'>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak dan Lingkar Pena Publishing House, mengadakan lomba menulis artikel tentang kebiasaan mendongeng dan membaca buku bagi anak dengan tema: " CINTA DONGENG, CINTA BUKU". Lomba menulis artikel ini diadakan untuk mengajak anggota KOMPAK untuk terus meningkatkan perhatian kepada media anak, sekaligus mengajak anggota untuk saling belajar dan menularkan ilmu dan pengalamannya kepada masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Persyaratan Umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Lomba terbuka untuk anggota komunitas KOMPAK (via facebook/milis/ multiply) yang berdomisili di Indonesia atau memiliki alamat di Indonesia.&lt;br /&gt;2. Tema Tulisan : Kiat menumbuhkan dan membiasakan penggunaan dongeng (mendongeng) dan buku (bahan bacaan) sebagai alternative hiburan yang edukatif dan menyenangkan bagi anak. Artikel berbentuk non fiksi, boleh berdasarkan pengalaman pribadi (bagi yang belum mempunyai anak bisa menuliskan pengalaman saudara/adik/ keponakan/murid dll)&lt;br /&gt;3. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, bentuk tulisan nonfiksi, tulisan merupakan karya sendiri yang belum pernah diterbitkan oleh media manapun serta tidak sedang diikutkan dalam lomba lainnya. Tulisan juga bukan karya terjemahan.&lt;br /&gt;4. Peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 (satu) naskah.&lt;br /&gt;5. Semua naskah yang masuk akan menjadi hak penyelenggara (KOMPAK) dan akan di posting di page komunitas KOMPAK di Facebook, Multiply dan blog KOMPAK &lt;a href="http://kompakindonesia.blogspot.com/" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," target="_blank" rel="nofollow"&gt;http://kompakindonesia.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6. Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Persyaratan Teknis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Artikel diketik 1 1/2 spasi Words, Times New Roman ukuran 12&lt;br /&gt;2. Panjang naskah 2-4 halaman.&lt;br /&gt;3. Apabila penulis menggunakan sumber bacaan lainnya sebagai referensi maka harap mencantumkan reference/sumber bacaan tersebut dalam daftar referensi/pustaka pada akhir Tulisan.&lt;br /&gt;4. Artikel dikirim sebagai attachment email dan identitas penulis di tulis terpisah di badan email.&lt;br /&gt;5. Batas waktu penerimaan naskah tanggal 31 Desember 2009&lt;br /&gt;6. Naskah dikirim ke KOMP4K09@gmail. com CC rasti812@gmail. com dan wiwit.wijayanti@ gmail.com dengan subject “Cinta Dongeng, Cinta Baca” disertai dengan keterangan dimana anda menjadi member KOMPAK (facebook, multiply atau milis) dan username yang digunakan.&lt;br /&gt;7. Pemenang akan diumumkan di Facebook dan Multiply (Group page) serta milis pada tanggal 31 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hadiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hadiah dari Lingkar Pena Publishing House berupa buku –buku karangan penulis cilik dan penulis dewasa , serta voucher belanja berjumlah total Rp 500.000,- dari donator KOMPAK akan diberikan kepada pemenang-pemenang sbb:&lt;br /&gt;Pemenang I : Paket buku dari LPPH &amp;amp; voucher belanja dari KOMPAK sejumlah Rp 250.000,-&lt;br /&gt;Pemenang II : Paket buku dari LPPH &amp;amp; voucher belanja dari KOMPAK sejumlah Rp 150.000,-&lt;br /&gt;Pemenang III : Paket buku dari LPPH &amp;amp; voucher belanja dari KOMPAK sejumlah Rp 100.000,-&lt;br /&gt;Pemenang Hiburan (untuk 2 orang): Paket buku dari LPPH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunggu partisipasinya, mari kita giatkan dan tanamkan gerakan memonitor program-program hiburan anak (GEMPA)… Kami tunggu segera kiriman artikelnya yaa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam KOMPAK! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-6943258254063148387?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/6943258254063148387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/11/lomba-cinta-dongeng-cinta-baca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6943258254063148387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6943258254063148387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/11/lomba-cinta-dongeng-cinta-baca.html' title='[Lomba] Cinta Dongeng, Cinta Baca'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-3529701502683860785</id><published>2009-07-31T05:58:00.001-07:00</published><updated>2009-07-31T06:10:15.725-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengumuman'/><title type='text'>Pengumuman Pemenang Kuis "Media Diet for Kids"</title><content type='html'>Dear sahabat KOMPAK,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah kami tulis dalam pengumuman kuis yang lalu, pemenang kuis akan diumumkan pada hari ini. Sungguh, sulit bagi kami, admin KOMPAK dan perwakilan dari penerbit Serambi untuk memilih pemenangnya. Semua tulisan disusun dengan sangat bagus, baik dari materi maupun penulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena harus memilih, akhirnya, berikut ini 5 tulisan yang kami anggap sebagai tulisan terbaik dari 15 artikel yang masuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang I : Pengaruh Media (Debby M. Yunitasari)&lt;br /&gt;Pemenang II : Berbagi Jatah Waktu Menonton Meminimalisasi Dampak Buruk TV (Umi Laila Sari)&lt;br /&gt;Pemenang III : Aku Ga Mau Nonton Itu, Ah! (Yudith Listiandri)&lt;br /&gt;Pemanag Hiburan I : Selalu Ada Hari Tanpa TV (Yudith Fabiola)&lt;br /&gt;Pemenang Hiburan II : Media Cetak &amp;amp; Media Elektronik (Elin Marlina)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemenang harap dapat mengirimkan alamat (di Indonesia) untuk pengiriman hadiah ke e-mail pengiriman artikel kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat kepada para pemenang dan terima kasih atas partisipasi sahabat semua. Semoga kita semua dapat makin bersemangat dalam usaha memberikan media &amp;amp; hiburan yang sehat bagi anak Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam KOMPAK! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-3529701502683860785?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/3529701502683860785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/pengumuman-pemenang-kuis-media-diet-for.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3529701502683860785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3529701502683860785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/pengumuman-pemenang-kuis-media-diet-for.html' title='Pengumuman Pemenang Kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-5747328317916116670</id><published>2009-07-23T19:09:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T21:47:38.799-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Menonton Televisi itu seperti Makan: Melindungi Anak dari Tayangan Televisi yang Tidak Sehat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8Z5njMKoI/AAAAAAAAAB8/vy3YgkTxc9E/s1600-h/culinary-television.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 228px; height: 277px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8Z5njMKoI/AAAAAAAAAB8/vy3YgkTxc9E/s320/culinary-television.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417577354409814658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh Wisnu Martha Adiputra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literasi media, terutama untuk anak-anak dan remaja, telah menjadi perhatian saya dan teman-teman sejak tahun 2005. Di tahun itu, saya dan beberapa teman mendapatkan grant riset dari Ristek untuk meneliti literasi media pada remaja di tiga kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bila mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan menyebarkan “virus” literasi media, saya akan sangat senang mengikutinya. Kesempatan itu datang kemarin (21 Juli 2009). Kemarin itu saya menjadi narasumber dalam debat interaktif di Jogja TV. Acara tersebut diselenggarakan oleh KPID dan Jogja TV dan berdiskusi tentang melindungi anak dari tayangan televisi yang tidak sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasumber acara tersebut, selain saya, adalah Surach Winarni (anggota KPID DIY) dan Ratna Susetya W. (tim pemantauan dari KPID). Mbak Surah berbicara dalam kapasitasnya sebagai komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah yang memiliki program rutin mensosialisasikan cara menonton televisi yang baik pada masyarakat, selain tugasnya yang utama yaitu mengeluarkan peraturan berkaitan dengan penyiaran di DIY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Ratna merupakan representasi dari masyarakat yang peduli pada tayangan yang baik. Ia adalah salah seorang anggota tim pemantau yang menjadi mitra KPID. Sementara saya sendiri mewakili akademisi, sekaligus juga individu yang mencoba peduli dengan kondisi penyiaran Indonesia yang tidak kunjung membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam wilayah akademis, “perlindungan” atau kesadaran individu dalam mengakses pesan media, berada dalam wilayah konsep literasi media. Seringkali literasi media diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai melek media. Saya pribadi tidak setuju dengan padanan tersebut karena konsep melek media menghilangkan nuansa individu yang proaktif ketika berinteraksi dengan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memudahkan kita, terutama dikaitkan dengan tayangan anak, konsep literasi media itu bisa kita analogikan dengan aktivitas diet dan berenang.&lt;br /&gt;Tayangan televisi ataupun pesan media secara umum dapat kita metaforkan sebagai makanan. Ia mesti dipilah dan dipilih agar kita mengkonsumsi “makanan” itu dengan baik. Selain itu, sebagaimana halnya makanan empat sehat lima sempurna di mana makanan itu memiliki banyak jenis dan kegunaan yang berbeda, demikian juga dengan pesan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan media itu terdiri dari beragam jenis. Secara mudah, seperti yang dikatakan James Potter, pesan media terdiri dari tiga jenis; berita, hiburan, dan iklan. Ketiga jenis pesan itu memerlukan perhatian yang berbeda dan “dicerna” secara berbeda pula.&lt;br /&gt;Melalui analogi tersebut, kita sering mendengar istilah diet media. Diet media memperhatikan apa dan bagaimana kita mengkonsumsi “makanan” yang ditawarkan media. Pesan media itu, untuk anak-anak, ada yang tidak boleh “dimakan”, ada yang boleh “dimakan” tetapi tidak boleh berlebihan, dan ada juga pesan media yang harus “dimakan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan media yang tidak boleh “dimakan” oleh anak-anak misalnya sinetron untuk remaja dan berita. Pesan media yang boleh diakses oleh anak-anak tetapi dengan terbatas adalah semua film anak di mana orang tua mesti mengawasi. Ada yang pesan media yang sebaiknya, bahkan harus, diakses oleh anak-anak. Pesan media yang termasuk kategori ini adalah program acara yang sesuai dan aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Acara seperti “Bocah Petualang” dan “Laptop si Unyil” di stasiun televisi Trans 7 termasuk dalam kategori ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogi lain untuk aktivitas mencerna media adalah literasi media itu seperti berenang. Informasi dan pesan media bisa kita anggap sebagai “lautan” di mana audiens, terutama anak-anak, mesti memiliki kecakapan atau kemampun tertentu untuk menempuh “lautan” itu. Literasi media adalah kecakapan tersebut. Kecakapan yang membantu individu merasakan manfaat yang positif dari media, terutama televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literasi media sendiri terdiri dari tiga tingkat. Tingkatan tersebut adalah tingkat rendah, menengah, dan tinggi. Literasi media tingkat tinggi diperlukan oleh orang-orang yang mempelajari media atau yang memiliki profesi berkaitan dengan dunia media dan komunikasi, semisal wartawan dan praktisi humas.&lt;br /&gt;Sementara, masyarakat umum sebaiknya memiliki literasi media pada tingkat menengah, yaitu pada jenis-jenis pesan dan konsekuensinya. Literasi media tingkat dasar sebaiknya dimiliki oleh seluruh anggota masyarakat karena ini adalah pondasi bagi masyarakat informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dikaitkan dengan anak, tayangan televisi memiliki problematikanya sendiri. Problem yang utama tentu saja dualitas konsep tersebut: anak sebagai penonton atau anak sebagai tontonan. Aspek pertama berkaitan dengan audiens, sementara yang kedua berkaitan dengan pesan atau tayangan.&lt;br /&gt;Problem yang kedua adalah: anak-anak dalam usia apa? Anak-anak sebelum usia dua tahun, anak-anak usia 3 – 5 tahun, anak-anak pendidikan dasar, dan anak-anak pra-remaja. Semua jenjang usia anak-anak tersebut memiliki perbedaan besar dalam mengakses pesan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai orang-tua agar anak-anak kita tidak mengkonsumsi tayangan tidak sehat? Untuk anak usia dua tahun ke bawah direkomendasikan tidak menonton televisi sama sekali. Tidak hanya televisi sebenarnya, tetapi juga layar, termasuk layar monitor dan pesawat televisi untuk memainkan konsol game.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak usia dua sampai lima tahun sebaiknya ditemani ketika menonton. Anak-anak usia ini benar-benar tidak diperbolehkan menonton acara yang bukan untuk usianya. Bila pun harus menonton, sebaiknya orang tua mengawasi aktivitas menonton tersebut. Orang tua sebaiknya ada di sisi anak untuk menjelaskan informasi di tayangan yang tidak ia pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bila sang orang tua bekerja? Ini juga tidak masalah. Pengawasan tidak harus berarti kehadiran fisik. Pengawasan di sini adalah bagaimana orang tua mengatur dan merencanakan tontonan untuk anak. Bila tidak bisa betul-betul hadir mengawasi, orang tua dapat menitipkan diet menonton televisi tersebut pada orang-orang dewasa di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak usia enam sampai dua belas tahun disarankan menonton televisi ataupun mengakses media yang lain asalkan isinya sesuai dengan usianya. Bagaimana pun juga, media adalah sumber informasi utama pada masa sekarang ini.&lt;br /&gt;Walau demikian, hal yang juga mesti diingat oleh orang tua adalah keseimbangan antara aktivitas menonton tv dan mengakses media, dengan aktivitas fisik. Jangan sampai aktivitas menonton menjadikan aktivitas fisik, seperti bermain di lapangan dan berolahraga terlupakan. Jangan sampai aktivitas menonton tv menjadi saran eskapisme dari aktivitas fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jangan takut dengan tayangan televisi. Dengan analogi diet dan berenang kita bisa “menaklukkan” televisi dan mempergunakannya sebesar mungkin untuk kepentingan anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note: gambar diambil dari &lt;a href="http://www.epicurean.com/articles/images/culinary-television.gif"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-5747328317916116670?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/5747328317916116670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/menonton-televisi-itu-seperti-makan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5747328317916116670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5747328317916116670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/menonton-televisi-itu-seperti-makan.html' title='Menonton Televisi itu seperti Makan: Melindungi Anak dari Tayangan Televisi yang Tidak Sehat'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8Z5njMKoI/AAAAAAAAAB8/vy3YgkTxc9E/s72-c/culinary-television.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-6178823132003314250</id><published>2009-07-23T19:08:00.000-07:00</published><updated>2009-12-20T23:08:49.851-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Anak dan Ketergantungan Media</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8exbyr91I/AAAAAAAAACE/s-tlQotTbcM/s1600-h/Internet+Safety.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 274px; height: 179px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8exbyr91I/AAAAAAAAACE/s-tlQotTbcM/s320/Internet+Safety.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417582711372773202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ditulis oleh Trias Saputra&lt;br /&gt;&lt;div class="post_message"&gt;Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia bergantung pada media. Media di sini tidak hanya terbatas pada media cetak maupun elektronik, namun juga media interaktif (contohnya internet). Hal inilah yang sedang menimpa manusia sekarang. Kita dapat melihat bagaimana kebutuhan akan media berkembang pesat. Kebutuhan akan media yang berkembang pesat disebabkan adanya suatu anggapan bahwa siapa yang menguasai informasi maka ia yang akan bertahan di tengah arus globalisasi yang kian deras. Selain kebutuhan akan informasi, media juga dapat dijadikan sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia yang lainnya seperti hiburan, membangun sebuah hubungan, bahkan kebutuhan yang bersifat rohaniah. Hal tersebut membuat media berperan besar dalam kehidupan manusia atau bahkan mengendalikan kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi yang ada membuat media semakin mudah untuk diakses. Misalnya saja internet yang kini sedang populer. Menjamurnya warnet (warung internet), hadirnya hot spot, dan adanya handphone yang terkoneksi internet membuat internet menjadi mudah untuk diakses. Teknologi juga membuat media lain seperti koran dan televisi semakin asyik untuk dinikmati. Kemudahan dan keasyikan ini tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa namun juga oleh anak-anak. Harus kita sadari bahwa media telah menyentuh berbagai segi kehidupan manusia. Dan di dalamnya termasuk anak-anak. Tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak sekarang sangat menggemari media yang ada. Mulai dari komik, majalah, televisi, dan bahkan yang terbaru adalah internet. Fenomena ini tentu saja membawa berbagai dampak bagi anak-anak. Informasi dan pengetahuan yang melimpah yang didapatkan anak-anak dari media memang menjadi keuntungan tersendiri. Namun yang menjadi masalah adalah munculnya kekhawatiran dari beberapa kelompok individu terhadap dampak negatif adanya media. Kekhawatiran ini menjadi wajar ketika melihat berbagai kasus di mana anak-anak berbuat kekerasan hanya karena meniru apa yang disajikan oleh media. Kekhawatiran ini menjadi wajar mengingat media sekarang sedang terjebak fundamentalis pasar. Sehingga media lebih mementingkan kebutuhan pasar. Hal tersebut berimbas pada kualitas dari apa yang disajikan oleh media. Media menganggap apa yang disajikan hanya sebagai komoditas belaka. Sajian yang berorientasi pada nilai dan pelajaran moral mulai disingkirkan dan digantikan dengan sajian yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena tersebut, seharusnya kita menjadi waspada dan peduli terhadap masa depan anak-anak kita. Dapat kita bayangkan bila anak sebagai individu yang masih labil dan mudah terpengaruh harus mendapat pengaruh negatif dari media. Dalam sebuah teori yang bernama teori Jarum Hipodermik dikemukakan bahwa kekuatan media yang begitu dahsyat hingga bisa memegang kendali pikiran khalayak yang pasif tak berdaya. Kekuatan media yang mempengaruhi khalayak ini beroperasi seperti jarum suntik, tidak kelihatan namun berefek (Severin – Tankard, Jr, 2005: 152). Berdasarkan teori ini dapat kita lihat bahwa sajian negatif yang ada di media dapat mempengaruhi perilaku sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu anak harus diberikan perhatian lebih. Perhatian ini tidak hanya diberikan oleh pemerintah melalui kebijakannya, namun yang lebih penting adalah kontrol dari keluarga. Kontrol keluarga tersebut harus berorientasi pada pencegahan. Sehingga pengaruh negatif tersebut dapat dikurangi sedini mungkin. Berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengontrol dan melindungi anak-anak dari dampak negatif media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Mencari alternatif media yang lebih kecil dampak negatifnya. Pengalaman penulis dapat membuktikannya. Dulu ketika penulis masih duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama), televisi penulis mengalami kerusakan. Penulis yang waktu itu sangat menggemari tayangan televisi dan bahkan dapat menonton hingga jam dua belas malam menjadi sangat bosan. Ternyata tanpa diketahui ibu penulis memang membiarkan televisi itu rusak. Selain karena ayah penulis yang bisa membenarkan televisi belum pulang dari Jakarta (rumah penulis berada di Yogyakarta), ibu juga prihatin melihat penulis yang berlebihan dalam menonton televisi. Ibu merasa bahwa penulis jadi malas dan selalu tidur malam. Tanpa sengaja penulis melihat radio yang lama tidak dipakai. Setelah mencoba menyalakan radio beberapa kali, ternyata ada kesenangan yang ditemukan. Penulis menganggap bahwa radio tidak membuat mata lelah, dapat meningkatkan imajinasi karena harus menggambarkan apa yang dikatakan penyiar dalam pikiran (pada waktu itu penulis suka mendengarkan cerita silat), dan membuat penulis belajar untuk mendengarkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Menulis apa yang didapatkan dari media. Keluarga harus mengajari anak untuk menjadi aktif dalam menikmati apa yang disajikan media. Misalnya saja ketika menonton acara di televisi, anak dapat diajak untuk menulis apa yang menarik yang ia dapatkan dari acara yang ditonton. Kemudian keluarga dalam hal ini orangtua memberikan catatan dan masukan untuk tulisan tersebut. Cara ini secara tidak langsung meningkatkan kreativitas anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Mencari kegiatan yang tidak berhubungan dengan media. Misalnya saja bermain permainan tradisional dan ikut dalam komunitas atau organisasi. Hal ini dikarenakan media seperti komik, televisi, game online, dan internet membuat anak tidak dapat berinteraksi dengan temannya secara maksimal. Anak akan cenderung individualistis dan egois. Langkah ini secara tidak langsung akan mengurangi ketergantungan anak terhadap media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dari berbagai cara yang ditawarkan, yang terpenting adalah teladan. Teladan dari orang tua dan keluarga yang membuat anak akan terhindar dari dampak negatif dari media. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat, sehingga larangan terhadap sesuatu hanya akan membuat anak semakin penasaran. Teladan dari orang tua dan keluarga menjadi jawabannya dan akan membuat anak secara cerdas mengetahui hal yang buruk dan baik. Selain itu keberhasilan ketiga hal di atas juga ditentukan oleh teladan dari orang tua. Tanpa teladan dari orang tua dan keluarga, ketiga hal tersebut hanya bagaikan memukul dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Severin Werner J. dan James W. Tankard, Jr. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, Edisi Ke-5. Jakarta: Kencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;gambar diambil dari &lt;a href="http://agapepartners.org/content_images/8/Internet%20Safety.gif"&gt;sini &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-6178823132003314250?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/6178823132003314250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/anak-dan-ketergantungan-media.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6178823132003314250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6178823132003314250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/anak-dan-ketergantungan-media.html' title='Anak dan Ketergantungan Media'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8exbyr91I/AAAAAAAAACE/s-tlQotTbcM/s72-c/Internet+Safety.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-1781175326768037438</id><published>2009-07-23T19:06:00.000-07:00</published><updated>2009-12-20T23:13:40.121-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pengaruh Media</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8fxYoehBI/AAAAAAAAACM/9xiIXxzgUis/s1600-h/child-computer-game.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 295px; height: 209px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8fxYoehBI/AAAAAAAAACM/9xiIXxzgUis/s320/child-computer-game.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417583810036270098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ditulis oleh Debby M. Yunitasari&lt;br /&gt;&lt;div class="post_message"&gt;Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku Daffa (kini 3 tahun 7 bulan) dapat mengoperasikan laptop sejak berusia 2 tahun. Awalnya ayahnya mengenalkan Daffa dengan “CD Interaktif Anak Cerdas” dari Akal Interaktif. Dari CD tersebut, Daffa belajar mengenal abjad, angka, warna dan bentuk. Kemudian, dilanjutkan CD-CD berikutnya dari Akal Interaktif, yakni 3 seri CD Interaktif Anak Mandiri: “Aku Berani Sendiri”, Aku Suka Sekolah” dan “Aku tidak Takut ke Dokter” serta “Aku Anak Islam”. Ada juga CD Interaktif dari G Compris dan Childsplay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua senang karena Daffa mempunyai mainan edukasi. Dengan cepat dia mahir bermain berbagai CD Interaktif tersebut. Meskipun begitu, kami juga tidak membiarkan Daffa bermain seharian penuh. Kami membatasi waktunya maksimal 1,5 jam tiap kali main. Dia kami izinkan bermain CD Interaktif setiap hari. Dan dalam sehari, dia bisa bermain beberapa kali.&lt;br /&gt;Menjelang usia Daffa 3 tahun, ayahnya menambahkan games “Super Mario” dan mengenalkannya pada Daffa. Dalam waktu singkat, Daffa mahir memainkan games tersebut. Disusul dengan beberapa games lain, yaitu “Charma”, “Zuma Deluxe”, “Dynomite Deluxe” dan “Pac Mania II”. Akhirnya, Daffa “kecanduan” nge-games.Tiada hari tanpa main games. Akibatnya, kadang kesepakatan waktu maksimal 1,5 jam sekali nge-games terlanggar. Belum lagi, dia juga tertarik pada games yang terdapat di handphone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daffa bisa sangat asyik kalau sudah nge-games. Apa saja terkalahkan, pokoknya. Bahkan, terkadang jadwal mandi, makan, tidur menjadi kacau hanya karena dia tidak mau berhenti nge-games karena sudah terlanjur asyik. “Ntar dulu, Bunda!”,begitu selalu katanya.&lt;br /&gt;Kami berpikir hal ini tidak baik buat Daffa. Akhirnya kami membuat kesepakatan baru, Daffa hanya boleh nge-games di laptop hari Sabtu dan Minggu. Kalau untuk games di handphone kami masih bisa fleksibel, asalkan dia tidak memainkannya terlalu lama. Awalnya Daffa menolak kesepakatan baru itu dan tak jarang juga dia menangis saat tidak diizinkan main games. Tapi kami selalu memberi pengertian padanya bahwa terlalu sering main games juga kurang baik. Kami sampaikan matanya bisa sakit jika terlalu sering menatap layar laptop dan handphone. Berkat kekonsistenan kami, lama lama Daffa bisa menerima bahwa dirinya hanya boleh nge-games Sabtu dan Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, saya merasa kasihan juga jika dia “menghitung hari”. “Bunda, ini hari Selasa ya. Berarti besok Rabu, Kamis, Jumat, terus Sabtu. Daffa boleh main games deh…”, begitu katanya. Tapi, kami meyakini anak memang harus diberi batasan tegas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan,demi untuk kebaikannya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain laptop dan handphone, kami juga sangat selektif dalam tontonan televisi. Dia hanya kami izinkan menonton film kartun pilihan kami, seperti “Dora the Explorer”, “Diego”, “The Backyardigans”, “Wonder Pets”, dan “Finley the Fire Engine”. Kami tidak mengizinkan Daffa menonton film film kartun yang banyak “adegan kasar ataupun kalimat yang kurang baik” seperti “Tom and Jerry”, “Sponges Bob”, “Popeye the Sailorman”, “Doraemon”, dan “Sinchan”. Juga film film kartun yang sebenarnya untuk konsumsi remaja seperti “Avatar” dan “Naruto”. Untungnya, Daffa mau menurut meskipun sebelumnya protes. “Kenapa gak boleh nonton Popeye?”,tanyanya. “Karena Popeye filmnya kasar, banyak berantem berantemnya, “ jawab saya. Lama-lama, Daffa bahkan mengganti sendiri channel TV jika ada film film yang kami larang. ”Gak bagus filmnya, banyak berantem berantemnya,” katanya, jika ada “Popeye” atau “Tom and Jerry” atau “Filmya gak bagus, buat seumuran Mas Heri,” katanya, jika ada film “Avatar” atau “Naruto” sambil menyebut nama anak tetangga kami yang sudah duduk di bangku SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daffa lebih banyak menonton film kartun pagi hari. Dia pernah mempunyai jadwal rutin menonton film kartun, yakni pukul 07.00-08.30, berturut-turut dari “Dora”, “Backyardigans”, dan “Wonder Pets” yang masing masing berdurasi 30 menit. Karena dia sudah menonton TV selama 1,5 jam, setelah film terakhir habis, habis pula jatahnya menonton TV di pagi hari. Siang atau sorenya jika dia ingin menonton TV lagi, saya mengizinkan. Biasanya Daffa menonton “Finley” atau “Rolli Olli Polli”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kemudian ada perubahan jadwal acara di stasiun TV yang sama. Mulai pukul 08.30, film kartun “Blue’s Clues” diganti dengan “Diego”. Nah, Daffa juga suka nonton “Diego” dan kebetulan filmnya juga bagus. Film ini mengajarkan kepada anak untuk menyayangi hewan. Jadwal menonton Daffa pun bertambah, dari 1,5 jam menjadi 2 jam. Saya sendiri sebenarnya juga bingung film mana yang mesti “dihapus” dari jadwal menontonnya karena menurut saya kekempat film kartun tersebut bagus semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dora” bercerita tentang Dora yang pintar dan pemberani yang suka menjelajah. Versi TV, Dora di-dubbing Bahasa Indonesia, namun kadang kadang Dora mengucapkan kata kata dalam Bahasa Inggris dengan meminta penonton untuk menirukan. “Backyardigans” bercerita tentang lima sahabat yang sedang bermain di halaman belakang rumah mereka kemudian berimajinasi berpetualang ke tempat lain. Dalam petualangan itu, mereka berperan menjadi tokoh sesuai tema petualangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita “Petualangan di Texas”, misalnya, mereka menjadi koboi. Dalam cerita “Petualangan ke Mesir Kuno”, ada yang berperan sebagai Cleopatra, pelayan pelayan Cleopatra dan Spinx, Bahkan pernah ada petualangan ke Hutan Kalimantan. “Backyardigans” memberi pengetahuan kepada anak tentang suatu tempat dan kekhasan dari tempat tersebut, di samping juga mengajarkan baiknya persahabatan. Sementara “Wonder Pets” mengajarkan pentingnya kerjasama dalam melakukan pekerjaan. Sebagaimana penggalan lirik lagu dalam film kartun tersebut, “Kami bekerja sama melakukan hal yang benar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daffa kadang-kadang ingin juga menonton film kartun lain yang diputar di stasiun TV yang berbeda, seperti “Curious George”. Karena film ini diputar mulai pukul 06.30, konsekuensinya dia harus mengurangi satu film yang ditonton dalam “jadwal rutin pukul 07.00-09.00”, agar durasi menontonnya tetap maksimal 2 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang tidak kalah penting, Daffa tidak kami izinkan menonton sinetron, tak terkecuali yang berlabel sinetron anak anak. Pada kenyataannya, meski namanya sinetron anak anak, terdapat juga adegan kasar ataupun kata kata yang tidak pantas didengar anak, utamanya balita. Dalam sinetron Tarzan Cilik dengan pemain utama Baim yang terkenal itu, umpamanya, pernah ada adegan di mana ayah angkat Tarzan,yang notabene tidak menyukai Tarzan, diperlihatkan melakukan berbagai macam cara untuk “melenyapkan” Tarzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Daffa, saya rela untuk tidak menonton sinetron, reality show, infotainment dan berita-berita kriminal kecuali jika dia sedang bermain di luar rumah atau sedang tidur. Pernah beberapa kali, saya melihat salah satu reality show terkenal. Daffa ada bersama kami, tapi dia sedang asyik bermain dengan ayahnya. Tak disangka, suatu waktu, saat ada iklan acara tersebut, Daffa ikut menyayikan theme song-nya “…saat cinta memang harus diakhiri…” Wah, kapok saya. Sejak itu, tak lagi lagi saya menonton acara dewasa jika ada Daffa di dekat saya.&lt;br /&gt;Di samping media elektronik, kami juga selektif memilih media cetak yang baik bagi Daffa. Sebulan sekali, Daffa kami ajak ke toko buku. Kami meminta Daffa memilih buku mana yang ingin dibelinya. Tapi tentunya kami juga yang memutuskan apakah buku itu boleh dibeli atau tidak. Jika tidak, dia kami minta memilih buku lain dengan memberi pengertian mengapa buku tersebut tidak boleh dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini kami rasa penting karena ada buku bacaan anak yang menurut kami kurang bagus karena di dalamnya terdapat kata kata berkonotasi negatif. Suatu waktu Daffa pernah mendapat hadiah buku bilingual dari tantenya. Si Tante membelikan buku itu karena kemungkinan dilihat dari judulnya isi buku tersebut menarik, Terlebih buku itu terbitan penerbit anak terkenal.&lt;br /&gt;Cerita dalam buku tersebut memang pada kenyataannya menarik, bercerita tentang seekor burung hantu yang berusaha menjadi ayam jago. Namun, disayangkan, ada beberapa kalimat berkonotasi negatif, seperti “dasar badut!”, “penipu!”, “dasar si mata melotot”, dan “ayam betina bodoh”. Beberapa bulan lalu Daffa belum bisa membaca, Jadi saat membacakan buku itu, kata kata tersebut tidak kami bacakan. Tapi sejak sebulan lalu, Daffa sudah bisa membaca sendiri. Saya agak khawatir juga jika dia kemudian ingin membaca buku tersebut sehingga kata kata berkonotasi negatif itu terbaca olehnya. Dan, berdasar karakter anak anak sebagai peniru ulung, bukan tidak mungkin Daffa akan menirukan kata kata tersebut saat berbicara dengan orang lain.&lt;br /&gt;Berbekal pengalaman itu, sekarang jika ingin membelikan buku bacaan untuk Daffa, kami selalu memastikan di dalam buku tersebut tidak ada kata kata berkonotasi negatif yang kurang baik bagi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, kemajuan teknologi dewasa ini, termasuk juga di bidang media, memang tidak terhindarkan. Ditambah lagi dengan pers di Negara ini yang makin bebas setelah reformasi, membuat kita para orang tua mesti lebih jeli dalam memilih dan memilah tontonan dan bacaan yang bermutu bagi anak anak kita. Jangan sampai anak anak kita menjadi “dewasa sebelum waktunya” karena tontonan dan bacaan yang tidak sesuai dengan usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;gambar diambil dari &lt;a href="http://www.healthjockey.com/images/child-computer-game.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-1781175326768037438?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/1781175326768037438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/pengaruh-media.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1781175326768037438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1781175326768037438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/pengaruh-media.html' title='Pengaruh Media'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/Sy8fxYoehBI/AAAAAAAAACM/9xiIXxzgUis/s72-c/child-computer-game.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-3961863616832491799</id><published>2009-07-23T19:05:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T21:49:01.242-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Televisi dan Anak-Anak Kita</title><content type='html'>Ditulis oleh Dwi Yuli Rahayu&lt;br /&gt;Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul di atas mungkin tidak jauh beda dari hal-hal yang pernah kita lihat sehari-hari. Baik di rumah kita, rumah tetangga, maupun di lorong-lorong sempit jalanan, terkadang tidaklah sulit kita menemuinya. Hampir mayoritas penduduk di muka bumi ini memiliki benda kotak yang konon ajaib itu. Kenapa ajaib, karena dia bisa menyihir bagi kita yang melihatnya. Bahkan di pelosok negeri inipun, yang konon katanya masyarakatnya terpinggirkan, juga tidaklah susah jika kita mencari televise. Sedemikian dasyatnya, hingga para remaja yang jauh dari kotapun bisa memakai baju yang sedang ngetrend karena informasi dari televise. Sungguh, sedemikian cepatnya informasi yang diperoleh dari televise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mengambil salah satu media yakni televisi, karena benda yang satu ini sungguh-sungguh sangat hebat pengaruhnya. Tetapi tunggu dulu, apakah pengaruh itu baik atau buruk. Jika dilihat dari sisi kecepatan penyampaian informasi, televise mungkin akan menjadi favorit, lihatlah pada pilpres kemaren, berjuta suara bisa segera terkumpul dan disiarkan melalui televise, sehingga tak kurang dari lima jam, kita bisa mengetahui hasil dari pilppres. Luar biasa bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anak-anak kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak usia 0-5 tahun banyak yang mengistilahkan masa ini adalah Masa Emas atau Golden Age, yaitu masa-masa di mana kemampuan otak anak untuk meyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan memberikan dampak bagi si anak di kemudian hari. Di masa-masa inilah peran orangtua dituntut untuk bisa mendidik dan mengoptmalkan kecerdasan anak baik secara intelektual, emosional, dan spiritual. Jika di masa-masa ini otak anak hanya diisi dengan tayangan-tayangan yang tidak bermanfaat atau malah boleh dibilang tayangan yang sangat buruk, maka kita akan melihat beberapa tahun yang akan datang pengaruh itu akan muncul, dan sebagai orang tua kita hanya bisa menyesal, karena masa-masa penting ini (Golden Age) tidak akan pernah bisa diulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman saya, jauh sebelum hadirnya si kecil di tengah-tengah kami, kami berdua sudah memutuskan untuk meng’gudang’kan sebauh kotak ajaib yang bisa mengeluarkan gambar dan suara itu. Setelah ada si kecil kami tidak menonton televisi, kadang jadi buta berita juga, hanya melalui internet saja kita meng update berita. Hingga si kecil menginjak usia satu tahun kami tergoda untuk menghadirkan kembali si kotak ajaib itu. Kami berkomitmen hanya untuk update berita saja. Tapi pada kenyataannya ternyata memang tidak mudah, selalu saja tergoda untuk menekan tombol power setiap harinya. Meskipun si kecil tidak terlalu suka, tapi saya yakin semakin besar usianya jika semakin terbiasa dengan televisi, maka diapun akan semakin susah dipisahkan kelaknya. Dan tentu akan menjadi kecanduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertantang ketika mengetahui ada KOMPAK, mudah-mudahan melalui tulisan ini bisa memberi manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman saya, anak menyukai televis karena dia terbiasa dari kecilnya menonton televisi. Hal ini timbul karena ada kebanyakan dari orang tua yang tidak mau direpotkan dengan anak. Agar anak betah dan tidak kemana-mana, maka terkadang televisi menjadi pilihan agar anak bisa duduk manis, dan orang tua bisa mengerjakan pekerjaan tanpa harus diganggu dengan rengekan ataupun tingkah laku anak-anak yang biasanya selalu ingin tahu, baik dengan pertanyaan maupun tingkah laku mereka dengan mencoba beberapa barang-barang/perabotan di rumah yang kadang itu berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran kontrol dan pendampingan dalam menonton televisi sangatlah penting. Tayangan-tayangan yang ada dalam televisi tidak bisa langsung mentah-mentah diterima oleh anak begitu saja, tapi harus ada penjelasan tambahan dari orang tua, baik itu berupa meluruskan, menerangkan, memberi contoh, member ilustrasi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meneruskan, ada baiknya saya kutipkan sedikit tulisan dari Mohammad Fauzil Adhim, dalam Postive Parenting terbitan Mizania, “Televisi menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan merusak teruatama kecerdasan special di otak sebelah kanan. Semakin sering menonton televisi, anak juga semakin kurang bergerak. Padahal gerakanlah yang mengaktifkan dan membangkitkan kapasitas mental mereka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca kutipan di atas, akankah kita tetap menjadikan televisi sebagai sahabat dekat anak-anak kita. Tentunya tidaklah ya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tips dan trik yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat.&lt;br /&gt;1.Saya tidak membawa unsur sara di sini, tapi sebagai seorang muslim tentunya banyak tayangan-tayangan terutama iklan yang tidak menutup aurat dengan baik sehingga ada baiknya menonton acara televisi yang aman adalah sport, berita, dan acara anak-anak karena kemungkinan besar, iklannya juga dari unsur anak-anak dan yang bersankutan dengan tayangan tersebut.&lt;br /&gt;2.Menghidupkan televisi ketika anak sudah tidur&lt;br /&gt;3.Membelikan buku-buku yang bernuansa religi untuk anak-anak&lt;br /&gt;4.Lebih sering menemani anak bermain, daripada membiasakan waktu berdua dengan anak dengan meononton televisi&lt;br /&gt;5.Bagi ibu yang tidak berada di rumah/bekerja, beli VCD yang ada unsur pendidikannya, atau games-games interaktif yang dapat merangsang kecerdasan anak melalui permainan lewat games. Referensi CD interaktif untuk anak sangat banyak beredar di took-toko buku, VCD-VCD yang tidak melulu kartun DORA, Sponge Bob juga sudah banyak di jual di took-toko buku. Sehingga ketika kita meninggalkan rumah, kita bisa meninggalkan pesan kepada orang yang mengasuh anak kita, bahwa VCD-VCD itulah yang boleh ditonton oleh anak-anak.&lt;br /&gt;6.Memberi pengertian kepada seluruh anggota keluarga, bahwa menonton televisi ada aturan jamnya.&lt;br /&gt;7.Membuat tulisan di dinding jadwal-jadwal televise yang boleh dan tidak boleh ditonton bersama anak&lt;br /&gt;8.Menambah wawasan mengenai buruknya pengaruh televisi terhadap anak, sehingga semakin menyadarkan kita untuk terus menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;1.Majalah Ummi Edisi Spesial Juni-Agustus 2008/1429 H&lt;br /&gt;2.Mohammad Fauzil Adhim, Positive Parenting, Bandung: Mizania&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-3961863616832491799?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/3961863616832491799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/televisi-dan-anak-anak-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3961863616832491799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3961863616832491799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/televisi-dan-anak-anak-kita.html' title='Televisi dan Anak-Anak Kita'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-8076483497246438998</id><published>2009-07-23T18:58:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T21:49:33.348-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Aku Ga Mau Nonton Itu, Ah!</title><content type='html'>Ditulis oleh Yudith Listiandri&lt;br /&gt;Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selingkuh itu apa sih, Ma?” begitu kata seorang kawan saya, menirukan pertanyaan anaknya yang membuat gelagapan. Seorang kawan lain bercerita bahwa anaknya sering tidak mau diajak berkunjung ke rumah neneknya jika waktunya bertepatan dengan jam tayang sebuah sinetron. Cerita seorang guru TK juga tak jauh berbeda. Saat anak-anak ditanya tentang acara TV apa yang mereka kenal, banyak di antara mereka yang menyebutkan beberapa judul acara yang tidak cocok dikonsumsi anak-anak seperti Suami-Suami Takut Istri, Intan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus anak saya sedikit berbeda. Ia hafal beberapa penggal lirik lagu yang dijadikan lagu tema sinetron. “Atas nama cintaaaa …” begitu ia sering menirukan. Di rumah dan di sekolah, ia sudah diberi pemahaman bahwa tidak semua yang ditayangkan TV bernilai baik. Tak urung, berkali-kali juga ia mendengar penggalan lagu orang dewasa itu dari TV yang dinyalakan neneknya. Berkaca dari pengalaman anak saya itulah, saya mengambil kesimpulan bahwa salah satu unsur penting untuk mengerem pengaruh buruk media (yang salah satu bidak hitamnya adalah TV) adalah komitmen bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen bersama diperlukan karena pendidikan yang berhasil harus bersifat konsisten dan berkelanjutan. Meski orangtua sudah memberi larangan, tetapi jika orang dewasa lain dalam rumah tidak dilibatkan, akan memberi pesan yang bias pada anak. Bagi anak, pesan yang berbeda itu membingungkan. Beberapa negara lain seperti Korea Selatan telah mengambil langkah yang lebih maju dalam hal komitmen bersama ini. Mereka membentuk forum bersama yang secara terbuka mendiskusikan layak tidaknya sebuah adegan ditayangkan. Forum ini terdiri dari unsur produsen maupun penonton, juga melibatkan tim ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karena kita tidak mungkin memantau anak selama 24 jam dan membendung sepenuhnya pengaruh media itu, anak perlu dibekali dengan pemahaman yang cukup atas apa yang dilihat atau didengarnya. Untuk itu, kita perlu sesering mungkin mendampingi saat mereka menonton TV atau mengakses media lain seperti internet. Tunjukkan secara konkret alasan sebuah tayangan layak atau tidak ditonton, layak diakses atau tidak. Ketika mereka melihat adegan pertengkaran, misalnya, tanamkan pemahaman bahwa pertengkaran dengan cara berteriak-teriak, mencaci maki, dan memukul bukanlah cara pemecahan masalah yang baik. Biarkan anak mencerna pemahaman ini, mengeluarkan pendapat, dan memberi penilaiannya sendiri. Ia juga perlu tahu bahwa tidak semua tontonan yang dibuat untuk anak itu baik. Tokoh-tokoh superhero atau tokoh kartun tidak sepenuhnya bebas dari kekerasan. Si tokoh memang jagoan, tetapi ia menang di atas penderitaan dan kesakitan tokoh lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, buka seluas-luasnya ruang untuk berdiskusi. Anak memiliki keingintahuan yang besar. Gunakanlah naluri alamiah anak itu untuk mengenal lingkungan sekitar dan untuk melakukan penyaringan sendiri atas hal-hal buruk yang tidak patut dicontoh. Dalam hal ini, kita perlu belajar mendengarkan dan menghormati pendapat anak. Dengan metode self-filter inilah kelak anak yang tumbuh menjadi remaja akan memiliki bekal kecerdasan emosional yang cukup untuk menangkal pengaruh buruk lingkungannya, terutama dari teman sebaya.&lt;br /&gt;Anak juga mudah terpengaruh dengan iklan-iklan yang menarik. Iklan dapat tertanam lebih kuat di otak anak daripada tayangan yang berdurasi lebih lama. Hal ini disebabkan karena durasinya pendek dengan kata-kata yang mudah diingat, ditayangkan berulang-ulang, dan didesain untuk mudah tertangkap mata. Anak paling sering tergiur dengan iklan makanan dan minuman yang seringkali tidak sehat, bahkan membahayakan bila dikonsumsi terlalu banyak. Pengalaman seorang keponakan saya cukup menggelitik. Ia yang baru berusia 3 tahun menetapkan bahwa makanan favoritnya adalah nasi berlauk kecap dan kerupuk, gara-gara melihat iklan sebuah produk kecap. Selama minggu, ia hanya mau makan itu. Kasus seperti inilah yang memerlukan dibukanya kesempatan yang seluas-luasnya untuk berdiskusi dengan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, perlu disadari sepenuhnya bahwa TV hanyalah sebuah alat. Adalah tugas kita sebagai orang dewasa untuk menuntun anak agar bijaksana dalam memakainya. Seperti halnya alat lain, kita memerlukan aturan penggunaan. Aturan inilah yang perlu kita diskusikan bersama anak dan kita terapkan bersama dalam keluarga. Ajaklah anak untuk mendesain program apa saja yang boleh ditonton dan berapa waktu yang boleh dialokasikan untuk menonton. Suara anak patut didengarkan dalam membuat aturan ini dan doronglah anak untuk menepati aturan yang telah dibuat bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus berusaha menerapkan semua “teori” yang saya harap tidak terlalu muluk itu, saya merasa sedikit lega ketika mendengar anak saya menyeletuk, “Bu, Yang Ti nonton sinetron yang marah-marah sambil mbanting gelas … aku nggak mau nonton ah!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-8076483497246438998?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/8076483497246438998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/aku-ga-mau-nonton-itu-ah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/8076483497246438998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/8076483497246438998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/aku-ga-mau-nonton-itu-ah.html' title='Aku Ga Mau Nonton Itu, Ah!'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-5476582061347441027</id><published>2009-07-23T18:57:00.002-07:00</published><updated>2009-07-23T19:15:39.844-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Media Cetak dan Media Elektronik</title><content type='html'>&lt;div class="post_message"&gt;Ditulis Oleh Elin Marlina&lt;br /&gt;Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu sekampung untuk membesarkan seorang anak. Jadi memang tidak mudah. Orang tua perlu sangat kreatif. Termasuk soal tontonan. Semua stasiun TV berlomba-lomba menampilkan yang menurut mereka sinetron terbaik pada jam terbaik.. Untuk siapa? Jelas bukan tontonan anak-anak kita. Jadi anak-anak menonton apa? Atau melakukan apa? Ya, kembali, orang tua harus kreatif.&lt;br /&gt;Salah satu yang kami lakukan guna menghindari tontonan sinetron tadi, adalah memasang TV berlangganan, dimana kami bisa mengunci, menjadwalkan tayangan yg ingin dan boleh diberikan. Kebetulan di rumah kami ada 2 orang anak balita.. lula (3,5 tahun) dan bayu (5,5 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus jadi bisa nonton terus? Tidak juga… kembali ke orang tua, terutama bunda, harus kreatif. Karena di rumah kami tidak ada pembantu rumah tangga, jadi kalau bunda sedang masak, tontonan disiapkan supaya mereka tidak keluar rumah, bisa menonton tv langganan atau menonton dvd/vcd yang tentu aja sudah disortir bunda. Khusus untuk VCD/DVD, kami sengaja menjalankan kedua jenis keping tersebut di komputer. Selain agar mereka bisa akrab dengan komputer, juga agar ganti suasana tidak selalu di depan TV. Ketika bunda sudah selesai, maka mereka saya ajak beraktifitas yang lain. Saya paling suka mengajak mereka membuat suatu karya, mulai dari kegiatan menggambar, menggunting, menempel dan mewarnai. Itu biasanya mereka kerjakan selesai makan. Ide kegiatannya saya dapatkan dari menjelajah dunia maya lewat internet. Supaya tidak lelah merapikan sendiri, saya juga mengajak mereka merapikan yang telah dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka selesai dengan karya mereka, dilanjutkan dengan bersih-bersih dan tidur siang. Sore mereka main sepeda atau main di luar rumah. Malam dimulai dengan mengaji, makan malam, menonton TV sebentar, bersih-bersih dan dilanjutkan baca buku menjelang tidur. Kami memang menyediakan banyak sekali buku, mulai dari buku cerita yang sederhana, buku ilmu pengetahuan, buku agama, juga buku keterampilan (melipat kertas, menggunting dan menempel). Kami bahkan mengkhususkan dana untuk membeli buku. Supaya lula tertarik dengan buku, kami (saya dan suami) mempertontonkan hobi membaca kami di depan lula. Karena kami percaya, lebih mudah memberikan contoh dan pembiasaan dari pada memberikan perintah. Selain itu, sejak lula bayi, saya usahakan untuk membacakan dongeng sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang karena sudah lebih besar, bukan lagi buku dongeng, tapi buku ilmu pengetahuan. Awalnya karena dia sudah mulai banyak bertanya, mengapa begini, mengapa begitu. Jadi kami coba mencari tahu lewat buku. Kami membeli 1 (satu) set buku pengetahuan untuk anak. Dan supaya buku tersebut lebih berguna, kami menggunakan untuk menjawab pertanyaan lula atau bahkan bertanya kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ketika kami akan pergi liburan, kami membuat suatu tema. Contohnya ketika liburan kemarin, kami akan pergi ke museum zoology yang ada di Bogor dan ke taman kupu-kupu di Cilember, maka seminggu sebelum pergi, kami membaca buku mengenai serangga. Wah, lula senang sekali ketika melihat binatang aslinya karena sebelumnya dia sudah membaca mengenai binatang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi untuk mengontrol media (cetak dan elektronik) hiburan bagi anak-anak, kami menyediakan banyak alternatif pilihan. Mulai dari jenis tontonan yang boleh ditonton, durasi menonton, media yang digunakan dan alternatif kegiatan pengganti. Kami tidak mau meminta mereka untuk berhenti menonton tanpa memberikan kegiatan pengganti dan alasannya. Membaca buku juga bisa menjadi alternatif kegiatan. Tentunya membaca buku-buku yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah karena sudah terbiasa membaca, Lula sudah mencari sendiri buku yang mau dia baca. Durasi dia membaca lebih lama dari pada durasi dia menonton TV.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman kami, jika ada kegiatan lain yang juga tidak kalah menarik dibandingkan dengan tontonan elektronik, anak-anak juga mau beranjak dari media tersebut. Hanya saja TV sering dijadikan suatu alat untuk membuat anak duduk diam atau selama anaknya diam ya tidak apa-apa nonton TV. Anak-anak adalah bentukan dari pembiasaan orang tua. Jadi jangan pernah menyalahkan kebiasaan seorang anak. Karena kebiasaan mereka adalah bentukan pembiasaan yang ditularkan lingkungan sekitarnya terutama dari orang tua.&lt;br /&gt;Semoga dengan tulisan ini, kami dapat memberikan alternatif kegiatan lain dan membuat membaca bukanlah suatu yang membosankan, apalagi buku ilmu pengetahuan. Ayo jadilah orang tua kreatif. Dengan jadi orang tua yang kreatif, maka semakin kreatif juga kegiatan yang bisa diperkenalkan kepada anak-anak kita. Semua orang tua pasti bisa kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input id="fb_dtsg" name="fb_dtsg" value="grFp-b_NoPH_AcykLcdcE1BTpAI" type="hidden"&gt;&lt;input id="post_form_id" name="post_form_id" value="86729ec732fb46b4cfe72b3e73d66f16" type="hidden"&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-5476582061347441027?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/5476582061347441027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/media-cetak-dan-media-elektronik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5476582061347441027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5476582061347441027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/media-cetak-dan-media-elektronik.html' title='Media Cetak dan Media Elektronik'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-3659645800657956944</id><published>2009-07-23T18:57:00.001-07:00</published><updated>2010-03-18T21:50:08.554-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Berbagi Jatah Waktu Menonton Meminimalisasi Dampak Buruk TV</title><content type='html'>Ditulis oleh Umi Laila Sari&lt;br /&gt;Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat ungkapan seorang Bapak, tetangga saya. Beliau mengatakan bahwa mendidik anak ibarat bermain layang-layang. Ada saat senar –benang layang-layang—ditarik dengan kuat. Ada saat senar dikendurkan. Juga pada kesempatan lain senar dibiarkan tanpa menarik atau mengulurnya. Kendati tetap saja, gulungan senar di bawah pengawasan sang pemain.&lt;br /&gt;Semakin tinggi, layang-layang meliuk di angkasa, semakin menyenangkan bermainnya. Tetapi tentu akan semakin kuat angin menerpa. Ancaman alamiah terhadap keamanan layang-layang. Belum lagi gangguan dari pemain lain yang ingin memutuskan layang-layang kita. Untuk itu, pemain harus bijakdan cermat mengambil sikap dalam menjaga layangannya. Begitulah filosofis bersikap terhadap anak. Seperti layang-layang, jiwa anak-anak selalu berhasrat terbang tinggi namun masih butuh pengawasan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak tidak hidup sezaman dengan orang tuanya. Mereka memiliki dunia sendiri yang mungkin akan sangat berbeda karena memang realitas dunia setiap saat berkembang. Ada begitu banyak kemajuan peradaban manusia. Dengan kondisi tersebut, sangat tidak memungkinkan orang tua menerapkan pola pendidikan konservatif. Sudah saatnya orang tua atau orang-orang dewasa di sekitar anak lebih membuka diri. Memahami bahwa masalah yang dihadapi anak mereka kian kompleks. Salah satunya pengaruh negative dari tontonan dan bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui bersama, media massa, cetak maupun elektronik memberi pengaruh cukup besar terhadap perubahan pola pikir dan perilaku anak bahkan juga orang dewasa. Setiap detik ada ribuan informasi masuk dalam daya serap anak yang memang masih sangat cepat menangkap pesan yang diterimanya. Fatalnya, informasi yang didapat sang anak lebih banyak hal buruk ketimbang baik. Sementara orang tua tidak dapat sepenuhnya, setiap saat mendampingi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berupaya menerapkan filosofis layang-layang tadi pada usaha memantau berbagai hiburan yang diperoleh anak dari media massa. Saya lebih fokus ke media elektronik sebab pengawasannya menurut saya lebih sulit. Kebetulan saya sulung dari delapan bersaudara dan masih memiliki adik-adik kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk media cetak, biasanya saya yang lebih banyak memilihkan bahan bacaan pada adik-adik. Seperti membelikan mereka buku cerita atau majalah yang memang terdapat nilai edukasi. Atau sesering mungkin memeriksa tas maupun tumpukan buku mereka, mengantisipasi bahan bacaan yang merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, untuk media elektronik, saya punya kiat tersendiri. Meski sebelumnya orang tua saya sempat menghilangkan sama sekali TV dari perabot di rumah. Maka, sempat beberapa kesempatan, rumah kami tidak ‘bersuara’. Namun, nyatanya TV tetap menjadi sumber informasi mudah dan murah bagi orang tua saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, walaupun tidak tertulis, saya membuat atau membagi jatah waktu untuk menonton. Misalnya pagi hari bagian orang tua kami karena mereka terbiasa menonton program berita. Menjelang siang, adik saya yang duduk di SMP dengan lebih memilih program musik. Seusai makan siang, adik-adik saya yang kecil dengan program film kartunnya. Pembagian jatah waktu tersebut selain disesuikan dengan jadwal sekolah, les, atau aktifitas harian mereka lainnya juga dengan program acara yang sesuai dengan mereka. Jadi, ketika jatah waktu seorang anak, yang lain tidak ikut menonton sebab sedang melakukan aktifitas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karena banyaknya chanel TV sebisa mungkin membujuk anak agar mengganti channel manakala dinilai program yang sedang ditonton tidak mendidik. “Eh, kayaknya acara di TV X lebih seru deh! Coba kita liat yuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, setelah mengubah-ubah channel, terkadang tetap saja tidak menemukan program yang aman untuk anak pada jam tertentu. Maka, ajaklah anak untuk bermain dengan konsep merealisasikan apa yang pernah mereka tonton. Umumnya anak-anak memiliki tokoh film idola, tidak ada salahnya menjadikan sang anak tokoh tersebut.&lt;br /&gt;“Setahu ayuk, tokoh Y suka menolong orang yang sedang kesulitan. Nah, gimana kalau kamu sekarang jadi dia. Ayuk akan buat kamu mirip dia. Kamu mau kan? Eh iya sekalian, ayuk seolah-olah jadi korbannya. Ayuk butuh bantuan untuk merapikan tempat tidur. Apakah pahlawan itu akan datang ya?” kira-kira begitu saya berucap pada adik-adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, meminta ia menceritakan kembali apa yang telah ditonton. Saya membiasakan diri antusias untuk mengetahui jalan cerita film yang ditonton adik-adik saya. Pada saat mereka mengulas kembali acara tersebut dengan bahasa mereka sendiri, saya perlahan memberi pengarahan tentang hal yang baik atau buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lupa di akhir ‘laporannya’, saya memberi semangat bahwa ia dapat pula melakukan perbuatan baik seperti dalam cerita tadi. Serta memberi kepercayaan pada anak bahwa tidak akan mencontoh perilaku negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, sedikit tegas untuk tidak membuka TV pada saat jadwal kegiatan yang lain meski pun dapat dilakukan seraya menonton TV misalnya jadwal makan, membersihkan rumah, mengerjakan PR sekolah, dll. Dan memang, untuk usaha kelima ini, saya merasa cukup sulit meski bukan berarti tidak bisa. Terlebih ketika ada acara spesial pada event tertentu di stasiun TV. Bahkan ada beberapa kali, adik saya marah dan ngambek karena saya tetap mematikan TV ketika ia ingin menonton.&lt;br /&gt;“Kasian dong sama makanannya dicuekin. Mata adik asyik nonton TV, bisa-bisanya nasinya masuk ke hidung karena nggak liat waktu menyuap. Kalo aja, makanannya bisa ngomong, mungkin dia teriak-teriak atau nangis karena lama banget dimakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, karena adik saya pun telah terbiasa dengan game on line maka pengawasan terhadap tempatnya nongkrong juga saya lakukan. Tidak terlalu jauh dari rumah kami ada warnet yang memang juga jadi tempat favorit untuk ngegame anak-anak di sana. Jadi, sembari saya nge-net dapat melongok adik yang sedang on line.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, memberi penyadaran. Saya memahami bahwa seketat apapun pengawasan yang saya dan orang tua lakukan akan tetap bisa dilanggar jika anak tidak memiliki kesadaran individu. Konsep yang ada memang ideal, namun ada kondisi yang terkadang membuat pelaksaannnya kurang sempurna. Misalnya ketika saya harus berada di luar kota dalam waktu tertentu. Anak-anak sadar bahwa apa yang dilakukan orang tua untuk melarang mereka menonton acara yang negative adalah demi kebaikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tips diatas dalam aplikasiya tentu disesuikan dengan tingkat usia masing-masing anak. Pembahasaan anak usia 5 tahun tentu berbeda dengan pembahasaan anak usia 14 tahun. Selain pula karakter tiap anak menentukan bagaimana penyikapan yang terbaik. Orang tua diharapkan adalah orang yang paling mengerti tabiat anak-anak mereka dan mampu mengarahkannya. ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-3659645800657956944?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/3659645800657956944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/berbagi-jatah-waktu-menonton.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3659645800657956944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/3659645800657956944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/berbagi-jatah-waktu-menonton.html' title='Berbagi Jatah Waktu Menonton Meminimalisasi Dampak Buruk TV'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-2078857132113147174</id><published>2009-07-23T18:56:00.001-07:00</published><updated>2009-07-23T19:16:34.987-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Belajar Bersama Anak</title><content type='html'>&lt;div class="post_message"&gt;Ditulis oleh Lusika Yuliana&lt;br /&gt;Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman makin maju.. manusia semakin pintar menciptakan sesuatu..&lt;br /&gt;Hanya dengan sebuah kotak ’ajaib’, seorang manusia  bisa melihat seisi dunia..&lt;br /&gt;Benar-benar sesuatu hal yang menarik , bahkan sangatlah menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak menarik ?&lt;br /&gt;Karena hanya dengan memencet tombol-tombol yang ada, kita bisa melihat ke mana-mana, kita bisa memilih apa yang ingin kita lihat tanpa harus mendatangi tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi awas hati-hati..&lt;br /&gt;Karena keasyikan pencet sana-sini..kita bisa lupa segalanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotak ’ajaib’ itu berbagai macam jenisnya. Awalnya kita hanya mengenal televisi, kemudian makin berkembang, ada yang berupa komputer, laptop, gameboy, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman sekarang ini hampir di setiap rumah pasti memiliki kotak ’ajaib’ yang bisa membawa manusia melanglang buana.&lt;br /&gt;Minimal televisi, pastilah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hampir semua orang memilikinya, sadar ataupun tidak sadar pada umumnya kotak ’ajaib’ sudah membudaya pada kehidupan sehari-hari; tak terkecuali pada keluarga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi, komputer dan DVD ada di rumah kami, sebagai sarana hiburan dan informasi, serta pendukung pekerjaan kami; maka secara tidak langsung anak-anak kami sejak lahir juga sudah mengenal benda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua saya berusaha mengenalkan semua benda-benda yang ada di rumah kami termasuk televisi dan komputer.&lt;br /&gt;Kami tidak membatasi apa yang boleh dan tidak boleh., karena kami berpendapat bahwa anak-anak bebas berekspresi menjelajah ke sana kemari..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya tontonan yang ada di televisi..&lt;br /&gt;Awalnya, kami tidak menentukan waktu dan tayangan apa yang boleh ditonton anak kami, maka sebagai konsekwensinya kami sebagai orang tua dan pengasuh anak di rumah harus mendampingi setiap anak kami menonton televisi.&lt;br /&gt;Dari situ anak kami bisa belajar, mana yang boleh ditonton dan ama yang tidak.. dan lagi anak kami bisa belajar kapan waktunya menonton televisi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, kebiasaan di keluarga kami televisi hanya menyala pada menjelang jam-jam istirahat misal pada siang dan sore menjelang malam secara langsung juga mempengaruhi waktu anak kami menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada siang hari misalnya, anak-anak setelah pulang sekolah ataupun bermain-main menjelang tidur siang awalnya menyetel televisi, tetapi karena ada yang mendampingi dan memberitahu bahwa itu tayangan bukan untuk anak-anak Akhirnya anak-anak lebih memilih mendengarkan lagu-lagu dari VCD daripada menonton televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sore hari, televisi menyala.. semua tayangan bisa ditonton anak-anak.. tayangan sinetron sekalipun, kadang anak kami juga menotonnya.. entah karena saat mengganti chanel atau memang sengaja ditonton oleh rumah.&lt;br /&gt;Anak-anak tidak serta merta kami larang.. tapi kami biarkan anak-anak melihat beberapa saat sambil kami ajak bicara bahwa apa yang dia lihat itu bukan untuk anak-anak. Anak-anak juga selalu berkomentar tentang apa yang dia lihat.. dari komentar-komentar itu malah menjadi bahan diskusi menarik buat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ anak-anak kami bisa belajar, bahwa ternyata tayangan di televisi itu tidak selamanya baik.&lt;br /&gt;Anak-anak juga bisa mulai mengatur jadwalnya sendiri kapan waktunya menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dirasa terlalu lama, lebih dari setengah jam anak-anak menonton televisi, kami sebagai orang tua ataupun pengasuhnya akan mengajaknya bermain-main yang lain. Kebetulan juga anak-anak kami tipenya aktif ..selalu bergerak ke sana kemari.. jadi selalu tidak jenak bila harus duduk diam terlalu lama di depan televisi.. Jadi bila menonton tivi juga diselingi dengan acara bermain-main juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal rutin menonton televisi adalah hari libur, di mana bila saat hari libur tidak ada kegiatan lain, kami beri waktu dia untuk melihat film dari DVD, film untuk anak-anak tentunya. Saat menonton film yang berdurasi 1 – 1,5 jam itu anak-anak juga tidak hanya duduk diam.. dia bisa menitukan apa yang dia lihat plus mendiskusikannya dengan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi untuk menentukan waktu dan apa yang boleh ditonton anak-anak, kami lakukan berdasar kesepakatan dan berkembang secara alami dari kebiasaan sehari-hari.&lt;br /&gt;Tidak serta merta kami larang menonton ini itu tanpa anak tahu yang dilarang/tidak boleh ditonton itu seperti apa.&lt;br /&gt;Kami lebih memilih untuk memberinya kesempatan untuk melihat semuanya, kemudian kami diskusikan dan akhirnya bisa disimpulkan apa yang tepat untuk ditonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lama waktunya kami sepakati bersama kurang lebih setengah jam – satu jam maksimal.. Walau pada prakteknya televisi menyala lebih dari itu..&lt;br /&gt;Tapi waktu efektif anak-anak duduk diam di depan televisi bila dihitung total rata-arata hanya setengah jam, karena nonton televisipun bebarengan dengan aktivitas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain televisi, anak-anak kami juga akrab dengan komputer.&lt;br /&gt;Komputer kami gunakanan untuk anak-anak dari mulai belajar ketak ketik sana sini, belajar menggambar bahkan bermain game.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu khususnya awalnya tidak ada, tapi karena anak-anak selalu ’menganggu’ ayah atau ibunya yang bekerja dengan komputer menjelang tidur malam, jadi anak-anak kami beri waktu setengah jam untuk bermain-main dengn komputer menjelang tidur malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sebagai orang tua menganggap bahwa kemajuan jaman yang bisa menghasilkan kotak ’ajaib’ seperti televisi, komputer ataupun media modern lainnya itu adalah merupakan bagian yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa dapat manfaat dari kotak ’ajaib’ sebagai media modern, kami ajak anak-anak untuk belajar bersama memilah apa yang baik dan nama yang buruk. Di sisi lain sebagai orang tua, kami berusaha untuk selalu konsisten mendampingi dan membimbing anak-anak.&lt;br /&gt;Sehingga anak-anak bisa menyadari dan akhirnya menentukan mana yang bisa diambil manfaatnya.&lt;/div&gt;&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input id="fb_dtsg" name="fb_dtsg" value="grFp-b_NoPH_AcykLcdcE1BTpAI" type="hidden"&gt;&lt;input id="post_form_id" name="post_form_id" value="86729ec732fb46b4cfe72b3e73d66f16" type="hidden"&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-2078857132113147174?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/2078857132113147174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/belajar-bersama-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2078857132113147174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/2078857132113147174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/belajar-bersama-anak.html' title='Belajar Bersama Anak'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-1398503581780186776</id><published>2009-07-23T18:55:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T21:51:18.857-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lagu'/><title type='text'>Terima Kasih, Jalu. Upaya mendidik melalui lirik</title><content type='html'>&lt;div class="post_message"&gt;Ditulis oleh Fakhri Zakaria&lt;br /&gt;Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari belakangan ini saya bisa tidur siang dengan nyaman di kamar belakang. Setidaknya sepupu saya dan teman-temannya yang masih kelas 5 SD , yang biasa bermain di lorong sempit tepat kamar saya menempel di temboknya tak lagi teriak-teriak menyanyikan lagu-lagu seperti, ”Lelaki buaya darat busyet aku tertipu lagi…” atau “Wo..o..kamu ketauan pacaran lagi..”. Gantinya adalah, “Persahabatan bagai kepompong..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Sind3ntosca. Nama yang membuat pendengaran saya terasa nyaman beberapa hari ini. Paling tidak sepupu saya juga anak-anak di sekitar rumah saya punya lagu yang memang pantas untuk mereka nyanyikan. Miris rasanya jika melihat apa yang terjadi belakangan ini. Anak-anak “dipaksa” untuk menikmati fase waktu dimana mereka memang belum waktunya untuk menjalani itu semua. Salah satu contohnya ya ketiadaan lagu yang pantas bagi perkembangan psikologis anak-anak. Saya lumayan terkejut ketika melihat sepupu saya tadi asyik di depan tivi menonton Idola Cilik, sebuah ajang pencarian bakat yang (katanya) ditujukan bagi anak-anak. Sekali lagi anak-anak, karena jika melihat rata-rata usia kontestannya sebagian besar ada di rentang umur 6 hingga 10 tahun. Nah, pangkal masalahnya adalah dari lagu-lagu yang dinyanyikan. Kok bisa-bisanya lagu-lagu sadis mereka nyanyikan. Salah satunya adalah lagu bertema pembunuhan milik D’Masiv yang liriknya seperti ini&lt;br /&gt;“Lelah hati ini meyakinkanmu, cinta ini membunuhku…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kalau dirunut, belakangan ini anak-anak tak punya lagi lagu-lagu yang pantas mereka nyanyikan. Dalam artian lagu-lagu yang liriknya memang pantas untuk mereka nyanyikan. Pasca medio 1990-an, era dimana pengamat musik Denny Sakrie menyebutnya sebagai periode yang melahirkan lusinan penyanyi cilik (&lt;a href="http://dennysak.multiply.com/journal/item/155/Masa_Transisi_Penyanyi_Cilik_" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," target="_blank" rel="nofollow"&gt;&lt;span&gt;http://dennysak.multiply.c&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;om/journal/item/155/Masa_T&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;ransisi_Penyanyi_Cilik_&lt;/a&gt;), praktis tak ada lagi penyanyi anak-anak yang benar-benar berkibar seprti dulu halnya Sherina, Tasya dan teman-temannya meramaikan industri musik tanah air. Ya mereka juga seperti halnya manusia biasa, tumbuh dan berkembang dari anak-anak menuju usia remaja. Tak selamanya mereka menjadi anak-anak manis. Kosongnya penyanyi cilik ini kemudian diisi oleh pop-pop easy listening bertema percintaan remaja (perselingkuhan, cinta ditolak, ditinggal minggat, dsb) ala Ungu, D’Masiv, ST 12 dan sejawatnya. Lirik lagu dan aransemen yang catchy membuat anak-anak jadi gampang menyanyikannya. Orang tua pun adem-adem saja, terlalu sibuk dengan urusan mencukupi kebutuhan pokok mungkin. Wajar. Kalau boleh saya bilang, pasar musik anak-anak adalah pasar yang sempit. Targetnya terbatas hanya pada anak-anak saja. Dan yang bisa menikmatinya pun ya hanya terbatas pada anak-anak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya ini harus menjadi perhatian kita bersama, ada sesuatu yang tak beres disini. Karena industri musik adalah industri kreatif, maka kita juga harus menggunakan cara yang kreatif. Musik-musik bertema perselingkuhan dan semacamnya yang sudah mengotori mulut anak-anak musti dilawan dengan musik juga. Sempitnya pasar musik anak-anak bisa diakali dengan membuat musik anak-anak yang bisa dinikmati semua kalangan. Jadi para remaja gaul pun tak risih menyanyikannya. Lagu Kepompong milik Sind3ntosca tadi adalah salah satu jawabannya. Sebetulnya band ini adalah band remaja kalau melihat usia Jalu Hikmat Fitriadi, personelnya. Sekedar catatan Sind3ntosca semula adalah proyek Jalu yang berformat band, namun dalam perjalanannya personel band yang semula berjumlah orang tadi satu demi satu memutuskan hengkang. Hingga tinggal Jalu sendiri yang mengulik instrumen musik di kamarnya. Dengan berbekal aransemen dan lirik lagu yang sederhana tapi mengena, lagu yang ada dalam album kompilasi Nu Buzz 1.1 : Your Stuff produksi Nu Buzz Network ini cepat diingat, tak terkecuali oleh anak-anak. Liriknya pun mendidik, mengajarkan mereka akan indahnya menjalin persahabatan dan menerima perbedaan yang ada dalam sebuah hubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Kepompong akhirnya bisa diterima oleh semua. Terbukti anak-anak kecil tadi cepat hafal liriknya sekaligus menjadikan lagu itu sebagai anthem mereka sehari-hari. Ini yang semestinya diperhatikan oleh para musisi. Industri musik adalah industri yang dinamis dan penuh persaingan. Istilahnya tak ada waktu untuk berleha-leha. Harus ada sesuatu yang baru, menyegarkan telinga. Okelah mungkin untuk jangka waktu sekarang Ungu menikmati kesuksesan dengan pop mendayu-dayu, tapi lama kelamaan pendengaran pun bosan dihajar musik yang itu-itu melulu. Pendek kata dari saya, terima kasih, Jalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar belakang, 141208, ditemani Sind3ntosca dan Pure Saturday dengan dosis yang cukup….&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-1398503581780186776?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/1398503581780186776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/terima-kasih-jalu-upaya-mendidik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1398503581780186776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1398503581780186776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/terima-kasih-jalu-upaya-mendidik.html' title='Terima Kasih, Jalu. Upaya mendidik melalui lirik'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-1503427781868116272</id><published>2009-07-23T18:52:00.000-07:00</published><updated>2009-07-23T19:17:08.175-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kiat Mengontrol Media (Cetak dan Elektronik) Hiburan Bagi Anak-Anak</title><content type='html'>Ditulis oleh Deta Armatia&lt;br /&gt;Diikutsertakan dalam Kuis Media Diet for Kids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat “diet media” bagi anak berhasil, beberapa hal tersebut adalah kesadaran orang tua sebagai panutan bagi anak, pengaturan jadwal harian anak dan menyediakan kegiatan atau hiburan alternatif yang lebih mendidik dan sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Orang tua sebagai panutan bagi anak&lt;br /&gt;Hal pertama yang harus dilakukan adalah membentuk komitmen dari orang tua untuk membesarkan anak yang sehat, aktif dan memiliki self esteem yang baik. Setelah komitmen dibuat, harus disadari bahwa hal ini membutuhkan waktu, usaha keras, persistensi, dan komitmen yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang harus disadari, anak selalu melihat dan meniru perilaku orang tuanya. Dengan kata lain orang tua adalah contoh dan panutan bagi anak, sehingga sebelum menuntut anak untuk berubah, orang tua harus memberi contoh terlebih dahulu kepada anak. Contohnya untuk mendorong anak mengurangi menonton televisi sebaiknya orang tua juga tidak menghabiskan banyak waktu dengan menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengaturan jadwal harian anak&lt;br /&gt;Membiasakan sedari dini untuk menetapkan jadwal harian bagi anak dapat membentuk anak sebagai individu yang dapat menata waktu dengan baik. Jadwal harian membuat mereka selalu tahu apa yang selanjutnya akan terjadi pada hari tersebut dan menghindarkan mereka untuk menyia-nyiakan waktu. Jadwal harian tidak harus terlalu detail. Tentukan beberapa ritual harian mereka. Contoh: tentukan waktu bangun pagi, belajar, les, menonton televisi, bermain, makan malam dan tidur. Dengan jadwal harian ini orang tua dapat mengatur berapa lama dalam satu hari anak diperbolehkan untuk menonton televisi dan bermain video game.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memberi Pengertian Bagi Anak tentang Dampak Negatif dari Media.&lt;br /&gt;Untuk mendukung diet media bagi anak, orang tua sebaiknya menanamkan dan memberikan penjelasan bahwa :&lt;br /&gt;a. Komputer/laptop adalah alat untuk bekerja dan telepon genggam adalah alat komunikasi. Alat-alat ini, selain dapat memberikan dampak yang positif, juga memberikan dampak yang negatif. Salah satu contoh dampak negatif dari penggunaan laptop adalah jika anak menggunakan internet dan mengakses situs-situs yang mengandung kekerasan atau pornografi. Orang tua sebaiknya memberikan penjelasan yang lebih cenderung mengarah diskusi tidak hanya mengatakan mana yang boleh atau tidak bagi sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran: Sebaiknya anak tidak memiliki komputer pribadi di kamar mereka. Letakkan komputer di ruang keluarga, sehingga penggunaan komputer dapat dengan mudah di awasi orang tua dan komputer tersebut hanya dipergunakan untuk mengerjakan tugas sekolah dan internet. Penggunaan internet juga harus diawasi oleh orang tua. Orang tua sebaiknya menggunakan program parental control untuk mengatur situs apa saja yang aman untuk diakses oleh anak. Komputer tersebut dapat diakses oleh semua anggota keluarga, namun tidak boleh dipergunakan untuk bermain atau untuk mengunjungi situs-situs yang mengandung kekerasan dan pornografi. Selain itu penggunaan komputer untuk bermain game sebaiknya juga dilarang karena bermain game komputer dapat membuat anak terlalu lama menghabiskan waktu di depan komputer, hal ini dapat pula mengganggu kesehatan mata anak. Untuk penggunaan telepon genggam, jika orang tua merasa anak perlu untuk memiliki telepon genggam, berikan telepon genggam dengan fungsi yang terbatas hanya untuk komunikasi. Telepon genggam yang memiliki banyak fitur seperti bluetooth, MMS dan internet dapat memberi dampak negatif bagi anak, contohnya terdapat beberapa kasus dimana siswa menyebarkan gambar porno kepada teman-temannya melalui telepon genggam yang memiliki fitur-fitur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Televisi bukan merupakan hiburan utama, dan pemakaiannya harus dibatasi.&lt;br /&gt;Seperti komputer, sebaiknya anak tidak memiliki televisi pribadi di kamar. Televisi hanya ada di ruang keluarga, dan hal ini berlaku juga untuk orang tua. Orang tua sebaiknya menyeleksi tontonan anak dengan membaca resensi acara dan menonton acara tersebut terlebih dahulu. Pilihlah tontonan yang menghibur tetapi juga mendidik, sesuai dengan umur anak, tidak mengandung unsur-unsur kekerasan dan sex. Setelah orang tua menyeleksi tontonan yang tepat bagi anak, beri anak batasan waktu untuk menonton televisi dalam sehari (misalnya 3 jam dalam satu hari) kemudian libatkan anak dalam memilih tontonan-tontonan yang telah diseleksi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kegiatan dan hiburan alternative&lt;br /&gt;Orang tua sebaiknya tidak hanya melarang anak, tetapi juga memberikan solusi hiburan alternatif bagi anak.&lt;br /&gt;a. Orang tua dapat memilih koleksi DVD film dan dokumenter sebagai alternatif tontonan televisi. Contoh: film dokumenter tentang flora dan fauna seperti film-film dari “National Geographic”, atau film untuk semua umur seperti “Free Willy”, “Children of Heaven”, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;b. Setiap keluarga sebaiknya memiliki koleksi buku-buku yang berkualitas. Mulai dari buku-buku pengetahuan umum, buku-buku yang dapat menyalurkan hobi anak (contoh: buku kerajinan tangan, dan lain sebagainya), novel, hingga buku-buku dongeng klasik.&lt;br /&gt;c. Orang tua sebaiknya banyak meluangkan waktu untuk bermain dan berkomunikasi dengan anak. Kumpulkan berbagai macam ide untuk aktivitas bermain di rumah. Untuk anak-anak yang sudah beranjak dewasa, bermain kartu, atau game board seperti monopoli, catur, othello dan lain sebaginya dapat digunakan sebagai alternatif video game. Bermain atau beraktifitas dengan melibatkan anggota keluarga lain dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga. Terlebih lagi, kegiatan seperti ini dapat mendukung komunikasi sang anak dan orang tua. Orang tua mempunyai kesempatan untuk memahami dan mengenali anak, begitupun sebaliknya.&lt;br /&gt;d. Libatkan anak dengan kegiatan-kegiatan yang membuat dia banyak berinteraksi dengan teman sebayanya. Hal ini dapat membantu anak untuk belajar berinteraksi dengan teman sebaya, bekerja sama, bertoleransi dan meningkatkan self esteem anak. Contoh: daftarkan anak untuk menjadi anggota klub olah raga seperti tenis, renang, dan juga ikutsertakan anak ke dalam kegiatan-kegiatan out bound dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas, ada hal-hal lain yang perlu dilakukan untuk mendukung keberhasilan diet media bagi anak. Hal-hal tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Membentuk family culture yang baik&lt;br /&gt;a. Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga.&lt;br /&gt;Seperti yang disebut sebelumnya, komunikasi adalah sesuatu yang vital bagi keluarga. Jadwalkan untuk setiap hari ada waktu untuk semua anggota keluarga berkumpul dan saling berbagi cerita. Contoh: saat makan malam, saat beraktifitas bersama (bermain board game atau berolah raga) atau berekreasi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Luangkan waktu untuk acara keluarga&lt;br /&gt;Setiap akhir minggu luangkan waktu untuk acara keluarga keluar rumah, baik untuk berolah raga, makan di rumah makan, maupun berekreasi. Kegiatan rekreasi out door merupakan alternatif yang baik. Contoh: dufan, sea wold, pergi ke pantai, berkemah di gunung dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Budayakan untuk membaca.&lt;br /&gt;Sediakan koleksi buku yang berkualitas dan menarik bagi anak. Hadiahkan buku yang anak minati dan untuk anak usia dini, biasakan untuk membacakan dongeng sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memberikan nutrisi yang baik bagi anak&lt;br /&gt;Anak yang sehat dan aktif membutuhkan nutrisi yang cukup. Orang tua harus menyusun menu yang dapat mencukupi kebutuhan nutrisi anak. Selalu simpan sayuran segar, sayuran kaleng, sayuran beku, dan buah-buahan di dalam kulkas. Dan selalu sajikan nutrisi yang seimbang setiap hari bagi seluruh keluarga. Libatkan anak dalam menentukan menu harian, dan ajak mereka untuk membantu memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak dibiasakan untuk aktif, memiliki ikatan batin dengan seluruh anggota keluarganya, mendapatkan nutrisi yang cukup, dan mempunyai alternatif hiburan selain hiburan elektronik, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang sehat, aktif dan memiliki self esteem yang tinggi. Hal ini dapat menjadi bekal mereka untuk menjadi manusia dewasa yang sehat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-1503427781868116272?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/1503427781868116272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/kiat-mengontrol-media-cetak-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1503427781868116272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1503427781868116272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/kiat-mengontrol-media-cetak-dan.html' title='Kiat Mengontrol Media (Cetak dan Elektronik) Hiburan Bagi Anak-Anak'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-6884056421677503513</id><published>2009-07-13T18:34:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T21:51:47.648-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Selalu Ada hari Tanpa TV</title><content type='html'>&lt;div class="post_message"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ditulis oleh Yudith Fabiola&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bermula dari TV yang rusak. Tanpa sengaja rusak. Lalu, berhari-hari didiamkan. Tidak diperbaiki, tidak juga beli baru. Hidup tidak mendadak nelangsa dengan kerusakan tv yang mendadak itu. Sebab masih ada internet yang 24 jam sehari, 7 kali seminggu. Informasi bisa kami dapat dari internet. Meski rusak, TV masih nangkring dengan manis di ruang keluarga. Seminggu, dua minggu keinginan memperbaiki TV masih ada tapi kesibukan selalu menyita sehingga urusan TV belum masuk agenda utama. Akhirnya TV malang itu dipindahkan ke gudang. Sebulan, dua bulan, tiga bulan tidak juga tv rusak itu beranjak dari gudang. Setahun, dua tahun...hei, tanpa kami sadari sudah dua tahun lebih tiada TV menghiasi keseharian kami. Bahkan letaknya di gudang pun sudah tak kami ingat. Apakah di bawah kardus, di samping koper atau tertutup tumpukan kain usang. Tanpa kami sadari juga kehidupan kami berjalan baik-baik saja meski tiada acara TV yang katanya menambah semarak suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, kami tidak pernah mencanangkan akan menyingkirkan TV dalam kehidupan. Kami pun tidak termasuk golongan anti TV. Namun, dengan berjalannya waktu kami merasakan dampak positif dari absennya TV dalam rumah kami sehingga kini, dengan sangat sadar, kami pun memutuskan, untuk saat ini, tidak perlu ada TV ditengah-tengah kehidupan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika TV masih menyala, bisa dibilang anak kami menonton setiap hari, hampir sepanjang hari kecuali ia tidur dan ke sekolah. Meskipun jam menonton dan jenis tontonan telah diatur sedemian rupa, tidak mudah mengalihkan perhatian anak ketika menonton. Saat menonton, matanya melotot ke arah TV, tubuhnya bergeming menghadap TV. Panggilan ibunya tak terdengar. Sekali, dua kali, tiga kali panggilan tak digubris. Pada panggilan kelima ia menolehkan kepalanya, itupun setelah suara sang ibu meninggi beberapa oktaf. Aduhai TV...ia telah mencuri si permata hati ibunda. Jengkel bukan main hati ibunya. Bukan hanya itu, TV seakan menyedot ingatan dan konsentrasi anak untuk selalu tertuju padanya. Kongkritnya begini, bangun tidur, selesai mandi, akan makan, pulang sekolah, seusai mengerjakan PR, ingatan anak selalu melayang ke kotak ajaib itu. Ia akan terus menagih jika belum diijinkan menonton TV dan ia akan mendadak patuh jika disuruh duduk manis di depan TV sementara ibunya mengerjakan hal yang lain. Duh TV...alangkah kuat daya magisnya. Anak kami menjadi jarang bermain. Baik itu memainkan balok-balok, boneka, bola-bola apalagi menggambar, mewarnai dan membuat prakarya. Tidak juga berlari-lari dan bermain petak umpet. Ia tahan duduk lama demi menyaksikan film kesukaannya. Maka, rusaknya TV tidak kami sesali. Sebaliknya, patut kami syukuri karena telah 'menyelamatkan' anak kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adanya TV 'mengembalikan' anak kami kepada keadaan yang 'seharusnya'. Rumah kembali berantakan karena mainan berserakan disana-sini. Ia berlari kesana kemarin bermain petak umpet, bertengkar dengan adiknya. Ia menggunting-gunting kertas, menggambar dan mewarnai. Dan, yang paling membahagiakan ia kembali keranjingan membaca buku dan majalah. Ternyata kekhawatiran kami pun tak terjadi. Tadinya, kami mencemaskan kondisi anak kami tanpa kehadiran TV. Kami khawatir ia akan marah, menangis meraung-raung dan sebagainya. Rupanya, tak ada tangisan meraung-raung, tak acara. Sempat juga terlintas di benak kami tentang pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa percuma saja tidak ada TV di rumah karena anak bisa saja ke rumah tetangga dan menonton sepuasnya disana. Atau anak akan 'blingsatan' jika menemukan TV. Meski sedikit cemas, tapi kami menguatkan hati untuk tidak terpengaruh dengan pendapat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah anak kami pun biasa-biasa saja jika ke rumah tetangga atau ke rumah neneknya. Ia memang menonton TV tapi tidak nampak seperti orang kehausan yang menemukan oase di tengah gurun, ketika menonton TV. Tentu saja kami tidak membenci TV. Selain sinetron, reality show ataupun infotainment, TV juga menyuguhkan acara-acara yang menarik dan edukatif. Sayang sekali jumlahnya tidak sebanding dengan acara-acara tadi dan waktu tayangnya pun tidak sesuai untuk anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah tiadanya TV menghentikan kebiasaan menonton? Seperti yang telah saya tulis diatas, seperangkat komputer tetap menyala dan internet on terus di rumah kami. Hal ini memungkinkan anak kami tetap menonton VCD ataupun tayangan di internet. Tidak ada bedanya dong dengan TV? Sepintas memang nampak sama. Tapi, menonton media elektronik selain TV membuat anak lebih mudah 'dikendalikan' sebab menonton media selain TV (dalam hal ini VCD atau internet dengan layar monitor komputer) memiliki keterbatasan. Terbatas ukuran layarnya sehingga menontonnya menjadi tak nyaman. Terbatas waktu tontonannya. Jika film habis tidak serta merta terganti dengan film baru. Tidak seperti TV yang tayangannya nonstop kecuali powernya dimatikan. Kedua hal ini membuat mereka tidak asyik untuk terus menerus duduk manis menonton film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton media selain TV membuat kami menjadi 'penguasa' media sebab kami yang menyeleksi jenis tontonan dan waktu menonton. Berbeda dengan menonton TV. Anak-anak harus 'patuh' pada TV sebab jam tayang film kesukaan mereka bukan orangtua yang mengatur. Akibatnya jadwal harian anak diselaraskan oleh jadwal tontonan TV. Padahal, menurut pendapat kami, jadwal harian anak sepatutnya independen, tidak dipengaruhi jadwal tayangan TV. Meski demikian, menonton VCD atau internet tetap harus diawasi terlebih untuk anak-anak usia sekolah yang sudah tidak gagap menggunakan komputer dan mengenal internet. Orangtua maupun pengasuh tetap perlu mendampingi anak-anak mereka dalam melahap dan mencerna informasi yang mereka dapat dari media elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, dalam soal menonton memiliki beberapa ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tayangan yang ditonton memuat pesan-pesan positif.&lt;br /&gt;2. Tayangan tidak menyuguhkan adegan kekerasan dan kata-kata kasar.&lt;br /&gt;3. Mengutamakan tayangan yang sarat dialog positif sehingga anak-anak meniru cara berdialog atau berkomunikasi dengan baik.&lt;br /&gt;4. Menonton dilakukan pada akhir pekan atau liburan.&lt;br /&gt;5. Menonton diberi jeda agar mata tidak lelah dan anak melakukan aktivitas lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semakin jarang menonton TV maupun media elektronik selain TV, anak kami jadi lebih sering membaca buku dan sekali-sekali menulis. Ia menjadi keranjingan membaca buku. Ia menanti-nanti terbitnya edisi terbaru majalah kesukaannya. Terkadang ia bahkan ingin tahu isi buku yang kami baca. Ia tertarik sebab ia melihat kami membaca buku dengan nikmat. Kadang senyum, kadang tergelak, kadang menitikkan airmata. Membuat ia semakin penasaran dengan buku. Hal yang sangat menggembirakan lainnya adalah adiknya yang baru berusia tiga tahun jadi ikut-ikutan membaca. Tepatnya, bertingkah seolah-olah ia sudah pandai membaca padahal belum. Kalau sedang tak ingin membaca, ia akan meminta kami membacakan buku untuknya. Walaupun begitu, bukan berarti semua bacaan aman dikonsumsi anak kita. Tetap saja orangtua memegang peranan penting untuk memilih bacaan yang baik bagi anak-anaknya. Tidak ada yang benar-benar aman di dunia ini untuk anak kita. Orangtua harus senantiasa melindungi anaknya dari segala hal yang akan 'menerkam' indera mereka. Seperti induk ayam yang sigap membentangkan sayapnya jika bahaya mengintai anak-anaknya. Itulah yang dapat kami lakukan untuk anak kami. Setidaknya satu ujian, yakni kecanduan menonton TV sudah dapat kami atasi. Jika dulu, tiada hari tanpa TV. Kini, selalu ada hari tanpa TV.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;ul class="actionspro"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/edittopic.php?uid=102555150662&amp;amp;topic=9559&amp;amp;action=4&amp;amp;reply_to=37427" rel="nofollow"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/edittopic.php?uid=102555150662&amp;amp;topic=9559&amp;amp;action=256" rel="nofollow"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-6884056421677503513?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/6884056421677503513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/selalu-ada-hari-tanpa-tv.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6884056421677503513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/6884056421677503513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/selalu-ada-hari-tanpa-tv.html' title='Selalu Ada hari Tanpa TV'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-5870624197889764937</id><published>2009-07-13T18:27:00.002-07:00</published><updated>2009-07-23T19:17:54.125-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kiat Mengontrol Media Hiburan Bagi Anak Berdasarkan Pengalaman Pribadi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ditulis Oleh Nurazizah Asfahani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirahmanirrahiim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;    Pada dasarnya, anak-anak sering meniru karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka diperoleh dari cara meniru. Anak-anak yang gemar membaca umumnya adalah anak-anak yang mempunyai orang-orang di kelilingnya (orang tua mereka) juga gemar membaca. Mereka meniru Ayah, Ibu, Kakak, teman, guru atau orang dewasa disekelilingnya yang mempunyai kebiasaaan membaca dengan baik,  begitu juga jika disekelilingnya memiliki kebiasaan menonton  televise yang acaranya mohon maaf saja banyak acara di TV yang kurang mendidik dan tidak patut ditonton oleh  anak-anak kita.Bagaimana jika disekeliling anak-anak kita yang orang dewasanya menonton sinetron setiap jam dan harinya?bisa dibayangkan akan seperti apa anak tersebut?dengan demikian, orang tua, guru serta orang dewasa disekelilng anak-anak dituntut untuk bisa memberikan contoh-contoh keteladanan yang nyata akan hal-hal baik, termasuk perilaku bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru khusunya melalui media baik cetak maupun elektronik khususnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;    Pada suatu hari,ada seorang murid saya di TK A sebut saja namanya Rina. Saya ingat sekali   saat itu masih di awal semester 1 tahun ajaran 2008-2009, Rina sering terlambat datang ke sekolah. Suatu ketika Saya bertanya-tanya dari dalam hati, “ kenapa ya Rina sering terlambat, apakah dia tidak nyaman berda di kelas yang barunya, atau apakah Karena macet tetapi rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah?” akhirnya tanpa pikir panjang lagi Saya bertanya kepada Rina.Karena kita sering menyapa dengan bahasa Inggris, sambil waktu “play outside” saya mendekatinya..Rina, Ms. Hani wants to ask you? Why are you late today?and yesterday also? Dia hanya tersenyum dan tidak menjawab saya. Come on Honey, I just want to know, why are you late? Lalu dia mulai ingin menjawab, dengan santainya Ananda menjawab:” kan aku nonton princess dulu, kan kata mama nggak apa-apa terlambat”. Selain itu Rina juga gemar bernyanyi lagu orang dewasa. Lalu setiap kejadian itu berulang, sedikit demi sedikit Saya nasehati  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Rina dengan penuh perhatian dan kasih sayang, salah satunya memotivasi dia bahwa di sekolah juga ada acara menonton bersama teman-teman. Memang di sekolah kami memiliki sentra audio visual untuk menonton film yang bersifat edukatif dan agamis. Alhamdulillah, Rina jarang terlambat, jika terlambatpun bukan karena menonton. Selain itu Ada lagi  contoh seorang murid  yang sering on line di Face book hanya untuk mengubah status dan berkomentar, serta bermain game online di internet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;    Bagi Saya sebagai guru TK maupun pribadi, Subhanallah, Media Elektronik baik TV, games, maupun internet sangat berpengaruh besar terhadap perilaku anak-anak yang seperti Saya katakan sebelumnya senang meniru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dengan sedikit  ilmu dan pengalaman yang saya peroleh serta kekhawatiran saya terhadap masa depan Anak-anak Indonesia umumnya, akhirnya Saya berkesempatan memberikan sedikit kiat untuk para orang tua dan para pendidik untuk mengontrol Media hiburan baik cetak maupun elektronik, yaitu antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1.    Jangan meletakkan TV, komputer, serta media elektronik lainnya di kamar anak, bila perlu letakkan barang-barang tersebut di ruang khusus yang dapat di pantau oleh orang tua dan dewasa. Jadi jika anak menonton atau bermain komputer dapat diawasi oleh anda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2.    Dampingi anak anda jika ingin menonton, bermain komputer . jika perlu anak diberikan waktu kapan harus menonton, bermain komputer, main di luar dan lain sebagainya sehingga secara tidak langsung kita juga mengajarkan anak untuk disiplin waktu. Dan itu sangat positif sekali, jika kita membimbingnya dengan penuh kasih sayang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3.    Bimbing anak jika ingin menonton, bermain komputer dan games. Serta arahkan anak untuk menonton film-film edukatif seperti  National Geography, kartun yang memiliki bobot pelajaran bahasa seperti, Dora Explorer, Barney, dll serta games interktif yang mendidik dan melatih motorik ananda seperti menyusun puzzle, angka dan huruf, persamaan kata, mewarnai, kosa kata bahasa Inggris dan banyak lagi. Jika perlu perbanyak film , games, serta bacaan yang bersifat edukatif. InsyaAllah hal tersebut dapat membantu orang tua, tetapi selkali lagi BATASI dan beri waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;4.    Jangan sekali-kali anda menonton televisi seperti sinetron, infotaiment dan acara dewasa lainnya di depan anak anda. Jika terpaksa mohon diarahkan ke acara lain atau jika terlanjur menontonnya diberi nasehat bahwa hal tersebut bukan untuk ditonton anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tambahan, Saya juga mempunyai keponakan, dia sering ikut  menonton sinetron karena melihat ibu dan neneknya, sehingga hafal lagu soundtack sinetron tersebut dan tidak jarang dia menyanyi lagu dewasa. Dalam hati saya berfikir, apa yang terjadi pada anak-anak kita, dan apa masih ada pencipta lagu anak-anak? Mengapa mereka (anak-anak) sering menyanyikan lagu: cari jodoh, lupa-lupa ingat, atau please, jangan lebay, dll. Sedih rasanya...saya memiliki jawaban tersendiri karena  masalah kurangnya acara anak di televisi yang berbobot dan mendidik, kurangnya badan sensor yang menyaring acara TV, serta faktor orang tua dan dewasa yang membiarkan anak menikmati tontonan yang harusnya tidak ditonton oleh mereka. Kalau bukan kita siapa lagi......memang media hiburan bagi anak di Negeri tercinta ini kurang selektif, jadi bukankah kita para orang tua yang lebih selektif??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saya belum dipercayakan Sang Maha Pencipta untuk memiliki keturunan, keponakan saya dan murid-murid saya tercinta yang menjadi motifasi saya untuk mencoba membenahi dan mengontrol media hiburan bagi mereka dengan cara dari dalam diri sendiri yaitu apakah kita orang dewasa sudah layak mengontrol media hiburan dari mata kita??apakah kita dapat menasehati diri kita sendiri untuk tidak menonton sinetron, telenovela, berita perceraian artis Serta online di Facebook  berjam-jam tanpa memperdulikan tugas kita sebagai orang tua? Bagi saya di mulai dari diri sendiri, sehingga perhatian, bimbingan dan kasih sayang kita kepada  anak, InsyaAllah semua itu akan  berhasil.Amiin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Alhamdulillah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;REFERENSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;•    Kenapa Guru Harus Kreatif?, anak sering meniru,Andi Yudha Asfandiyar, Mizan,2008.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-5870624197889764937?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/5870624197889764937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/kiat-mengontrol-media-hiburan-bagi-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5870624197889764937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/5870624197889764937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/kiat-mengontrol-media-hiburan-bagi-anak.html' title='Kiat Mengontrol Media Hiburan Bagi Anak Berdasarkan Pengalaman Pribadi'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_3yj8Y5HPws4/SkllIyD8cJI/AAAAAAAAAAM/ersrm3P7Tc0/S220/kompak+3D-OK.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3195854653460104770.post-1966718040920974453</id><published>2009-07-13T18:27:00.001-07:00</published><updated>2009-07-23T19:18:11.222-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peserta kuis &quot;Media Diet for Kids&quot;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Media Diet for Kids</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ditulis oleh Heni Prasetyorini, SSi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan menonton televisi sebenarnya sudah mendarah daging di keluarga saya. Sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi, sebagian waktu kami ditemani oleh benda berlayar satu ini. Dulu ibu saya bilang, daripada main kelayapan keluar nggak karuan, lebih baik diam di rumah nonton tv. Maklum juga, anak ibu ada delapan. Dengan jarak 2-4 tahun. Jika kebijakan main diluar dicanangkan, kebayang betapa repotnya beliau. Tanpa pembantu rumah tangga, televisi adalah asisten pengasuh yang sangat membantu. Minimal anaknya adem anteng dan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan ini berlanjut sebenarnya. Namun ketika sudah SMA dan kuliah di luar kota. Tidak serumah lagi dengan ibu. Juga tidak adanya televisi. Saya mempunyai kemampuan baru untuk tidak membutuhkan televisi sebagai teman saya. Saya beralih pada radio dan walkman atau buku. Ngobrol atau main dengan teman [hang out] jarang saya lakukan. Karena ya itu tadi. Sudah dibiasakan ibu untuk duduk manis di rumah. Dan dengan tujuh saudara di rumah, sepertinya ketika kecil saya tidak butuh teman lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi bukan masalah besar buat kami. Karena walaupun terbiasa nonton televisi berjam-jam, prestasi kami bisa dibilang bagus. Minimal bisa sarjana semua. Dan dari universitas negeri. Bukan main-main saja kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah muncul ketika saya mempunyai anak. Dengan berjalannya waktu, informasi pun juga bertambah. Entah karena dari televisi atau kebetulan muncul sebagai hasil browsing di internet. Tentang efek buruk televise pada kecerdasan. Termasuk bahaya sinar biru pada retina anak terutama balita. Yang terdengar cukup mengerikan. Juga, karena tayangan televisi sekarang menuntut orang tua harus cermat dan tega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak habis pikir, tayangan untuk anak-anak, misalnya film si Entong. Tokoh yang baik cuma Entong seorang. Yang lain amburadul. Masak ibu si Entong saja, gemar kentut di depan orang. Tidak ada penyakit apapun yang bisa melegitimasi hal ini. Juga bukan kelucuan dan norma paling sederhana saja dilanggar. Tidak mungkin orang sedewasa ibunya Entong tidak tahu adat istiadat untuk tidak seenaknya buang angin di depan orang. Bisa saja jika itu dimasukkan dalam kategori tidak sengaja. Misalnya ketika melihat orang yang bisa bikin dia kentut, kenapa dia tidak lari terbirit-birit untuk sembunyi. Sehingga bisa mengajarkan nilai usaha untuk menjadi baik. Maka biarpun sedang ngetrend saat itu. Saya selalu mengomentari “Kok yang baik Cuma Entong saja. Yang lain suka mengumpat, mengolok-olok, dll”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melakukan pendampingan aktif. Saya ikut menonton acara anak. Mendengar, melihat dan memikirkan apakah ini baik atau tidak. Saya segera berkomentar ketika ada adegan yang tidak pantas. Bahkan untuk iklan pun saya ikut komentari. Seperti, ‘wah bajunya malu ya.’ Ketika ada iklan film India misalnya. ‘Untuk orang dewasa’. Lama kelamaan anak saya terbiasa dengan larangan itu. Dan bisa spontan mengingatkan adiknya ketika ada tayangan tersebut. Memang kadang-kadang saja terlewat. Tetapi spontan juga mereka akan bercerita. Dan  kami menertawakan pelanggaran itu dengan tetap menganggapnya perbuatan yang memalukan. Konsep sebagai lelaki harus menghormati perempuan sangat saya tegakkan. Bahkan ketika ada gambar perempuan berbikini, saya katakan, payudara itu diciptakan Tuhan untuk memberikan gizi dan makanan yang baik untuk bayi. Bukan mainan untuk dipegang atau dipamerkan. Tidak sopan ah. Sebisa mungkin saya gunakan bahasa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegas dan tega. Biarpun seru dan menarik. Kalau itu kejam, horror, porno. Langsung saja saya rebut remotenya dan saya ganti. Jika mereka masih protes, saya ancam begini. nonton yang baik atau tv dimatikan. Kepala kita, otak anak itu harus diisi yang lucu-lucu dan bagus. Jadi tidak berpikir yang aneh-aneh. Penjelasan saya terkadang ‘terlalu dewasa’ untuk mereka, tapi saya cuek saja. Siapa tahu mereka paham. Jangan meremehkan kemampuan anak kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi teladan. Saya tidak suka sinetron. Saya suka talk show, berita dan sejenis discovery channel. Anak pun mengikuti. Ketika ada kartun yang bagus, saya dorong mereka nonton itu. Dan memujinya. Seperti Dora….dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya biarkan anak-anak nonton tv tanpa batas. Sesekali saja saya tegur tetapi saya tenang-tenang saja. Toh ketika kecil saya juga begitu. Lalu saya dan anak pertama kebetulan ketemu website yang menunjukkan bahaya sinar biru. Beruntung saya juga terbantu film Magic School Bus ttg hal ini. Jadi ketika saya katakan , ternyata nonton tv bahaya ya mas, dia langsung menyahut, “ya kata bu Pretzel tidak sehat”. Saya lega. Tapi masih ada PR. Apa yang menjadi alternatif pilihan ketika anak tidak nonton tv. Karena ternyata ketika nonton tv itu waktu bergerak cepat. Tetapi ketika tidak, waktu berjalan lebih lambat. Menulis, membaca dll pun waktu masih panjang rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komputer menjadi alternatif saya. Manjur, karena anak suka dengan game dan internet. Tetapi di layarnya apakah tidak ada bahaya seperti televisi ? saya berpikir ulang. Ketika anak diperbolehkan keluar. Eh di kampung sebelah ada rental PS. Layar TV juga. Sama juga bohong. PS bukan pilihan. Benar-benar larangan. Saya berusaha keras menunjukkan bahwa ps sampai pada keretakan tulang jempol dan epilepsy karena kecanduan ps pada anak saya. Dan cukup berpengaruh juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku. Kebetulan sedang murahnya buku di masa liburan. Saya borong komik. Mengingat cerita Yohanes Surya, yg pertamanya senang komik lalu senang baca buku Fisikanya orang Belanda. Minimal saya ingin anak senang membaca. Dan tepat pilihan saya. Komik tentang mobil Tamiya dibacanya berulang kali dengan senang dan semangat. Karena dari situ dia tahu, buku bisa bermanfaat. Sampai-sampai dia tahu cara merakit tamiya yang super cepat. Tujuan saya tercapai. Anak pun meminta dibelikan mobil Tamiya rakitan mencoba merakitnya sendiri. Meski akhirnya bingung dengan banyaknya onderdil, minimal ada kegiatan alternatif yang mulai digagas sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi waktu masih banyak sisa. Saya berpikir untuk mengoptimalkan melatih kebiasaan anak untuk sholat lima waktu. Dan mengaji di masjid. Setidaknya melebarkan sayap pemikiran dan imajinasinya. Juga memberikan pembiasaan yang lain. Yang pasti menyerap waktu lebih banyak dan lebih bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mampu, membeli layanan televisi lain seperti ASTRO memberikan alternatif tayangan yang bermutu. Tetapi apa tidak semakin menjadikan anak menjadi lapar tv? Konsep memberikan kegiatan yang bersifat fisikally mobile adalah tepat. Terbaik. Karena semakin bergerak, anak akan semakin pintar karena otaknya termielinisasi dengan baik. Penyediaan sarana dan kesempatan untuk anak inilah yang perlu diusahakan. Memerlukan kerjasama pemerintah terutama penyediaan taman bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ekonomi bawah, dimana orang tua sangat tersita untuk bekerja. Dan mentah-mentah menyerahkan anak pada sekolah dan alam semesta, maka pendekatan pada sekolah yang harus digalakkan. Juga kelompok sosial seperti arisan, karang taruna dan sebagainya. Adanya taman bacaan sampai gang terpencil juga impian kami. Agar anak tak hanya dibombardir dengan bahaya TV. Tetapi juga diberikan benda dan kegiatan lain yang bisa mereka nikmati dan tentu saja berguna bagi mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3195854653460104770-1966718040920974453?l=kompakindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/feeds/1966718040920974453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/media-diet-for-kids.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1966718040920974453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3195854653460104770/posts/default/1966718040920974453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kompakindonesia.blogspot.com/2009/07/media-diet-for-kids.html' title='Media Diet for Kids'/><author><name>Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06454091120152468579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumb
